Berbeda dengan Jokowi, LAPAN Tegaskan Banjir Kalsel karena 139 Ribu Hektar Hutan Hilang
berita
Sumber Foto : twitter@its_mmy
20 January 2021 13:57
Watyutink.com – Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) M Rokhis Khomaruddin mengatakan penyebab banjir di Kalimantan Selatan (Kalsel) adalah berkurangnya luas hutan dalam jumlah yang luar biasa besar. Dalam kurun waktu 10 tahun sekitar 139 ribu hektar hutan telah lenyap. Hal itu menurut Rokhis sesuai dengan analisa dan kajian LAPAN terkait banjir di Kalsel.

Dikutip dari Antara, Rabu 20 Januari 2021, Rokhis menjelaskan menyusutnya luas hutan telah meningkatkan risiko banjir di Kalsel. Rokhis menuturkan sejak 2010 hingga 2020 terjadi penyusutan luas hutan primer seluar 13 ribu hektar. Sedangkan luas hutan sekunder menyusut seluar 116 ribu hektar. Sedangkan sawah dan semak belukar di Kalsel berkurang masing-masing seluas 146 ribu dan 219 ribu hektar.  Sebaliknya menurut Rokhis, luas area perkebunan di Kalsel justru bertambah hingga 219 ribu hektar.

Penyusutan luas hutan selama 10 tahun sangat mungkin menyebabkan banjir di kawasan daerah aliran sungai (DAS) Barito. Data dan hasil analisa LAPAN menurut Rokhis bisa digunakan sebagai masukan untuk upaya mitigasi bencana banjir di masa yang akan datang.   

Selain kerusakan hutan, banjir di Kalsel juga diperparah dengan curah hujan yang cukup tinggi sejak pekan lalu. Hasil analisis curah hujan berdasarkan data satelit Himawari-8 menunjukkan awan penghasil hujan terjadi sejak 12 hingga 13 Januari 2021. Kondisi ini masih berlangsung di Kalsel hingga 15 Januari 2021.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan banjir di Kalsel akibat curah hujan yang cukup tinggi selama 10 hari terakhir. Saat mengunjungi lokasi bencana di Kelurahan Pekauman, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Kalsel, Senin 18 Januari 2021, Jokowi menyebut banjir ini adalah yang terbesar sejak 50 tahun lalu. Padahal selama ini Kalsel tidak pernah mengalami banjir seperti itu.

Jokowi menerangkan curah hujan tinggi menyebabkan Sungai Barito tidak mampu menampung luapan air. Padahal biasanya Sungai Baritu mampu menampung hingga 230 juta meter kubik air. Namun akibat hujan selama 10 hari berturut-turut, jumlah air yang masuk ke Sungai Barito mencapai 2,1 miliar kubik.

Dalam kesempatan itu Jokowi menuturkan proses evakuasi korban telah berjalan dengan baik. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini meminta pemerintah daerah memastik ketersediaan logistik bagi hampir 20 ribu korban yang berada di tenda pengungsian. Jokowi menegaskan pemerintah pusat siap memberikan bantuan jika pemerintah daerah merasa kekurangan.

Padahal Pak Jokowi kan Insinyur Kehutanan, kok bisa hutan rusak sampai segitu luasnya?

Tetaplah kritis membaca berita!

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI