TPF Gagal Total Ungkap Tragedi Novel
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 18 July 2019 17:30
Penulis
Watyutink.com - Sejumlah kalangan menilai tim pencari fakta (TPF) bentukan Kapolri Tito Karnavian gagal total. Hal ini lantaran tim yang sudah bekerja sejak enam bulan lalu ini tidak berhasil mengungkap siapa pelaku dan aktor intelektual di balik tragedi penyiraman air keras ke wajah Novel Baswedan. Bukan membuat kasus ini semakin terang, TPF dianggap justru malah menyudutkan penyidik senior KPK itu.

Sebelumnya, TPF merilis hasil investigasinya di Bareskrim Polri, Rabu (16/7/2019). Tim yang beranggotakan puluhan orang itu menyampaikan motif di balik aksi penyiraman air keras. Salah satunya, TPF meyakini penyerangan itu erat kaitannya dengan kasus korupsi yang ditangani Novel jika dilihat dari pola penyerangan dan keterangan saksi korban.

Temuan itu dinilai cukup menggelikan, karena bukan sesuatu yang baru. Sejak lama hasil investigasi pegiat antikorupsi menyampaikan bahwa penyerangan terhadap Novel bukan kriminal biasa, tapi dipastikan terkait kasus korupsi yang ditangani Novel.

Selain usang, temuan tersebut juga tidak cukup gamblang. TPF tidak menjelaskan kasus korupsi mana yang melatarbelakangi penyiraman air keras kepada Novel, sekalipun yakin penyerangan tersebut ada kaitannya dengan setidaknya enam kasus korupsi yang ditangani penyidik senior KPK itu. Tidakkah kesimpulan macam ini justru menimbulkan bias di masyarakat?

Sebagian kalangan menilai hasil investigasi TPF tidak masuk akal. Salah satunya, tim berhasil mengungkap motif penyerangan tanpa berhasil mengungkap identitas pelaku. Bagi Wadah KPK, misalnya, motif penyerangan baru diketahui jika pelaku berhasil diungkap.

Tidak hanya itu, TPF dinilai terkesan malah menyudutkan Novel. Hal ini lantaran TPF menyampaikan bahwa penyiraman air keras itu akibat adanya dugaan penggunaan kewenangan secara berlebihan atau excessive abuse of power oleh Novel.  Apa iya TPF didesain untuk menyudutkan Novel bahkan KPK?

Meski hasilnya mengecewakan publik, TPF merekomendasikan Kapolri membentuk tim teknis untuk menindaklanjuti hasil investigasi yang mereka lakukan. Kabarnya, Kapolri sudah menunjuk tim teknis untuk mengungkap siapa pelaku lapangan dan aktor di balik penyerangan kepada Novel.

Langkah itu rupaya tidak disambut baik oleh sebagian kalangan. Kuasa hukum Novel Baswedan, misalnya, menilai pembentukan tim teknis hanya membuat penanganan kasus Novel semakin berbelit-belit. Bahkan terkesan mengulur-ngulur waktu. Setelah mendengar rilis TPF, masyarakat pun sepertinya semakin yakin bahwa tragedi Novel tidak mungkin terungkap selama perkara ini berada di tangan polisi.

Tapi di saat bersamaan, publik tentu berharap tragedi Novel bisa diusut secara serius. Selain demi menjamin rasa keadilan bagi Novel, juga sebagai simbol perlawanan terhadap segala bentuk kriminalisasi kepada KPK. Tapi, sepanjang kasus ini tidak terungkap, KPK dinilai akan terus dibayang-bayangi oleh segala upaya kriminalisasi. Lantas, apa iya Presiden Jokowi--yang didesak segera membentuk TGPF independen--akan membiarkan situasi ini terus terjadi?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Managing Director Bahrain & Associates Law Firm, Wasekjen DPN Peradi

Tim pencari fakta (TPF) harusnya ada hasil, yaitu mengungkap siapa pelaku lapangan dan aktor intelektual penyiraman air keras kepada Novel Baswedan. Bisa saja TPF sudah mengumpulkan bukti-bukti, tinggal polisi yang menentukan tersangkanya. Mungkin sudah ada identitas pelaku yang sudah ditemukan, tapi membiarkan polisi yang mempublikasikannya. Sampai sekarang, kita tidak tahu bagaimana sekenario yang mau dibangun terkait pengungkapan kasus ini.

Yang pasti, TPF itu untuk membantu polisi mengungkap siapa pelaku, bagaimana kronologis sesungguhnya, dan lain-lain.  Saya berharap TPF berhasil mengungkap siapa pelakunya. Harusnya begitu. Kalau tidak, berhasil mengungkap petunjuk-petunjuk lain yang harus dilakukan oleh polisi.

Hasil investigasi TPF ini semakin melebar. Tidak fokus. Misalnya, terkait pernyataan TPF menyampaikan bahwa penyiraman air keras itu akibat adanya dugaan penggunaan kewenangan secara berlebihan atau excessive abuse of power oleh Novel. Itu tidak boleh dilakukan. TPF tidak pantas menyatakan seperti itu. Kan tujuannya mencari pelaku, bukan kenapa Novel melakukan itu.

Harusnya mereka hanya menyampaikan, hari ini petunjuknya sudah cukup dan kami menyerahkan kepada polisi untuk menindaklanjutinya. Jangan pula Novel yang disalahkan. Tidak mungkin Novel bergerak sendiri dalam menjalankan kewenangannya sebagai penyidik KPK karena dia dibawah pimpinan KPK. Artinya, dia bergerak karena ada perintah atau surat.

Hasil investigasi itu seolah-olah menyudutkan Novel. Apalagi, TPF menyebut penyiraman itu akibat Novel melampaui kewenangannya. Kemudian, penyerangan itu merupakan feed back dari penanganan enam perkara korupsi sehingga kemungkinannya penyiraman air keras itu merupakan balas dendam.

Kalaupun benar, temuan semacam itu seharusnya jangan menjadi konsumsi publik. Investigasi yang perlu mereka lakukan itu soal kapan kejadiannya, bagaimana kronologisnya, siapa pelakunya, dan motifnya seperti apa. Kalau dilihat dari beberapa unsur tersebut, berarti ada unsur yang tidak berhasil diungkap.

Adanya TPF ini kan kita ingin mencari pelaku siapa yang melakukan penyerangan kepada Novel, bukan justru korban yang disalahkan. Temuan TPF itu seolah-olah menyatakan bahwa penyiraman air keras itu gara-gara korban yang banyak gaya (abuse of power), makanya dihantam orang.

Melihat temuan yang disampakain publik, kita melihat bahwa apa yang dilakukan oleh TPF ini sama saja dengan penyidikan yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya, sebelum kasus Novel diambil alih oleh Polri.

Jika berkaca hasil TGPF kasus Munir itu ada orang yang ditargetkan. Mereka diperiksa, sampai akhirnya jadi tersangka. Muchdi PR dan Pollycarpus, misalnya. Itu saja sudah kita anggap buruk karena tidak berhasil menyeret aktor intelektualnya, bagaimana mungkin kita harus mengapresiasi TPF Novel. Artinya, TPF Novel lebih kacau dari TGPF Munir. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Aktivis 1980-an

Kejadian yang mengenai Novel Baswedan di dekat rumahnya selesai salat subuh waktu itu adalah kejahatan yang terorganisir. Pelaku nampaknya sudah mengincar Novel Baswedan dengan melakukan pengintaian di rumahnya. Jadi, tahu persis Novel keluar rumah jam berapa dan mau kemana perginya. Hal itulah yang menguatkan bahwa pelaku sudah lama mengincarnya.

Kejadian di atas sangat disayangkan dan publik jelas kepengen mendapatkan informasi secara lengkap siapa pelakunya. Hingga sekarang belum juga ditemukan. Sebagai penyidik utama di KPK, Novel memang mendapat teror dari para koruptor atau instansi yang tokohnya pernah ditangkap karena ketahuan korupsi. Jadi, sangatlah jelas kalau posisi Novel sangat signifikan untuk "dihabisi".

Hingga kini, pelaku penyiraman Novel belum tertangkap, bahkan tim pencari fakta (TPF) yang dibentuk Kapolri sendiri juga belum bisa mengetahui siapa pelakunya. Ironis memang, di Negara hukum aparat belum bisa mengetahui siapa pelakunya. Yang menyedihkan lagi, di mana aparat sebagai penegak hukum pun sepertinya juga mengalami "kebuntuan" dalam mencari pelakunya.

Laporan TPF bisa dikatakan gagal dan wajar jika cibiran miring terhadap TPF tersebut. Apalagi TPF dibentuk oleh Kapolri sendiri. Sementata Novel sendiri menginginkan dibentuknya TGPF independen. Hal itu agar bisa mengungkap siapa aktor dan dalang penyiraman air keras tersebut.

Kasus Novel akan sangat sulit diurai siapa aktor dan dalangnya, kalau saja tidak mau mendengarkan masukan Novel dengan dibentuknya TGPF independen. Sebab posisi Novel jelas mendapat banyak resistensi berbagai kalangan yang punya masalah dengan KPK. Novel sendiri sebagai mantan anggota Polri pasti mengetahui bagaimana cara kerja polisi dan sebelumnya Novel juga sempat berseteru dengan pihak instansi yang pernah dinaunginya.

Jadi, sangatlah wajar bahwa kasus Novel sangat erat dengan kekuasaan yang sarat dengan budaya korup. Konsekuesinya adalah menghilangkan Novel agar bisa menutup kasus tertentu. Padahal KPK sendiri pasti memiliki prosedur tetap yang tidak bisa bergantung dengan seseorang.

Kita hanya bisa berharap kasus Novel Baswedan bisa segera terungkap dan siapa saja pelakunya, aga tidak terjadi fitnah yang berkepanjangan seperti sekarang ini. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila