Akibat Abu Vulkanik Sinabung, 17 Desa Gelap Gulita
berita
Sumber Foto : liputan6.com
02 March 2021 15:35
Watyutink.com – Abu vulkanik Gunung Sinabung akibat erupsi dengan memuntahkan guguran awan panas sebanyak 13 kali sejauh 5.000 meter membuat 17 desa di Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, gelap gulita.

"Wilayah Kecamatan Tiganderket sebanyak 17 desa sampai saat ini gelap gulita karena tertutup abu vulkanik. Guguran berdampak ke masyarakat baik pemukiman maupun perladangan," kata Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karo Natanail, Selasa (2/3/2021).

Personel TNI-Polri bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), lanjutnya, masih melakukan patroli pembersihan wilayah dari abu vulkanik. Selain itu belum ada laporan korban jiwa akibat erupsi.

"Petugas hingga saat ini melaksanakan patroli seputaran Gunung Sinabung serta membagikan masker kepada masyarakat. Sejumlah mobil pemadam kebakaran juga diturunkan untuk melakukan pembersihan abu vulkanik. Kita mengimbau agar warga tidak beraktivitas di zona merah," tegasnya.

Sebelumnya, Gunung Sinabung kembali mengeluarkan erupsi, Selasa (2/3/2021) dari pukul 06:42 - 08:20 WIB. Erupsi disertai dengan luncuran awan panas guguran sebanyak 13 kali dengan jarak luncur 2.000 - 5.000 meter ke arah tenggara - timur dan kolom abu lebih dari 5.000 meter angin lemah ke arah barat - barat daya.

"Hingga pukul 08.20 WIB telah terjadi 13 kali kejadian awan panas guguran," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Andiani.

Dia mengatakan tingkat aktivitas GunungSinabung masih level III atau Siaga sejak 20 Mei 2019. Hal itu berdasarkan pengamatan visual dan kegempaan hingga 2 Maret 2021 pukul 9.00 WIB.

Dalam analisisnya, Andiani menyebutkan rangkaian kejadian awan panas guguran pada 2 Maret 2021 merupakan karakter erupsi Gunung Sinabung yang telah terjadi beberapa kali sejak 2013.

"Mekanisme kejadian awan panas guguran diakibatkan oleh adanya pembentukan kubah lava di bagian puncak, kemudian diikuti oleh adanya migrasi fluida seperti batuan padat, cairan, dan gas ke permukaan yang mendorong kubah lava. Migrasi fluida ini diindikasikan oleh jumlah gempa-gempa low frequency dan hybrid yang tinggi," tuturnya.

Waduh, lalu gimana penanganan bencana ini? Apakah tidak ada cara untuk mengurangi dampaknya?

Tetaplah kritis membaca berita!

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI