Menyoal Pidato Jokowi di Hadapan Relawan
berita
Politika
Sumber Foto : nasional.kompas.com (gie/watyutink.com) 06 August 2018 19:00
Salah pemilihan diksi, kerap membuat elite negeri terjebak dalam satu masalah. Diksi bersayap melahirkan multi tafsir di kalangan masyarakat. Seperti pidato Jokowi pada Rapat Relawan Jokowi di Sentul Bogor, Sabtu (4/8/2018). Saat itu, Jokowi menyampaikan bahwa apabila diajak berkelahi maka harus berani. Penggalan pidato Jokowi di hadapan relawan mengundang polemik di kalangan elite, juga masyarakat.

Sebelumnya, hal serupa pernah dilakukan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok). Dalam pidatonya di Kepulauan Seribu 2016 lalu, salah menggunakan diksi membuat langkah Ahok terjegal dalam perebutan kursi DKI 1. Sama halnya dengan pidato Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Anies yang menggunakan istilah “pribumi”, pada saat menyampaikan pidato kemenangannya 2017 lalu. Diksi tersebut dianggap sebagian kalangan bersayap,dan menimbulkan pro-kontra. 

Beberapa kali salah penggunaan diksi dilakukan oleh pejabat negara. Dalam forum publik, maupun forum umum. Pejabat eksekutif, legislatif dan yudikatif, kerap melontarkan kata-kata yang menimbulkan polemik di masyarakat. Kini pidato Jokowi menuai kontroversi, sebagian kalangan menganggap pidato itu biasa-biasa saja. Namun yang lain beranggapan tidak pantas seorang presiden melontarkan pidato seperti itu.

Juru bicara presiden Johan Budi menjelaskan, pernyataan Jokowi itu hanya kiasan dan bukan berkaitan dengan adu fisik. Namun sejumlah pengamat menilai, bisa saja ada relawan yang salah menafsirkan pidato presiden tersebut. Apalagi belakangan disadari atau tidak, gesekan di tataran akar rumput semakin memanas. Apakah relawan akan menafsirkan pidato Jokowi secara seragam sebagai sebuah kiasan saja dan bukan ajakan untuk melawan jika diserang? Apakah secara emosional Jokowi melekat kepada relawan yang merasakan konflik di tataran akar rumput? 

Pidato Jokowi dianggap kontroversial karena posisi beliau sebagai seorang presiden. Ada pendapat mengatakan Jokowi harusnya menyadari dirinya masih menjabat sebagai seorang presiden, dan harus berdiri untuk kepentingan semua orang. Bukan sekadar memposisikan diri sebagai Capres 2019. Ucapan Jokowi dianggap melegitimasi relawan untuk melakukan sesuatu yang salah saat berada dalam tekanan kelompok yang berseberangan.

Ucapan presiden dianggap sebagai sebuah fatwa, yang akan dilakukan oleh para pengikutnya. Apa pun akan dilakukan pengikut untuk melakukan fatwa pemimpin yang dikagumi dan dicintainya. Apakah sebagai seorang presiden, Jokowi telah mepertimbangan dengan matang dampak dari diksi-diksi yang digunakan dalam pidatonya tesebut?

Ada pendapat mengatakan kekeliruan dalam menggunakan diksi tersebut bisa dikatakan sebagai kesalahan tim komunikasi Jokowi dalam mengemas pola komunikasi yang dilakukan beliau.  Sehingga membuka peluang Jokowi dijadikan bulan-bulanan oleh kelompok yang berseberangan dengan dia. Terutama jelang pertarungan perebutan kursi RI-1 2019 mendatang. Lantas apakah kejadian itu akan membuat rasa kagum orang terhadap Jokowi berkurang dan membuat relawan Jokowi dipandang "miring“?

Kalau kita menyaksikan video pidato Jokowi secara utuh, terdapat juga himbauan dan saran-saran agar relawan tidak melakukan hal-hal yang tak terpuji seperti membuat fitnah dan perbuatan tercela. Lantas, apakah pidato Jokowi itu provokasi atau motivasi kepada Relawan Jokowi?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Komunikasi Politik Nasional & Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner

Ucapan Pak Jokowi itu harus dilihat secara keseluruhan teksnya. Artinya harus dilihat dari pidato awal sampai akhir. Nah, kalau kita penggal-penggal seperti itu, nanti memang bisa jadi liar maknanya. Untuk memahami teks suatu pidato harus berdasarkan yang disebut analisis hermeoneutika. Analisis hermeoneutika melihat teks pidato itu secara secara utuh, dengan melihat konteksnya. 

Makna  pidato itu tidak bisa lepas dari konteksnya. Karena kontesknya dia berpidato kepada Relawan Jokowi. Namanya juga Relawan Jokowi, orang-orang yang rela mendukung Jokowi. Artinya boleh dimaknai sebagai orang yang memang secara rela memberikan dukungan terhadap Jokowi, tanpa mendapat imbalan apapun bentuknya. 

Kemudian harus kita lihat juga konteksnya apakah itu untuk konsumsi relawan semata-mata atau untuk umum yang bisa kita lihat dengan kehadiran wartawan di situ. Seharusnya konteksnya khusus untuk relawan. Kalau kita melihat memang ada di wilayah private dan ada di wilayah publik. Nah saya melihat itu di wilayah private. Artinya Jokowi dengan relawannya (di kalangan terbatas). Private itu tidak hanya satu atau dua, bisa juga banyak. Jadi orang khusus, orang di kalangan terbatas saja. 

Tapi, kalau ada wartawan yang tugasnya meliput maka jadi publik. Sekalipun wartawan hanya satu. Nah karena itulah juga konteksnya harus dilihat. Jangan-jangan itu kebutuhan untuk private. Nah kalo untuk private bukan untuk konsumsi publik. Sama halnya misalnya saya bicara dengan istri saya, itukan wilayah private. Terbayang ngak apa saja yang kita bicarakan. Hal-hal yang sangat fundamental, prinsip, perjuangan, dan semangat. Karena itu saya lihat itu pembicaraan wilayah private bukan untuk publik. 

Selanjutnya, saya kira pandangan yang dikatakan Jokowi merupakan suatu nasehat. Nasehat yang dibicarakan kepada Relawan Jokowi dan semangat. Nasehatnya seperti, “jangan membangun permusuhan, jangan membangun ujaran-ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah, tidak usah mencelah (dan seterusnya)…”. Kemudian kalimat yang menjadi kontroversial “tapi kalau diajak berantem juga berani”. Kalimat itu bertujuan sebagai memberikan semangat, supaya tidak ciut. 

Karena bisa saja berantem  itu dimaknai sebagai berantem pandangan, ide dan gagasan. Atau berantem apapun di luar kontak fisik seperti yang ditafsirkan sebagian orang. Kalau kita nonton dari awal, bisa dilihat pidato itu berisi nasihat-nasihat yang bagus. Jangan mengajak orang berantem dalam konteks adu gagasan dan berdebat, tapi kalau ada yang ajak jangan takut. Kalau diajak, jadi bukan mengajak.

Nah kata diajak di situ menanamkan semangat, perjuangan, supaya tidak ciut. Karena bisa saja nanti kelompok-kelompok tertentu dengan komunikasi politik yang dilontarkannya bersifat menawarkan sesuatu, apapun itu kita tidak boleh ciut. Jadi terus terang saya katakana bahwa pandangan Jokowi itu saya pikir sangat multi perspektif. Dan akan dilihat itu nanti dianggap pandangan kurang wajar kalau berada di posisi yang bukan mendukung Jokowi. Tetapi saya katakan, diperlukan kejernihan dalam melihat pidato itu secara keseluruhan. 

Baru kemudian saya berpendapat, seorang Jokowi adalah seorang yang bijak. Tidak mungkin dia menyampaikan pesan-pesan yang profokatif. Jadi pidatonya itu adalah sebuah motivasi. Menanamkan semangat dan supaya relawan ini tidak ciut menghadapi apapun tantangan.

Memang seorang pemimpin yang bagus harus memberikan semangat terhadap pengikutnya atau bawahannya, dalam kondisi apapun. Nah jadi kalo dikatakan itu sebagai provokatif, saya rasa tidak,  terlalu jauhlah orang yang berpandangan demikian. Karena kalimat berikutnya yang dia ucapkan jangan mengajak atau tidak boleh mengajak. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Mercu Buana dan Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia

Pidato Jokowi dalam Rapat Relawan di Sentul adalah hal yang biasa. Sebenarnya tidak ada hal yang perlu diperdebatkan, apalagi sampai menjadi kontroversi. Kalimat yang diucapkan Jokowi saya kira itu spontanitas saja, hanya harusnya Jokowi bisa hindari diksi-diksi yag memancing perdebatan publik. Apalagi ini kan situasi politik, tentu bisa dimanfaatkan oleh lawan politik beliau.

Bisa jadi kesalahan Jokowi dalam menggunakan diksi ketika melontarkan pidato digoreng oleh lawan politiknya dan digunakan sebagai bahan kampanye untuk menjatuhkan Jokowi. Namun itu nampaknya tidak akan mengurangi elektabilitas Jokowi yang sekarang. Saya berpendapat, kecil kemungkinan tindakan yang dilakukan lawan politik Jokowi akan berhasil.  

Menurut saya, kalau kita mendengar secara utuh Pidato Jokowi, sebetulnya tidak mengajak atau memprovokasi orang untuk berantam. Tapi kalau pidato tersebut didengar sepotong-sepotong saja, maka bisa menjadi penyebab perdebtan. Jadi pdato tersebut harus didengar secara utuh, jangan sepotong-sepotong. 

Menurut saya pidato itu lebih ke arah himbauan dan motivasi kepada relawan agar tidak melakukan hal negatif. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi