Nestapa Olah Raga Indonesia
berita
Politika
24 August 2017 00:00
Penulis
Prestasi dunia olah raga nasional menghadapi ujian berat. Kekalahan demi kekalahan membuat publik penggemar olahraga kian haus kemenangan. Terutama di cabor (cabang olahraga) favorit, seperti sepakbola, bulutangkis, atau voli.

Kita tak lagi berjaya di pentas dunia, seperti keunggulan RI di bulutangkis sepanjang 1970-1990an. Kini jangankan di fora Asia, di panggung Asia Tenggara pun kita tidak begitu ditakuti lagi.

Di arena Sea Games yang kini tengah digelar, meski ada sepercik harapan dari beberapa pemecahan rekor oleh atlet kita, posisi Indonesia di klasemen perolehan medali sementara masih bertengger di papan tengah. Padahal sebelum era milenium, negeri in adalah jagoan untuk ukuran Asia Tenggara. Mengapa olahraga kita begitu sepi prestasi sepanjang tiga dasawarsa terakhir?

Ada budayawan dan pengamat yang menduga kemerosotan prestasi itu akibat kita menggunakan diksi kata “olah raga” yang tidak dibarengi “olah jiwa”.  Maksudnya, yang diolah hanya fisik ragawi semata, sementara aspek mental dan kejiwaan diabaikan. Bahkan, terlantar.  Coba bandingkan dengan bahasa Inggris sport yang mengandung makna sportivitas.

Mungkin arti kata olah raga kini telah kehilangan makna nilai sportivitas sebagai hakikat ke-olahraga-an yang wajib dijunjung tinggi. Nilai kejujuran, nilai keperwiraan, nilai egalitarian, nilai solidaritas, nilai sportivitas. Nilai yang terbentuk dari sikap keyakinan mens sana in corpore sano (jiwa yang kuat ada di tubuh yang sehat), sebagaimana dulu dipraktikkan dalam “gerak badan”, istilah lawas tentang olahraga. Boleh jadi terjemahan kata sport sebagai sukan sebagaimana diberlakukan negara jiran, jauh lebih tepat katimbang alih bahasa kita menjadi olahraga.

Mengapa begitu mengecewakan prestasi olahraga kita? Apa karena pembinaan olahraga dicampuri oleh kepentingan politik praktis seperti harus dipimpin oleh menteri/pejabat/jenderal sebagaimana masa Orde Baru? Ataukah karena kehilangan bibit atlet potensial, sejak pembangunan gedung sekolah di kota-kota besar Indonesia semakin cenderung mengabaikan kecukupan halaman, lapangan, dan ruang terbuka?  Ataukah ini akibat sikap meremehkan prinsip nation and character building

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(dpy)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Sepakbola

Sepak bola adalah bagian dari olahraga.  Di dalamnya tidak hanya mempelajari menang dan kalah. Tapi juga sikap, pola pikir, attitude,  semangat, dan kebesaran hati untuk menerima kekalahan. Juga tak jumawa saat memenangkan pertandingan. Untuk menjalani semuanya tentu dibutuhkan banyak hal. Termasuk 'olahjiwa' dan 'olahpikir'. Tanpa dua faktor pendukung itu, jangan harap untuk melahirkan seorang pesepakbola profesional di dalam dan luar lapangan.

Dalam sepak bola, raga dan jiwa memang mutlak disatukan. Raga akan berpeluh di lapangan. Dua kali empat puluh lima menit (full time satu pertandingan), bisa juga sampai 120 menit jika terjadi perpanjangan waktu. Logikanya, bukan hal mudah untuk menjalani hal tersebut. Dibutuhkan jiwa-jiwa petarung. Jiwa petarung bisa dilahirkan dari proses yang mendukung. Namun proses ini juga melalui jalan yang berliku.

Untuk melakukan itu semua diperlukan pembinaan sedini mungkin. Menanamkan dan mengajarkan sportivitas pada atlet-atlet muda, dalam hal ini atlet sepak bola. Bukan cuma memiliki fisik atau stamina yang baik, namun jiwa sportifitas dan mental petarung sejati juga harus ditanamkan. Sehingga nantinya mereka bisa terhindar dari tindakan yang tidak sportif, baik di lapangan maupun di luar lapangan. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Staf Penyuluh Kebahasaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Saya pikir ini wacana yang sedikit mengada-ada. Kita pernah punya nama-nama atlet yang besar dan prestasi yang patut dibanggakan, dengan tetap menggunakan istilah "olahraga". Persoalan sulitnya birokrasi yang turut menghambat prestasi para atlet, itu persoalan lain.

Jika banyak yang menganggap kita telah mengabaikan sisi batiniah dalam pelatihan para atlet, ini berarti cuma masalah metode latihan. Seharusnya kita tetap bisa memberikan menu-menu olah jiwa ke dalam metode pelatihan para atlet, tanpa harus mengganti nama atau istilah. Karena tetap saja, kebutuhan utamanya adalah fisik atau jasmaniah.

Saya pikir, porsi yang harus diberikan antara "olahraga" dan "olahjiwa" tetap tidak perlu sampai 50 banding 50. Para atlet tetap membutuhkan menu olah raga yang lebih besar. Seperti juga untuk seniman atau budayawan, kita tidak bisa menuntut mereka untuk lebih giat meningkatkan kualitas fisiknya. Karena mereka bekerja dengan pikiran dan perasaan.

Intinya, saya menganggap bahwa penggantian nama "olahraga" itu belum terlalu dibutuhkan. Masih banyak hal yang lebih genting untuk dibenahi, daripada meributkan persoalan istilah. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Jurnalis Senior 

Prestasi olahraga kita di tingkat regional dan internasional memang menurun selama tiga dasawarsa terakhir. Terakhir kali kita menjadi juara umum SEA Games, yang diselenggarakan bukan di Indonesia, sejak medio 1990-an. Padahal, sejak 1975 kita selalu menjadi juara umum. Di Asian Games 1962, selaku tuan rumah, kita merebut peringkat kedua perolehan medali. Sejak itu di level Asia itu kita selalu terlempar ke urutan belasan, bahkan 20-an. Di olimpiade, perolehan medali makin minim dan supremasi di cabor bulu tangkis sudah lama berakhir.

Penyebabnya pembinaan yang kurang maksimal karena minimnya kompetisi. Bukan rahasia sebagian besar cabor tidak menyelenggarakan kegiatan yang kompetitif (seperti kejurnas) untuk menjaring atlet-atlet terbaik. Tanpa kompetisi, kemunculan bibit-bibit berbakat dan peningkatan prestasi mustahil tercapai.

Moto olimpiade "citius, altius, fortius" (lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat). Dengan kata lain, "olah raga" kurang ada hubungannya dengan "olah jiwa" karena atlet memiliki tubuh yang kuat dan jiwa yang sudah sehat. Pembinaan kita gagal juga karena penelitian dan pengembangan (litbang) yang kurang memadai karena dana yang terbatas. Suka atau tidak, prestasi meningkat jika dana pembinaan mencukupi.

Sebagian besar dana olahraga kita dihabiskan oleh birokrasi yang terlalu gemuk. Ada Kemenpora, KONI pusat, KONI daerah, KOI, pengurus cabor dari pusat sampai provinsi, dan seterusnya. Sudah waktunya dipikirkan cara yang tepat untuk mereformasi birokrasi olahraha kita agar lebih ramping dan efisien. Juga tak kalah penting adalah agar pembinaan lebih difokuskan ke profesionalisme sehingga atlet dapat mengandalkan olahraga sebagai pilihan kariernya. Olahraga amatir yang hanya mengandalkan semangat bertanding membela nama bangsa dan negara sudah menjadi masa lalu. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Teguh Santoso, S.E., M.Sc.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies

Salamudin Daeng

Anggota Institute Sukarno for Leadership Universitas Bung Karno (UBK)

FOLLOW US

Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!             Perekonomian Dunia Masih Dihantui Ketegangan dan Ketidakpastian             Revisi Aturan-aturan yang Tidak Pro Kepada Nelayan!             Kebijakan KKP yang Baru Harus Didukung             Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS