Utang Sudah Capai Rp6.000 Triliun, Pemerintah Bakal Tambah Lagi Rp1.600 Triliun
berita
Sumber Foto : Biro Pers Sekretariat Presiden
18 January 2021 13:32
Watyutink.com - Keinginan pemerintah menambah utang tampaknya masih sangat besar. Meski saat ini nilai utang pemerintah sudah menyentuh angka Rp6000 triliun. Pada 2021 pemerintah berencana kembali menarik utang senilai Rp1.654 trilun.

Dikutip dari kompas.id, Senin 18 Januari 2021, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan utang dibutuhkan untuk menutup defisit anggaran. Sampai akhir Desember 2020 mencapai defisit anggaran mencapai Rp 956,30 triliun. Selain itu juga untuk membayar utang yang sudah jatuh tempo. Artinya untuk membayar utang pemerintah harus berutang terlebih dahulu.

Sri Mulyani menjelaskan, posisi utang pemerintah mengalami peningkatan dibanding tahun lalu. Hal ini menurut Sri Mulyani akibat pandemi Covid-19 yang hingga kini masih melanda tanah air. Selain itu juga akibat adanya peningkatan kebutuhan pembiayaan untuk penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional.

Dikutip dari laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Kinerja dan Fakta (APBN KiTa) Minggu 17 Januari 2021, hingga akhir Desember 2020 utang pemerintah sebesar Rp6.074,56 triliun. Jumlah ini melonjak 27,1 persen dibanding tahun lalu. Meski demikian pemerintah berniat kembali berutang sebanyak Rp1.654,92 triliun lagi pada 2021.
Padahal sepanjang 2020, pemerintah sudah menarik utang hingga Rp1.295,28 triliun.

Besarnya nilai utang tersebut menjadikan rasio utang pemerintah setara 36,68 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Sri Mulyani menjelaskan pihaknya akan tetap menjaga utang pemerintah berada dalam batas tertentu. Hal ini sebagai bentuk pengendalian terhadap risiko sekaligus menjaga keseimbangan makro ekonomi.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menerangkan dalam UU No 17/2003 telah diatur batas maksimal rasio utang terhadap PDB adalah 60 persen. Sri Mulyani menerangkan secara komposisi utang pemerintah 85,96 persen berbentuk Surat Berharga Negara (SBN). Pemerintah mengaku akan memprioritaskan sumber utang domestik untuk mengelola risiko utang dalam bentuk valuta asing.

Ini yang bayar siapa bu?

Tetaplah kritis membaca berita!
 

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI