Politisi PDIP Sebut Pemerintah Gunakan Buzzer karena Media Sosial Dikuasai Oposisi
berita
Eva Kusuma Sundari/ Net
27 October 2020 10:47
Watyutink.com - Politisi PDIP Eva Kusuma Sundari mengakuo komunikasi publik para menteri kabinet sangat buruk. Terutama terkait dengan Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker). Hal ini berakibat munculnya polemik di masyarakat.

saat menanggapo rilis survei Indikator bertajuk “Politik dan Pilkada Era Pandemi” yang disiarkan virtual pada Minggu 25 Oktober 2020, Eva mengatakan komunikasi publik terkait penanganan virus corona atau Covid-19 juga buruk. Akibatnya muncul persepsi negatif pada masyarakat. Hal itu tercermin dari penyataan para responden survei tersebut. Kondisi ini menurut Eva juga diakui secara langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Lebih jauh politisi yang pada Pemilu 2019 lali gagal mendapat kursi di parlemen itu menyatakan saat ini media sosial sudah dikuasai kelompok yang berseberangan dengan pemerintah. Akibatnya publik mudah terhasut dan menganggap demokrasi di Indonesia telah luntur.

Publik menurut Eva hanya mendasarkan pada informasi di media sosial. Lantaran dunia maya dikuasai kelompok oposisi, pendapat publik pun ikut terpengaruh dan berseberangan dengan pemerintah.

Itulah sebabnya Eva menyebut pemerintah memandang perlu menggunakan jasa para buzzer dan Influencer. Namun hal itu seolah tidak banyak membantu. Jika ditraccing atau didiagnose kelompok oposisi masih menguasai media sosial. Pasalnya yang dominan beroposisi adalah tone bukan orangnya.

Sebelumnya lembaga survei Indikator Politik Indonesia memaparkan hasil survei tentang tindakan represif aparat saat menangani aksi demo. Survei tersebut dibuat dengan menggali pendapat masyarakat.

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengatakan Presiden Jokowi telah menegur para menterinya lantaran buruk dalam berkomunikasi. Para menteri dinilai tidak mampu menjelaskan secara baik, terutama tentang Omnibus Law UU Ciptaker. Akibatnya muncul banyak penolakan dari masyarakat.

Artinya buzzer gagak dong, lalu kenapa masih dipakai?

Tetaplah kritis membaca berita!

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

TOPIK TERPOPULER

Revolusi Akhlak Kiai Juned

25 November 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF