Ramai-ramai Menggaet Milenial
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 26 January 2019 12:00
Watyutink.com - Pemilu 2019 sebentar lagi, bukan hanya kedua kandidat capres-cawapres dan para caleg, KPU juga berupaya menarik perhatian pemilik hak pilih untuk memberikan hak suaranya pada 17 April 2019. Pemilih milenial merupakan salah satu kelompok pemilih yang disasar. Berbagai cara dilakukan, untuk menarik perhatian pemilih milenial. Mulai dari menggunakan sejumlah platform media sosial, hingga mendatangi perguruan tinggi guna melakukan sosialisasi Pemilu 2019.

Dilansir dari Metro TV, kelompok pemilih milenial adalah Warga Negara Indonesia (WNI) pemilik hak pilih yang lahir dalam rentan waktu 1983-2001 atau berusia 35-17 tahun. Hasil survei yang dirilis LIPI 2018 lalu menyatakan sekitar 35 sampai 40 persen pemilih pada Pemilu 2019 didominasi oleh pemilih kelompok milenial. Partisipasi mereka dianggap menjadi modal penting bagi siapa saja yang memiliki kepentingan pada Pemilu 2019.

Tidak heran jika perhatian kelompok milenial menjadi rebutan panitia dan peserta Pemilu 2019. Menarik perhatian pemilih dari kelompok milenial dinilai tidak lah mudah. Alvara Research Center merilis hasil survei yang menyatakan hanya 22 persen kelompok milenial yang melek politik. Minimnya kelompok pemilih milenial yang melek politik, dianggap akan berdampak kepada kesadaran mereka untuk memberikan hak pilihnya pada Pemilu 2019 yang digelar 17 April nanti.

Dilansir dari tribunnews.com, KPU menargetkan partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 mencapai 77,5 persen. Menurut Ketua KPU Arief Budiman, bagi negara demokrasi seperti Indonesia, partisipasi sebesar 75 persen sudah bagus. Kelompok pemilih milenial dianggap punya peran penting dalam mencapai partisipasi 77,5 persen itu. Oleh karena itu KPU diminta gencar melakukan sosialisasi pemilu di kelompok pemilih pemula. Apakah sosialisasi di kelompok pemilih milenial sudah gencar dilakukan KPU?

Selain KPU, Dua Kontestan Pilpres 2019 serta caleg partai pengusung dan pendukung juga gencar merebut perhatian kelompok pemilih milenial. Sejumlah partai politik peserta Pemilu 2019 bahkan memaksimalkan sumber daya caleg milenial yang dimiliki untuk merebut suara pemilih milenial, agar mereka bisa lolos ke Senayan. Tidak jarang caleg sepuh juga berusaha untuk megaet pemilih milenial dengan bergaya layaknya generasi milenial. 

Kedua kandidat capres-cawapres pun gencar melakukan pendekatan ke kelompok pemilih milenial. Capres Petahana Jokowi, dan Cawapres Penantang Sandiaga Uno berupaya mengaet kelompok pemilih milenial lewat platform media sosial, salah satunya melalui YouTube. Sejumlah youtuber yang subscriber nya didominasi kelompok pemilih pemula pun dijadikan endorsement mereka.

Seminggu terakhir, chanel YouTube Boy Wiliam menjadi trending, lantaran menyampaikan perbincangan dengan Jokowi. Video berdurasi 15 menit lebih tersebut menampilkan perbincangan Boy dan Jokowi di dalam mobil. Selain di chanel YouTube Boy Wiliam, Jokowi juga sering muncul di chanel YouTube sejumlah youtuber Tanah Air. 

Hal serupa juga dilakukan Cawapres Penantang Jokowi, Sandiaga Uno. Sandi sering muncul di chanel YouTube sejumlah youtuber Indonesia. Apakah cara yang telah dilakukan kedua kandidat capres-cawapres untuk mengaet suara kelompok pemilih milenial akan berhasil? Apa langkah yang harusnya dilakukan kedua kandidat untuk menarik perhatian milenial?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pakar dan Dosen Komunikasi

Milenial, satu kata yang saat ini banyak dibicarakan. Pemilih milenial menjadi perhatian banyak pihak saat menjelang Pemilu 2019, di mana mereka merupakan pemilih rasional yang dalam pergesernya bisa menjadi pemilih loyal. 

Semua pihak berlomba menjaring suara milenial untuk memenangkan kontestansi pemilu dan juga mencapai angka tinggi keterlibatan masyarakat dalam Pemilu 2019. Bila melihat berbagai upaya saat ini, kedua pasang kandidat Capres-cawapres Pilpres 2019 telah melakukan berbagai upaya yang sangat besar untuk memenangkan hati, dan utamanya suara golongan milenial. 

Hal ini dapat dilihat dari penggunaan media online yang cukup tinggi bagi kedua pasangan kandidat pasangan kandidat berlomba untuk mendapat dukungan milenial dengan pendekatan jaringan media online. 

Para youtuber, celebgram dan aktivis dunia maya lainnya menjadi bagian untuk meraih suara milenial. Tapi bukan hanya itu yang harus menjadi perhatian adalah banyak kelompok milenial yang acuh dan apatis dengan politik sehingga menghindar dan cenderung menilai politik secara negatif. 

Bagaimana pasangan kandidat capres dapat menggeser dari yang apatis menjadi partisipan? Itu bagian tersulitnya. Strategi bukan hanya menggunakan endors dalam penjaring suara milenial, tapi juga dengan berbagai kegiatan yang disukai milenial. 

Baik kubu Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi keduanya telah melakukan milenial things. Misal dari kubu 01 gaya milenial menjadi atribut keseharian Capres Jokowi baik cara berpakaian yang kasual dengan sepatu keds nya serta berbagai asesoris fashion lainnya yang merupakan produk milenial Indonesia. 

Selain itu hobi Jokowi yang rajin hadir pada acara musik, tempat kekinian seperti coffeshop dan resto usaha kaum yang dimiliki kaum milenial dan menjadi icon milenial. Strategi pendekatan melalui media online baik medsos, youtube dengan beberapa youtuber besar Indonesia dan Jokowi yang rajin vlog dalam berbagai kegiatan kesehariannya. 

Gerakan milenial juga turut serta dalam perhelatan kampanye Pilpres 2019 ini dengan banyaknya vlog yang menjawab berbagai serangan ke capres nomor 01, poster dan ilustrasi kandidat nomor urut 01 dan saat ini yang terbaru dukungan dari berbagai alumni baik SMA dan Universitas tidak hanya di Indonesia. 

Bersamaa juga dengan strategi, kubu Prabowo-Sandi di mana Sandi menjadi icon yang mewakili gaya milenial dengan lifestyle-nya yang rajin jogging, aktif diberbagai kegiatan kaum milenial dan enterpreneur milenial. Sandi menjadi sosok untuk menarik pemilih milenial dari kubu nomor urut 02 dengan kasualitas yang dimiliki dan gaya anak Jaksel. 

Kandidat pasangan capres-cawapres no urut 02 juga menggunakan berbagai media online untuk menjaring kaum milenial Indonesia. Kedua kubu kandidat baik 01 dan 02 telah melakukan upaya gencar dalam kampanye Pilpres 2019 dalam menarik milenial. Upaya yang dilakukan harus dilakuakm secara kontinyu dan mengikuti perkembangan sosial saat ini. 

Perhatian besar adalah bahwa pemilih milenial memiliki kekuatan dalam mengeksplor informasi sehingga segala informasinya disampaikan harus berupa data akurat yang dapat di kroscek dan terbukti valid. 

Pemilih milenial memiliki kemampuan analisis yang tinggi dan kemampuan untuk mendapatkan berbagai sumber informasi data kandidat. Sifat milenial yang dinamis dan optimis harus mampu dimanfaatkan dengan baik sebelum sifat mudah bosan yang dimiliki milenial muncul. 

Kedua kubu kandidat telah melakukan langkah besar dan siapa pemenangnya akan dibuktikan pada 17 April 2019.  Masalah lain adalah kemampuan KPU untuk menggiring masyarakat menuju bilik suara dan tidak golput. Upaya KPU masih sangat normatif dalam himbauan untuk menggunakan hak pilih pada Pemilu 2019. Upaya telah dilakuakm KPU tapi masih harus lebih giat memanfaatkan segala sumber daya yang ada dalam menggaet kaum milenial dan seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hal memilih. 

Lebih memanfaatkan media online dengan menggandeng kaum milenial saat ini. Semoga kita semua dapat menjadi pemilih rasional yang mampu memilah informasi, tidak mudah terpancing emosi, tidak turut menebarkan hoax, tidak menebarkan ujaran kebencian, dan tidak saling merendahkan. 

Mendukung adalah pilihan tiap individu tapi menjaga kesatuan NKRI yang utama. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar dengan budaya timur yang santun, ini yang akan menjadikan kampanye pemilu sejuk dan damai. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Dunia memang maju ke depan dan bukan ke belakang. Sejak 4 dekade yang lalu masyarakat diperkenalkan dengan personal computer, 3 dekade yang lalu dengan telpon genggam, dan 2 dekade yang lalu dengan internet. Saat ini di Indonesia ada 176 juta pengguna cellphone dan 137 juta pengguna Facebook. Dan semua lapisan masyarakat sudah mulai didominasi oleh mereka yang disebut dengan kaum milenial. Telepon genggam dan internet tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kaum milenial ini. Mulai dari komunikasi, koneksi, mencari informasi, urusan pekerjaan, urusan perbankan, belanja barang, penunjuk arah, kesehatan, dan juga alat bantu untuk membuat keputusan. Di kampung saat ini orang lebih memilih untuk beli pulsa dari pada membeli rokok.

Kita sekarang masuk ke dalam tahun pemilihan. Baik pemilihan legislatif maupun presiden. Setiap milenial yang sudah masuk umur pemilih juga harus membuat keputusan siapa yang akan mewakili kepentingan mereka dan juga pimpinan bangsa ini. Di alam demokrasi, banjirnya informasi, cepatnya perubahan, serta banyaknya distraction, keputusan memilih harus tetap dibuat.

Setiap calon legislatif dan calon pimpinan dihadapi oleh persaingan yang begitu keras dan ketat untuk mendapatkan simpati serta dukungan dari milenial ini. Bagaimana caranya? Ya harus masuk kedunia Cyberspace yaitu dunia yang didominasi oleh Google, Microsoft, Yahoo, Wifi, telephone providers, email, Youtube, Facebook, Instagram, Whatsapp, dan social media lainnya.

Tanpa menggunakan media-media seperti ini dijamin tidak akan mendapatkan perhatian dari kaum milenials karena kehidupan mereka tidak bisa lepas dari hal-hal di atas.

Berdasarkan penelitian, diluar kamar mandi, mereka mengecek email sambil lihat TV (70 persen), dari tempat tidur (52 persen), sedang liburan (50 persen), sedang menggunakan telepon (43 persen), bahkan sedang menyetir kendaraan (18 persen). Milenial sangat mobile dan akan melihat WorkMail mereka di luar jam kantor. 88 persen akan mengecek email mereka lewat smartphone nya.

Menimbang apa yang sedang terjadi dengan kaum milenial, para caleg maupun calon pimpinan negara tidak ada jalan lain kecuali harus masuk dan menggunakan mediai-media ini bila ingin mendapatkan perhatian, simpatisan, keyakinan, bahkan dukungan mereka. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan