Pilkada Jateng, (Katanya) Ganjar-Yasin yang Menang
berita
Politika
Sumber Foto : kaskus.co.id (gie/watytink.com) 25 June 2018 18:00
Penulis
Pasangan calon (paslon) Ganjar Pranowo-Taj Yasin jauh mengungguli paslon Sudirman Said-Ida Fauziah. Begitu hasil sigi sejumlah lembaga survei terkemuka mengenai elektabilitas kontestan di Pilkada Jawa Tengah (Jateng). Misalnya, Charta Politika menyebutkan elektabilatas Gajar-Yasin mencapai 70,5 persen, sementara Sudirman-Ida hanya sebesar 13,6 persen. Mengingat waktu pencoblosan pada 27 Juni esok, apakah cukup waktu bagi paslon nomor 2 untuk mengungguli paslon petahana? Terlebih, saat ini sudah memasuki masa tenang di mana tak diperkenankan lagi melakukan aktivitas kampanye bagi kedua paslon.

Mengalahkan paslon yang diusung PDIP di Jateng tampaknya masih sulit. Semua orang yang punya intensi politik memahami, Jateng adalah kandang banteng. Bibit Waluyo terpilih menjadi Gubernur periode 2008-2013 tak bisa dipungkiri berkat dukungan penuh dari PDIP. Pasalnya, begitu PDIP mengalihkan dukungan kepada Ganjar pada Pilkada 2013, Bibit sebagai calon petahana pun tumbang. Dan, pilkada kali ini PDIP masih mengusung Ganjar-Yasin.

Dengan kondisi demikian, bukannya mengefektifkan strategi kampanye, paslon Sudirman-Ida justru beberapa kali melakukan blunder. Misalnya, saat debat publik terakhir pada Kamis (21/6/2018). Dalam sesi tanya jawab para cagub, Sudirman mempertanyakan pemberian izin proyek Geothermal di kaki Gunung Slamet yang merusak jalan lingkungan, air tercemar, dan pertanian terancam. Namun Ganjar menjawab, perpanjangan izin itu diberikan oleh Sudirman sendiri saat menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Lalu, apakah langkah blunder Sudirman semacam itu menjadi salah satu penyebab utama elektabilatsnya tak kunjung membaik?

Sejatinya, bisa saja elektabilitas Sudirman menjadi yang tertinggi jika Ganjar Pranowo terbukti melakukan korupsi KTP-el. Namun hingga kini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak memiliki bukti untuk menyeret mantan anggota DPR itu. Meski begitu, Ratna Sarumpaet bersama sejumlah warga Jateng datang ke Gedung KPK pada Jumat (22/6/2018). Mereka meminta lembaga anti rasuah memperjelas status hukum Ganjar Pranowo dalam kasus korupsi KTP-el. Tetapi, belakangan diketahui massa yang dibawa Ratna rupanya diduga pendukung Sudirman-Ida. Pertanyaannya, benarkah ini upaya manuver politik yang dilakukan paslon nomor urut 2 beserta timnya?

Kasus korupsi KTP-el harus dibabat sampai ke akarnya. Tetapi, jika KPK menetapkan Ganjar sebagai tersangka jelang hari pencoblosan tentu akan menimbulkan kecurigaan di sebagian kalangan bahwa lembaga pimpinan Agus Rahardjo ini telah bermain politik. Dalam putusan hakim Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat terhadap Setya Novanto pada April 2018 lalu, banyak nama yang disebut-sebut menerima duit haram. Tapi tak ada nama Ganjar dalam daftar tersebut. Kecurigaan publik tentu sangat sederhana, bagaimana mungkin Ganjar ditersangkakan sementara nama-nama yang jelas-jelas disebut hakim masih berkeliaran.

Lantas, sejauhmana masyarakat Jateng terpengaruh dengan dugaan ketelibatan Ganjar dalam kasus korupsi KTP-el? Elektabilitas Ganjar selalu naik, alih-alih merosot. Meski hasil sigi sejumlah survei Ganjar-Yasin unggul jauh, bisa saja hasil pemilihan justru memenangkan Sudirman-Ida. Sebut saja Pilkada DKI Jakarta lalu, Anies-Sandiaga berhasil menumbangkan calon petahan Ahok-Djarot di luar perkiraan banyak orang.

Namun menurut Sunarto Ciptoharjono, Direktur Lingkaran Survei Kebijakan Publik-Lingkaran Survei Indonesia (LSKP-LSI) Denny JA, hanya “tsunami politik” yang bisa menggoyang kemenangan Ganjar seperti kasus korupsi KTP-el. Dengan waktu tersisa dua hari lagi, akankah upaya “tsunami politik” yang dilakukan paslon Sudirman-Ida beserta timnya berhasil?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

Pasangan calon (paslon) Ganjar-Yasin sulit dikalahkan paslon Sudirman-Ida Fauziah. Karena dari berbagai lembaga survei yang dirilis di sejumlah media menunjukan posisi paslon Ganjar-Yasin sangat jauh meninggalkan paslon nomor urut 2. Hal ini selisih elektabilitasnya cukup jauh, setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor.

Pertama, Jawa Tengah (Jateng) merupakan basis PDIP. Jateng sering disebut kandang banteng, karena pemilih PDIP sangat loyal. Artinya begini, siapapun yang diusung oleh PDIP sebagai calon gubernur Jateng faktanya selalu menang dalam beberapa pilkada sebelumnya. Misalnya, Bibit Waluyo berhasil menjadi Gubernur Jateng ketika diusung PDIP. Padahal, saat itu Bibit Waluyo bukanlah figur yang populer di masyarakat Jateng. Tetapi ketika dia diusung oleh PDIP, kemudian dipasangkan dengan Rustiningsih sebagai kader PDIP, maka paslon Bibit-Rustiningsih menang telak pada Pilkada Jateng 2008. Kemudian, pada Pilkada 2013 PDIP mengalihkan dukungan kepada Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko. Faktanya adalah paslon ini berhasil mengalahkan cagub icumbent Bibit Waluyo.

Kedua, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jateng cukup tinggi. Artinya, ini mencerminkan keberhasilan kepemimpinan Ganjar. Faktor ini juga berdampak kepada naiknya elektabilitas, karena masih ada trust masyarakat terhadap calon gubernur nomor urut 1 ini.

Ketiga, figur Cawagub Taj Yasin sebagai kekuatan untuk merebut basis Nahdliyin. Memang kubu Sudirman Said juga ada unsur Nahdliyin-nya melalui representasi Ida Fauziah. Tetapi dilihat dari kekuatan figurnya, jauh lebih berpengaruh Gus Yasin ketimbang Ida Fauziah. Hal ini karena figur Yasin tidak bisa dilepaskan dari nama KH. Maimun Zubair-- ulama kharismatik yang sangat disegani oleh umat islam, terutama di Jawa Tengah. Faktor yang ketiga inilah menjadi salah satu alasan mengapa elektabilitas paslon Ganjar-Yasin begitu tinggi.

Oleh karena itu, isu-isu seperti korupsi KTP-el tidak berpengaruh secara signifikan menggerus elektabilitas Ganjar Pranowo. Kalau masyarakat percaya dengan isu ini, maka sudah dipastikan elektabilitas Ganjar tergerus sejak lama. Pasalnya, isu ini sudah “digoreng” sebelum ada penetapan paslon Pilkada Jateng oleh penyelenggara pemilu.

Makanya, sekalipun ada gerakan yang dikoordinir oleh Ratna Sarumpaet yang meminta kejelasan status hukum Ganjar ini tidak signifikan menurunkan elektabilitasnya. Bahkan, seandainya ada “tsunami politik” di mana Ganjar ditetapkan sebagai tersangka korupsi KTP-el dalam satu-dua hari ini, saya meyakini Ganjar-Yasin tetap menang. Tetapi saya yakin, KPK tidak akan gegabah dalam menetapkan tersangka terhadap seseorang. Hingga sekarang KPK tidak memiliki bukti untuk menetapkan Ganjar sebagai tersangka kasus korupsi. Kalau pun dipaksakan dengan tanpa bukti yang kuat justru bisa menjadi bumerang bagi KPK, karena masyarakat akan menilai KPK bermain politik. Jadi, menetapkan calon kepala daerah menjelang hari pencoblosan jelas akan membentuk persepsi publik bahwa langkah KPK bernuansa motif politik.

Kalau soal debat publik, sejatinya pengaruhnya terhadap elektoral tidak begitu penting. Hal ini hanya sebatas untuk kalangan-kalangan tertentu, terutama pemilih yang tingkat intelektualnya cukup tinggi. Tetapi pertanyaan blunder Sudirman Said tentang proyek Geotermal, lalu kemudian dijawab balik oleh Ganjar Pranowo bahwa izin proyek tersebut diberikan oleh Sudirman Said sendiri saat menjadi Menteri ESDM. Tentu saja blunder ini ada pengaruhnya terhadap elektabilitas paslon Sudirman-Ida Fauziah. Bisa saja, perkataan Sudirman akan dinilai ibarat pepatah: muka buruk, cermin dibelah (menyalahkan orang lain meski sebenarnya dirinya yang salah).

Sekali lagi, pengaruh debat publik tidak terlalu signifikan mempengaruhi hasil survei terhadap elektabilitas calon. Yang paling berpengaruh terhadap elektabilitas masing-masing calon adalah investasi social capital, personality, dan track record. Ini yang menjadi pertimbangan pemilih dalam menentukan pemimpin. Oleh karena itu, Pilkada Jateng akan tampaknya akan dimenangkan Ganjar Pranowo-Taj Yasin sebagaimana prediksi sejumlah lembaga survei, meskipun hasilnya tidak persis sama dengan hasil survei. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Analis Sosial Politik dan Kewarganegaraan

Dari pandangan idealisme akademisi, kontestasi Pilkada Jawa Tengah (Jateng) belum ideal. Karena pertarungan gagasannya tidak berkembang dengan baik, di mana gagasan-gagasan besar dalam membangun Jateng tidak dibahas secara mendalam. Misalnya, persoalan kemiskinan, petani, buruh, dan pengangguran. Seharusnya isu-isu ini menjadi perhatian khusus sebagai bahan diskursus yang mendalam, karena problem ini cukup serius di Jateng.

Secara mesin politik memang Jateng didominasi PDI Perjuangan. Sehingga asumsinya Ganjar Pranowo-Taj Yasin dengan mudah memenangkan pertarungan. Tetapi lawan Ganjar kali ini berbeda dengan lawan sebelumnya. Saya melihat pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah cukup gigih menggerakan mesin politiknya, baik mesin politik partai maupun relawan. Sesungguhnya yang terjadi di Jateng adalah pertarungan mesin politik dan pertarungan modal sosial--yang secara sosiologis kedua paslon memiliki modal sosial yang juga kuat, karena ada unsur Yasin dan Ida di masing-masing paslon.

Meski begitu, tidak ada kepastian Pilkada Jateng akan dimenangkan oleh Sudirman. Tetapi peluang Sudirman-Ida masih tetap ada. Ini bisa ditentukan dengan melihat seberapa optimal mesin politik bekerja dan modal kultural bisa dimanfaatkan Ida Fauziyah untuk menandingi paslon Ganjar-Yasin.

Langkah-langkah blunder biasanya memungkinkan untuk mempengaruhi pemilih. Lalu, apakah pernyataan blunder Sudirman Said akan menjadi faktor bagi kekalahan Sudirman-Ida? Sesungguhnya, itu ditentukan sejauhmana Sudirman melakukan counter opini terhadap pernyataannya. Misalnya, Sudirman melakukan counter opini dengan mengatakan, “betul saya memberikan izin proyek Geothermal demi kepentingan listrik nasional, karena kebutuhan listrik menjadi salah satu problem bangsa Indonesia. Sampai sekarang PLN sering rugi karena menggunakan bahan batu bara. Sehingga, proyek Geothermal bisa menjadi solusi agar listrik tidak merugi.“

Harusnya penjelasan seperti itu disampaikan oleh Sudirman Said, di mana pemberian izin proyek Geothermal itu dalam rangka untuk membuat energi listrik kita berjaya. Jadi, blunder itu tergantung argumen. Sayangnya, Sudirman Said tidak memberikan argumen yang cukup detile soal proyek Geothermal di debat publik. Saya kira, mungkin itu blunder yang bisa mengurangi elektabilitasnya. Sementara Ganjar diterpa isu miring soal kasus korupsi E-KTP yang belum hilang diingatan publik. Juga, soal isu petani Kendeng yang juga menjadi persoalan. Jadi, sebetulnya Ganjar Pranowo dan Sudirman Said bukan tipe ideal pemimpin Jateng. Karena keduanya punya beban persoalan yang cukup serius sebagai calon gubernur. Memang secara kapasitas, kedua calon gubernur tersebut memiliki kompetensi dalam memimpin Jateng. Saya lihat, dua-duanya orang cerdas yang layak menjadi gubernur. Namun secara track record keduanya memiliki masalah.

Dalam situasi politik seperti sekarang, lawan politik memungkinkan melakukan berbagai manuver politik. Dalam kasus demo yang pimpin Ratna Sarumpaet di KPK untuk meminta penjelasan soal status hukum Ganjar Pranowo, bisa saja ditafsirkan sebagai manuver politik kelompok Sudirman Said. Sesungguhnya, siapapun harus siap dengan manuver seperti itu. Seorang gubernur, kalau ada masalah pasti ada kelompok yang memanfaatkannya.

Saya menduga aksi massa itu bukan atas perintah Sudirman, tetapi kemungkinan murni inisiatif kelompok Ratna Sarumpaet yang dijadikan sebagai insentif politik Ratna untuk Pilkada Jawa Tengah. Dari sisi substansial, apa yang dilakukan para demonstran tersebut tidak masalah agar KPK bekerja profesional menuntaskan persoalan korupsi. Tetapi secara politis, itu dimungkinkan sebagai bagian manuver politik kelompok Sudirman Said. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF