Ternak Babi Mati Akibat Kolera di Kabupaten Karo mencapai 447 Ekor
berita
Sumber Foto : merdeka.com
12 November 2019 15:55
Watyutink.com – Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mencatat, hingga Selasa (12/11/2019) jumlah ternak babi yang mati akibat virus hog cholera atau kolera babi mencapai 447 ekor.

Kasie Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Karo Siska Tarigan mengatakan, ratusan ternak babi yang mati berasal dari Kecamatan Laubaleng dan Kecamatan Kabanjahe, Selasa (12/11/2019). Ternak babi yang mati paling banyak berasal dari Kecamatan Laubaleng, mencapai 205 ekor.

Untuk mengantisipasi penyebaran virus tersebut, pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo melakukan sosialisasi kepada para peternak. Sosialisasi berisi mengenai perawatan, pemeliharaan ternak agar tidak terjangkit penyakit, serta secara spesifik memaparkan cara untuk mencegah penyebaran virus kolera. Selain itu, dalam sosialisasi juga ditekankan pentingnya sterilisasi bagi peternak saat memasuki dan keluar kandang. Selain sosialisasi, Pemkab Karo juga melakukan penyemprotan desinfektan pada ternak-ternak babi serta kandangnya.

Baca Juga

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 11 kabupaten terkena wabah virus hog cholera, yakni Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Begadai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Samosir, dengan total ternak babi yang mati akibat virus ini mencapai 5.800 ekor.

Mewabahnya virus kolera ini, mengakibatkan distribusi ternak babi antar daerah di Sumatera Utara diperketat untuk mencegah penyebaran virus kolera.

Hingga kini, dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara bekerja sama dengan berbagai pihak tengah melakukan penyisiran di sungai-sungai yang diidentifikasi menjadi tempat pembuangan bangkai babi oleh masyarakat. Bangkai babi yang di buang ke sungai selanjutnya akan dikumpulkan untuk dikubur. Petugas masih menunggu alat berat untuk menggali lubang yang nantinya akan digunakan untuk mengubur bangkai babi.

Cari aman, ya jangan makan daging babi.

Tetaplah kritis membaca berita!

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir