Meikarta Antara Gemerlap dan Daya Dukung
berita
Politika
02 November 2017 07:34
Rencana pembangunan ‘kota’ Meikarta menyentak kesadaran publik akan potensi deretan problem lingkungan. Baru-baru ini tersiar kabar wilayah disekitar lokasi pembangunan Meikarta mengalami kebanjiran dan hebohnya lagi iklan-iklan Meikarta yang selama ini menghiasi hampir seluruh media yang ada mempertontonkan hunian yang nyaman.

Anehnya contoh skema rencana pengelolaan lingkungan baik itu drainase maupun pengelolaan sampah-limbah kota baru itu tak bisa ditemukan di situs meikarta.com. Kok bisa? Padahal untuk suatu projek kosmopolitan begini, isu lingkungan menjadi salah satu pertimbangan mendasar. Seharusnya isu lingkungan Meikarta ini ihwal penting. Jika luput dari perhatian. Alhasil petaka lingkungan terbesar pun sulit dihindarkan.

Nah Ke mana sampah rumah tangga Meikarta dibuang? Ke mana limbah cair Meikarta mengalir? Bagaimana perencanaan pengelolaan dampak lingkungan Meikarta? Bagaimana kondisi terakhir daya dukung di seantero ruang Meikarta, yang sejak hampir setengah abad lalu mulai dialihfungsikan dari kawasan agraris menjadi kawasan industri padat karya dan padat modal? Pernahkah ada evaluasi total?

Seandainya Meikarta jika benar akan membangun 250.000 unit hunian, maka dengan asumsi dua penghuni per unit, bisa diperkirakan ada 7.500 ton sampah perbulan dari minimal 500.000 penghuni. Proyeksi ini dihitung sesuai perkiraan produksi sampah per orang per hari dari data Kementerian Lingkungan Hidup, yang berkisar 0,5kg.

Tragisnya. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng milik Pemkab Bekasi kini sudah melebihi kapasitas. Banyak sampah tak terangkut ke Burangkeng, akhirnya diserak di pinggir jalan. Adakah pengelolaan khusus sampah oleh Meikarta? Atau Meikarta hanya bertumpu pada mekanisme pengelolaan sampah Pemkab Bekasi? Ini merupakan ancaman yang harus diwaspadai jangan sampai terlambat baru menyesal.

Itu baru ditilik dari sisi sampah rumah tangga belaka dengan asumsi minimal. Belum lagi soal beban lingkungan lain Meikarta, seperti limbah cair, polusi udara, dampak sosial dan sebagainya. Nah bagaimana potensi hilangnya resapan-resapan air di kawasan tersebut? Mampukah Kabupaten Bekasi dan Karawang menanggung beban itu?

Lingkungan memang sering dianaktirikan. Lihat  saja kondisi kali-kali di Bekasi saat ini. Kotor, bau, malah bisa dibilang menjijikkan. Secara tak langsung, kali-kali di Bekasi telah dikuasai. Tak lagi menjadi milik publik. Hanya milik mereka yang punya kepentingan membuang kotoran. Baik kotoran sisa produksi maupun lainnya. Duh apakah pembangunan Meikarta mengurangi kendali pemerintah terhadap penggunaan ruang dan kemaslahatan publik? lalu sesiap apa warga seantreo Bekasi menyikapinya?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(cmk)

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF