Suu Kyi Tepis Pembantaian Rohingya di Pengadilan Mahkamah Internasional
berita
Sumber Foto : aljazeera.com
12 December 2019 14:28
Watyutink.com – Aung San Suu Kyi, Pemimpin Myanmar yang juga peraih Nobel perdamaian membantah tuduhan pembantaian terhadap etnis Rohingya dalam sidang gugatan di Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) di Belanda.

Meski demikian dia mengakui kemungkinan tentara telah menggunakan kekuatan secara berlebihan. Namun, peraih Nobel Perdamaian 1991 itu menolak tuduhan Gambia bahwa operasi militer Myanmar pada 2017 lalu merupakan upaya untuk memusnahkan Rohingya.

Perempuan  74 tahun itu mengatakan Myanmar sedang menghadapi "konflik bersenjata internal" di tempat dugaan kekejaman itu terjadi.

Sementara sidang perdana kemarin, Gambia meminta ICJ membuat perintah darurat demi melindungi etnis Rohingya sambil menunggu keputusan apakah mahkamah tersebut akan melanjutkan kasus itu secara lebih luas.

Sebelumnya, Gambia memaparkan bahwa pihaknya mengajukan gugatan tersebut atas nama 57 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), di mana Indonesia menjadi salah satu anggotanya.

Gambia mengadukan Myanmar ke ICJ atas tuduhan melanggar Konvensi Genosida PBB 1948 melalui operasi militer brutal yang menargetkan minoritas Rohingya di negara bagian Rakhine.

Myanmar terus menjadi sorotan dunia setelah krisis kemanusiaan yang menargetkan etnis Rohingya dan minoritas Muslim lainnya di Rakhine kembali memburuk pada pertengahan 2017 lalu.

Krisis kemanusiaan itu dipicu oleh operasi militer Myanmar yang ingin meringkus kelompok teroris pelaku penyerangan sejumlah pos keamanan di Rakhine.

Antara tuduhan teroris dan kemanusiaan semakin lama semakin rancu.

Tetaplah kritis membaca berita! (yed)

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)