Pilpres 2019: Atas Damai, Bawah Ramai
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 05 September 2018 13:00
Berapa banyak dari kita yang memblok teman, kerabat bahkan saudara kandung karena berbeda pilihan jelang kontestasi politik? Saling serang kata-kata di dunia maya hingga nyata, membuat tali persaudaraan dan silahturahmi putus. Masing-masing menganggap calon yang dijagokan paling baik, dan calon lainnya buruk.

Padahal dalam beberapa kesempatan, para elite dan partai yang terlihat berkompetisi mati-matian memperebutkan  kekuasaan, terlihat menunjukkan sikap bersahabat satu sama lain dalam berbagai momen dan kesempatan. Bahkan mereka yang dinilai musuh bebuyutan di tingkat nasional, bisa berkoalisi untuk merebut kekuasaan di tingkat daerah.

Bahkan dalam sejumlah momen, sikap mereka jauh dari kesan permusuhan antar satu dengan lainnya. Salah satu contohnya, yaitu Jokowi dan Prabowo yang dinilai sejumlah pihak sebagai musuh bebuyutan dalam dua kali pilpres (2014 dan 2019). Keduanya beberapa kali terlibat dalam perbincangan hangat dan bersahabat.

Dalam pertandingan silat di ajang Asian Games 2018 Prabowo dan Jokowi bahkan tak menunjukkan sikap tak suka ketika keduanya dirangkul bersamaan oleh pesilat putra Hanifan Yudani Kusuma peraih medali emas nomor Tarung Putra kelas C (55-60 kg). Apakah sikap bersahabat dari keduanya adalah sikap yang tulus dari dalam hati atau sekadar pencitraan dari kedua capres itu?

Terlepas dari itu, rangkulan ketiganya membuat tensi politik menurun sejenak. Sejumlah akun medsos dari pendukung kedua kandidat terpampang foto momen berharga dengan status yang menyejukkan hati dan menjunjung tinggi persatuan. Tagar (#)IndonesiaTetapBersatu sempat disebarkan di sejumlah platform medsos. Namun selang beberapa hari, perang kata-kata kedua kubu kembali tersaji di dunia maya.

Ada anggapan bahwa sejatinya pertarungan antar dua kubu pendukung capres hanya terjadi di dunia maya dan sebarannya hanya di kota-kota besar saja. Kelas menengah atas dinilai memiliki peran besar dalam mentradingkan pertarungan tagar, meme dan status di dunia maya. Apakah trending topik pertarungan di dunia maya murni dimainkan pendukung setia kedua kubu capres atau ada skenario dari tim cyber army yang mencoba memanaskan situasi?

Apakah serangkaian peristiwa yang menunjukkan kedekatan antar para kandidat yang bertarung pada Pilpres juga Pileng 2019 tidak membuat para pendukung mereka sadar dan mengedepankan persatuan ketimbang pertarungan dalam kontestasi politik? Apakah ada skenario yang dimainkan kelompok tertentu untuk memecah belah anak bangsa dengan memanfaatkan kontestasi politik ini?

Apakah ada kaitannya kesejahteraan dengan sikap masyarakat yang cenderung mengutamakan konflik jelang kontestasi politik? Langkah apa yang sebaiknya diambil untuk mengakhiri kondisi persaingan yang berdampak pada terpecahnya masyarakat ke dalam kubu-kubu? Apakah konflik ini dianggap biasa saja dan tidak mengancam persatuan bangsa dan negara?

Sejauh ini, di dunia maya terlihat hampir semua kelompok mempertahankan kebenaran dari sudut pandang masing-masing, dan berupaya saling menjatuhkan satu sama lain. Kontestasi politik sebelumnya menunjukan, tak sedikit apa yang ada di dunia maya, berdampak pada dunia nyata. Perpecahan terjadi antar masyarakat. Apakah ada gerakan yang berupaya untuk mempersatukan masyarakat dan menyejukan suasana jelan kontestasi politik?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Guru Besar Antropologi UI, mantan Ketua Umum Partai Demokrat

Gejala elite berdamai sedangkan pendukungnya memanas itu gejala yang lumrah. Kelompok elite itu cukup makan, cukup tidur dan gajinya cukup, jadi mereka santai-santai saja. Tetapi, rakyatnya hidup serba kekurangan, dari hari ke hari mencari sesuap nasi. Kondisi ini bisa jadi membuat rakyat mudah terpancing emosinya.

Selain itu masih ada elite kita yang sifatnya kekanak-kanakan. Mereka tidak berfikir panjang bagaimana persatuan dan kesatuan bangsanya. Dalam pikiran para elite itu hanyalah bagaimana cara untuk mengerahkan massa untuk memenangkan persaingan dalam kopetisi politik perebutan kekuasaan. Ini adalah gejala yang hampir dialami seluruh elite di dunia.

Kondisi kekurangan pangan, kekurangan kesempatan, kekurangan waktu dan sebagainya, maka orang semakin sensitif untuk berebut rejeki, peluang atau kesempatan. Ditambah lagi terbuka kemungkinan untuk melanggar aturan-aturan yang ada dalam persaingan. Akibatnya persaingan yang demikian luas, berlangsung tidak adil/fair.

Situasi tidak fair ini kemudian digunakan juga pada persaingan antar elite. Mereka menggunakan simbol-simbol ikatan primordial untuk memancing masa. Salah satu ikatan primordial yang kuat adalah agama. Jadi akhirnya, agama bukan diikuti sebagai ajaran, tapi sekadar simbol bahwa mereka satu kelompok. Nama tuhan dijaul untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, yang sejatinya jauh dari ajaran agama itu sendiri.

Kembali lagi, sensitifitas atau emosi yang melarat, miskin dan lapar, dengan mudah dipanasi/dibakar dan merekalah yang bergerak. Tidak peduli apakah mereka mendukung atau menolak kandidat tertentu, semua terpancing emosinya dengan. Para elite tertentu memanfatkan emosi rakyat yang lapar, serba  kekurangan serta susah itu, dengan janji-janji surge. Itulah yang sekarang terjadi

Untuk kepentingan politik sesaat para elite memanfaatkan kondisi rakyat yang ada. Jadi tidak berfikir panjang, yang penting it’s now or never. Tapi mereka tidak berfikir lebih jauh lagi. Sekarang tinggal keras-kerasan mengongong. Orang Jawa bilang, “asuh gede menang kerahe” (anjing besar menang berkelahinya. Besar-besaran gongonggnya.

Di kalangan elite. rangkul-rangkulan, makan bersama, guyonan, itu hal yang biasa. Tapi begitu mereka di hadapan rakyat, mereka terus berkelahi. Seolah memelihara konflik, hal ini sangat disayangkan. (ast)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Komunikasi/ Dosen FIKOM Universitas Prof.DR.Moestopo (Beragama)

Apa yang dilakukan Jokowi dan Prabowo mengikuti keinginan Hanifan untuk berangkulan memang sebuah pencitraan. Tidak mungkin dalam situasi seperti itu kedua capres menunjukan sikap konfrontasi dan menolak diajak berangkulan. Artinya dengan bersikap seperti itu, keduanya menunjukan sikap sportivitas, juga ingin menunjukan sikap kenegarawanan.

Namun di sisi lain, keduanya punya basis massa yang loyal, dan itu juga harus diaga. Jika dibikin kendor, tidak akan ada lagi loyalis dari keduanya. Artinya jika kita bicara mengenai simbol-simbol tadi, sederhana saja, itu sekadar penguatan citra diri.

Jika kita kita merujuk pada teori interaksi simbolik, ada mind (pikiran), self (diri) dan society (masyarakat). Apa yang ada di kepala atau pikiran kita, kemudian terinternalisasi terhadap diri kita, selanjutnya terjabarkan di dalam lingkungan masyarakat.

Nah jika Prabowo yang berlatar militer, cenderung keras, mengerikan dan sebagainya, ketika rangkulan dia menunjukan diri sebagai seorang negarawan. Dia seorang yang punya kelembutam dan manusiawi, memberikan simbol bahwa dirinya layak menjadi pemimpin. Itu bisa tercermin hanya dengan sekadar berangkulan.

Artinya yang tindakan seperti itu bisa merubah masa lalu Prabowo yang cukup dramatik, masa lalu tersebut harus dihilangkan. Karena sekarang dia bersanding dengan Sandiaga Uno yang tidak punya track record masa lalu yang buruk. Nah, ini harus diimbangi dengan nuansa seperti itu. Ini adalah langkah yang baik, serta memberikan kesan seolah dia kuat.

Setelah itu, isu-isu yang belakangan muncul bisa saja digunakan untuk penguatan. Juga memainkan isu adalah sebagai penguatan identitas diri. Artinya ketika ada isu yang kuta bisa dimainkan, ini akan menjadi penguatan identias diri. Sebagai contoh, sekarang isu naiknya dolar. Isu itu kan semakin menguatkan terhadap identitas Jokowi. Apakah dia masih layak untuk menjabat lagi atau tidak. Tidak heran kalau isu seperti itu tetap dimainkan. Ini berarti simbol itu digunakan sebagai penguatan. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF