Polemik Tempe: Ukuran Hingga Tantangan Blusukan
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 01 November 2018 16:30
Ukuran tempe kembali jadi polemik. Setelah mengaku mendengarkan keluhan emak-emak terkait tempe setipis kartu ATM, kini Capres Nomor Urut 02 tantang Jokowi blusukan cari variasi ukuran tempe. Tantangan tersebut muncul setelah Jokowi menunjukkan tempe tebal yang ditemuinya saat melakukan blusukan ke Pasar Bogor, Jawa Barat pada (30/18/2018). Temuan tempe tebal itulah yang melahirkan tantangan Sandi kepada sang Petahana.

Awal September 2018 lalu, Sandi mengatakan telah mendengar keluhan warga masyarakat mengenai ukuran tempe yang setipis kartu ATM. Sandi menjelaskan, tipisnya  tempe merupakan dampak dari harga bahan baku utama tempe, yaitu kedelai yang harganya melambung tinggi. Tingginya harga kedelai impor dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang belakangan melemah, sampai di harga Rp15.000per dolar AS.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding menuding Sandi menyebarkan hoax ketika menyebut tempe setipis ATM. Sindiran dari Relawan Jokoi-Ma’ruf kepada Sandi dilakukan dengan menunjukkan ukuran tempe yang tidak setipis kartu ATM. Dalam berbagai kesempatan pendukung Jokowi-Ma’ruf beberapa kali menyindir akan memasak tempe di hadapan umum, untuk membuktikan tempe tidak setipis kartu ATM.

Kubu Prabowo-Sandi berupaya membela sang cawapres. Menurut mereka, yang diutarakan Sandi adalah curhatan dari masyarakat. Masyarakat tersebut bisa saja menggunakan kiasan untuk mengambarkan kesulitan mereka di lapangan, yang digambarkan dengan ukuran tempe setipis kartu ATM. Apakah curhatan masyarakat itu tidak ditelaah lebih dahulu oleh Sandi sebelum diutarakan ke publik dan melahirkan polemik?

Penghujung Oktober 2018, giliran Jokowi yang melakukan blusukan di Pasar Bogor. Dalam blusukannya itu sang Petahana menunjukkan tempe dengan ukuran tebal. Tindakan itu menuai reaksi dari Sandi, yang kemudian mengajak Jokowi blusukan untuk meninjau sejumlah variasi ukuran tempe. Tujuannya, Sandi ingin melihat ukuran tempe yang ditunjukan Jokowi. Apakah ada upaya dari Sandi untuk memperlihatkan bahwa tindakan Jokowi menunjukkan tempe tebal adalah pencitraan belaka?

Ada pihak yang mengatakan, aneh kalau Sandi ajak Jokowi blusukan. Karena sejak jadi wali kota, hingga menjabat RI 1, belusukan menjadi favorit Jokowi. Sandi dianggap terlihat lebih asing jika melakukan blusukan, tidak seperti Jokowi yang dianggap mempopulerkan gaya blusukan. Apakah Jokowi akan menerima tantangan dari Sandi? Apa urgensinya melakukan belusukan untuk sekadar melakukan pengecekan variasi ukuran tempe?

Ada penilaian, blusukan untuk melakukan pengecekan bukanlah solusi yang substantif sebagai calon pemimpin. Baik kubu Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi, dinilai sudah sama-sama tahu harga tempe itu tergantung dari harga bahan bakunya yang impor. Apakah kedua kubu sudah memikirkan solusi jitu untuk mengurangi ketergantungan impor kedelai sebagai bahan baku utama tempe? Apakah kedua kubu sudah memulai melakukan pemberdayaan petani kedelai untuk meningkatkan produksi tempe?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Politisi Hanura

Menurut saya sejauh ini Capres Nomor Urut 01 Jokowi berhasil melawan isu tempe yang belakangan coba dihembuskan Cawapres Nomor Urut 02 Sandiaga Uno. Dengan hanya membalikkan telapak tangan, Jokowi tidak perlu lagi bersusah payah menjawab isu murahan yang coba dimainkan Sandiaga terkait ukuran tempe.

Itu ditunukan dan dibuktikan Jokowi dengan melakukan belusukan yang menjadi kebiasannya. Hanya dengan melakukan kunjungan ke pasar yang ada. Selanjutnya, menunjukan bahwa tempe  yang dijajahkan oleh para pedagang ukurannya tidak setipis kartu ATM atau masih sangat tebal. Harga jualnya juga masih cenderung lebih stabil.

Menurut saya Sandi itu telah melakukan pembohongan publik, dengan isu tempe yang dikatakannya. Sandi mengatakan harga tempe naik, serta ukurannya kini setipis kartu ATM, padahal produk olahan dari kedelai bernama tempe itu mudah dicek ukuran dan harganya di pasar manapun. Dan mengeceknya semudah membalikan telapak tangan. Jokowi telah melakukan itu dengan berkunjung ke Pasar Bogor, Jawa Barat.

Dari sini kita bisa melihat, pada Pilpres 2019, pasangan mana yang punya kelas sebagai calon pemimpin masa depan Indonesia. Saya berpendapat, Cawapresnya Nomor Urut 02 Sandiaga Uno, sama sekali tidak mampu menunjukkan kelasnya sebagai negarawan. Masa tempe dijadikan isu untuk menyerang kompetitornya dalam kontestasi Pilpres 2019. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Saat ini politik tempe dan tahu yang dimainkan oleh kontestan presiden dan wakil presiden. Menurut saya sah-sah saja mengecek harga kebutuhan pokok tapi bukan hanya itu. Semua aspirasi di tampung dan ini menjadi bahan atau materi bukan untuk di obral. Coba mental tempe diganti dengan burger atau pizza akan lebih bonafit dan benefit.

Saya amati ini hanyalah bagian campaign strategies (strategi kampanye) politik dari kubu Prabowo-Sandiaga  untuk attacking (menyerang) lawan politiknya tak lain adalah sang petahana Jokowi. Mengedepankan politik santun makan pentingnya sebuah data, jangan hanya main serang atau politik hantam kromo.

Memang tak mudah menjadi pemimpin di Indonesia. Banyak yang perlu diurus Jokowi. Apalagi, ada rentetan bencana mulai dari Bencana Alam di NTB, tsunami dan gempa di Sulteng belum lagi kecelakaan Lion Air. Kalau masalah harga harus menterinya harus pro aktif jangan reaktif. Dibeberapa pasar harganya tetap stabil kecuali ada sentimen pasar dan dari pedagang yang nakal. Contoh beras premium dan medium.

Terkadang pedagang menahan yang medium sedangkan beras yang dilepas ialah premium. Sejauh harganya normal saja. Contoh : beras/Kilogram- Premium Rp11.000 Rp11.000-  Medium Rp10.000. Termurah Rp9.000 Gula Pasir/Kilogram- Kristal Putih Rp11.500 Rp11.500. Jadi HET bahan pokok tetap stabil. Market price and stability control bahkan market condition saya nilai masih dalam tahap normal.

Memang soal harga pangan kemarin sempat goyah juga dengan gonjang-ganjing impor 2 juta ton beras. Nah! disinilah para trader atau pedagang bermain harga dan buyer ikut kena getahnya. Jadi Sandi perlu juga mengecek dan melihat secara keseluruhan. Memang ada fluktuatif saat jelang hari raya seperti Hari Idul Fitri dan Hari Natal.

Benar atau salah bukan utama tapi bagaimana saat ini pemerintah tetap menjaga harga kebutuhan pokok jangan menaikan harga   sembako. Lantaran ada efeknya. Pada pekan lalu harga kebutuhan stabil. Memang masalah harga bisa di goreng oleh Sandiaga. Ini isu paling mujarab bagi pemilih khususnya pedagang.

Saya curiga saat Sandiaga turun yang memberikan data dan fakta di lapangan pemilihnya mereka wajar saja. Begitu pula Voters-nya Jokowi. Sandiaga harus cek dan ricek dulu di pasar besar dan kecil baru bicara.

Data itu penting, jangan sampai hanya asbun. Iya harga fluktuatif. Jika rupiah melemah dan dolar menguat bisa berimbas di harga kebutuhan pokok. kalau BBM naik maka sembako akan ikut naik. Ini bak politik sapi perah dan politik dagang sapi. Paling tidak di soroti masalah ketersediaan, harga dan mutu.

Yang menjadi persoalan utama disini bukanlah harga tempe dan tahu di pasar tapi bagaimana ini bisa di ekspor ke luar negeri. Sebagai contoh di AS produk tempe dan tahu dari China bahkan Vietnam yang lebih diterima dari produksi kita. Begitu pula ikan tuna kita penghasil cukup vesar tapi kita kalah bersaing dengan Jepang.

Udang saja kita kalah sama Mexico untuk tembus global market (pasar global). Persoalannya kita tidak menjaga kwalitas barang bahkan sisi packaging kita kalah. Sampai penerbangan kita di tolaj masuk Eropah dan Amerika karena faktor passanger safety (keselamatan penumpang) kita sangat rendah. Sebetulnya kita push di masalah tempe dan tahu. Apa pasal? Lantaran kita penghasil  kedelai terbesar.

Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa Amerika Serikat (USA) merupakan negara penghasil Kedelai (Soybean) terbesar di dunia, jumlah produksi pada tahun 2016 sebanyak 117,208,380 ton. Diurutan kedua sebagai negara penghasil kedelai adalah negara Brasil dengan jumlah produksi sekitar 96,296,714 ton,  diposisi ketiga ditempati oleh negara Argentina dengan jumlah produksi sebnyak 58,799,258 ton.

Indonesia sendiri berada di urutan ke-13 dengan 967,876 ton. Kita kalah dari India, Rusia dan China. Padahal tanah kita luas  untuk mengembangkan kedelai tersebut. Itu sebetulnya yang menjadi perhatian serius dari para calon. Jangan hanya menyoroti soal harga tempe. Itu low quality not high quality dalam cara berpikir. Lebih baik Sandiaga mencari isu politik yang lain. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Anggota Direktorat Media & Komunikasi Badan Pemenangan Nasional Prabowo Sandi

Apa yang disampaikan Sandi sebetulnya hanya sindiran analogis mengenai persoalan yang pernah dikeluhkan juga oleh pedagang tempe bahwa harga bahan baku naik, karena impor. Mereka terpaksa mengurangi ukuran dan isi, agar harga tidak naik terlalu tinggi dan tetap terjangkau oleh konsumen.

Dari informasi itulah menurut saya analogi tersebut menjadi tepat, walau jangan juga diartikan secara harfiah, karena memang itu sindiran saja.

Kemudian, tantangan Sandi untuk blusukan juga seharusnya tidak perlu diartikan secara harfiah. Logikanya begini, dengan fokus pemerintahan rezim jokowi yang mengedepankan pembangunan infrastruktur, menyebabkan ekonomi menurun, rupiah melemah drastis dan defisit current account karena impor lebih tinggi daripada ekspor, dan kegiatan impor pangan terus menerus. Dengan tantangan blusukan ini, sebetulnya Sandi ingin mendorong agar Pak Jokowi agar bisa lebih fokus pada isu harga-harga dan lapangan pekerjaan. Dengan blusukan, diharapkan ada perubahan cepat pada fokus pembangunan pemerintahan agar bisa lebih menitikberatkan pada kesehatan ekonomi bangsa, mengurangi impor pangan disertai penguatan pada produk pangan lokal, fokus pada harga-harga dan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. 

Jadi menurut saya, jangan terjebak pada analogi yang dibangun dan mengartikan kata-kata secara harfiah, apalagi jelas secara logis kata-kata seperti itu tidak bisa diartikan secara harfiah tadi. Kata-kata Sandi bisa diterjemahkan secara substansial, karena itu merupakan sindiran politik.

Bayangkan, kata-kata sindiran Sandi adalah: Kita bisa berdebat tentang Tempe dan ukuran Tempe. kalau diartikan secara harfiah, ya tentunya konyol. Tapi secara substansial, kata-kata itu menjadi tepat sebagai sebuah sindiran politik. Bahwa kedelai masih mayoritas impor adalah sebuah kenyataan dan karena rupiah melemah drastis terhadap dolar amerika dan transaksi impor dilakukan dengan mata uang dolar amerika, maka harga kedelai sebagai bahan baku pasti naik tinggi dan berpengaruh secara signifika pada produksi tempe. Ini meninggalkan pilihan sulit pada pedagang, menaikkan harga jual tempe dengan resiko penjualan mereka turun, atau mengurangi ukuran dan isi utk menjaga harga tetap stabil dan penjualan tetap terjaga. 

Saat margin pedagang sudah tipis dengan harga bahan baku yang tinggi, produksi tempe berkurang, ukuran dan isi semakin kecil, maka resiko pengurangan tenaga kerja menguat dan rentan terjadi sebagai sebuah realitas.

Dan situasi ini, sebetulnya bukan hanya pada produk tempe, karena kenaikan harga bahan baku impor menjadi keniscayaan akibat melemahnya rupiah terhadap dolar AS tadi.

Melihat di atas, maka persoalannya secara substansial kembali pada isu harga dan lapangan kerja. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF