Kritik Visi-Misi Capres Tak Substansial?
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 16 January 2019 16:00
Penulis
Watyutink.com - Pemaparan visi-misi yang disampaikan Jokowi dan Prabowo mengundang aksi saling kritik dari masing-masing kubu. Pemaparan visi-misi capres nomor urut 01 dinilai bak seorang camat, sementara capres nomor urut 02 dianggap hanya sekadar membuat kekhawatiran bagi masyarakat Indonesia.

Sebelumnya, Jokowi menyampaikan visi-misinya dalam acara bertajuk “Visi Presiden” pada Minggu (13/1/2019). Dalam kesempatan tersebut, Jokowi memamaparkan sejumlah program, misalnya, penyediaan 13 juta rumah yang salah satunya diperuntukkan bagi kaum milenial. Bahkan selama periode 2015-2018, capres petahana ini mengatakan sudah menyelesaikan lebih dari satu juta rumah.

Selain itu, Jokowi juga menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur. Capres nomor urut 01 ini tak luput menjelaskan berbagai proyek infrastruktur yang sudah dikerjakan selama pemerintahannya.

Keesokan harinya, Prabowo pun turut menyampaikan visi-misinya bertajuk “Indonesia Menang”. Kubu oposisi menawarkan lima fokus utama untuk Indonesia lima tahun: pembangunan ekonomi yang mengutamakan rakyat, meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan sosial, memastikan keadilan hukum dan menjalankan demokrasi yang berkualitas, keamanan nasional dan kedaulatan NKRI, dan penguatan karakter dan kepribadian bangsa.

Di sela-sela pidatonya, Prabowo juga melancarkan kritik terhadap pemerintahan Jokowi. Di antaranya: permasalahan kemiskinan, BUMN (Pertamina dan Garuda) yang terus merugi, bahkan Prabowo mengkritik peran intelijen yang dinilai tidak setia kepada rakyat dan bangsa.

Berdasarkan amatan Anda, apakah visi-misi yang disampaikan kedua kubu itu bisa menjawab permasalahan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia? Lalu, apakah pemaparan visi misi kedua kandidat tersebut juga bisa dipahami publik mengenai apa yang akan dilakukan selama 5 tahun ke depan?

Masing-masing kubu terkesan saling menegasikan terhadap pemaparan visi-misi yang disampaikan Jokowi dan Prabowo tersebut. Bahkan berujung saling kritik satu sama lain. Andi Arief, misalnya, menilai Jokowi layaknya seorang camat lantaran pemaparan visi dan misinya hanya berisi laporan kerja-kerja teknis. Menurut politisi Demokrat ini, mestinya visi Jokowi berisi gambaran besar mengenai pembangunan Indonesia, lalu menjelaskan bagaimana cara merealisasikan visi tersebut.

Sementara, kubu Jokowi menilai pemaparan visi-misi oleh Prabowo sekadar menyampaikan persoalan klasik: menggambarkan masalah tanpa memberikan solusi. Pidato Probowo juga dinilai hanya membuat kekhawatiran bagi masyarakat Indonesia. Pertanyaannya kini, wajarkah aksi saling kritik soal pemaparan visi-misi tersebut? Dengan kata lain, apakah saling kritik itu sudah menyangkut substansi visi-misi?

Atau, justru kritik masing-masing kubu itu sekadar saling nyinyir yang jauh dari substansi visi dan misi? Wajar kiranya ini dipertanyakan. Sebab, selama masa kampanye Pilpres 2019 dalam tiga bulan terakhir ini, kampanye nyinyir dinilai kerap memenuhi ruang publik. Bahkan sebagian elite dari masing-masing kubu terkesan enggan mendengar kehendak sejumlah kalangan yang menuntut kampanye berbasis program dan gagasan.

Selepas pemaparan visi dan misi, tentu publik berharap bahwa aksi saling kritik di antara dua kubu sudah saatnya berbasis program dan gagasan. Apalagi, beberapa hari belakangan ini  para kandidat capres-cawapres tengah mempersiapkan materi untuk Debat Pilpres 2019 yang akan digelar Rabu (17/1/2019) malam.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Politik, Dosen Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah

Kalau mau jujur, selama tiga bulan ini rakyat tidak menangkap apapun dari visi-misi dan program yang ditawarkan oleh Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi. Dua kandidat Pilpres 2019 ini lebih banyak terjebak pada narasi-narasi yang sifatnya artifisial. Jadi, substansi tentang bagaimana pembangunan ekonomi kedepan, lapangan pekerjaan, dan penuntasan kemiskinan itu gagal dipahami publik.

Itu terpotret dari survei Kompas periode November-Desember 2018, di mana hanya 15 persen orang yang tahu visi-misi Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Artinya, dua kandidat ini lebih terjebak pada “perkelahian” dalam berbagai isu yang tidak langsung menjelaskan kepada persoalan apa yang akan mereka lakukan selama lima tahun kedepan jika terpilih.

Makanya, dalam sisa waktu kampanye selama tiga bulan kedepan rakyat berharap bahwa visi-misi dan program kerja Pak Jokowi setebal 37 halaman itu bisa dibunyikan dalam setiap perdebatan dan setiap kunjungan. Publik perlu tahu apa saja yang akan diprioritaskan Pak Jokowi dan capaian-capaian apa yang sudah dilakukan.  

Begitupun dengan kubu Pak Prabowo, apa solusinya selain mengkritik pemerintah. Ketika berbicara tentang utang, ketika berbicara tentang kenaikan BBM, dan ketika berbicara tentang kemisikinan, apa solusi mereka? Ini yang sebenarnya ditunggu publik.

Kalau melihat kritik yang disampaikan masing-masing kubu terhadap pemaparan visi-misi yang dilakukan Jokowi dan Prabowo, lagi-lagi kritiknya bersifat artifisial dan remeh-temeh. Tidak masuk kepada substansi visi-misi.

Apa maksudnya Pak Jokowi disebut sebagai orang yang mirip dengan camat? Mestinya, kalau mau mengkritik Jokowi, misalnya, apakah ada yang salah dari Dana Desa yang selama empat tahun ini digelontorkan pemerintah. Apakah menurut oposisi Dana Desa yang diberikan kepada rakyat itu tepat sasaran atau tidak dan efektif atau tidak untuk membangun desa? Mestinya begitu. Ini yang disebut kritik substansial ketimbang ngatain Pak Jokowi seperti camat.

Lalu, soal kritik kubu Pak Jokowi terhadap kubu Pak Prabowo yang dianggap hanya menebarkan pesimisme. Terlepas dari segala kontroversi yang ada, memang logika oposisi pasti menebarkan pesimisme: sang penguasa sekarang itu sedang salah jalan dalam kebijakan-kebijakan ekonomi politiknya. Itu logika penantang. Jadi, tidak mungkin Prabowo ini muji-muji Jokowi.

Ketika Pak Prabowo menebarkan ancaman dan pesimisme, yang perlu dikuliti kubu petahana ini adalah betul atau tidak omongannya. Misalnya, apa betul BUMN (Garuda, Pertamina, dan PLN) kolaps? Ini yang mesti diungkap ke publik. Jadi, kubu Pak Jokowi cukup memberikan klarifikasi: “gak ada tuh BUMN yang kolaps. Garuda tetap menjadi maskapai terbaik di Indonesia. Pertamina dan PLN memang sedang tidak oke, tapi tidak kolaps ”.  Kalau kritik kubu Jokowi dengan narasi seperti itu kan bagus.

Sebagai penantang, Pak Prabowo pasti men-downgrade pemerintah Jokowi. Tinggal dibuktikan saja apakah omongan Pak Prabowo itu hanya pepesan kosong, gak punya data, dan tidak akuran. Makanya, selama tiga bulan kedepan ini menjadi momen untuk menelanjangi visi-misi dan program Prabowo. Berikanlah tendangan balik bahwa omongan Pak Prabowo tidak benar dengan data-data ketimbang menuduh kubu oposisi sedang menebarkan pesimisme atau yang lainnya.

Saling kritik diantara dua kubu harus menggunakan narasi yang bermutu daripada sekada main kata-kata yang saling nyinyir-nyinyiran.

Saya khawatir, kritik-kritik dari dua pihak yang tidak substansial ini, hanya menyuburkan kelompok swing voters yang tidak mau ikut pemilu dan masyarakat semakin apatis. Jadi, fenomena capres-cawapres Dildo (Nurhadi-Aldo) menjadi suatu parodi politik yang menegaskan bahwa masyarakat kita sudah jenuh dengan nyinyir-nyiran yang gak produktif. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Masing-masing kandidat, Jokowi dan Prabowo, telah menyampaikan visi-misi dengan baik. Tentu masyarakat akan menilai apakah visi-misi kedua kandidat tersebut baik atau tidak. Sudah memuat hal-hal untuk menyelesaikan persoalan bukan hanya lima tahun ke depan. Tetapi untuk 10 bahkan 20 tahun ke depan. Karena visi-misi sifatnya jangka panjang.

Wajar jika ada saling kritik soal pemaparan visi-misi. Karena memang visi-misi sifatnya untuk dikritik dan dibedah. Namun harus dengan kritik yang objektif dan solutif. Juga harus santun.

Aksi kritik bukan merupakan bentuk adu gagasan. Hanya bentuk masukan dari kubu lawan. Sayangnya, aksi kritik dari kedua kubu tersebut lebih menjurus pada aksi saling tuduh dan nyinyir. Terlihat dari kata-kata yang muncul dari kritikan-kritikan tersebut.

Pada dasarnya, mengkritik atau saling mengkritik sah-sah saja. Asalkan kritikan tersebut tidak untuk mengerang. Dan kritik tersebut membangun. Tapi lagi-lagi, kritik masing-masing kubu terhadap pemaparan visi-misi Jokowi dan Prabowo belum mengarah pada substansial. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF