Mengembalikan Ruh Awal Golkar. Bisakah?
berita
Politika

Sumber Foto: winnetnews.com

26 November 2017 16:00
Dengan menyatakan diri tetap menjabat Ketum Golkar dan memerintahkan MKD DPR untuk menunda sidang pencopotan dirinya, Setya Novanto meletakkan dua lembaga itu pada posisi sebagai "sandera". Lucunya, dua permintaan Setnov dituruti kedua lembaga. Seolah menjadi sandera di mata rakyat adalah keharusan yang mesti dipikul.

Golkar lalu mengelar rapat pleno untuk menentukan Plt. Ketua Umum, dan hasilnya seperti tebakan sejumlah pengamat. Elite Golkar masih manut saja saat diminta menunggu hasil praperadilan untuk menentukan kelanjutan status Setnov sebagai Ketum Golkar.

Namun sejumlah sesepuh Golkar meradang. Mereka bilang, hal yang terjadi sekarang tidak boleh didiamkan. Keselamatan Golkar adalah hal yang utama. Untuk itu, selain persiapan Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 yang tak lama lagi berlangsung, Golkar punya PR baru yakni melepaskan diri dari anggapan publik bahwa Golkar identik dengan Setnov.

Nah, bagaimana gimana cara Golkar mematahkan anggapan publik itu sehingga tidak berpengaruh di Pilkada 2018 dan Pemilu 2019? Salah satu caranya, ujar sebagian senior Golkar dan pengamat politik, adalah dengan menggelar Munaslub. Tetapi untuk menuju Munaslub ada tahapannya, seperti rapimnas dulu dan lain-lain.

Pertanyaannya apakah memang posisi Golkar genting sampai menjelang Munaslub? Bisa jadi iya bisa juga tidak. Bagi orang luar Golkar, mungkin kondisi sekarang dianggap genting. Tetapi ada juga yang menyebut sebaliknya. Kultur Golkar adalah kultur "gizi". Artinya, jika ada tahapan-tahapan jelang Munaslub, maka yang “panen” adalah pengurus daerah. Ada DPD tingkat I berjumlah 34 dan DPD tingkat II berjumlah lebih dari 500. Dengan "panen"nya para pengurus daerah, maka itu artinya bisa melumasi mesin politik di "grass root" Golkar. Apakah ini dapat diartikan bahwa calon Ketum yang paling berpotensi memimpin hanya akan dilihat dari sudut pandang finansial?

Janga lupa kejadian pada Pemilu 2004 lalu. Ketum Golkar saat itu Akbar Tandjung berhasil membawa Golkar menepati urutan pertama perolehan kursi di parlemen (128 kursi). Akbar membawa Golkar berjaya meski sejak 2002 dia menjadi tersangka kasus korupsi. Pagi hari seluruh kader bertepuk tangan atas keberhasilan Akbar, sore hari orang-orang yang bertepuk tangan bersuara menolak Akbar kembali menjadi ketum. Saat itu Jusuf Kala yang menjabat wapres terpilih sebagai Ketum Golkar. Dengan pengalaman seperti itu, siapa yang bakal memimpin Golkar pasca Setnov? Apakah akan muncul tipikal politisi murni seperti Akbar Tanjung, atau ketum Golkar mendatang tetap tipikal politisi-saudagar sebagaimana tiga kepemimpinan terakhir di partai itu?

Kejadian Setnov adalah momentum bagi Golkar untuk kembali kepada cita-cita awal. Bisa jadi Golkar bukan satu-satunya partai di Indonesia yang mengalami pergeseran cita-cita awal kepartaiannya. Konon katanya, kultur "gizi" juga berlaku untuk sejumlah parpol di Indonesia. Dengan kondisi Golkar saat ini, jika nanti ketum terpilih kuat dalam hal finansial, apakah bisa mengembalikan ruh Golkar seperti awal pendiriannya dulu?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ast/jim)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Bupati Purwakarta, Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat

Saya memandang bahwa apa yang terjadi pada Golkar adalah kehendak baik dari Allah SWT. Golkar diberikan sebuah peringatan bahwa ada yang salah dalam rekrutmen kepemimpinan saat ini, sehingga pada hari ini diberikan ruang untuk melakukan perbaikan. Ruang yang sama juga diberikan seluruh rakyat Indonesia, di mana rakyat pada hari ini memberikan perhatian cukup besar bagi Golkar.

Momentum ini harus diambil dengan tepat dan cepat untuk menjawab kehendak publik. Sehingga Golkar tidak perlu lagi berkutat pada administrasi politik. Administrasi politik itu sifatnya hanya internal partai organisasi. Sedangkan Golkar bukan hanya membutuhkan administrasi politik, tetapi juga dukungan publik. Maka hari ini rakyat memberikan kesempatan kepada elite Golkar untuk memilih, mau ikut kehendak publik atau kehendak kelompoknya.

Kalau nanti dukungan publik ini tidak bisa dikapitalisasi dalam tindakan-tindakan nyata di dalam masyarakat, maka Golkar akan lewat. Namun sebaliknya, tatkala Golkar bisa mengambil seluruh perhatian publik pada hari ini menjadi langkah-langkah perbaikan, maka kepercayaan publik terhadap Golkar akan tumbuh.

Kepercayaan publik ini akan tumbuh pada saat momentum Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub), Munas, atau apapun itu namanya nanti. Dari situlah nanti Golkar memberikan nama-nama kepada masyarakat, dan diidentifikasi melalui Panitia Munas. Disampaikan oleh DPD yang telah mendapat restu dari pengurus tingkat kecamatan dan desa. Pengurus-pengurus tersebut nantinya akan menitipkan nama dari publik di tempat masing-masing. Sehingga Ketua-ketua DPD bukan lagi mewakili dirinya sendiri, tetapi kehendak pengurus di tingkat kecamatan, desa dan konstituennya. Nama-nama yang dibawa nantinya adalah aspirasi dari masyarakat.

Selanjutnya Golkar harus melakukan proses rekrutmen yang didasari pada spirit perubahan. Dalam perekrutan calon legislatif dan calon kepala daerah dilakukan secara berjenjang, seperti yang dilakukan pada Golkar era Orde Baru (Orba) dahulu. Melalui karakter desk, diklat kader fungsional, dan sejenisnya. Proses itu harus kembali dilakukan, sehingga Golkar tidak perlu terburu-buru membentuk pengurus yang jumlahnya ratusan, tetapi mengarah kepada kualifikasi manusia yang ada pada sebuah tingkatan kepartaian.

Dari situ harus ditemukan sebuah budaya di mana Partai Golkar adalah tempat berkumpulnya para aktivis yang memiliki nilai akademis dan integritas diri. Golkar adalah ruang yang terbuka, sayap-sayap Partai Golkar juga terbuka, dan bisa mengelola manusia berdasarkan kapasitas dari profesi yang dimiliki. Hal ini selama ini dilupakan. Selama ini di dalam organisasi sayap ada orang yang dengan begitu cepat bisa menjadi ketua, dan rangkap jabatan di organisasi kemasyarakatan lainnya. Inilah yang kemudian menjadi problem.

Problem ini harus dibenahi oleh internal Golkar. Kalau rekruitmen dilakukan secara terbuka serta mengarah pada peningkatan kapasitas kader, maka Golkar akan tumbuh kembali menjadi partai yang terbuka dan memiliki kader berkualitas. Dalam pandangan saya, Golkar adalah partai yang memiliki masa depan. Ini dikarenakan saham Golkar itu seluruhnya dimiliki seluruh kader. Dia tidak terikat pada kapasitas perorangan, kapasitas kelompok atau grup.

Golkar adalah partai modern, oleh karena itu sebagai partai modern perlu dilakukan modernisasi. Untuk melakukan modernisasi dilakukan dalam jangka panjang.

Menurut saya problem Golkar hari ini adalah biasa-biasa saja. Problem terbesar Golkar adalah pada saat masa transisi 1999-2000, masa itu berhasil dilewati. Kalau hari ini problemnya adalah internal organisasi, di mana mungkin ada beberapa orang yang tidak mau melepaskan beban mereka karena adanya kedekatan emosional. Jadi ini bukan urusan Golkar yang besar. Ini hanya urusan sejumlah kecil orang, yang tinggal kita minta untuk mengambil langkah politik untuk keselamatan organisasi dibanding terlalu mempertimbangkan beban psikologi dan emosi elite partai.

Golkar bukan milik elite partai, Golkar milik publik. Publik yang tesebar di kampung-kampung, dan saya adalah yang mewakili orang kampung. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Politikus Senior Golkar, Mantan Anggota DPD RI, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Mantan Menteri PAN

Kita perlu memberikan perhatian kepada peristiwa-peristiwa sekitar tahun 1965-66. Apapun versi orang cerita tentang peristiwa masa itu, kenyataannya bahwa tentara memenangkan pertarungan politik waktu itu. Tentara ini dipimpin Jendral Suharto. Apapun yang dia mau tidak ada yang bisa menolak. Pada saat itu militer begitu kuat organisasinya. Ada hal menarik yaitu tentara--Pak Harto khususnya--tidak ingin mendirikan pemerintahan militer.

Pak Harto mengambil rumusan jalan tengah Pak Nasution, yaitu kerjasama militer dan sipil. Kerjasama antar militer dengan sipil ini sudah ada dari tahun 1950-an. Tekad dari Pak Harto mengambil rumusan ini adalah untuk menolak berdirinya pemerintahan militer. Pak Harto ingin segera dilaksanakan pemilu, namun ada kelompok budayawan dan sipil yang menginginkan Pak Harto memimpin dulu. Tujuannya untuk membersihkan partai-partai, setelah itu baru pemilu.

Pak Harto berkata, kalau kaya gitu sampai ubanan kita tidak akan punya pemimpin. Pada waktu itu sebagai partner ABRI (TNI pada waktu itu), diambillah sipil. Dipilih organisasi yang sudah ada, yaitu Sekretaris Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) terdiri dari 120 organisasi profesi (Ikatan Sarjana Hukum, PIG, dan lain sebagainya). Awalnya Sekber ini dipimpin militer aktif, pemimpin pertama waktu itu dari Asospol Pak Sukowati.

Golkar pertama kali itu adalah organisasi profesi. Beda orang yang profesi dan orang partai, kalau orang partai dia akan ngomong ideologi dan dikaitkan dengan kejadian di masa lalau. Marx ngomong apa, John Lock ngomong apa, dan sebagainya. Kalau orang profesi, orientasinya berpikir ke depan. Berpikir program ke depan, dan dikaitkan dengan ideologi. Dari sinilah kemudian muncul definisi Pancasila sebagai ideologi terbuka.

Sampai suatu ketika Pak Harto bilang, Golkar ini harus dipersiapkan untuk memasuki sistem multi partai. Dia sendiri belum tahu nama partai-partai itu apa. Kumpullah saya, Pak Manihuruk, dan lainnya di Slipi. Dari situlah keluar yang namanya karakter desk, pembinaan kader fungsional, dan dimulai juga kebiasaan menulis Renstra. Golkar bergerak cepat, namun militer tidak suka pergerakan Golkar cepat. Ini karena kalau begitu fungsi pengawasannya tak jalan.

Lantas kapan Golkar mulai berubah? Waktu itu saya sebagai sekretaris fraksi mengusulkan pengumpulan iuran untuk kas partai. Anggota MPR sebagian besar menolak karena honor mereka dari gaji sebagai MPR itu. Namun ada konstituen Golkar yang baru masuk dari kalangan pengusaha. Saat itu ada tiga orang anggota MPR pertama kali dari golongan pengusaha, yaitu Baramuli, Sofyan Wanandi, dan B Sutano. Dari sinilah pengusaha rame-rame melamar ke Golkar. Dari HIPMI, Kadin, dan sebagainya.

Kemudian terjadilah apa yang kemudian saya sebut tragedi, dialami Akbar Tandjung. Di mata saya Akbar itu seorang yang istimewa. Saat Golkar menderita dengan stigma Orba 1999 dan 2004, Akbar gigih memperjuangkan Golkar sedemikian rupa hingga pada 2004 Golkar meraih perolehan suara terbanyak. Ketika menyampaikan pertanggungjawaban, dia mendapat standing ovation. Namun sore harinya, hadirin yang memberikan standing ovation menolak Akbar kembali menjadi Ketum Golkar. Akhirnya yang naik Jusuf Kalla. Apa yang bisa merubah pikiran dan hati manusia? Ya ‘fulus’/uang.

Golkar itu dulu punya yang kita sebut dengan Golkar dengan 'g' kecil, dan Golkar dengan 'G' besar. Mereka yang disebut dengan Golkar dengan 'G' besar adalah mereka yang aktif di Partai, sedangkan 'g' kecil itu mereka yang tidak aktif di partai namun membawa nilai-nilai partai. Golkar dengan 'g' kecil ini lama-kelamaan hilang, diambil partai lain. Sementara Golkar dengan 'G' besar sibuk nguntit fee dari kanan kiri, sebagian disetor ke partai sebagian dikantongi sendiri. Saya kira ini bukan Cuma terjadi di Golkar, tetapi hampir semua partai di Indonesia.

Golkar yang tadinya dikuasai oleh aktivis dan profesional, kini dikuasai pengusaha. Kalau pengusahanya itu benar pengusaha tidak apa-apa. Tetapi ada juga yang pengusahanya karena “diusahakan”. Golkar perlu diselamatkan, karena Golkar berisi orang-orang yang berpikir jauh ke depan dan mengaitkannya dengan ideologi. Kalau tidak ada Golkar, masa kita mau main terima-terima saja ideologi yang dikaitkan dengan zaman ribuan tahun lalu. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti Senior dari Center for Stategic and International Studies (CSIS)

Saya mencoba merenungkan bahwa Golkar pada hari ini seperti kehilangan rohnya. Golkar bagaikan monster atau zombi yang tidak jelas asal usulnya, tetapi hidup dan merusak. Golkar sekarang harus menemukan kembali rohnya, sebab kalau dibiarkan Golkar akan merusak tatanan. Pada waktu saya masih aktif di Golkar, saya masih ingat debat-debat soal ideologi, bagaimana memproyeksikan Golkar ke depan secara rinci. Punya program umum dan juga ada program terperinci. Sekarang hal itu tidak ada lagi.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana saudagar-saudagar, bukan saudagar biasa tetapi dikenal dengan istilah entrepreneur politics. Bukan entrepreneur politics dalam artiaan kewiraswastaan dalam politik, tetapi peternak politik. Mereka yang punya duit, dan menumpuk kekuasaan dengan duit itu bertimbun-timbun.

Saya menyaksikan sendiri dalam diskusi Soksi, di mana saya, mas Siswono dan Pak Aburizal Bakrie menjadi pembicara serta dimoderatori Thomas Sujitno. Pak Aburizal menyesal PNS keluar dari kepengurusan Golkar, namun saya berkata PNS itu memang sudah seharusnya keluar dari kepengurusan Golkar karena kalau tidak bisa menimbulkan konflik kepentingan. Beliau menjelaskan, maksudnya yang pensiunan. Saya pikir ‘ok’ lah. Lalu beliau juga berkata kalau beliau jadi Ketum Golkar, dia akan menggunakan intelijen untuk memenangkan Golkar. Saya mulai cenut-cenut, saya bertanya bahwa apakah Beliau akan membentuk tim orang-orang pintar atau menggunakan lembaga politik? Beliau bilang politik.

Ditambah lagi yang dia tawarkan bukan gagasan untuk membawa Golkar ke arah yang lebih baik, melainkan beliau dengan berani mengatakan kalau dirinya menjadi Ketum Golkar akan drop dana untuk DPD tingkat I sekian, untuk DPD tingkat II sekian.

Saya pikir permasalahan Golkar hari ini bukan hanya melakukan reposisi Ketum Golkar dari Setnov ke orang lain. Namun juga Golkar harus mencari cara bagaimana Golkar bisa jaya seperti dulu lagi. Bisa melalui masa tranformasi dari kekuasaan otoriter ke demokratis, Golkar bisa bertahan saja itu sudah menjadi sebuah hal yang hebat. Disertasi Bang Akbar dan De Niko itu membahas itu, bagaimana Partai Golkar bisa bertahan pasca pemerintahan otoriter sedangkan partai-partai komunis di Eropa Timur runtuh. Ini sebenarnya membuktikan bahwa Golkar cukup solid dan cukup ada keterampilan dari membangun instrumen kekuasaan menjadi instrumen demokrasi.

Esensinya Golkar ini kan partai, penyambung antara rakyat dan pemerintah. Jadi siapa pemegang saham Golkar, yaitu rakyat atau pemilihnya. Karena itu sebagai kader Golkar, dia mengemban tugas yang mulia sebagai pendengar suara dari rakyat. Tetapi karena Golkar kehilangan roh dan sudah tidak ada acuan untuk menjalankan fungsi partai, fungsinya berubah lebih kepada ‘menang kalah’, ‘wani piro’, dan transaksi politik. Saya mengatakan bahwa tak hanya Golkar, tetapi sebetulnya partai-partai itu telah melakukan dehumanisasi terhadap pemilihnya.

Pemilih tidak pernah mendapatkan akuntabilitas publik, kenapa produk yang diciptakan parlemen cuma 10 persen? Apakah parlemen pernah ngomong ke rakyat, kenapa tiba-tiba ada UU MD3? Kan tidak pernah.

Jadi yang perlu dibenahi agar Golkar jangan menjadi monster adalah harus ada tokoh-tokoh muda dan gigih, bagaimana tidak hanya berani tetapi juga mampu menarik Golkar menjadi institusi yang mulia. Tidak hanya menjadi monster politik yang merupakan produk dari peternak kekuasaan dan juga membangun imperium kekuasaan. Ini tidak mudah, namun menurut saya inilah cara-cara Golkar untuk menata kembali organisasinya. Gagasan dan Ideologi itu harus ada.

Saya bepikir kenapa ada Ketum dan juga Ketua DPR tersangkut kasus korupsi. Sebetulnya martabat DPR itu martabat yang sangat tinggi, seperempat malaikat sepertiga manusia. Karena dia dipilih bukan karena sekadar partainya unggul, tetapi karena martabat dan nilai-nilai mulia. Tetapi saya tidak melihat ada hal-hal itu di dalam diri Ketum dan Ketua DPR yang sekarang ini.

Dia adalah produk dari transaksi kekuasaan dari mereka yang punya modal. Golkar menunggu malapetaka jenis apa lagi untuk perlu mengambil tindakan? Saat ini yang bisa dilakukan Golkar adalah pembusukan terstruktur, dan para kader muda kemudian mengambil alih pimpinan Golkar. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Executive Director Para Syndicate

Dengan jalan aliansi generasi muda, Partai Golkar diharapkan bisa kembali ke jalannya sebagai partai kekaryaan dengan semangat pembaharuan. Semangat Golkar baru jilid 2 di era-20 tahun reformasi (2018) harus menjadi momentum perbaikan partai ke depan. Menjadi partai modern yang bersih dan menjaga integritas, partai kader yang konsisten menerapkan rekrutmen dan kaderisasi politik berjenjang, partai kekaryaan yang punya gagasan besar meneruskan pembangunan bangsa untuk Indonesia yang maju dan beradab, serta menjadi partai aspiratif yang cerdas dan sensitif membaca kehendak rakyat utamanya generasi muda (zaman now). Sehingga Partai Golkar bisa memenuhi janji "suara Golkar, suara rakyat".

Generasi muda adalah harapan Golkar masa depan. Harapan dalam hal kepemimpinan partai dan (utamanya) soal strategi elektoral menangkap konstituen orang muda. Hanya dengan strategi ini Partai Golkar diharapkan akan bisa keluar dari perangkap "gerontokrasi" (elitisme tokoh-tokoh tua) dan "oligarki elite saudagar" yang sudah menjerat partai beringin sekian lamanya.

Hari ini Partai Golkar harus sungguh belajar dari kasus Setnov sambil berkaca dari keterlibatan orang-orang muda. Berkaca pada fenomena munculnya partai orang muda, seperti PSI (Partai Solidaritas Indonesia) yang begitu antusias ditangkap orang-orang muda. Saat ini momentum tepat untuk membangun branding Partai Golkar baru yang menangkap spirit generasi muda zaman kekinian (now). Generasi muda Indonesia harus menjadi fokus Golkar ke depan. Kepemimpinan oleh orang muda (yang progresif mengusung ideologi) dan menjadikan konstituen pemilih muda (generasi milenial) sebagai referensi konstituen untuk pembaruan partai modern.

Strategi aliansi generasi muda tersebut diharapkan bisa mengembalikan "spirit kekaryaan" dan "roh kepartaian" yang sudah mulai luntur bahkan hilang dari Golkar. Kini hal-hal seperti itu justru sedang terpuruk dalam perangkap elitisme oligarkis koruptif. Untuk menjadi baru dan modern,

Golkar harus berani menyerahkan estafet kepemimpinan partai pasca-Setnov kepada kepemimpinan orang muda yang bersih, punya integritas dan idealisme. Ini harus dilakukan demi masa depan partai. Setnov dan tokoh senior yang masih duduk di Golkar harus berbesar hati untuk rendah hati menyerahkan estafet kepemimpinan kepada orang-orang muda lewat jalan menggelar Munaslub dengan semangat menyelamatkan Partai Golkar. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi