Nasionalisme Diterjang Gadgetisme, Dimana Jenius Lokal?
berita
Politika
15 August 2017 00:00
Penulis
Keniscayaan perkembangan teknologi layaknya pisau bermata dua: menghilangkan sekat antarnegara, juga menyapu identitas sebuah negara. Semua melebur dan sulit dipilah. Terjangan arus globalisasi menerpa hampir semua negara. Bagaimana di Indonesia? Apakah identitas keindonesia akan hilang? Atau jangan-jangan sudah hilang tanpa disadari?

Menristekdikti mengatakan, 2017 ini penguna gadget atau smartphone di Indonesia mencapai angka 20 persen dari total jumlah penduduk atau sekitar 65 juta jiwa. Mulai generasi X hingga kini generasi Z. Indonesia menjadi negara pengguna smartphone nomor lima terbesar di dunia. Dengan lahirnya inovasi gadget baru dengan harga murah, berapa lagi anak bangsa yang bakal jadi pecandu gadget?

Itu baru dari smartphone. Pengguna internet keseluruhan di Indonesia mencapai 132,7 juta jiwa atau lebih dari setengah jumlah penduduk. Pentingkah internet untuk masyarakat? Dari internet dan mesin pencari, segala jenis informasi bisa diakses. Namun kemudahan ini  berkah atau bencana bagi nilai-nilai kebangsaan?

Mesin pencari sekarang dimonopoli asing, kita hanya dijadikan penikmat. Jika dikuasai asing, apakah bisa nilai-nilai lokal jenius kita terekspos? Atau jangan-jangan, mesin pencari hanya dijadikan alat menyebarkan nilai-nilai versi mereka. Sementara nilai-nilai lokal kita perlahan disapu oleh arus globalisasi dalam rangka penjabaran globalisme (penguasaan pasar).

China menutup aplikasi Google dengan kesadaran sendiri. Tujuannya untuk mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa dan sekaligus benteng menahan erosi Nasionalisme. Agak berbeda dari China, meski Rusia juga bersifat protektif, negara beruang merah tetap pro aktif menciptakan aplikasi telegram guna menandingi whatsapp.

Bagaimana dengan kita? Akankah Negara, dalam hal ini Kementerian Kominfo membangun kesadaran serupa? Kita memiliki ahli teknik informasi yang tak kalah jenius dibandingkan dengan China dan Rusia. Mengapa kita tak melakukan hal serupa? Masalah dana atau ketidak-merdekaan kita dalam menentukan pilihan?

Apa pendapat anda? Watyutink?

(ast)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pakar Teknologi Informasi

Kalau saya pribadi, sebaiknya kita adopsi apa yang baik, dan apapun yang jelek kita buang jauh-jauh. Dasar yang paling baik adalah akhlak, pendidikan moral, agama, dan sebagainya. Ibarat pisau, bisa dipakai untuk hal yang baik namun bisa dipakai juga untuk hal yang jelek.

Sebaiknya masyarakat diberdayakan agar bisa memaksimalkan manfaat dari gadget yang mereka miliki. Salah satu contoh menerapkan kurikulum sekolah yang berbasis TI (Teknologi Informasi) agar melek teknologi. Di samping itu, perlu dibangun ekosistem yang menunjang  operasional dari pabrik produksi gadget di Indonesia. Nantinya uang dari hasil produksi gadget tersebut tidak lari keluar negeri semua atau hanya menguntungkan negara lain.

Saya belum pernah mengadakan penelitian yang serius tentang dampak kecanduan gadget terhadap tergerusnya nasionalisme generasi muda. Tetapi melihat dari anak-anak saya yang juga adalah pengguna gadget, ada dampak positif. Sebagai contoh; anak saya yang umur 5 tahun, bahasa Inggrisnya lancar, wawasannya dan pola pikirnya terkadang jadi lumayan luas, dan cara mengambil keputusannya mengagumkan. Anak saya yang lainnya banyak terbantu dengan gadget sebagai alat komunikasi dan membantu mereka dalam bekerja.

Mesin pencari juga turut mempermudah pekerjaan. Pada dasarnya mesin pencari digunakan untuk mengakses informasi. Jika informasi atau tulisan dari luar Indonesia lebih banyak, itu karena tidak banyak informasi Indonesia atau tulisan yang ditulis oleh orang Indonesia. Menurut saya jangan salahkan mesin pencarinya, salahkan orang Indonesia yang tidak mau banyak menulis.

China dan Rusia membuat benteng. Selain itu mereka juga membuat ekosistem agar para pengembang dan pabrikan lokal bisa hidup. Saya akan mendukung seratus persen jika pemerintah Indonesia berani mengerjakan hal yang sama. Membuat benteng dan membantu startup dan pabrikan lokal untuk hidup. Tidak dipalak, tidak di-sweeping, ada insentif pajak, dan lain-lain.

Untuk mengembangkan teknologi kita membutuhkan orang atau mahasiswa teknik. Saat ini jumlah persentase mahasiswa teknik cuma sembilan persen dari 2,5 juta mahasiswa yang ada di Indonesia. Dengan persentase seperti itu akan sulit untuk membuat atau berinovasi dalam bidang teknologi. Jika ingin membuat dan mengembangkan teknologi, suka atau tidak kita harus memperbanyak sekolah teknik.

Pemerintah bisa melakukan banyak hal untuk mendukung kemajuan teknologi dan pemanfaatan teknologi dalam era globalisasi. Pemerintah juga bisa melakukan seperti apa yang telah dilakukan oleh pemerintah China dan Rusia. Namun pertanyaannya apakah pemerintah mau melakukan itu semua? (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Komunikasi

Suka atau tidak, pada akhirnya secara perlahan tapi pasti identitas keindonesiaan kita akan semakin terkikis akibat globalisasi. Jika dibiarkan lama kelamaan identitas nasional kita akan benar-benar hilang. Khususnya di kalangan generasi muda, generasi milenial yang memang sejak lahir telah akrab dengan teknologi komunikasi dan informasi.

Sebelum teknologi berkembang, akses informasi terhadap dunia luar sangatlah terbatas. Dampak globalisasi belum begitu terasa saat itu. Kini, dengan mudah berbagai macam konten dari seluruh dunia  bisa diakses seharian melalui gadget. Konten yang diakses terkadang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa kita, dan kebanyakan anak muda belum mampu untuk memfilter berbagai konten tersebut.

Globalisasi tak sepenuhnya memberikan dampak negatif terhadap identitas keindonesiaan kita. Ada juga hal-hal positif yang bisa diambil dari globalisasi. Contohnya tumbuhnya budaya bersaing secara positif dalam menyediakan barang dan jasa di tingkat internasional, etos kerja, dan disiplin tinggi.

Untuk dampak negatif dari globalisasi kita dapat meminimalisasi dengan cara menumbuhkan kembali semangat nasionalisme dengan menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai agama serta ideologi Pancasila. Juga dengan memperkenalkan dan menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya tradisional Indonesia sejak dini kepada anak-anak kita.

Langkah lainnya memperketat penyebarluasan informasi melalui media cetak, elektronik, maupun online seperti pornografi, LGBT, kekerasan, bullying. Serta memperkuat pendidikan moral, etika, dan karakter anak baik di rumah, tempat bermain, maupun sekolah.

Peran orang tua sangat penting dalam mengawasi dan mendidik. Semakin banyak anak yang menggunakan gadget, orang tua dituntut bijak dalam mengizinkan anak mengakses gadget. Dampak lain yang juga serius adalah kecanduan gadget pada anak. Ini memiliki dampak negatif, cseperti sulit bersosialisasi di dunia nyata, lupa waktu, obesitas karena kurang bergerak, gangguan tidur, dan perkembangan anak jadi terganggu.

Untuk mesin pencari, itu hanyalah alat. Alat ini tergantung siapa yang menggunakan. Kita harus bisa memanfaatkan alat ini untuk kepentingan nasional kita dan menyebarkan hal-hal yang positif untuk menumbuhkan rasa nasionalisme kita. Perlu peran dari pemerintah dan masyarakat dalam melakukan hal tersebut.

Sementara itu dalam hal sumber daya manusia (SDM) kita tidak kala saing dibanding dengan negara lain, dalam hal pengembangan TI. Banyak anak Indonesia yang bekerja di perusahaan-perusahaan raksasa teknologi seperti Silicon Valley, Google, dan lainnya. Ini membuktikan bahwa kita mampu, tinggal bagaimana mengelola orang-orang terbaik ini berkembang di Indonesia dengan membawa segudang pengalamannya dari luar tadi.

Pemerintah perlu lebih serius memperkuat kualitas SDM kita dan regulasi yang dapat mendorong terciptanya inovasi, menyediakan dana riset yang cukup. Modernisasi sarana dan prasarana riset juga perlu dilakukan. Selanjutnya mengelola hasil riset hingga memasarkannya dan juga melakukan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan juga pasar dalam rangka pemanfaatan dan pengembangan inovasi tadi. (ast)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

Di abad 19, dunia ditandai oleh kebangkitan nasionalisme bangsa-bangsa bekas jajahan. Bangsa terjajah mulai memperoleh kemerdekaan. Di saat negara-negara dunia ketiga yang baru merdeka sedang memperkuat kedaulatan dalam negeri, arus globalisasi menerjang bagaikan tsunami yang sulit dihindari. Jadi, negara yang tidak siap pasti akan tergulung oleh gelombang globalisasi yang mendorong situasi dunia menjadi no border of country. Negara yang lemah pasti akan terseret arus globalisasi.

Arus globalisasi bisa membawa implikasi tergerusnya nasionalisme suatu bangsa. Tak terkecuali Indonesia. Faktanya, nasionalisme kita kian melemah. Budaya hedonisme dan individualisme semakin merebak. Budaya mencintai produk luar negeri semakin menguat. Di sisi lain sejumlah produk dalam negeri belum mampu bersaing dengan produk dalam negeri. Bahkan sejumlah komoditas pangan untuk konsumsi harus diimpor secara terus menerus. Belum lagi barang barang lain seperti obat-obatan, alat transportasi,  peralatan militer untuk pertahanan hingga alat komunikasi seperti gadget yang mengubah gaya hidup masyarakat Indonesia. Pengguna gadget tidak pandang usia, dari orang tua hingga anak anak muda semakin familiar dengan gadget. Alat komunikasi ini mampu menembus batas.   Gadget yang dilengkapi dengan berbagai sistem informasi dan mesin pencari informasi semakin mendorong terbukanya informasi. Sebaran informasi dari berbagai sumber sangat mudah dan cepat tersebar ke seantero dunia.

Lain halnya dengan Rusia dan China. Dua negara ini mampu memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan dalam negerinya. Dua negara yang dikenal sebagai negara sosialis komunis ini justru mampu membuat teknologi dan sistem informasi sendiri.

Lalu, sebenarnya siapa yang berkepentingan dengan globalisasi? Menurut saya tak lain adalah negara-negara maju. Pasca perang dingin, negara-negara industri harus memikirkan cara agar industrinya tetap eksis dan berkembang. Cara penjajahan tidak seperti di zaman kolonial. Cara tersebut sudah tidak efektif dan efisien. Situasinya sudah berubah. Salah satu hal yang sangat penting bagi industri yang dikendalikan kapitalis adalah mendapatkan bahan baku, tenaga kerja murah, dan tempat untuk memasarkan barang dan jasa. Maka untuk memenuhi hasrat tersebut perlu dibangun suatu keadaan yang memaksa negara-negara harus membuka diri untuk menerima globalisasi. Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka dibuatlah regulasi yang mendorong globalisasi. Dengan demikan, patut diduga globalisasi merupakan bagian dari kepentingan kapitalisme global untuk mengendalikan perekonomian dunia.

Globalisasi bisa juga menjadi bagian dari penjajahan dalam bentuk baru sebagaimana kala itu Soekarno menyatakan, imperialism is not yet death, imperialisme belum mati. But imperialism is dying, imperialisme sedang sekarat. Nanti, kata Sukarno, akan bangkit kembali neo imperialisme dan kolonialisme (Nekolim). (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar              SBY Harus Bisa Menenangkan              Lebih Baik Kongres 2020             Ketegasan SBY, Redakan Tensi Faksionalisasi             Langkah PKS di Oposisi Perlu Diapresiasi             Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei