Penembakan Kader Gerindra oleh Oknum Brimob
berita
Politika

Sumber Foto: cnnindonesia.com

26 January 2018 19:00
Peristiwa tertembaknya kader Partai Gerindra Fernando Wowor oleh anggota Brimob, Briptu Achmad Ridho, menimbulkan tanya di benak publik. Siapa menyerang siapa? Versi Wakapolri, sang Briptu membela diri. Namun kronologis yang beredar mengatakan Ridho cari gara-gara dengan menghadang mobil yang dikendarai Nando dan kawan-kawannya.

Sejumlah pengamat mengamini ada kejanggalan dalam kasus tersebut. Kalau memang sang briptu dikeroyok Nando dan kawan-kawan hingga koma, apakah mungkin ia sempat melepaskan tembakan yang menghilangkan nyawa Nando? Sejumlah pihak menduga bahwa Ridho terlebih dahulu menembak Nando. Usai melihat kader Gerindra itu ditembak, kawan-kawannya lantas melakukan pengeroyokan kepada Ridho hingga si briptu koma.

Kronologi resmi dari pihak kepolisian belum juga dirilis. Ini semakin meliarkan analisis di luar sana. Bahkan ada pengamat yang secara terang-terangan mengatakan bahwa ini adalah bagian dari operasi intelijen. Kalau memang asumsi itu benar, siapakah Nando dan apa posisinya sehingga nyawanya harus dihilangkan?

Kasus semakin keruh karena CCTV di sekitar TKP rusak. Polisi dan publik hanya mendengarkan kesaksian dari mereka yang berada di lokasi kejadian. Itu pun simpang siur. Sebagian mengatakan kelompok Nando memulai perkelahian terlebih dahulu. Lainnya berkata si briptu yang memancing perkelahian.

Keterangan resmi soal status Ridho saat kejadian masih bertugas atau sudah lepas tugas pun belum terklarifikasi. Jika sudah lepas tugas, apakah dibenarkan anggota Polri dari kesatuan apapun, membawa senpi? Lalu, apakah penggunaan senjata oleh Ridho sudah sesuai dengan SOP? Jika memang Ridho dalam status bertugas, apakah keberadaan Ridho di lokasi sepengetahuan atasan atau tidak?  

Bukan kali pertama senpi digunakan tidak sesuai SOP. Masih jelas di ingatan tatkala Bripda K memberondong mobil yang ditumpangi satu keluarga di Lubuk Linggau, Sumsel, pada 2017 silam. Di tahun yang sama, Aiptu BS--anggota Polres Bengkulu, menembak anaknya sendiri karena diduga maling. Apakah tiga kejadian ini merupakan kecelakaan semata? Ini nantinya akan dikaitkan dengan kondisi kejiwaan para oknum anggota Polri. Apakah pengecekan syarat-syarat kepemilikan senpi, khususnya kejiwaan anggota Polri, dilakukan secara berkala sesuai ketentuan?

Senpi diberikan kepada anggota Polri untuk melengkapi diri dalam menjalankan tugasnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Bukan justru malah sebaliknya, membawa teror dan mengancam masyarakat.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ast)

 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Psikolog Klinis Forensik/Humas Asosiasi Psikologi Forensik/Humas Ikatan Psikologi Klinis

Dalam menyikapi kasus penembakan kader Gerindra, menurut saya sebaiknya tidak berandai-andai dan memberikan asumsi. Kita harus menunggu terlebih dahulu hasil pemeriksaan lengkap. Apakah nantinya ditentukan pelanggaran prosedur yang menyebabkan kematian atau memang ada unsur pengeroyokan yang mendorong pembelaan diri.

Keduanya tentu harus diproses secara berhati-hati, dengan prinsip praduga tak bersalah. Terhadap korban meninggal dan korban luka parah, harus dilakukan otopsi psikologis dan analisa psikologi forensik mendalam. Ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang motif dan unsur kriminalnya.

Dalam kepemilikan senpi oleh anggota, kepolisian memiliki standar prosedur (SOP) yang cukup ketat. Termasuk pemeriksaan psikologis, walaupun mungkin tidak rutin dan belum diikuti pengecekan secara berkala terhadap anggota yang dipercayakan untuk memegang senpi.

Akan tetapi menurut saya tidak bijaksana apabila kita membahas dari aspek ini sebelum mengetahui kejadian yang sebenarnya. Harus dibuktikan terlebih dahulu unsur penganiayaan, kemungkinan pembelaan diri sampai kejadian pelanggaran prosedur yang berakibat kematian.

Untuk selebihnya saya hanya mau menjawab setelah ada pemeriksaan psikologi forensik. Saya ingin melakukan pemeriksaan secara langsung sebelum memberikan pendapat. Untuk semua pihak mohon tetap bersabar, dan menunggu adanya hasil pemeriksaan resmi. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Jurnalis Senior

Polisi sudah mendapatkan CCTV di sekitar TKP. Seharusnya dibuka secara transparan agar publik bisa menilai apa yang sesungguhnya melatarbelakangi kasus penembakan tersebut. Jelas kalau kita lihat dari kronologis, Brimob tersebut telah menyalahi SOP. Seharusnya usai berdinas anggota Brimob itu mengembalikan senjata apinya ke kesatuannya.

Jika dalam posisi sedang bertugas, penggunaan senjata api yang sesuai dengan SOP harus dilakukan dengan cara memberikan tembakan peringatan ke udara sebanyak dua kali. Jika terdesak barulah anggota polisi diperbolehkan menembak untuk melumpuhkan dan bukan mematikan. Anggota polisi yang menodongkan senpinya ke masyarakat adalah tindakan arogansi dan pelanggaran terhadap SOP. Dengan mengendarai moge dan menodongkan senpi ke masyarakat adalah satu bukti anggota Brimob itu sangat arogan dan semena-mena. Berapa sih gajinya hingga ia bisa membeli moge.

Prosedur kepemilikan senpi sesuai ketentuan Polri sebenarnya sangat ketat. Sebelum mendapatkan senpi, anggota Polri harus menjalani proses latihan dan tes psikologis serta kejiwaan. SOP-nya setiap enam bulan sekali polisi pemegang senpi harus menjalani tes psikologi dan kejiwaan. Tapi faktanya hal itu tidak pernah dilakukan secara rutin. Alasannya Polri tidak punya dana yang cukup untuk melakukan tes rutin.

Setiap atasan atau polisi yang mempunyai anak buah harus mampu mengawasi sikap perilaku anak buahnya. Jika tidak mampu, copot polisi yang menjadi atasan tersebut dan ganti dengan yang mampu. Pengawasan rutin yang berjenjang ini harus dilakukan untuk mengendalikan sikap perilaku dan arogansi polisi di lapangan. Jika masih ada yang arogan dan semena-mena, anggota polisi tersebut jangan ditempatkan di posisi yang bersentuhan degan masyarakat dan bila perlu dipecat dari kepolisian. Sebab tugas utama Polri adalah mengayomi, melindung, melayani dan melakukan penegakan hukum di masyarakat.

Sementara itu psikotes setiap enam bulan sekali harus dilakukan Polri kepada anggotanya agar bisa diketahui siapa yang layak dan siapa yang tidak layak untuk memegang senjata api. Polri bersikap konsisten dengan SOP-nya agar semua anggotanya terkendali dan tidak menjadi musuh masyarakat.

Masalah apakah ini adalah operasi intelijen, saya rasa tidak. Kejadian ini hanya spontanitas saja, dan menjadi masalah karena arogansi dari oknum anggota Brimob saja. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Kepolisian, Guru Besar Sosiologi Hukum FISIP UI

Kasus penembakan yang dilakukan di Bogor oleh anggota Brimob menunjukkan anggota polisi masih ada yang belum 'matang'. Belum 'matang' atau belum dewasa serta masih sok-sokan dan emosional. Diperlukan pembinaan kepada anggota polisi yang lebih dewasa atau dalam hal ini atasan mereka. Kejadian Bogor bisa terjadi mungkin karena kontrol dan pembinaan dari para atasan kurang intensif.

Selain itu proses peminjaman senpi perlu dibenahi. Seharusnya senpi yang dipinjam anggota harus dikembalikan sesuai berdinas. Anggota tidak dibenarkan membawa senpi di luar tugas resmi. SOP peminjaman senpi ini harus kembali diperketat untuk meminimalisir kemungkinan kejadian serupa terjadi lagi dikemudian hari.

Anggota polsi juga perlu diberikan pelatihan secara rutin. Bukan hanya pelatihan fisik dan pelatihan menembak saja, lebih dari itu keterampilan emosional secara rutin juga perlu dilakukan. Tujuannya agar anggota bisa mengendalikan emosinya dan dirinya ketika sedang bertugas, maupun di luar tugas. Kalau diterapkan dengan sungguh-sungguh, ini akan meminimalisir kemungkinan kejadian serupa terjadi lagi. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF