Perang Urat Syaraf ala Jong Un
berita
Politika
14 August 2017 00:00
Penulis
Pemimpin Korea Utara (Korut) melancarkan perang urat syaraf terhadap Presiden AS Donald Trump. Ini berujung pada ancaman Kim Jong Un akan menembakan rudal ke Guam (wilayah teritori AS di Pasifik). Apakah ancaman Korut ini benar akan dilakukan, atau hanya sekadar gertak sambal?

Trump merespons. Ia tak akan mentolerir tindakan penyerangan ke wilayahnya. Segala jenis provokasi Korut juga akan ditindak tegas. Nah, langkah tegas apa yang akan diambil oleh Trump?

Saat dulu George Bush senior melancarkan serangan terbuka terhadap Irak, seluruh rakyat mendukungnya. Begitu juga saat anaknya GW Bush menghajar Saddam Husein maupun Obama menghajar Qaddafi. Pertanyaannya, apakah rakyat akan mendukung kebijakan politik Trump menghadapi ‘tantangan’ Kim Jong Un? Pasalnya, selain Trump tidak populis, Korut berbeda dengan Irak dan Libya yang kaya raya akan tambang minyak dan gas. Apa untungnya menyerang Korut?

AS bersahabat baik dengan Korea Selatan (Korsel). Hubungan keduanya terjalin sejak perang Korea 1950-an. Dinasti Kim di Korut adalah musuh bersama Korsel-AS. Apakah ancaman Jong Un benar-benar menyasar kepada AS? Atau justru dalam fikiran Jong Un; menantang Amerika sebagai  manuver melakukan tekanan psikologis pada Korsel.

Duo Korea letaknya berdekatan. Meski Seoul tak pernah harmonis dengan Pyongyang, Korsel akan berpikir keras untuk menyatakan perang terbuka dengan Korut. Jika Washington menyatakan perang, Seoul kemungkinan besar akan menolak. Sebab jika terjadi perang terbuka, Korsel bisa jadi sasaran rudal liar Korut. Dan korban dari pihak Korsel dipastikan akan lebih banyak ketimbang AS.

Di sinilah politik ‘sandera’ ala Jong Un tidak bisa dipandang sebelah mata. Korut sering dicap sebagai “anak nakal” oleh China, sekutu dekatnya. Namun ulah si anak nakal ini cukup merepotkan AS dan sekutunya di semenanjung Korea.

Bagaimana kelanjutan drama Un vs Trump? Siapa yang akan unggul di meja politik perang urat syaraf ini? Apa yang sebenarnya terjadi?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ast)

Photo credit: via Daily Express 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Dosen Pengkajian Strategi FISIP-HI  Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama)

Eskalasi ketegangan AS-Korea Utara (Korut) belum akan mengarah pada kondisi peperangan terbuka karena beberapa hal.

Mayoritas opini internasional menolak penggunaan opsi militer, termasuk opini dari negara-negara sekutu Amerika Serikat seperti Australia dan Jerman.

China, walaupun menjadi salah satu negara pendukung Resolusi 2371 DK-PBB (Dewan Keamanan PBB; mengenai masalah uji coba rudal balistik Korut), juga pasti akan berkeberatan dengan dampak yang dapat ditimbulkan dari penggunaan opsi militer AS. Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov menyatakan bahwa China dan Rusia tengah mengembangkan rencana aksi yang ditujukan untuk meredam peningkatan eskalasi ketegangan di semenanjung Korea.

Sikap keras Korut sejauh ini masih merupakan bentuk diplomasi Korut untuk melonggarkan tekanan ekonomi yang dihadapi Korut karena Resolusi 2371.

Kondisi membahayakan bisa muncul karena AS dan Korut tidak memiliki instrumen komunikasi yang efektif untuk mencari solusi damai. Trump lebih sering menggunakan Twitter untuk menyampaikan posisi dan respons AS. New York Channel sebagai instrumen backchannel diplomacy kedua negara harus dioptimalkan sebagai instrumen komunikasi kedua negara.

Buat saya, Korsel tidak menjadi subjek spesifik dalam sikap Korut terakhir ini. Korsel bisa terdampak jika upaya Korut untuk melonggarkan resolusi 2371 gagal dilakukan. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti Senior Puspol Indonesia, Analis Geopolitik

Perang urat syaraf yang terjadi antara kedua pemimpin negara tidak dapat dianggap remeh, walau banyak yang berpendapat, perang urat syaraf ini hanya akan berujung pada konflik "idea" untuk berperang saja, dengan kata lain tidak mungkin terjadi.

Namun menurut saya, ancaman Un dapat saja dilakukan, mengingat sepak terjang serta tingkat emosional Un sebagai pemimpin muda tidak sematang Trump. Kenekatan dapat terjadi jika provokasi terus dilakukan mengingat ancaman Un kepada AS (Amerika Serikat) sebenarnya ditujukan pula untuk Korsel, menekan Korsel untuk tidak melanjutkan kerjasama dalam penyediaan pangkalan militer bagi US.

Bagi Trump menjadi masalah, karena selain tidak populer di masyarakat, gaya menekan Trump tidak mempan terhadap Un. Lebih menampakkan gaya kepemimpinan orang tua versus anak muda. Banyak pertimbangan versus kenekatan. Jika Trump meladeni gaya keras Un, maka akan sendirinya mendapatkan penolakan dari rakyat AS yang semakin jengah degan perang yang tidak seharusnya dilakukan.

Belum lagi AS berusaha tetap menjaga kendali di kawasan Asia Pasifik, mengingat pembangunan ambisius pengkalan militer terbesar di Guam. Jika saja AS, dalam hal ini Trump, terus saja meladeni Un, tidak menutup kemungkinan Un akan semakin nekat.                    

Namun skenarionya akan lain jika Un benar benar nekat melaksanakan ancamannya. Walau rakyat AS tidak menyukai Trump, namun semangat patriotisme mereka dalam membela satu nyawa rakyatnya, akan memberikan legitimasi bagi Trump untuk menabuh genderang perang dan membalas Un. Jika ini sampai terjadi, maka negara-negara di kawasan akan bereaksi keras dalam perang AS vs Korut.

Di sisi lain, China dan Rusia sudah pasti tidak akan ikut campur terlalu jauh dalam membela Korut, mengingat hubungan diplomatik ketiga negara ini yang sudah memasuki masa perang dingin di antara ketiganya. Dan tentunya tidak akan membantu AS dalam kerepotannya menghadapi Korut. Yang menarik justru datang dari Jepang dan Korsel yang sudah tentu akan berdampak langsung dalam perang AS-Korut jika sampai terjadi.

Yang jelas hanya Trump yang dapat meredam kenekatan Un dan dapat memenuhi keinginan Un yang sebenarnya. Tinggal Trump dan kabinetnya harus berhitung dengan matang, mengingat perekonomian AS yang juga tidak baik-baik amat. Dan juga ancaman China yang dapat menjadi satu-satunya penguasa adidaya di kawasan Asia. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Mercu Buana dan Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia

Serangan ke Korut bisa dilakukan atau tidak, tergantung komunikasi politik Donald Trump kepada rakyat AS (Amerika Serikat).

Ancaman Korut bisa saja terjadi sebab dalam sejarahnya di tahun 1994, kematian Kim Il-Sung membawa Kim Jong-Il  menggantikan ayahnya sebagai pemimpin baru Korut.  Di tahun yang sama, Korut setuju untuk menghentikan program nuklirnya dan memulai beberapa hubungan kerja sama dengan AS. Hubungan sempat membaik ketika pada Juni 2000 berlangsung pertemuan tingkat tinggi antarKorea diadakan untuk pertama kalinya.

Sunshine Policy atau reunifikasi Korea diuji pertama pada Oktober 2002 ketika AS mengumumkan Korea Utara telah kembali memulai program rahasia senjata nuklir. Hal itu menyulut ketegangan antara AS dan Korea Selatan (Korsel) dengan Korut. Artinya ketegangan ini bisa saja berujung perang nyata.

Dalam konteks ini, Trump bisa saja menggunakan hubungan diplomatik kedua negara guna mencari tahu apa sebenarnya keinginan Korut terhadap AS. Namun langkah ini bisa saja gagal bila Korut tetap bersitegang untuk melakukan ancaman. Tapi saya yakini AS tidak akan menyerang Korut sebab akan membahayakan Korsel selaku sekutu terdekat AS. Rudal-rudal milik Korut akan menimbulkan kehancuran besar di Korsel bila terjadi serangan.

Tetapi saya sepakat bahwa ancaman Korut menyerang AS untuk memberikan tekanan psikologis yang sebetulnya ditujukan ke Korsel. Ini juga berarti Korut mengirim pesan simbolik agar AS tidak terlalu condong membela Korsel.

Perang urat saraf ini akan terus dilakukan Korut untuk memancing kemarahan AS, juga bagian dari cara Un unjuk kekuatan negaranya di dunia internasional. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF