Lomba Penuhi GBK, Siapa Menang?
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
15 April 2019 11:30
Menyaksikan betapa seru dan gemuruhnya Kawasan Gelora Bung Karno kebanjiran lautan manusia pada tanggal 7 dan 13 April lalu, membuat hati kok jadi miris. Ternyata adu banyak mendatangkan pendukung merupakan peristiwa politik seremonial yang menjadi agenda sangat penting dalam Pemilu-Pilpres kali ini. Baik kubu Jokowi-Ma’ruf (01) maupun Prabowo-Sandi (02), telah menjadikan jumlah manusia yang hadir membanjiri GBK, sebagai pencitraan tolok ukur tinggi rendahnya dukungan rakyat. Kedua tim kampanye pun, saling berlomba menggiring rakyat pendukung agar menyemut pada hari yang telah dijadwalkan. Agenda ini dengan sendirinya menjadi kerja ekstra yang dipastikan sangat menyita tenaga, pikiran, dan dana yang pasti juga sangat besar. Pasalnya, berlomba memutihkan GBK telah menjadi tujuan final dari rangkaian kampanye pemilu yang sekian lama dan panjang ini.

Sebagai catatan, pada perhelatan akbar, Minggu 7 April, kubu 02 berhasil merubah GBK menjadi lautan manusia berbusana putih. Sejak jelang subuh mereka sudah tumpah ruah memadati stadion. Sederet tokoh,  Dai dan Ulama kondang plus beberapa artis, turut memenuhi panggung. Stadion GBK disulap hingga tampak seperti sebuah mushola berukuran raksasa. Suasananya pun mirip seperti perhelatan tablig akbar. Kehadiran Prabowo di atas panggung, dirasakan lebih sebagai selingan unuk rehat sejenak mengubah perhelatan yang sangat bersuasana agamis, menjadi sedikit beraroma sekuler. Setelah Prabowo lengser, gemuruh ribuan suara para santri meneriakkan takbir, kembali menggema. Khotbah para tokoh dan kiai pun, kembali mewarnai suasana seisi stadion GBK.

Seminggu kemudian, lautan manusia kembali membanjiri GBK. Pada hari Sabtu tanggal 13 April, giliran massa pendukung Paslon 01 berhasil menyulap kawasan GBK menjadi lautan putih manusia. Entah apa alasannya, berlomba memutihkan GBK benar-benar diperagakan dengan penuh semangat bersaing yang tinggi. Panggung yang didesain dengan bentuk angka 1 berukuran raksasa dijadikan sebagai panggung. Tampak ratusan artis-entertainer, para tokoh, dan personal Slank bertengger di atas panggung. Ribuan massa mengepung panggung dengan penuh semangat ingin menyaksikan dari dekat pemimpin idola mereka, Jokowi. 

Tak terdengar teriakan takbir menggemuruh seperti minggu sebelumnya. Hanya histeria massa merespon setiap ajakan Jokowi untuk mengiyakan apa yang iya ucapkan, saat pemimpin idola mereka menyampaikan pidato politiknya. Sedikit keganjilan terjadi ketika di akhir acara, saat Jokowi berselfie ria seusai berpidato, seorang ustaz mengambil mikrofon dan mengajak massa mengumandangkan shalawat yang biasa dikumandangkan dalam setiap perhelatan warga NU. Respon massa kurang antusias menyambut. Mungkin langkah ini dilakukan untuk memberi signal kepada para penyebar Hoax, bahwa pendukung 01 pun sangat Islami. Bukan massa yang cenderung ‘kafir’-sekuler sebagai mana tuduhan. Bisa juga dilakukan karena punya seorang Ma’ruf Amin dirasa kurang meyakinkan (??) .

Dari dua perhelatan adu hebat, adu banyak dan adu siapa yang paling spektakuler memutihkan GBK, timbul pertanyaan yang didorong oleh ajakan untuk senantiasa mengutamakan akal sehat. Beginikah finalisasi pendidikan politik yang bisa diberikan oleh para elite politik kepada rakyat Indonesia selama masa kampanye? Pendidikan yang paling menonjol dalam perndidikan politik kali ini adalah keahlian untuk bergerombol ubyang-ubyung mengelompok dalam semangat segregatif.  Jargon yang dilekatkan ke benak massa pendukung pun berbunyi: ‘Di luar kelompokku-musuhku!’. Akibatnya, saling serang, saling tuding, saling menjelekan, dan saling tebar pembusukan ke kubu lawan, menjadi menu pendidikan politik rakyat yang utama. Celakanya hal ini dibiarkan dan bahkan cenderung sengaja digelar dan dikembangkan oleh para politisi elite partai yang turut memanaskan pasar politik pemilu. Tak ada sedikit pun dan bahkan sama sekali cerminan dari sebuah komunitas bangsa yang berpandangan hidup Pancasila. Sebaliknya, Pancasila dikubur dalam-dalam selama perhelatan kampanye Panjang yang sangat destruktif ini berlangsung.

Bayangkan peristiwa GBK yang telah menghadirkan ratusan ribu massa. Betapa mubazirnya perhelatan yang menelan tenaga dan dana yang begitu besar, rakyat hanya disuguhi pidato politik para calon presiden idola mereka, yang mengulangi lontaran kata-kata dan kalimat yang itu-itu saja. Pidato yang disampaikan tidak sebesar dan menggelegarnya luapan massa yang memadati dan menggetarkan stadion GBK. Gambaran tentang kejelasan masa depan dan ke arah mana negeri ini dalam lima tahun ke depan akan dibawa, tak terdengar dan hilang senyap ditelan gemuruh massa yang histeris menyambut penampilan sang idola di atas panggung. Sampai akhir pidato tak terekam adanya jabaran langkah dan arahan yang visioner kemana dan bagaimana jalan yang akan dan harus kita tempuh untuk lebih mendekatkan bangsa ini kepada cita-cita kemerdekaannya.

Dengan realita ini, ada baiknya kita bersepakat untuk menyudahi pola-pola kampanye yang bertumpu pada lomba adu banyak dan tumpah ruahnya massa yang dilakukan secara demonstratif. Sementara bobot politik yang disampaikan kepada rakyat yang menyemut penuh semangat, sangat minim. Mereka hanya diberi tontonan yang lebih cenderung mengarah pada rekreasi politik yang harus dibayar dengan cukup mahal. Bukan hanya mahal secara ekonomi, tapi hampir dari segala aspek merupakan acara dan agenda politik yang hanya menawarkan kerugian! Setidaknya upaya mencerdaskan dan membangun akal sehat tak mungkin terlaksana bila pilihan dan modus kampanye tetap berlangsung seperti yang kita alami selama 8 bulan terakhir ini. 

Sampai kapan orientasi memperbesar ‘kulit’ ketimbang ‘isi’ ini, akan dipertahankan? Kecuali membodohi dan memperbodoh rakyat merupakan strategi yang harus dilakukan untuk mempertahankan zona nyaman yang telah dinikmati oleh para elite politik di negeri ini?! Tanpa ada kesadaran melakukan perubahan yang mendasar, kita hanya akan berputar, melingkar di tempat dalam kubangan pembodohan yang sama! Sekarang dan lima tahun yang akan datang!

Nah, siapakah sesungguhnya pemenang lomba putihkan GBK? Jawaban ekstrimnya: mereka yang pro pembodohan dan pendangkalan politik!

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan