Menelisik Pengakuan Dosa La Nyalla
berita
Politika
Sumber Foto : detiknews.com 14 December 2018 17:30
Watyutink.com - Pengakuan blak-blakan La Nyalla Mattalitti tentang dirinya sebagai penyebar fitnah Jokowi PKI, lewat Obor Rakyat saat Pilpres 2014, sangat menyita perhatian publik. Mantan kader Gerindra itu juga mengakui turut mendistribusikan koran Obor Rakyat di Jawa Timur dan Madura.

Sontak saja pengakuan La Nyalla ini bukan tidak mungkin membuat kubu Prabowo gerah, karena secara tidak langsung pernyataannya tersebut memposisikan, bahwa kubu Prabowo sebagai pihak yang ada dibelakang Obor Rakyat, karena pada saat itu dia ada di Kubu Prabowo.

Pertanyaannya jika niatnya untuk membongkar “kotak pandora” yang selama ini disembunyikan, mengapa baru sekarang La Nyalla mengakuinya? Atau jangan-jangan ini buntut panjang dari peristiwa uang mahar ketika La Nyalla ingin jadi Cagub Jawa Timur? Namun, apakah semudah itukah La Nyalla "marah" Kepada Prabowo setelah sebelumnya keduanya dekat?

Tak hanya itu, La Nyalla juga menantang Prabowo adu salat dan mengaji dengan Jokowi, untuk membuktikan bahwa calon presiden inkumben itu tidak anti-Islam. Dia juga mengklaim bahwa Jokowi lebih hebat dari Prabowo dalam urusan beragama. Nah loh, apa iya?

Menanggapi tantangan tersebut, juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahean menilai tantangan tersebut tidak relevan dengan ajang pemilihan Presiden 2019. Sebab, ujar dia, pilpres, seharusnya menguji kapasitas seorang pemimpin dalam mengurus negara, pengetahuan tata negara, dan menguji program para pasangan calon.

Yang menjadi tanya selanjutnya, ada tujuan apa dari pernyataan La Nyalla itu? Apakah dia hanya sekadar ingin curhat? Kalau sekadar curhat, mengapa harus diumbar ke media?

Menariknya, hingga saat ini Prabowo hanya diam saja dan tak memberikan respon apapun. Padahal, normalnya manusia jika dituduh yang tidak-tidak biasanya akan membela diri bahkan kalau perlu menempuh jalur hukum. Namun Prabowo hanya diam. Ada apa?

Di satu sisi, jika niat La Nyalla adalah bongkar kebobrokan, putra berdarah Bugis ini layak diberi gelar pahlawan. Lelaki berusia 58 tahun ini berani membongkar barang busuk yang selama ini selalu menyengat baunya, tapi terus disembunyikan. Tapi, jika teriakan lelaki kelahiran 10 Mei 1959 ini hanya untuk mengungkap kekecewaan, rasa marah dan dendam, ini bukan aksi kepahlawanan.

Entahlah. Yang pasti, kini La Nyalla sudah punya hubungan yang terbilang romantis dengan Presiden Joko Widodo. Bahkan berkomitmen untuk memperbaiki kembali nama Jokowi dari isu yang ‘katanya’ selama ini ia buat.

Mendengar kesaksian La Nyalla tersebut tentu saja membuat publik khawatir, apa iya untuk pilpres kali ini masih melakukan cara tidak etis untuk menarik simpati masyarakat dengan menyebarkaan fitnah dan informasi hoaks? Lantas, apa yang didapat dari pendidikan politik seperti itu?

Apa pendapat anda? Watyutink

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Watyutink.com - La Nyalla tampaknya sadar betul bahwa dia tidak akan dikriminalkan seperti  dua pimpinan tabloid Obor Rakyat: Darmawan Sepriyosa dan Setyardi Budiono. Ini tak lepas dari posisi politiknya sekarang, yang sudah berada dalam barisan pendukung pemerintah.

Secara politik, apa yang dilakukan La Nyalla sesungguhnya hal biasa saja. Hal ini menjadi tidak biasa karena dia kemudian melakukan serangan gencar kepada Prabowo, yang sedang sibuk memperebutkan kursi Indonesia 1 melawan Jokowi. Ini tentu saja mengundang kecurigaan tentang adanya  'deal' politik yang hanya boleh diketahui orang tertentu di lingkar elite kekuasaan.

Sejauh ini Prabowo tidak merespon serangan La Nyalla. Ini mungkin terkait dengan Pilgub Jatim terakhir, yang dimenangi oleh Khofifah Indar Parawansa. Pilgub ini membuktikan bahwa  elektabilitas La Nyalla sangat rendah. Maka sikap diam Prabowo mungkin dilandasi oleh pemikiran bahwa responnya justeru bisa menaikkan pamor La Nyalla.

Dengan kata lain, semua upaya La Nyalla untuk diakui oleh Prabowo dkk sebagai tokoh masyarakat Jatim, setidaknya Surabaya, telah berakhir dengan pahit. Posisi tawar-menawarnya telah runtuh sehingga harus mencari panggung baru agar karir politiknya tak cepat berakhir.

Sekarang tinggal kemampuan La Nyalla berlaga di kubu Jokowi agar memperoleh posisi terhormat. Setidaknya, bila Jokowi menjadi presiden dua periode, dia memperoleh jatah kekuasaan dan bisnis sesuai keinginannya. Mungkin hanya La Nyalla dan Jokowi yang tahu betul tentang hal ini.

Namun La Nyalla harus menghadapi persaingan ketat melawan para relawan Jokowi yang sudah jauh lebih dulu berkiprah. Kehadiran La Nyalla twntu tak diharapkan karena bisa mengurangi jatah kursi mereka.

Di Jatim sendiri La Nyalla harus berhadapan dengan NU pro Nokowi, yang enggan menerimanya karena memang tidak pernah dekat. Daripada La Nyalla, kubu NU yang satu ini tentu lebih suka menyodorkan warganya sendiri kepada Jokowi.

Bagaimanapun juga kita lihat saja bagaimana sepak terjang La Nyalla berikutnya. Siapa tahu bisa  membuat Jokowi berhasrat untuk meminangnya atau malah membuangnya. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Watyutink.com - Pernyataan La Nyalla soal dirinyalah penyebar fitnah lewat Obor Rakyat yang memfitnah Jokowi PKI sebenarnya masyarakat sudah tidak kaget, karena gaya gaya politik dari kader Gerindra banyak yang terseret kasus hoax seperti Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani dan lain lain.

Jadi perseteruan antara kader dalam tubuh partai Gerindra di akhir masa kampanye pilpres semakin tampak dengan jelas dan sudah saling bongkar kebobrokan yang pernah dilakukan. Etika politik sudah diabaikan demi kepentingan pragmatis belaka.

Yang paling menggelitik fikiran kita adalah tantangan La Nyalla untuk mengadu Jokowi dan Prabowo dalam hal salat, untuk membuktikan siapa yang benar-benar pro islam dan tidak yang ingin dibuktikan lewat adu salat dan mengaji. Artinya La Nyalla benar-benar ingin memojokkan bekas bosnya itu dalam hal keislaman mereka.

Walaupun akhirnya juru bicara badan pemenangan nasional Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean, menyampaikan tidak ada relevansinya antara mengaji dan pilpres, tetap saja masyarakat akan berfikir bahwa memang benar Jokowi lebih pro islam daripada Prabowo.

Kita juga dapat melihat pernyataan La Nyalla ini yang diumbar kemedia massa adalah buntut dari tidak direkomendasi Cagub Jatim oleh Prabowo.

Yang menjadi pertanyaan dalam hal seperti ini kenapa Prabowo diam saja? Apakan prabowo takut dengan La Nyalla?

Mudah-mudahan saja gaya gaya politik seperti ini kedepan tidak terulang lagi. Dan masyarakat lebih paham dan mengerti mana politik yang beretika, mana yang tidak mana yang hoax,dan mana berita yang faktual. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Mantan Ketua DPR RI

Watyutink.com - Andaikata yang disampaikan oleh saudara La Nyalla benar fitnah, itu sudah bisa dijadikan fakta hukum untuk menjadikan saudara La Nyalla sebagai TSK, agar terbuka luas tentang kebenaran pengakuan tersebut. Pihak Petahana harus berhati-hati dengan orang-orang yang mudah berpindah tempat, lalu membuat berita-berita seolah yang diindikasikan juga fitnah. Jangan-jangan suatu waktu yang bersangkutan akan berpindah lagi dan membuat berita-berita baru terkait orang yang pernah didukungnya.

Berpindah dukungan adalah wajar dan demokratis, tidak ada larangan. Tapi, berpindah dukungan dengan membuka borok orang yang pernah didukungnya sangat tidak etis. Justru kita harus berhati-hati dengan orang seperti ini.
Apakah kita percaya dengan berita yang disampaikan? Sudah bisa dipastikan tidak mudah orang akan percaya. Seperti kata pepatah sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak percaya.

Tidak ada gelar pahlawan bagi siapapun yang berkhianat, apapun alasannya, juga dari pihak manapun. Saya tidak berkomentar satu pihak, pihak oposisi juga harusnya berhati-hati dengan orang yang berkarakter demikian. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wakil Ketua DPW Kombatan Bali, Dosen Universitas Mahendradata Bali

Watyutink.com - Jika seseorang insaf atau sadar atas kesalahan (dosa) yang dia perbuat kemudian meminta maaf pada orang yang dijadikan korban atas dosanya itu, adalah perbuatan yang baik dari sudut agama tetapi karma tetaplah ada meski tidak separah jika orang tidak mengakui dosa.

Fitnah La Nyalla Mattalitti tentang pribadi Jokowi PKI cukup membangun opini masyarakat luas nyaris orang percaya fitnahan La Nyalla itu. Masyarakat yang tidak paham sosok Jokowi, apa iya? Tetapi masyarakat masih respek pada Jokowi dengan kinerjanya dan kepolosannya itu meski diserang dari segala sudut. 

Fenomena masyarakat terhadap PKI masih membekas dengan berbagai tragedinya, secara umum dimana ideologi dan paham ini tidak diinginkan untuk bangkit lagi.  

La Nyalla saat di Kubu Prabowo bagian dari jajaran penting untuk membangun opini dengan fokus menyerang kredibilitas Jokowi agar jatuh di mata masyarakat. Tapi sukur  dia insaf dan menyadari kekeliruannya serta sudah dimaafkan Jokowi. Dengan beralihan haluan ke kubu Jokowi, La Nyalla berapi-api juga membela Jokowi pasca insafnya. Dia ingin membayar dosanya dengan mengambil banyak peran untuk memenangkan Jokowi. Malah La Nyalla khususnya di Madura akan bergerak untuk memutarkan balikan dukungan ke Jokowi yang dulunya basis Prabowo. Perhelatan politik Pilpres 2019 mampu menenggelamkan isu pemilu legislatif yang lebih awal diselenggarakan.

Ada tiga kekuatan besar yang sedang bertarung, satu tujuan nasionalis tetap eksis, satu ingin perubahan berdasarkan paham, satu kekuatan tanpa tujuan yakni kekacauan saja. Masyarakat tentu cerdas berada pada posisi mana? Gerakan gerakan ini sebenarnya sudah lama ada cuma kekuatan nasionalisme selalu menang, karena dengan nasionalisme ini jauh lebih stabil dibanding kekuatan tertentu berkuasa negara akan jauh dari ketidak kenyamanan. Jasmerah, jangan lupakan sejarah, bagaimana para pendahulu membuat komitment menjadi negara Indonesia Merdeka.

LA Nyalla yang sangat vokal dengan membangun isu politik, dan merasa sangat berdosa ketika dibangun dengan cara fitnah. Mungkin Allah sudah menegur imannya untuk segera bertobat dengan meminta maaf. Ketika diberikan maaf dari orang yang dia fitnah ini merupakan kebahagian dan bisa menjadi bemper terdepan untuk perjuangan Jokowi. Semua itu bagian perjalanan yang harus dilalauinya meskipun mereka banyak mendapat kritik dari kubu Prabowo. 

Politik itu kekuasaan dan kepentingan dan tidak abadi sehingga nalurinya mereka terus bergerak untuk kepentingan, dan menakar-nakar posisi mana agar naluri politiknya tetap eksis. 

Saya lihat beberapa elite politik sudah mulai galau kemana harus berpihak? La Nyalla sudah mungkin melihat lebih awal tedensi arah politik yang dominan memenangkan pasangan  pada pilpres 2019. Dengan klarifikasi La Nyalla dengan fitnah melalui media  mengenai isu PKI kini sudah luntur dan terbantahkan karena yang membuat hoaks itu mengakuinya. Dengah pengakuan La Nyalla ini membuat kubu Jokowi semakin kuat karena Jokowi telah bersih dari isu PKI. Là Nyalla sudah perhitungkan mengungkapkan kebenaran (mengakui dosa) tentu ada konsekuensinya, yakni kritik pedas dari kubu Prabowo-Sandi maupun yang lainnya. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Cendikiawan Muslim Nahdlatul Ulama (NU), Staf Ahli Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP), Wakil Rektor Bidang Akademik IAILM Suryalaya Tasikmalaya

Watyutink.com - Pengakuan La Nyalla tentang dirinya sebagai penyebar fitnah Jokowi PKI, lewat Obor Rakyat saat Pilpres 2014 bagi saya minimal memuat tiga makna:

Pertama, ekspresi taubat yang bersangkutan. Secara teologis-psikologis kebohongan apalagi dipabrikasi di ruang publik akan menghantui pelakunya. Sepanjang massa dibebani rasa salah. Tentu alasan seperti ini bersifat normatif, metafisis dan personal.

Kedua, pengakuan La Nyalla harus dijadikan pintu masuk untuk bersama sama membangun politik berkeadaban, tertumpu pada akal sehat dan argumentasi rasional. Politik tidak sekadar alat meraih kekuasaan, pragmatik dan transaksional tapi sebagai investasi jangka panjang untuk mengokohkan kedaulatan nalar dan kebajikan bersama. Politik sebagai siasat mewujudkan "gotong royong". Dalam diksi gotong royong yang notabene menjadi roh Pancasila melekat di dalamnya etika kejujuran, keluhuran pekerti, dan kesediaan membangun kohesivitas sosial. Trajek seperti ini yang akan mempercepat keindonesiaan menemukan rutenya yang sehat, tertib dan sejahtera. Demokrasi bukan hanya urusan elektoral-suara, tapi harus menyentuh lapisan substantifnya.

Ketiga, pengakuan La Nyalla niscaya menjadi alasan  membangun itikad nasional bahwa kampanye SARA tidak hanya usang tapi bisa merontokkan sendi bernegara, menghancurkan perkawanan dan menghinakan kemanusiaan. 

Pengakuan La Nyalla adalah counter culture atas wajah politik harian kita yang seringkali tersekap dalam kamar gelap isu, hoax dan kebencian dan tidak ada kemauan untuk memeriksanya secara detail, malas melakukan investigasi. Kita tahu  Obor Rakyat itu dusta dan sampah setelah pelakunya mengaku. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen STAIN Bengkalis

Watyutink.com - Ada ungkapan sebesar apa cinta kepada sesuatu, sebesar itu juga kebencianya. Seseorang yang mencintai sesuatu berarti siap menutup segala kekurangan dan kesalahan. Orang yang sedang jatuh cinta semua terlihat indah, walaupun di hadapanya ada segepok kesalahan. Kecintaan telah memabukkan hati dan perilaku, sehingga rasionalitas berfikir sering bersifat subyektif.

Hal demikian berlaku dalam politik, La Nyalla adalah representasi dari diri Prabowo dalam ucapan dan perbuatan. Dia telah menjadi garda terdepan mempromosikan visi-misi pendiri Gerindra dalam membangun cita-cita besarnya. Dia adalah cermin prabowo kedua dalam ucapan dan perbuatannya, keras, tegas, lugas, dan siap menerima risiko atas segala apa yang dilakukan. 

Dari sini paling tidak sikap kesatria seorang La Nyalla. Baginya, Prabowo yang berasal dari militer dengan ketegasanya bisa memperbaiki indonesia lebih baik dan mampu membangkitkan stabilitas nasional model Orde Baru.

Namun ada yan dilupakan oleh La Nyalla, bahwa dalam dunia politik tidak ada sahabat sejati. Yang ada hanya kepntingan abadi. Kalkulasi politik senantiasa berjalan pada keuntungan yang dinamis. Saat persahabatan tidak bisa mewujudkan nilai positif cita cita politiknya, maka akan memudar dengan sendirinya.

Dari sini muncul konflik interest di antara mereka yang selalu di jaga bersama pun muncuk ke permukaan publik. Saling sindir dan saling menjatuhkan adalah menu politik akibat tidak terpenuhi kepentingan di antara mereka.

La Nyalla juga harus belajar kepada Gus Dur dalam mendalami spiritualisme politik dengan melepaskan unsur egoisme pribadi. Bagaimanapun secara politik Gus Dur merasa dipecundangi oleh sikap Amien Rais dengan permainan politiknya, mantan ketua PBNU harus lengser dari kursi keprabon. Sesakit apapun, Gus Dur memaafkannya. Sebab Menurutnya, Amien melakukan demikian sebagai seorang politikus bukan sebagai manusia yang diikat oleh kebutuhan bersama saling menghormati dan memulyakan. Dari sinilah, Gus Dur tidak pernah benci dengan lawan politiknya. Karena kerangka politik yang dibangun oleh nya adalah politik kebangsaan bukan sebatas pragmatisme semata.

Seharusnya La Nyalla harus belajar politik pada Gus Dur. Kedewasaan-nya dalam berpolitik menjadi bijak dalam memilih dan memilah mana wilayah diri sebagai manusia sebagai makhluk sosial, mana maqom wilayah sebagai seorang politikus. Kebenciannya kepada Prabowo seharusnya bukan pada diri pribadi, namun pada cara pandang politiknya. Sehingga persahabatan yang sudah dibangun tidak retak terlalu lebar. Karena itu tadi, politik sangat dinamis sebagaimana dinamisnya fluktuasi rupiah terhadap dolar.

Namun bola liar sudah lepas dari tangan La Nyalla. Ia sudah menabuh genderang perang dengan mantan sahabat karib, Prabowo Subianto. Saya hanya bisa melihat saja, apakah kedua-duanya juga bisa mengambil hikmah dari perbuatan mereka yang pernah dilakukan di masa silam.

Ibarat pertandingan sepakbola, Prabowo hanya bisa bertahan terhadap peluru yang dilepaskan oleh La Nyalla. Dia tentu tahu, bahwa watak La Nyalla semakin diserang semakin berani. Tentu keberaniannya berdasarkan kartu AS sudah disimpan oleh La Nyalla. Kubu prabowo harus ekstra hati-hati, karena putus cintanya La Nyalla bisa melebar bukan hanya politik, tapi juga hukum. Sebagai orang yang diputus oleh mantan sahabat dekatnya, Prabowo beserta tim harus mengelola tarian politiknya agar tidak sevulgar beberapa waktu yang lalu, serang dan menyerang lawan. Kini justru lawan terberat adalah teman dekat sendiri.

Hal yang wajar jika saat ini kubu Prabowo mengomentari dengan datar datar saja, dan lebih memilih bergaya santun sebagaimana yang dilakukan oleh tim jokowi.

Semoga sikap tersebut bagian dari muhasabah politik bahwa siapa yang menanam maka akan memetik hasilnya. Baik jokowi dan prabowo tentu berharap pesta demokrasi sebagai sarana memperkuat cita cita politik bangsa ini yaitu keteguhan menegakan NKRI. Perspektif yang berbeda merupakan kekayaan intelektual bangsa ini yg harus dihargai bersama dengan penuh kedewasaan.

La Nyalla mungkin tetap menyala. Namun bangsa ini sedang diajari olehnya untuk membangun bangsa ini dengan cara yang benar, bukan menghasut, memfitnah dan mengadu domba sesama satu bangsa. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF