Tragedi Mako Brimob (yang) Tragis
berita
Politika
Sumber Foto : Kaskus.com (gie/watyutink.com) 11 May 2018 18:00
Penulis
Apa yang sebenarnya terjadi di Rumah Tahanan (Rutan) Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob)? Informasi akurat yang bisa diketahui publik hanyalah kabar duka bagi bangsa Indonesia; seorang narapidana terorisme (napiter) tewas, nyawa lima orang perwira polisi melayang di tangan sekelompok napiter, sebagian polisi lainnya disandera dan menerima ragam siksaan. Selain dari informasi itu, nampaknya publik masih sulit mencerna informasi akurat lainnya.

Berdasarkan keterangan kepolisian, tragedi ini bermula dari protes Wawan Kurniawan (napiter) ketika dilarang menerima makanan yang dibawakan keluarganya. Larangan itu cukup menyulut amarah Wawan. Tapi pertanyaannya, seberapa mungkin napiter ngamuk gara-gara soal makanan? Sebab, pakar terorisme mengakui bahwa militansi teroris tidak bisa diragukan. Artinya, makanan hanyalah persoalan sepele bagi seorang teroris. Hanya gegara makanan napiter ngamuk itu sangat sulit diterima logika sederhana.

Rupanya gara-gara makanan pula, masih keterangan kepolisian, Wawan memprovokasi kolega sesama napiter untuk melakukan amuk. Mereka bersama-sama menjebol sel, lalu menyerbu ruang interogasi, hingga merebut senjata api milik perwira polisi. Akhirnya, suasana di Mako Brimob harus mencekam selama 36 jam.

Bahkan para napiter begitu mudah mendapatkan senjata tajam, dan digunakan untuk menyiksa sandera. Sehingga para tawanan harus menerima luka di sekujur tubuh. Sekarang yang menjadi pertanyaan, sebegitu mudahkah menjebol sel dalam kurun waktu yang singkat? Lalu dari mana teroris bisa mendapatkan senjata tajam?

Pertanyaan berikutnya, bagaimana prosedur sistem keamanan di Rutan Mako Brimob? Sebegitu rentan kah untuk dibobol? Lebih-lebih Korps Brimob merupakan satuan elite milik Polri yang tugas utamanya; penanganan terorisme, kerusuhan, penegakkan hukum berisiko tinggi, hingga menjinakkan bom. Atas dasar ini, publik pun mulai bertanya-tanya keheranan; bagaimana mungkin kerusuhan terjadi di “istana utama” milik Brimob?

Keheranan publik justru menimbulkan desas-desus. Berkembang rumor dengan “suara sumbang” bahwa kericuhan di Mako Brimob hanyalah pengalihan isu belaka. Entah siapa yang bermain. Tapi nalar konspiratif seperti ini cukup berbahaya. Selain nihil fakta, kericuhan di Mako Brimob menelan banyak nyawa. Apakah mungkin pihak kepolisian bisa mengabaikan nilai kemanusiaan demi memenuhi kepentingan kelompok tertentu?

Namun syak-wasangka publik tak lepas dari lalu-lalang informasi yang simpang siur. Bola liar berada di tangan kepolisian untuk mengusut tuntas “tragedi Mako Brimob”. Tapi, mengapa tragedi ini terjadi dan (harus) bikin nyawa melayang? Tragedi yang tragis!

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(jim)

SHARE ON
OPINI PENALAR
 Aktivis HAM, Ketua Badan Pengurus SETARA Institute

Penyerangan narapidana teroris (napiter) terhadap aparat kepolisian di Mako Brimob menimbulkan korban jiwa 5 orang dari aparat dan 1 narapidana teroris. SETARA Institute menyampaikan duka atas gugurnya sejumlah anggota Polri dalam penanganan kerusuhan tersebut.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa penanganan narapidana dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) terorisme tidak bisa menggunakan standar biasa, karena napiter masuk kategori high risk dan perlu penanganan khusus. Pemerintah harus memberikan dukungan penguatan Lapas untuk jenis-jenis kejahatan serius.

Penyerangan napiter menunjukkan bahwa kekuatan kelompok teror masih eksis dan efektif berjejaring dan terus menjadi ancaman bagi keamanan. Peristiwa ini mengingatkan semua pihak untuk tidak berkompromi dengan radikalisme dan terorisme yang mengancam keamanan dan ideologi bangsa.

Penyikapan atas terorisme harus terus dilakukan dan dimulai dari hulu terorisme, yakni intoleransi. Semua pihak harus menghentikan politisasi isu intoleransi dan radikalisme hanya untuk kepentingan politik elektoral Pilkada 2018 dan Pilpres 2019, yang justru memberikan ruang bagi kebangkitan kelompok ekstrimis. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Sineas, Sutradara Film Maha Guru Tan Malaka

Pada 8 Mei 2018, Indonesia dan dunia internasional geger. Pasalnya, warganet dapat melihat bagaimana situasi kerusuhan di Rutan Mako Brimob, karena narapidana terorisme (napiter) menyebarkan kejadian tersebut melalui akun sosial medinnya. Selain itu, di luar penjara, pihak-pihak yang bersimpati kepada terorisme turut menyebarkan berita penyerangan terhadap anggota polisi yang mengakibatkan gugurnya 5 personil Brimob oleh ulah keblinger kawanan teroris tersebut.

Peristiwa ini mengundang pertanyaan besar; dari mana mereka bisa mendapatkan smartphone? Sejak kapan mereka bisa mengakses sosial media dari dalam penjara? Mengapa smartphone bisa masuk ke dalam penjara dan kemudian seolah-olah terjadi pembiaran?

Selain mendapatkan akses komunikasi dengan dunia luar penjara melalui smartphone, mereka juga memiliki kemampuan tempur. Buktinya mereka dapat merebut senjata dan menguasai rumah tahanan Mako Brimob setelah berhasil membunuh dan menyiksa  5 anggota Brimob.

Peristiwa penguasaan rumah tahanan Mako Brimob oleh teroris ini merupakan tindakan terorisme yang murah. namun memiliki dampak besar secara sosial, politik dan keamanan. Para teroris melakukannya di jantung keamanan nasional. Hal ini akan meningkatkan moral tempur bagi ‘sel-sel’ di luar penjara untuk semakin agresif. Tidak menutup kemungkinan peristiwa ini telah disiapkan dan dikomunikasikan dengan ‘sel-sel’ organisasi mereka di luar penjara yang memiliki agenda aksi tersendiri.

Smart terrorism menggunakan modal termurah dengan target besar, sehingga mampu menciptakan keuntungan opini. Dalam kasus Mako Brimob dan sebelumnya, kelompok teroris semacam mengirimkan sinyal proposal kepada ISIS atau kelompok sejenisnya yang memiliki jaringan dan agenda internasional, sehingga aksi di Mako Brimob dapat diterima sebagai agenda teroris internasional yang menyasar pada tahapan penghancuran NKRI.

Smart Terrorism akan tumbuh subur di sebuah negara yang kehilangan martabat karena pengelolaan negara yang amburadul dan penegakan hukum yang timpang. Mereka menarik simpati dengan pesona jihad dengan merekrut masyarakat yang jenuh pada situasi yang sulit setiap hari karena ketidakadilan sosial yang terjadi.

Terorisme menggerogoti pilar kebangsaan, terorisme membajak agama dan umat untuk mengikuti cara-cara kekerasan mereka yang di luar ambang batas kemanusiaan. Pada  akhirnya desakralisasi negara (desacralization of state) terjadi semakin nyata di depan mata kita.

Mohon didukung doa untuk keselamatan bangsa, negara, dan rakyat Indonesia agar dapat kembali kepada cita-cita Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, UUD 1945 yang murni dan konsekuen, serta Pancasila sebagai landasan ideal yang memayungi segenap keberagaman di Nusantara. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Jurnalis Senior

Pihak kepolisian perlu menjelaskan secara transparan kerusuhan di Rumah Tahanan (Rutan) Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) Kelapa Dua, Depok. Indonesia Police Watch (IPW) mengimbau, kepolisian harus menjelaskan apa yang terjadi, berapa korban tewas dan luka, dan berapa jumlah dan jenis senjata api polisi yang berhasil dirampas napi teroris. Sebab dari informasi yang diperoleh ada lima sampai tujuh unit senjata api polisi yang dirampas napi teroris (napiter). Polisi nampaknya kesulitan mengendalikan situasi karena para napi melakukan perlawanan sengit dengan senjata api rampasan.

IPW sangat prihatin dengan apa yang terjadi di Mako Brimob. Ini adalah kekacauan yang kedua di Rutan Mako Brimob. Dan kekacauan ini terjadi beberapa saat setelah Brimob bertindak kontroversial karena berpatroli mengamankan kantor partai politik di Semarang. Bagaimana Brimob bisa berpatroli menjaga kantor orang lain dan maksimal menjaga Pilkada 2018, sementara markasnya sendiri kebobolan.

Dengan adanya kekacauan ini, Kapolri sudah saatnya mengevaluasi Komandan Korps (Dankor) Brimob sehingga kekacauan tidak terulang lagi di rutan Brimob. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF