Manuver Prabowo dan Amien Rais
berita
Politika
Sumber Foto : keponews.com (gie/watyutink.com) 04 June 2018 17:00
Beragam spekulasi bermunculan terkait pertemuan Habib Rizieq Shihab dengan Ketua Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais di Mekah. Direktur Populi Center, Usep M. Achyar menilai, perjumpaan itu bukan sesuatu yang kebetulan, melainkan sebagai bentuk konsolidasi politik menjelang Pilpres 2019.

Hal ini dibenarkan Humas Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin. Ia menjelaskan kalau pertemuan banyak membicarakan berbagai persoalan bangsa. Bahkan ketiganya bersepakat bersatu untuk menghadapi Pilpres 2019 dengan membentuk koalisi keumatan antara Gerindra, PKS, PAN dan PBB. Seperti telah diketahui, Habib Rizieq didorong menjadi capres dalam Kongres PA 212. Apakah Kongres PA 212 bisa diperhitungkan sebagai satu kekuatan non-partai di tingkat nasional yang bisa mempengaruhi perolehan suara pada Pilpres 2019?

Menariknya dalam pertemuan itu, ketidakhadiran Presiden PKS, Sohibul Iman menimbulkan tanya besar bagi publik. Terlebih lagi ketika salah satu media mengkonfirmasi terkait hal tersebut, Sohibul Iman malah menjelaskan kalau pertemuan Prabowo, Amien Rais dan Rizieq sebagai pertemuan biasa. Ia juga meminta agar publik tidak mengaitkan pertemuan itu sebagai pertemuan politis. Apakah pernyataan Sohibul Iman menandakan bahwa koalisi yang tengah dibangun Prabowo dan Amien Rais masih cair atau jangan-jangan ini salah satu strategi PKS untuk meningkatkan posisi tawar di hadapan Prabowo?

Sejumlah pengamat menilai hubungan PKS dan Gerindra tengah menemui jalan buntu. Ini terbukti sampai saat ini dari 9 nama cawapres yang diusulkan PKS mendampingi Prabowo, belum satu pun dilirik atau sekadar diberikan angin segar oleh Gerindra. Apakah karena suara PKS dianggap tidak efektif menjadikan Prabowo sebagai presiden?

Di samping itu, umat Islam sebagai basis masa riil coba dirangkul oleh seluruh tokoh yang hendak maju pada Pilpres 2019. Dalam setahun terakhir sejumlah tokoh berupaya mendekati tokoh-tokoh yang dianggap berpengaruh di kalangan umat. Salah satunya Habib Rizieq. Ada yang beranggapan mendekati Habib Rizieq bagi Prabowo dan Amien Rais mungkin saja cara taktis untuk memotong manuver beberapa elite yang akan membentuk poros ketiga. Apakah benar mendekati Imam Besar FPI ini menutup peluar terciptanya poros ketiga dari kubu di luar Jokowi dan Prabowo?

Perjalanan Prabowo dan Amien menemui Habib Rizieq membawakan hasil. Habib Rizieq, yang sebelumnya diusung PA 212 sebagai capres, justru merekomendasikan Prabowo sebagai capres mengganti dirinya. Apakah yang menyebabkan Habib Rizieq mengalihkan dukungan PA 212 atas dirinya ke Prabowo? Apa jangan-jangan Habib Rizieq lebih memilih menjadi king maker untuk menjadikan Prabowo sebagai capres dan Amien Rais sebagai cawapres?

Kalau ini terjadi nanti, apakah masih ada peluang bagi kelompok lain untuk membentuk poros ketiga di luar poros koalisi Jokowi dan poros Keumatan? Lalu bagaimana dengan PKS? Apakah ada kemungkinan PKS merapat ke koalisi pertahana? Menarik menyimak ending percaturan politik jelang pendaftaran Pilpres Agustus 2018 nanti.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Komunikasi Politik Nasional & Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner

Saya melihat ada dua lokasi pertemuan antara Pak Prabowo, Pak Amien dan Habib Rizieq. Satu di tempat ibadah atau tempat suci, kedua di salah satu tempat di luar tempat ibadah. Di tempat ibadah pertemuannya pasti bersifat religius, melaksanakan ibadah umrah. Sementara itu malam hari waktu Indonesia saya bersama pak Drajat Wibowo kader PAN dalam sebuah acara live, Drajat berkomunikasi dengan pak Amien. Di sini sekitar pukul 8 malam, tidak tahu di Arab Saudi pukul berapa. Pak Amien sedang melakukan pertemuan di suatu tempat di Arab Saudi.

Pertemuan di luar tempat ibadah inilah yang menjadi perbincangan. Boleh jadi perbincangan tersebut menyangkut soal politik. Karena mereka politisi-politisi dari Indonesia, biasanya kalau politisi berkumpul perbincangannya tak lepas dari pembicaraan politik. Umpanya para dokter, jika berkumpul pasti berbincang seputar dunia kedokteran dan kesehatan. Demikian juga para politisi. Jadi sangat aneh bagi kita kalau mereka tidak bicara politik dalam pertemuan itu.

Hanya saja pembicaraan politik itu, apakah untuk kepentingan dan kemaslahatan orang banyak, serta kepentingan bangsa kita? Saya mengatakan bahwa pertemuan itu untuk kepentingan bangsa. Bagaimana pun mereka berkunjung ke sana, pembicaraan-pembicaraan mereka seputar politik kebangsaan untuk Indonesia. Oleh karena itu, kita harapkan setelah mereka kembali dari umrah, komunikasi-komunikasi politik yang mereka lontarkan di Indonesia adalah komunikasi politik yang menyejukkan, religius, mengampuni/memaafkan dan mengasihi. Tidak menimbulkan diksi-diksi atau pemilihan kata yang memperuncing masalah. Menurut saya orang-orang yang religius, biasanya pasti menggunakan religiusitasnya untuk tujuan kesejukan, kedamaian dan melindungi semua umat sekalipun itu berbeda agama.

Sementara itu dalam pemilu dan pilres khususnya, di Indonesia belum dimungkinkan bagi peserta non-partai. Ini gawean-nya partai, misalnya legislatif pasti diusung partai, presiden pun pasti diusung oleh partai. Bahwa kemudian ada capres non-partai yang diusung oleh partai pasti ada negosiasi dan deal-deal tertentu. Ada dua faktor yang membuat partai mengusung capres non-partai, pertama pasti ada pertimbangan elektabilitas dari si calon itu. Kedua, pasti ada pertimbangan apakah kepentingan dari partai itu bisa diakomodir. Tidak ada “makan siang” gratis dalam politik. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik, Dosen Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah

Di luar poros Jokowi, semuanya masih cair. Karena masing-masing partai saling menjajaki kemungkinan dan melakukan negoisasi politik. Misalnya Gerindra dan PKS yang tak kunjung melakukan deklarasi, ditengari ada 'sesuatu' yang belum selesai di antara kedua partai. Apalagi PKS juga membuka diri untuk bertemu Demokrat, pada saat bersamaan Gerindra dan PAN mulai menunjukkan keintimannya. Itu artinya, penantang di luar Jokowi belum terkonsolidasi dengan baik. Masih meraba-raba dan menakar kemungkinan kandidasi 2019 seperti apa.

Selain itu dari segi komposisi partai, dalam koalisi keumatan tak ada hal yang baru. Karena 4 partai ini merupakan partai yang sejak awal kerap berseberangan dengan pemerintah. Kecuali PAN yang sikapnya masih mendua. Tapi sama ada sosok Amies Rais yang selalu kritis terhadap pemerintah. Ceruk pemilihnya juga tak banyak berubah. Akan menarik koalisi keumatan ini jika Rizieq mengimbau PKB dan PPP juga masuk di dalamnya. 

Seruan koalisi keumatan ini tak bisa terus terusan beromantisme soal kesuksesan Pilkada Jakarta 2017 lalu. Tak bisa terus terusan hanya mengandalkan 4 partai karena kondisi Pilpres 2019 tentu berbeda dengan Pilkada DKI Jakarta, dimana captive market pemilihnya jauh lebih lebuh luas dan cair. Apalagi arah mata angin Pilpres 2019 lebih cenderung menguntungkan Jokowi. Misalnya dari segi dukungan partai dan posisi Jokowi sebagai petahana. Mestinya koalisi keumatan memperlebar ceruk dukungan yang tak hanya berkutat pada partai itu saja. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF