Misteri “Bunuh Diri” Johanes Marliem
berita
Politika
14 August 2017 00:00
  " Saya tidak mau dipublikasi begini sebagai saksi. Malah sekarang bisa-bisa nyawa saya terancam, … Seharusnya penyidikan saya itu rahasia. Masa saksi dibuka-buka begitu di media.  … Makanya saya itu kecewa betul, " ujar Johannes Marliem (Joe), saksi kunci kasus korupsi Rp 2,3 triliun e-KTP) menyesalkan pemberitaan sebuah media kenamaaan.

Komentar almarhum Joe itu disitir KONTAN.CO.ID edisi Sabtu 12/8/2017, sebelum dikabarkan "bunuh diri" terkait kebocoran berita kepemilikan rekaman pembicaraan pembahasan proyek e-KTP. Kabar tewasnya Marlem akibat ‘menembak diri’, memicu berbagai spekulasi.

Kematian Joe menyisakan misteri. Pria ini ditemukan dengan beberapa luka di tubuhnya. Hal yang kurang lazim dalam peristiwa "bunuh diri". Apalagi teman dekat Joe menyatakan, karakter Joe bukan tipikal sosok yang melankolis. Dia ceria, optimis, gigih, cerdas, dan sangat  percaya diri. Sehingga sulit difahami Joe mendadak mau "bunuh diri".  

Media massa mengungkap, almarhum sempat mengaku kecewa kepada pimpinan KPK dan sebuah media massa besar, lantaran pemberitaan yang membuat nyawanya terancam. Padahal, soal rekaman itu Joe pribadi tak pernah ingin membeberkan.

Kematian Joe seharusnya tidak terjadi. Pasca Joe diekspos sebagai saksi kunci, perlindungan terhadap dirinya harus segera diberikan penuh. Bunuh diri atau kematian dengan cara lain, niscaya bisa dicegah bila Lembaga Perlindungan Saksi  & Korban (LPSK) dan KPK tanggap mengantisipasi segala kemungkinan yang dapat mengancam keselamatan Joe.

Kasus bunuh diri misterius ini mengingatkan kita pada peristiwa ‘bunuh diri’ Manimaren Sinivasan pada Selasa 5 Agustus 2003. Wakil Bendahara DPP Partai Golkar, bos PT Texmaco ini diberitakan tewas setelah meloncat dari lantai 56 Hotel Aston di kawasan Semanggi, Jakarta.

Sebelum peristiwa bunuh diri, raja tekstil kelahiran Medan 26 Juni 1957 ini sempat menjadi bulan-bulanan pers selama tahun 1999 terkait skandal Bank Bali. Peristiwa bunuh diri ini menjadi pergunjingan umum, mengingat kasus Bank Bali terkait sejumlah elite politik berposisi penting di suatu partai dan parlemen. Seperti juga dalam kasus e-KTP yang merenggut nyawa Joe Marlien.                                                                                                                                    Dua kematian ini, sama-sama menyimpan misteri. Nah, ada misteri apa di balik peristiwa ‘bunuh diri’ Joe?

Bagaimana pendapat anda? Watyutink? (dpy)

Credit photo: warosu.org

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) 

Kami (LPSK) baru tahu siapa itu Johanes Marliem setelah membaca berita yang tersiar di berbagai media. Kami sendiri malah sangat kaget. Kok ada orang yang berani bicara terbuka (mengaku sebagai saksi, red) kepada pers, bahwa dia siap dan punya alat-alat bukti lengkap yang dapat membuktikan kesalahan sejumlah tersangka. Bicara terbuka seperti itu kepada pers dan dengan menyebut nama identitas jati dirinya lengkap secara terbuka lagi. Apa dia tak tahu bahwa itu sangat berbahaya dan bisa mengancam keselamatan jiwanya.     

 Nah, setelah tahu mendengar berita itu (pengakuan almarhum Joe Marliem) di pers, kami pun bergegas mencari tahu dan berupaya segera menghubungi yang bersangkutan dengan berbagai cara yang mungkin. Karena kami dengar dia ada di Amerika. Kami ingin memberitahukan dia bahwa keterangan pers dia bisa berimplikasi mengancam keselamatan jiwa dan keluarganya.

Akhirnya Wakil Kepala (WaKa LPSK) berhasil mendapatkan nomer kontak beliau (alm. Joe), yaitu WA-nya.  Kami hubungi dan jelaskan duduk perkara dan konsekwensi dari keterangan pers yang terbeber di media massa.  Semula Joe Marliem mengaku tidak tahu, bahkan balik bertanya apa itu LPSK dan apa itu perlindungan saksi. Itulah yang terjadi. Itulah yang terjadi sebelum Joe diberitakan “bunuh diri”.   

Ya kami LPSK memang sempat menawarkan program perlindungan saksi kepada alm Joe.  Tapi sebelum menerima jawaban, peristiwa (“bunuh diri”) itu telah terjadi. Padahal program perlindungan termasuk juga apakah mengganti jati diri atau tidak, hanya bisa dilakukan LPSK berdasarkan persetujuan dari pihak saksi atau korban yang bersangkutan.

Secara resmi, setahu saya, terkait kesaksian Joe Marliem itu dari KPK memang tidak pernah ada yang menghubungi LPSK. Dalam arti surat resmi permohonan melakukan program perlindungan saksi.  Tapi entahlah secara nonformal, mungkin saja ada pembicaraan dengan anggota atau staf LPSK.

(dpy)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

 

Dengan data yang sangat minim, sulit memberikan komentar yang dapat dipertanggung jawabkan.

Namun anda bisa mencoba melihatnya (kasus dugaaan bunuh diri Johanes Marleim) berdasarkan tipologi bunuh diri dari Durkheim.*

Bunuh diri ada yang bersifat altruistik, dilakukan sebagai pengorbanan terhadap kepentingan yang lebih luas. Contoh pasukan Kamikaze Jepang dan beberapa kasus bom bunuh diri

Bunuh diri egoistik dilakukan oleh orang yang menempatkan kehormatan diri sebagai hal utama

Bunuh diri anomik dilakukan oleh orang putus asa

Silahkan tafsirkan sendiri.

(Berikut obrolan ringan watyutink dengan Prof Mustopa )

Watyutink.com [20:46, 13/8]: Prof Moes yth, terlepas dari persoalan ada kaitan atau tidak dengan kasus E-KTP,  apakah anda tergolong mereka yang percaya kematian Joe murni akibat "bunuh diri"?                       

Mustopa Prof DR [20:48, 13/8]: Itu jawaban saya di atas             

Watyutink.com  [20:48, 13/8]: Jika anda tidak percaya, mengapa dan apa argumentasi ketidakpercayaan anda itu?                       

Mustopa Prof DR [20:48, 13/8]: Harus ada data komprehensif. Tidak bisa hanya duga-duga.        

Watyutink.com [20:49, 13/8]: OK Prof, apa hal ini juga berlaku bagi pertanyaan: Apakah urgensi (siapapun) mengekspos keberadaan Joe sebagai saksi kunci? Ini terkait dengan lembaga yang melakukannya loh prof, baik KPK maupun media massa.                       

Mustopa Prof DR [21:30, 13/8]: Media kita sekarang ini cenderung super liberal. Lupa sama kode etik. Berita dijadikan komoditas, agar lebih indah dibandingkan aslinya. Hasilnya simulakra alias realitas yg dilebih-lebihkan.

(dpy)                                                                                                               

*David Émile Durkheim, lahir 15 April 1858, meninggal 15 November 1917 adalah pencetus sosiologi modern, pendiri fakultas sosiologi pertama di Eropa 1895.  Penerbit  jurnal pertama ilmu sosial, L'Année Sociologique

Durkheim menjelaskan dalam keadaan anomie muncul perilaku menyimpang. Yang menonjol, bunuh diri. Konsep anomie dikembangkan Durkheim dalam buku "Bunuh Diri"  tahun 1897. dengan meneliti berbagai bunuh diri orang-orang Protestan dan Katolik. Dia jelaskan kontrol sosial yang ketat di lingkungan Katolik, membuat tingkat bunuh diri lebih rendah. Orang punya tingkat keterikatan terhadap kelompok mereka, yang disebut integrasi sosial. Tingkat integrasi sosial yang abnormal tinggi maupun rendah, dapat mempengaruhi tingkat bunuh diri. (Redaksi)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 Aktivis HAM, Ketua Badan Pengurus SETARA Institute

1. Bunuh diri dapat dilakukan oleh siapa saja dgn motivasi beragam. Tetapi dalam konteks kematian saksi-saksi kunci dalam peristiwa kejahatan, tidak bisa kematian seseorang dianggap seperti kematian biasa atau bunuh diri biasa. Sebaiknya otoritas hukum di mana peristiwa 'bunuh diri' itu terjadi segera memberikan kepastian. Demikian juga KPK dan Polri sesegera mungkin memastikan kondisi kematian itu.

2. Saya termasuk meragukan kasus bunuh diri ini sebagai kasus bunuh diri biasa. Meskipun sebaiknya kita menunggu otoritas setempat melakukan penyidikan. Keraguan saya adalah karena tipikal kasus yang melilitnya adalah melibatkan aktor-aktor yang dapat berbuat apa saja untuk menutupi kejahatannya. Kita juga tidak bisa menyalahkan pers  yang  memberitakan  yang bersangkutan.

3. KPK dan LPSK semestinya sigap memberikan perlindungan pada saksi-saksi kunci. Ekspose yang mungkin tidak salah meski kurang tepat dalam konteks strategi penyidikan, tetapi jika dibarengi dengan kesigapan memberikan perlindungan, maka ekspose seringkali menjadi strategi psywar dan memecah kongsi-kongsi antar aktor yang terlibat, sehingga membantu penyidikan.

4. Sulit dibantah bahwa bunuh diri berhubungan erat dengan peristiwa tersebut, kecuali ada hal-hal lain yang lebih besar mendorong seseorang melakukan bunuh diri. Dan ini tentu pihak keluarga yang lebih paham. Bunuh diri juga bisa dimulai dengan teror untuk tidak memberi kesaksian. Karena itu penting menelisik peristiwa-peristiwa lain sebelum terjadinya peristiwa ini.

5. Dalam teori konspirasi segalanya bisa jadi kebenaran, meski tidak faktual. Concern saya sama bahwa KPK dan LPSK mesti melakukan evaluasi atas peristiwa ini. Sementara kita menunggu kepastian dari otoritas setempat memastikan peristiwa itu.

(dpy)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF