Menyimak Dukungan “Klan” Tubagus Chasan Sochib untuk Jokowi-Ma’ruf
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 10 November 2018 12:00
Dukungan keluarga besar Tubagus Chasan Sochib menjadi amunis baru bagi kubu pertahana menjelang perhelatan pilpres 2019. Pasalnya, pada pilpres 2014 lalu, capres Prabowo Subianto yang saat itu berpasangan dengan cawapres Hatta Radjasa berhasil mengungguli Jokowi dengan selisih suara hingga 14 persen di provinsi ujung barat pulau Jawa tersebut. Hasil ini tidak lebih karena dukungan keluarga Tubagus Chasan Sochib terhadap kedua paslon itu.

Menanggapi hal ini, pengamat politik Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing menilai dukungan yang didapat calon presiden nomor urut 01 dari klan Chasan Sochib merupakan sesuatu yang positif. Sebab, pengaruh keluarga ini sangat kuat di Banten. Selain itu beliau tokoh masyarakat yang disegani. Hal tersebut dapat dilhat dari keturunan Tubagus Chasan Sochib yang selalu menang dalam konstestasi politik di Banten.

Yang menjadi tanya, sejauhmana pertalian kekuasaan antara politik dinasti dan Jokowi pada pilpres nanti? Apa iya untuk memenangkan konstestasi dalam pilpres nanti memang mengharuskan melalui politik dinasti? lantas, bagaimana dengan kualitas demokrasi kita kedepannya?

Banten selalu menarik menjadi bahasan politik karena persoalan politik kekerabatan atau lebih top lagi disebut politik dinasti. Dari 8 kabupaten/kota hanya kota Tanggerang yang belum terkontaminasi politik dinasti. Ditambah lagi, tersiar kabar bahwa jaringan dinasti tersebut diduga melakukan “permainan” proyek pembangunan didominasi perusahaan yang dimiliki kerabatnya, sehingga menjadikan fungsi kontrol terhadap roda pembangunan di Provinsi Banten tidak berjalan.

Bila kita menelisik kemunculan keturunan alharhum Haji Chasan Sochib sebagai pemimpin di tanah Banten diawali sejak ayah dari mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah, itu menancapkan namanya sebagai seorang Jawara dan penguasaha sukses menjadikannya kian disegani di sana. Setelah provinsi Banten terbentuk, tak sulit untuk Chasan memanfaatkan kekayaan, kharismanya dan jaringannya untuk mensukseskan keturunannya menguasai tanah Banten.

Agus Gumirang Kartasasmita pada tahun 2013 menjabat sebagai Ketua DPP Golkar buka-bukaan soal lahirnya dinasti Ratu Atut Chosiyah. Saat itu, tahun 2007 ketika dirinya menjadi Korwil Jabar, Banten dan DKI pada masa kepemimpinan Jusuf Kalla ditugaskan untuk mempersiapkan kader Golkar yang siap untuk dicalonkan menjadi kepala daerah untuk diajukan kepada ketua umum. Nama Atut kala itu sangat populer di Banten. Wajar kalau dirinya mengajukan Atut untuk bertarung dalam Pilkada Banten.

Pada titik ini pertanyaan kritisnya, apakah dukungan keluarga besar Tubagus Chasan Sochib untuk Jokowi Ma’ruf Amin akan menguatkan target 70 persen perolehan suara seperti yang di targetkan Tim Kampanye Daerah (TKD)? Atau jangan-jangan malah sebaliknya? Wajar kalau pertanyaan ini muncul ditengah berbagai catatan miring tentang berbagai kasus korupsi yang ramai menjadi sorotan publik di wilayah tersebut.

Apa pendapat anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pastor dan aktivis penggerak kesadaran manusia

Sinyal dukungan keluarga besar Tubagus Chasan Sochib untuk Paslon Nomor urut 01 wajar kalau disebut sebagai amunisi baru bagi Jokowi-Ma’ruf Amin. Namun, dalam berpolitik dibutuhkan kematangan melihat realitas apa yang terjadi. Pada gelaran pilpres jelas yang menonjol adalah menjual sosok seorang lewat  politik branding. Pemasaran politik sebagai cabang kajian akademis sebenarnya sudah mulai menjadi perhatian para ilmuwan komunikasi dan politik pada 1950-an. Namun implementasinya baru berkembang tahun 1980-an, ketika media televisi memiliki peran sangat penting dalam penyampaian pesan. 

Kajian pemasaran politik secara akademis ini dari waktu ke waktu mengalami pergeseran penekanan (Adman Nursal): Shama (1975) dan Kotler (1982) menekankan pada proses transaksi antara pemilih dan kandidat, O’Leary dan Iradela (1976) pada penggunaan marketing mix  mempromosikan partai politik, Lock dan Harris (1996) pada proses positioning, dan Wring (1997) menekankan penggunaan riset opini dan analisa lingkungan. Dengan demikian, hal yang tampak baru dalam perkembangan pemasaran politik adalah pada penerapan riset pemasaran atau riset opini.

Konsep pemasaran sendiri mengalami pergeseran perspektif dari orientasi internal perusahaan (internal oriented) ke orientasi pasar (market oriented). Orientasi pada produk saja belumlah memadai, tapi harus memperhitungkan kondisi pasar. Dalam orientasi pasar terdapat dua hal yang harus diperhatikan, yaitu orientasi pada konsumen (customer oriented) dan orientasi pada pesaing (competitor oriented). Di sini, konsep market oriented  tidak berarti harus sepenuhnya memenuhi apa keinginan pasar karena ada ideologi dan aliran pemikiran khas yang tentunya harus dipertahankan.

Konvergensi yang ditawarkan dari pandangan pro dan kontra pemasaran politik adala pemasaran politik berbeda dengan pemasaran komersial. Pemasaran politik memerlukan berbagai pendekatan keilmuan dan bersifat khas karena produk politik sangatlah berbeda dengan produk komersial, baik ditinjau dari karakteristik produk maupun karakteristik konsumennya. Pemasaran politik memiliki dimensi lebih luas dan karenanya lebih kompleks.

Firmanzah dalam bukunya,  Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas, mengatakan  pemasaran politik menempatkan pemilih sebagai subyek, bukan obyek dari partai politik atau kandidat. Pemasaran politik menjadikan permasalahan yang dihadapi pemilih sebagai langkah awal  menyusun program kerja yang ditawarkan dengan bingkai ideologi masing-masing partai atau kandidat. Pemasaran politik ini tidak menjamin sebuah kemenangan, tapi menyediakan tools menjaga hubungan dengan pemilih, sehingga dari sini akan terbangun kepercayaan untuk selanjutnya memperoleh dukungan suara mereka

Pertarungan Pilpres 2019 nanti adalah pertarungan branding  di mana  sosok yang  mampu menguasai  dunia maya, memiliki gagasan  segar dan mampu keluar  dari lingkaran kesukuan. Setiap Paslon juga dituntut untuk mampu membaca tanda zaman dan menyerap aspirasi warga yang haus akan perubahan. Dalam Pilpres mendatang, rakyat akan memilih pemimpin dengan visi yang jelas dan terukur.

Kita harus menegaskan kembali makna berpolitik dan berkekuasaan, mengembalikan makna berpolitik untuk kepentingan perjuangan semesta, untuk membangun Indonesia menjadi negara yang makmur dan luhur. Berpolitik bukan jurus aji mumpung  sekadar meraih kekuasaan, berpolitik adalah seni  membangun kemajuan bangsa. Disorientasi politik akan membawa bangsa ini ke jurang kesengsaraan yang amat dalam. Pada tataran ini kita harus belajar dari para pendahulu negeri ini di mana mereka bisa mewarnai politik dengan gagasan-gagasan besar Indonesia masa depan. Berpolitik adalah untuk membangun bangsa ini dengan penguasa yang berpihak kepada rakyat, bukan kepada mereka yang memiliki uang semata. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Di Banten, dukungan keluarga besar Tubagus Chasan Sochib (dinasti Chasan) sangat penting bahkan bisa menentukan hasil pilpres di sana. Dinasti ini sangat kuat secara sosial, politik dan ekonomi sehingga terlalu sulit dikalahkan oleh siapapun.

Di Banten berlaku, 'apapun partainya, keluarga Chasan yang pegang kendali'. Maka, Prabowo-Sandi harus berjuang ekstra keras untuk mengalahkan Jokowi-Ma-ruf. Apalagi Ma'ruf sendiri adalah seorang ulama yang sangat populer di Banten.

Masyarakat Banten sudah lama bangga pada Ma'ruf Amin, sebagai putra Banten asli yang sukses berkiprah di panggung nasional. Mereka tentu saja berharap dia bisa menjadi orang Banten pertama yang menjadi Wakil Presiden RI.

Namun tak berarti Prabowo mati angin. Sebab, bagaimana pun juga tak sedikit orang Banten yang muak pada politik dinasti. Apalagi, selain dikenal sangat kaya, dinasti ini juga korup. Lihat saja beberapa anggotanya kini bahkan masih meringkuk di penjara kadera kasus korupsi.

Pilgub Banten tahun lalu membuktikan hal ini.  Lihat saja, pasangan Rano Karno-Embay Mulya Syarief yang didukung PDIP, kalah sangat tipis melawan Wahidin Halim-Andika Hazrumy yang didukung penuh dinasti Chasan. Maka kini kemampuan Prabowo mengambil hati para pendukung Rano Karno berperan sangat menentukan.

Masalahnya sekarang PDIP berada di belakang Jokowi, sementara kaum agamis mendukung Ma'ruf Amin. Pertanyaannya adalah mampukah Partai Nasionalis Gerindra yang elektabilitasnya sedang menanjak menandingi PDIP, dan FPI cs memperoleh simpati dari komunitas agamis di Banten?

Jawabnya tentu saja terletak pada strategi dan kemampuan pribadi Prabowo-Sandi berkomunikasi dengan masyarakat Banten. Dalam konteks ini, adalah kemampuan mereka membangun citra sebagai nasionalis-relijius sejati, yang selalu mengedepankan kepentingan rakyat.

Semua itu jelas tak mudah karena Ma'ruf Amin sangat mengakar di Banten. Demikian pula dengan PDIP, yang berkoalisi dengan hampir semua parpol besar. Bandingkan dengan Prabowo yang hanya didukung penuh oleh Gerindra, PAN, dan PKS.

Sudah menjadi rahasia umum di Banten bahwa PDIP sekarang tak beda dengan parpol-parpol koalisinya, semua di bawah pengaruh dinasti Chasan. Maka, lawan sesungguhnya Prabowo-Sandi di Banten adalah Chasan-Ma-ruf. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen STAIN Bengkalis

Menaklukkan Jabar dan Banten merupakan pekerjaan rumah (PR) politik Jokowi yang segera diselesaikan lebih awal. Jumlah pemilih yang sangat besar menjadi potensi penentu kemenangan Jokowi. Apalagi berkaca pada Pilpres 2014, Jabar dan Banten adalah basis Prabowo. Makum branding Prabowo yang dikesankan agamis dan dekat dengan Islam, menjadi daya tarik kuat pemilih menjatuhkan pilihan ke Prabowo-Hatta waktu itu.

Kesan agamis di Pilpres 2019 pun masih terasa. Bukan karena semata mata faktor Prabowo, tapi faktor partai pengusung: PKS, PAN yang terlihat agamis, lalu ditambah Gerindra yang nasionalis. Kedekatannya dengan kedua partai tersebut membawa efek positif bagi kalangan pemilih Muslim. Apalagi gerakan politik ke-agama-an beberapa waktu dengan Ijtima Ulama ke-1 dan ke-2, merupakan bentuk identifikasi politik yang lebih mengesankan lebih islami daripada petahana.

Kehadiran Kiai Ma'ruf bagi oposisi sungguh mengagetkan. Sebagai seorang ulama sekaligus ketua MUI mulai membuyarkan alam bawah sadar para pemilih muslim di Jabar dan Banten. Di perparah lagi, justru Prabowo berpasangan dengan Sandiaga Uno yang jelas jauh dari kreteria ulama. Walaupun para pendukung mencoba mempoles dengan: Santri-post modern dan ulama, tidak serta merta bisa diterima oleh pemilih Prabowo. Ini kesalahan tim Prabowo yang tidak bisa mengaktualisasikan kesan tersebut dalam keseharian. Berbeda dengan tim Jokowi yang memberi kesan positif dengan sering menampilkan foto ritual keagamaan seperti sholat dan kegiatan keagamaan. Jelas ini lebih terkesan religius ketimbang Prabowo. Dan Ma'ruf Amin menjadi penguat perilaku religiusnya Jokowi.

Saya kira dukungan Tubagus bisa ditinjau dari sisi ini. Tentu saja faktor geografis juga cukup bisa diterima, yaitu punya kebanggaan tersendiri putra terbaiknya menjadi cawapres, sebagaimana daerah Riau bangga dengan Sandiaga Uno.

Memang dukungan kepala daerah tidak serta merta merubah pemilih secara radikal. Semua dikembalikan masing- masing tim pemenang dalam memainkan strategi yang terbaiknya. Hanya saja, "segenggam kekuasaan" sangat efektif merubah sesuatu yang mustahil menjadi serba mungkin. Dan dukungan Tubagus adalah bagian dari kemungkinan dari seribu kemungkinan yang ada. Termasuk kemungkinan Banten menjadi basis Jokowi. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Berubahnya Konstelasi Politik 2019 daerah Banten, yang pada Pilpres 2014 dimenangkan Prabowo dengan selisih kemengangan mencapai 14, menjadi tanda tanya besar apa gerangan yang mungkin terjadi, dimana notabene Prabowo muncul krmbali menjadi kandidat capres dengan nomor urut 02. Seperti diketahui banyak pihak, dinasti Tubagus Chasan Sochib yang adalah tokoh masyarakat Banten yang dapat mencetak pemimpin-pemimpin di daerah tersebut dengan kekuatan kharismatik beliau, yang melahirkan dinasti Ratu Atut Chosiyah yang menjabat Gubernur Banten dengan kekuasaan yang luar biasa yang pada akhirnya terjerat kasus korupsi.

Politisi golkar ini memang didukung oleh kharismatik dari ayahnya, Tubagus Chasan Sochib, sehingga mampu memenangkan Pilgub Banten pada 2007 lalu.Tentunya pengaruh dinasti Chasan Sochib di Pilpres 2014 itu pulalah yang memenangkan Prabowo di Banten. Memang luar biasa dan tidak bisa dipungkiri dengan beraihnya dukungan dari Prabowo ke Jokowi akan sangat mempengaruhi suara di Banten.

Pertanyaannya saat  adalah bagaimana image yang akan muncul di kalangan masyarakat terutama Banten dengan dukungan terhadap Jokowi, yang mana dinasti Ratu Atut sudah tenggelam dengan adanya kasus korupsi yang menerpa keluarga besar ini? Apakan dengan dukungan yang duberikan kepada Jokowi akan memberikan keringanan hukuman kepada Ratu Atut? Atau, apakah hal ini merupakan bargaining hukum yang akan disepakati?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini pasti akan muncul di kalangan masyarakat awam karena kepentingan-kepentingan politis akan dianggap mempengaruhi dukungan politik terhadap masing-masing capres di sisa waktu ini.

Apalagi Ratu Atut adalah kader Golkar yang notabene adalah partai pendukung Jokowi – Ma’ruf Amin, sehingga akan muncul kecurigaan-kecurigaan dari pihak lawan Jokowi bahwa dukungan keluarga Chasan Sochib kepada Jokowi – Ma ‘ruf Amin adalah suatu barter.

Tapi Jokowi, sebagai Presiden sebagai Kepala Pemerintahan, tidak akan melakukan hal hal seperti itu. Karena Jokowi dengan tegas menyatakan bahwa siapapun yang terjerat kasus korupsi harus diadili tanpa pandang bulu. Jokowi harus konsisten untuk memelihara kepercayaan masyarakat yang selama ini sudah sangat percaya bahwa Jokowi memegang teguh komitmen bahwa semua rakyat sama kedudukanya dalam hukum.

Dengan adanya perpindahan dukungan keluarga Chasan sochib akan sangat besar pengaruhnya terhadap elektabilitas Jokowi yang semakin hari semakin meningkat. Tapi tetap yang terpenting dalam event pilpres dan pileg ini adalah pemilu yang aman dan damai. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF