Perempuan Dalam Aksi Terorisme
berita
Politika

Sumber Foto : twitter.com (gie/watyutink.com)

15 May 2018 17:00

Puji Kuswati, pelaku bom bunuh diri yang membawa serta dua putrinya meledakkan salah satu gereja di Surabaya, Jawa Timur, satu dari sekian banyak perempuan yang terlibat dalam aksi terorisme. Pada 2016, ada nama Dian Yulia Novi yang berhasil ditangkap oleh Densus 88, tersangka kasus bom panci, yang berencana melancarkan aksi teror.

Saat itu, Dian hendak meledakkan diri di Istana Kepresidenan Indonesia akibat terpapar doktrin ekstremisme secara daring dan kemudian memutuskan untuk bergabung kelompok teroris di bawah komando Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok yang kerap mengklaim mewakili ISIS di Indonesia.

Selang beberapa waktu, usai Dian ditangkap, polisi kembali meringkus perempuan lain bernama Ika Puspitasari yang berencana meledakkan diri di Bali pada malam tahun baru 2016. Ika, yang juga mantan pekerja migran di Hong Kong, ditangkap Densus 88 di Dusun Tegalsari, Desa Brenggong, Kecamatan Purworejo saat sedang mempersiapkan kegiatan keagamaan yang akan dilaksanakan di kampungnya.

Ihwal fenomena perempuan terlibat aksi terorisme di Indonesia, menurut Pengamat Terorisme Al Chaidar menyebut, peran perempuan sebagai 'pengantin' atau eksekutor bom bukan hal baru di Indonesia. Sejak 2014, perempuan mulai masuk dalam pusaran terorisme dan jumlahnya terus meningkat. Pada titik ini muncul pertanyaan mendasar, apa yang melatarbelakangi keterlibatan perempuan dalam aksi-aksi terror belakangan ini? Apakah ini metode baru? Atau untuk  mengelabui aparat, mengingat biasanya sang ‘pengantin’ adalah teroris laki-laki? 

Dari fenomena bom Surabaya, agaknya, analisis soal keterlibatan perempuan dalam gerakan radikal tak bisa lagi dilihat sekedar catatan kaki. Sebelumnya, tanda-tanda pergeseran strategi itu sebenarnya sudah bisa dibaca beberapa bulan terakhir ini di mana dalam video-video propaganda yang dibuat oleh ISIS sangat sering sekali memperlihatkan perempuan-perempuan ISIS melakukan pelatihan berbagai keahlian tempur baik menembak, memanah, maupun berbagai skill lapangan lainnya. 

Nah pertanyaannya, apakah keterlibatan perempuan dalam aksi teror terjadi karena pelaku terinspirasi oleh propaganda yang dibuat oleh ISIS? Lalu, apakah ke depan tren perempuan menjadi bagian dalam aksi teror akan banyak terjadi di Indonesia? Terlebih lagi, sebagai istri dan ibu yang memiliki kekuatan nyata untuk melibatkan suami dan anggota keluarga sebagai pelaku teror dan kekerasan. 

Perhatian kepada perempuan tak bisa lagi hanya dilihat dalam fungsi pedamping dan pendukung radikalisme, melainkan sudah harus dilihat sebagai pelaku utama. Mereka tak sekadar memiliki impian untuk mencium bau surga melalui suaminya belaka, melainkan melalui peran sendiri dengan membawa anak-anak yang telah ia manipulasi dalam suatu keyakinan.

Namun, apakah ini tidak bertentangan dengan spirit yang dibawa Islam, bahwa dalam perang: anak-anak, orang tua, dan perempuan harus diamankan dan dilindungi? Bukan malah dipersenjatai, dijadikan martir, ditumbalkan sebagai pengantin bom bunuh diri? 

Bukankah ini melanggar nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam dalam memperlakukan dan menghargai perempuan? Lantas, semangat apa yang diusung dan didoktrinkan para teroris tersebut kepada para perempuan yang menjadi ‘pengantin’ dalam aksi teror yang terjadi jika tidak sesuai dengan ajaran Islam?

Apa pendapat anada? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Fenomena teror  yang melibatkan pengantin perempuan untuk melaksanakan eksekusi teror sepertinya sudah dipersiapkan dengan matang dan melalui kajian dari pimpinan-pimpinan teroris karena sosok perempuan akan dianggap sangat efektip untuk melaksanakan tugas ini.

Selain itu,  perempuan adalah sosok yang dianggap tidak mungkin melakukan tugas seberat itu oleh pihak keamanan. Hal itu barangkali yang menjadi acuan teroris untuk mengunakan perempuan sebagai pelaku teror kemudian perempuan juga dianggap sangat kuat akan memberi pengaruh terhadap keluarga baik itu suami maupun anak-anaknya untuk ikut diajak melakukan niatnya.

Memang pengaruh doktrin ISIS dan kaun radikal sangat kuat dengan mengatasnamakan agama untuk melakukan teror dengan tujuan untuk memerangi kaum Yahudi yang diangap musuh bebuyutan mereka sehingga mereka membuat sel-sel teroris di seluruh dunia denga tujuan teror. 

ISIS dan kaum radikal  sudah tidak berfikir lagi apakah sesuai atau tidak dengan ajaran agama, karena pemikiran mereka hanya satu yaitu melenyapkan orang-orang kafir sesuai sudut pandang mereka bahwa tidak ada agama yang benar kecuali agama yang dianutnya

Intinya ISIS dan kaum radikal menganggap bahwa apapun yang mereka lakukan adalah hal yang benar yang di ridhoi Tuhan.

Inilah tugas berat dari tokoh-tokoh agama kita yang harus menghidupkan kembali ajaran agama yang seauai dengan Pancasila yang menjadi landasan kita dalam berbangsa dan bernegara. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen STAIN Bengkalis

Memahami fenomena baru gerakan terorisme sebenarnya sudah dilakukan beberapa waktu lalu. Jika sebelumnya teroris diidentikan dengan Amrozi dan Imam Samudra, maka saat ini mulai bergeser. Pelakunya kaum perempuan dan anak remaja.

Ada beberapa asumsi yang bisa menjadi pembuka tabir tren baru tersebut. Pertama, jihad model klasik seperti yang dilakukan Amrozi cs merupakan jihad yang dilakukan secara terorganir dalam sebuah wadah organisasi keagamaan. Gerakan ini mudah dilacak jaringannya oleh aparat keamanan mulai dari hulu sampai hilir, sehingga berdampak pada eksistensi organisasinya. Ini terbukti, aktivitas teroris di era Presiden SBY cukup efektif memperkecil ruang geraknya.

Kedua, metodologi pemaknaan jihad mengalami perubahan. Jihad sebagai gerakan perlawan terhadap kezholiman bukan hanya kewajiban bagi seorang laki-laki dewasa saja, namun kewajiban bagi setiap umat islam, baik laki-laki maupun perempuan. Metodologi pendidikan ini tentu dengan materi dan media kekinian. Jika dulu materinya hanya bersifat kehebatan tokoh-tokoh Islam seperti Ibnu Taimiyah, Sayid Qutb dan sejenisnya, tapi kini sangat bervariasi. Isu politik luar negeri seperti gerakan jihad yang ada di Palestina dengan menampilkan pelaku masih remaja sangat efektif untuk menumbuhkan ghirah jihad dan mendapat keutamaan atas janji-janji Tuhan.

Ketiga, beban psikologi para janda merupakan persoalan serius. Perasaan sebagai seorang perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya harus menanggung beban anak dan kebutuhan keluarga bukan hal yang bisa diterima begitu saja. Opini negatif terhadap pelaku bom bunuh diri di tengah masyarakat belum bisa diterima. Karena ide bom bunuh diri sebagai representasi dari gerakan kebencian terhadap pemerintah dan ketentraman. Maka saat mereka hidup dan kembali di tengah-tengah masyarakat, ada konflik psikologi di antara pelaku dan masyarakat.

Memang gerakan  bom bunuh diri berbaju jihad tidak semata-mata hanya masalah akidah saja, tetapi persoalan yang sangat kompleks dari berbagai aspek kehidupan. Namun fenomena bom bunuh yang melibatkan anak dan kaum ibu merupakan suatu modus baru yang harus diwaspadai oleh pemerintah dan masyarakat. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Administrasi Publik Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Dalam melakukan aksinya, kelompok teroris melakukan perekrutan kepada para anggota dan simpatisannya tanpa melihat gender bahkan kebangsaan. Dengan berbagai macam propagandanya, mereka telah berhasil menarik minat laki-laki, perempuan, dan anak-anak untuk melakukan aksi-aksi untuk mendukung tujuan politik mereka.

Secara kultural, dalam budaya patriarki, perempuan akan sangat patuh terhadap suami dalam kondisi apapun. Merekrut perempuan dengan cara menikahi menjadi modus dalam perekrutan perempuan. Selain itu, perempuan banyak dianggap lebih mudah terpengaruh terutama yang memiliki masalah dalam keluarga dan ekonomi. Pilihan terhadap perempuan juga memiliki aspek strategis-taktis. Perempuan sebagai pelaku teror akan mengecoh aparat penegak hukum karena selama ini pelaku teror identik dengan laki-laki. Karena mereka seringkali dianggap tidak membahayakan sehingga petugas keamanan lengah dan insiden pengeboman yang dilakukan perempuan pun tidak terelakkan. 

Propaganda jaringan terorisme yang sangat masif dan model perekrutan melalui media sosial memberikan harapan bagi para perempuan untuk berhijrah ke wilayah di mana jaringan terorisme berkembang. Mereka merasa bahwa jaringan tersebut dapat mengakomodasi berbagai keluhan, yang puncaknya mereka menginginkan untuk menikmati kehidupan di bawah Khilafah Islam.

Dari adanya fakta-fakta keterlibatan perempuan dalam aksi  terorisme ini, ada harapan dipundak perempuan sebagai aktor dan juga agent of deisengagement  dalam melakukan strategi soft approach untuk mempromosikan kemanusiaan dari pada keamanan, turut terlibat dalam mendekonstruksi pemikiran perempuan yang lain, dan juga memberi dukungan serta mendengar suara mereka (agent of peace).

Paham radikalisme akan terus berkembang dan kuat, karena peran seorang perempuan yang sangat signifikan terutama membangkitkan semangat kejuangan untuk mendukung kegiatan terorisme. Mereka menyebarkan pemahaman dan keyakinan jihad kepada kaum perempuan muslim lainnya. Keyakinan jihad yang dimiliki oleh perempuan juga mampu mendorong dan memberi semangat bagi suami–suami mereka untuk turut berjuang melalui kegiatan kelompok teroris.

Selain itu dalam pemahaman mereka, menjadi suatu kebanggaan dan kemuliaan apabila perempuan muslim bisa melahirkan seorang mujahid dari rahimnya. Fenomena bom bunuh diri yang dilakukan oleh perempuan menjadi perkembangan selanjutnya dari kegiatan terorisme. Peran perempuan juga bisa berkembang tidak hanya sebagai pelaku yang membantu teroris, namun bisa menjadi pemimpin kelompok teror.

Namun ketika perempuan dari keluarga teroris yang mengalami penderitaan secara langsung dan berjalan lama tanpa adanya sarana atau sistem yang dapat mengurangi beban penderitaannya, maka akan memunculkan perasaan frustasi. Frustasi tersebut akan memunculkan tindakan agresivitas yang mengesampingkan rasionalitas.

Dari ruang kosong itulah potensi perempuan dapat muncul dalam kegiatan terorisme. Sehingga perlu adanya perhatian dari pihak pemerintah untuk menjamin bagi keluarga mantan teroris untuk bangkit dan kembali beraktivitas secara normal di tengah-tengah masyarakat. Bentuk perhatian yang bisa diberikan oleh pemerintah antara lain dengan membentuk suatu sistem penyediaan lapangan kerja bagi mantan narapidana teroris dan keluarganya. Bagi janda–janda teroris selain disediakan lapangan kerja juga bisa dilakukan pendampingan dalam membuka usaha kecil dengan memberikan keterampilan maupun bantuan kredit usaha.

Dengan memberikan pendampingan ekonomi dan spiritual terhadap perempuan keluarga teroris dapat dijadikan sebagai sarana pengawasan pemerintah kepada mereka agar tidak terpengaruh kembali oleh paham terorisme dan dimanfaatkan oleh jaringan teroris. Upaya ini dilakukan dengan membentuk suatu sistem sehingga dapat diketahui dengan jelas siapa saja yang terlibat dan bagaimana hubungan tata cara kerjanya untuk mengefektifkan koordinasi dan  berjalannya program recovery tersebut. Pemerintah beserta stakeholder lainnya perlu juga melibatkan organisasi masyarakat ataupun ormas keagamaan serta perguruan tinggi  yang bergerak di bidang ekonomi dan pemberdayaan perempuan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Guru Besar Antropologi UI, mantan Ketua Umum Partai Demokrat

Keikutsertaan perempuan dan pengerahan anak di bawah umur tidak mengherankan karena para teroris pada umumnya berprinsip “menghalalkan cara untuk mencapai tujuan”. Para teroris sejak awal penjaringan pendukung sudah tidak peduli dengan pranata sosial yang berlaku umum. Dalam menghimpun “pasukan” yang diutamakan kesetiaan terhadap organisasi atau pemimpin tanpa reserve. Lelaki, perempuan, tua muda, berkeluarga atau lajang, berpendidikan atau tidak, yang terpenting kesetiaan yang diikat dengan baiat. Ada sejumlah perempuan yang telah berkeluarga pergi tanpa sepengatahuan suami yang ditinggal. Ada sejumlah anak gadis yang tinggalkan orang tua tanpa pesan. Semuanya dilakukan tanpa rasa dosa atau menyimpang dari tatanan sosial yang berlaku.

Pencucian otak lewat berbagai media sosial atau pun ceramah yang berkedok agama berlangsung dengan sangat intensif. Penghimpun massa teroris leluasa mempengaruhi calon teroris dengan membangkitkan permusuhan atau kedengkian yang dimasak dengan bumbu agama. Pesan permusuhan atau pun kebencian disebarkan secara terbuka maupun terselubung.

Tidak ada kontrol ataupun aparat yang berani melarang karena takut dituduh mengkriminalkan “ulama” dan agama. Tiadanya tindakan korektif dari pemerintah mengesankan bahwa kegiatan yang berlabel agama boleh mengabaikan tatanan sosial yang berlaku. Bahkan ada yang berusaha melibatkan Tuhan dalam kegiatan politik praktis secara langsung.

Penyimpangan sosial itu harus dikoreksi untuk menghindarkan mental distortion di kalangan masyarakat.

Persamaan hak dan kebebasan bicara maupun berorganisasi harus dibarengi dengan peningkatan pendidikan, perawatan kesehatan jasmani dan rohani serta peningkatan kemampuan financial. Tanpa ketiga persyaratan itu, niscaya rakyat akan mampu mengaktualisasi diri dan berpartisipasi aktif dalam membangun bangsa. Tanpa berbekal pendidikan, sehat jasmani dan rohani, serta kemampuan financial mereka hanya akan berperan sebagai robot hidup yang bergerak mengikuti perintah majikan yang mensuplai energi. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Politisi/Inisiator Koalisi Politisi Perempuan di Parlemen

Perempuan Indonesia banyak yang kehilangan tuntunan hidup untuk membedakan baik dan buruk. Termasuk tuntunan hidup dalam beragama. Pencucian otak yang mengajarkan jihad adalah jalan pintas menuju surga sudah merasuki pikirannya. Padahal agama mengajarkan kebaikan kepada manusia agar bisa menggapai jalan lurus untuk menuju perjumpaan dengan Sang Pencipta.

Di satu sisi, bisa jadi ketidakbahagiaan yang dialami dalam hidupnya memacu keinginannya dan semakin terpacu lagi ketika mendapat iming-iming surga dari para mentornya. Tapi di sisi lain dia sadar betul kalau dia mati, maka anak-anaknya tidak ada yang memelihara. Sehingga sang anak pun diajak menuju surga seperti ajaran para pembimbingnya.

Sungguh jalan pikiran yang sesat, karena manusia diciptakan Allah semata-mata untuk beribadah kepada Nya. Bukan untuk merenggut hidupnya, anak-anak yang diajaknya mati, dan orang-orang yang terenggut nyawanya oleh sang perempuan (pelaku bom bunuh diri).

Bila pemerintah membiarkan hal ini tanpa melakukan apa-apa untuk mecegahnya, maka tren perempuan semakin pelaku teror akan semakin meningkat. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia 2003-2008

Ini soal ideologi jahat dengan menggunakan simbol agama. Bahayanya lebih dahsyat mencelakai siapa saja, bukan hanya laki-laki tapi semua orang, laki-laki, perempuan, dewasa dan anak-anak, termasuk bayi sekali pun. Maka pikiran sesat yang membahayakan kemanusiaan ini harus kita berantas sampai ke akar. Tidak usah dipersempit jadi soal gender.

Kasus bom terakhir di Surabaya membuktikan ideologi berbahaya ini makin radikal dan tidak lagi membedakan jenis kelamin. Anak kecil dan bayi pun dikorbankan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pemerhati Sosial, Spasial & Lingkungan

Saya tidak dapat berkomentar banyak tentang teroris ini. Lebih banyak diam daripada berspekulasi yang belum tentu benar. Yang pasti, sangat bertentangan dengan ajaran syariat Islam. Baik itu pelaku laki-laki apalagi perempuan.

Namun, kita harus hati-hati dalam menyerap informasi. Berita yang masuk alam bawah sadar lebih berbahaya yang masuk tanpa disadari.     

Misal begini, setelah baca berita-berita seperti di atas, masih maukah kita belajar memanah? Yang notabene dianjurkan Rasulullah SAW? Alih-alih malah takut dicurigai antek teroris. Berita lain yang santer, konon pelaku teror dulunya aktivis rohis di masa sekolah dan rajin mengaji (berita yang belum tentu benar namun telanjur viral). Lalu bagaimana pandangan orang terhadap aktivis rohis sekarang?! Hati-hati. Fitnah memang lebih kejam dari pembunuhan.

Lebih baik kita tengok dan evaluasi kembali ke dalam keluarga kita sendiri. Yuk dekati anak kita yang masih kecil. Yang masih dalam masa pertumbuhan dan pencarian identitas. Dampingi mereka saat asyik bermain atau menonton TV/media. Tanggapi pertanyaan-pertanyaan kritis dan cerdas mereka yang kadang membuat kita berpikir panjang untuk mencari jawaban pertanyaan tak terduga. Semua berawal dari keluarga. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII)

Dalam sejarah bangsa Indonesia dikenal pejuang-pejuang perempuan baik yang langsung terlibat dalam peperangan seperti Cut Nyak Dien dan Kristina Martha Tiahohu, maupun yang tidak terlibat langsung, seperti R.A. Kartini dan Dewi Sartika serta Marsinah seorang perempuan pejuang buruh. Tetapi yang menjadi teroris dan berhasil melakukan aksi bom bunuh diri hanya Puji Kuswati, warga Kelurahan Tembok Gede Surabaya. Yang sangat tragis adalah kebejatannya membawa dua anaknya yang masih berusia 9 dan 12 tahun.

Sebuah paradok yang sangat memprihatinkan, sebab tidak ada satu pembenarpun terhadap aksinya tersebut, baik dari perspektif sosial, politik, maupun agama, bahkan dari hukum perang sekalipun. Dari perspektif sosial, perempuan sangat dimuliakan karena sifatnya yang lembut, kasih sayangnya yang tak berbatas merupakan pelindung bagi anak-anaknya. Alih-alih melindungi anaknya, Puji bahkan mengorbankan anak-anaknya.

Dari perspektif politik, kalau seseorang memperjuangkan ideologi atau posisi strategis tertentu untuk partai atau kelompoknya, seharusnya bukan berani mati caranya, tetapi berani hidup. Jika motif politiknya balas dendam sekalipun, yang diserang mestinya bukan orang atau pihak-pihak yang tidak bersalah.

Apa lagi dari perspektif agama, misalnya agama Islam, membunuh seseorang yang tidak bersalah sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Menurut Islam, dalam perang sekalipun selain tempat-tempat ibadah, tempat-tempat tertentu, juga perempuan dan anak-anak termasuk yang dilindungi, tidak boleh diserang, “non-combatant,” tetapi Puji justru menyerang dirinya sendiri dan anak-anaknya. Dalam Islam juga bunuh diri sangat dilarang, sebab yang memiliki kewenangan untuk menghidupkan dan mematikan manusia hanyalah Tuhan dan yang diberi kewenangan oleh-Nya. Bunuh diri sama dengan mengambil alih kewenangan Tuhan.

Dalam hukum perang atau hukum humaniter yang umum prinsipnya juga sama bahwa perempuan, anak-anak dan tempat-tempat serta benda-benda tertentu dilindungi dan tidak boleh diserang. Apa lagi dalam kondisi bukan perang, menyerang dan membunuh tanpa kewenangan apalagi korbannya adalah orang yang tidak berdosa tidak memiliki kemuliaan apa pun. Alih-alih menjadi “pahlawan”, perempuan teroris semacam Puji tidak lain adalah seorang penjahat yang kejam.  

Oleh karena itu tidak perlu ada pembelaan apa pun terhadap perempuan paradok seperti Puji ini. Mungkin yang perlu ditanyakan dan dikaji lebih lanjut apakah Puji melakukan hal paradok tersebut akibat terpapar faham ‘radikalisme’ dari suaminya atau dari kaum laki-laki lainnya. Hal ini untuk mencari solusi strategis agar tidak ada lagi Puji-Puji yang lainnya di negera kita dan di negara mana pun. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Bangun Infrastruktur, Juga Manufaktur Orientasi Ekspor             Capaian yang Bagus, Upayakan Terealisasi             Perang Kepentingan Melawan Korupsi             Nilai-Nilai Pancasila Sudah Lama Tewas             Setop Adu Nyinyiran             Pembenahan ke Dalam di Era Disrupsi              Mencegah 'Barjibarbeh'             Perlu Tindak Lanjut Komitmen Investasi             Tantangan Fiskal Di Tengah Gejolak Global             Akhlak Turun Ke Titik Nadir, Seks Bebas Tumbuh Subur