Kontroversi Partai Allah dan Partai Setan
berita
Politika
Sumber Foto: redaksiindonesia.com (gie/watyutink.com) 17 April 2018 10:15
Pernyataan kontroversial Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais soal Partai Allah dan Partai Setan menjadi viral di media sosial. Dalam ceramahnya, Amien mengajak semua pihak termasuk PAN, PKS, dan Gerindra bersama umat Islam berjuang bersama membela agama. Kemudian, ia menyebut sebaliknya ada pula partai besar yang bergabung dengan partai setan. Namun, AR tak menyebut partai mana yang dimaksud partai setan. 

Walaupun dalam klarifikasinya Amien Rais mengatakan diksi "Partai Allah " yang disampaikannya merupakan cara berpikir sebuah retorika politik, target utamanya tentu saja penerima informasi jamaah masjid yang memiliki kesamaan pilihan politik, bukan ditujukan kepada pihak lain. Namun publik akan bertanya-tanya, mengapa AR tidak memakai diksi umum dalam konteks demokrasi, yakni partai koalisi pemerintah dan partai opisisi? Mengapa AR membawa sentimen agama ke dalam kompetisi politik? Apa iya statemen ini dilontarkan untuk membantu partainya meraup suara? Jangan-jangan nanti malah menggerus suara yang ada, karena pemilih PAN dikenal sebagai komunitas Islam intelektual.

Apapun itu, pernyataan Amien malah kian menyebar kebencian kepada kelompok politik lain dan tak meningkatkan kualitas demokrasi. Apalagi, saat ini soal apa saja bisa dipolitisasi. Isu-isu sosial dan politik bisa menjadi kreativitas sebagian orang diolah menjadi “bahan bakar” politik, dipakai untuk menyuplai kendaraan politik yang mereka pergunakan agar terus bergerak dan berjalan menuju stasiun akhir kekuasaan.

Klarifikasi yang disampaikan Amien rupanya tak meredam reaksi atas pernyataannya. Ketua Umum PPP Romahurmuziy meminta AR untuk tidak menggunakan kata-kata provokatif yang dapat memancing kegaduhan di masyarakat. Bahkan seiring bertambahnya usia, Amien disarankan lebih bijaksana dalam bersikap dengan pilihan kata-kata dan diksi yang tidak menghujat pihak lain.

Kalau kita mau menengok ke belakang, maka kita wajib mengakui bahwa Amien Rais merupakan sederet tokoh-tokoh reformasi di negeri ini. Alahkah bijaknya jika kritik yang disampaikan oleh tokoh reformasi itu dapat menyehatkan iklim demokrasi di Tanah Air, tanpa harus mengujar kebencian terhadap pihak manapun.

Dengan sikap dan pernyataan Amien yang sejak tidak berkuasa lagi kerap nyeleneh dan memancing kontroversi, wajar jika ada yang menyebut Amien Rais telah mengubah dari sosok reformis dan intelektual menjadi sosok provokator yang tidak ingin negeri ini berpolitik secara damai. 

Menariknya jika Amien bersikukuh mengkategorikan partai tertentu sebagai partai Allah, publik layak bertanya-tanya, bagaimana  dengan kasus korupsi yang menjerat Presiden Partai Keadilan Sejahtera dan Gubernur Jambi dari PAN? Jangan sampai ucapan seorang Tokoh sekelas Amien Rais melawan logika rakyat Indonesia.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(jim)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Fraksi Hanura DPR-RI

Dalam ceramahnya tersebut Amien Rais mengatakan:“Sekarang ini kita harus menggerakkan seluruh kekuatan bangsa ini untuk bergabung dan kekuatan dengan sebuah partai. Bukan hanya PAN, PKS, Gerindra, tapi kelompok yang membela agama Allah, yaitu hizbullah.”

Kalau Hizbullah dimaknai oleh Amien Rais berdasarkan Al-Maidah:56 maka artinya pengikut Allah SWT, tapi karena dalam kalimatnya terucap juga PAN, PKS dan Gerindra maka yang dimaksud adalah ketiga partai tersebut plus alumni 212.

Mengaitkan ketiga partai tersebut dengan Hizbullah tentunya akan sangat berbahaya karena pemahaman orang awam akan menjurus kepada SARA, mengapa? Apakah PAN, PKS DAN GERINDRA adalah partai atau kelompok Allah SWT? Apakah dalam PAN dan PKS apalagi GERINDRA tidak ada orang-orang Nasrani? Jadi kalau belum 100% murni berisi mukminin dalam golongan atau partainya maka jangan mengklaim sebagai partai Allah, karena Al-Maidah 51 melarang umat Islam menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai teman dekat.

Kemudian Amien Rais mengatakan: “Orang-orang yang anti Tuhan, itu otomatis bergabung dalam partai besar, itu partai setan. Ketahuilah partai setan itu mesti dihuni oleh orang-orang yang rugi, rugi dunia rugi akhiratnya”. Perkataan Amien Rais tersebut telah menghina keimanan kader partai-partai yang lain-nya karena dikelompokkan sebagai golongan atau partai setan. Penghinaan seperti ini biasanya terucap dari mulut politikus comberan belaka. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Saya berada di Singapura Selasa, 10 April, ketika Rocky Gerung tampil di ILC yang menghebohkan dengan ucapan bahwa kitab suci adalah fiksi, disusul Amien Rais 13 April berbicara tentang adanya Partai Allah dan Partai "setan". Hari Senin, 16 April,  di Swimming Pool Hotel kempinski dipuncak lantai 11 saya melakukan WIBK (Wawancara Imajiner dengan Bung Karno) khusus tentang isu peka RG-AR yang setara Al-Maidah A Hok.

Christianto Wibisono (CW): Selamat pagi pak bangsa ini heboh lagi gara-gara ucapan 2 elite Rocky Gerung dan Amien Rais. Apa komentar bapak tentang ini?

Bung Karno (BK): Elite politik selalu berakrobat dengan pidato apalagi ditengah kampanye. Bisa saja slip of the tongue seperti A Hok atau ada ketidak sengajaan menyatakan sesuatu yang ekstrem radikal, kemudian menyesal sudah telat. Sebetulnya cukup meniru A Hok minta maaf selesai. Tapi ternyatan kan A Hok dihukum berat tanpa masa percoban seperti diduga orang. Langsung masuk 2 tahun dan PK juga ditolak oleh Mahkamah Agung. Masalah penistaan agama ini sekarang sudah bukan jadi isu nasional domestik lagi, tapi sudah isu internasional global. Negara modern demokratis dan toleran, pluralis dan bermartabat dan beradab perkembangan HAM-nya sudah bebas dari regulasi atau perundang undangan yang bias "agama" bias "Sara". yang apa boleh buat memang tetap laku dan valid dengan pelbagai adaptasi dan adopsi sesuai dengan tingkatan perang peradaban Huntington. Suka tidak suka, kita ini semua sudah dan masih terjebak jadi "murid penerap" teori Huntington. Konflik Sara 3 peradaban Kristian, Kalifah, Konfucius . Jadi ini bukan gejala lokal kecamatan di Jawa Barat, tapi dialami oleh Jerman, Inggris, Eropa Barat, Tiongkok dan juga Amerika Serikat dengan kemenangan Trumpisme yang populis kanan konservatif anti imigran dan pro agama "ortodox". Seluruh dunia memang masih terpengaruh oleh "Sara" baik itu domestik-lokal, nasional, regional kawasan maupun global mondial di dataran geopolitik PBB dan kehidupan sehari-hari.

CW: Wah, lho kok bapak seolah ikut meng-endorse Amien Rais dan heboh kitab suci fiksi.

BK: Manusia itu mahluk paling "sempurna" di atas segala ciptaan tapi dia juga paling "primitif" reptilian. Kebencian merupakan genetika/DNA warisan Kabil yang cemburu dengki iri dan jadi kebencian ditumpahkan kepada saudaranya Habil. Itulah perang saudara "asal" yang diwariskan kepada anak cucu manusia. Celakanya kalau dulu cuma satu lawan satu, Kabil membunuh Habil, sekarang Kabil memakai nuklir, senjata kimia dan segala macam hoax atau kebencian psikolofis yang merupakan senjata kimia kebencian seperti survey yang membenarkan pandangan anti kafir, anti kelompok agama dan sara tertentu yang bisa menyulut perang sallin antar agama . Ya, itu kan sudah sering kita bicarakan dalam seri WIBK 1-11 yang dimuat di Kompasiana sejak 27 Maret sampai 9 April. Jadi saya anjurkan pembaca mem-browse Kompasiana atau pdbionline.com untuk arsip WIBK yang lebih tuntas. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pastor dan aktivis penggerak kesadaran manusia

Sebagai organisasi modern, partai politik sudah tentu dituntut untuk mengembangkan etika berpartai secara modern. Partai modern bukan partai proto yang bersifat faksional dan feodal, ia juga  berfungsi sebagai saluran masyarakat dalam mempengaruhi kebijakan publik. Indikasi parpol modern adalah adanya kongruensi antara platform partai politik dengan kebijakan publik. Terlepas dari menang kalah dalam pemilu, sebuah parpol modern tetap berfungsi sebagai representasi dari aspirasi masyarakat. Menariknya dalam teori partai politik modern tidak ditemukan dikotomi partai setan dan partai Allah. Sehingga apa yang disampaikan AR bagi publik silahkan memperdebatkan apa yang disampaikannya.

Di dalam sistem demokrasi, partai politik merupakan instrumen yang wajib ada di dalam sebuah negara. Bahkan secara ekstrim dapat dikatakan bahwa tidak ada demokrasi ketika tidak ada partai politik didalamnya, karena partai politiklah yangmemainkan peranan penting dalam sistem demokrasi. Dengan kehadiran partai politik telah mengubah hubungan antara rakyat dengan penguasa, yaitu dari yang semulamengenyampingkan peran rakyat menjadi rakyat sebagai aktor dan poros penting darihubungan itu. Terkait peranan partai politik hadir dalam memperjuangkan aspirasidan kepentingan rakyat, nilai-nilai (ideologi) menjadi landasan penting dan arahgerak partai dalam memperjuangkan tujuan dan cita-cita politik partai.

Berkaitan dengan peranan partai politik dalam sistem demokrasi, kedudukan ideologi pada hakikatnya memiliki posisi yang sangat penting dalam menjelaskan basis perjuangan partai-partai politik, karena kita tidak dapat memahami cara berpikir, bersikap, dan bertindak tanpa memahai  struktur ideologi politik yangmembangunnya. Hal ini menjelaskan bahwa keberadaan ideologi sangatlah penting di dalam partai politik. Karena ideologilah yang mencerminkan identitas dari partai-partai politik dan ideologi pula yang menjadi instrument partai-partai politik dalam mewujudkan tatanan masyarakat ideal yang ingin dicapai, sebagai dari pencapaian tujuan politik dari partai-partai politik.

Nah, jika ada politisi partai politik yang mengkaitkan dikotomi partai dengan politiksasi agama dalam setiap pernyataan dan perilakunya, itu sama saja dengan membunuhan nalar sehat dan rasionalitas politik akal sehat seorang politisi tersebut. Idealnya, seorang politisi dalam berpolitik yang sehat lebih mengutamakan berkompetisi dengan mengadu gagasan, bukan lagi mempertentangkan dikotomi agama. Terlebih lagi, bila mempertentangkan agama dan merekduksinya masuk kedalam ranah politik akan menyebabkan keadaban politik tidak lagi menjadi cita-cita bersama.  

Disatu sisi, masyarakat perlu mengedepankan akal sehat dalam mengatasi isu ini. Kita harus dapat mengelola kemajemukan, bukan justru menjadikannya sumber masalah. Penggunaan dikotomi partai dengan politiksasi agama  menuju kontestasi pemilu yang sering dilontarkan hanya akan menunjukkan ketidakrasionalan politisi tersebut. Masyarakat Indonesia sudah cukup cerdas untuk membedakan mana politisi yang memiliki cara berpikir rasional dan mana yang irasional. Sering kali, kemunduran politik akal sehat hanya sekedar mencari kegaduhan tetapi subtansi akal sehat tidak lagi dijadikan acuan berpikir.

Oleh sebab itu, jika ada politisi yang melakukan pertarungan ide dan gagasan dan hanya berkutat pada politik irasional maka akan ditinggalkan masyarakat. Saat ini, ruang demokrasi membutuhkan politikus yang tidak menjadi benalu negara. Bagi politikus yang menjadi benalu negara demokrasi akan kehilangan akal sehat dan martabat demokrasi. Seharusnya, politikus memiliki keteladan dan jiwa sebagai negarawan bukan politikus hanya sekedar memperkeruh suasana. Akibatnya politik kehilangan martabat demokrasi dalam memberikan pendidikan politik kepada rakyat. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Pak AR itu seorang newsmaker, apa saja yang keluar dari beliau selalu seksi dan menjadi konsumsi media. Sangat banyak deretan isu yang beliau lontarkan baik yang fiksi maupun fiktif (baca: tidak terbukti).

Terbaru pernyataàn soal "partai hizbullah dan hizbusy syaithan". Memang sebagai idiom,  frase hizbullah dan hizbusy syaithan ada dalam Al Quran. Misalnya frase hizbullah bisa dilihat pada surat Al-Ma'idah 56 dan frase hizbusy syaithan pada surat Al-Mujadila 19. Namun secara kontekstual tidak tepat pak AR  menggunakan idiom itu dalam perpolitikan di Indonesia. Dan secara situasional dibutuhkan pernyataan sejuk dari negarawan, bukan pernyataan provokatif. Apalagi pak AR bukanlah seorang pakar tafsir. Saya tidak menemukan referensi yang cukup yang menyatakan bahwa pak AR adalah ahli tafsir sebagaimana pak Quraish Shihab .

Patut direnungkan candaan Gus Yahya Staquf pada status media sosialnya "Setelah terbentuk koalisi, partai-partai Tuhan akan melakukan pemilihan Tuhan berdasarkan electoral votes", hahaha ...sungguh menggelitik status itu.

Semoga di usianya yang semakin menua Pak AR bertambah kearifanya,  bijak dan konsekuen dengan dawuh-dawuhnya. Sebagaimana makolah Imam Syafi'i  barangsiapa yang menginginkan Husnul Khatimah, hendaklah ia selalu berprasangka baik dengan manusia. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Guru Besar Antropologi UI, mantan Ketua Umum Partai Demokrat

Menyoal konteks tausiah Amien terasa sebagai pelecehan terhadap kemampuan Tuhan dalam mengendalikan alam semesta beserta isinya, termasuk setan. Yang menjadi tanya saya, kalau benar partai setan semakin besar dan kuat, kemana saja partai Allah dan dimana perlindungan dan kuasa Tuhan untuk mengendalikannya? 

Ruas-ruas  politik kian ramai ketika agama kepincut masuk dalam ruang yang sama. Pada ruang itu, agama menjadi gadis manis yang memikat mata politik. Agama bisa saja menjadi pendorong gairah pertumbukan nilai-nilai demokrasi, tetapi agama juga bisa menjadi penghalang demokrasi sebagai akibat rayuan fundamentalisme dan radikalisme doktrin. Atas persoalan itulah agama dan politik selalu berada dalam ketegangan yang akut. 

Padahal, agama harus hadir sebagai penyumbang nilai-nilai kejujuran dan moral dalam politik berdemokrasi. Jika agama hadir sebagai rahmat bagi manusia, maka para elite-elite dan politisi harus menjadi panutan dan penganjur politik yang baik. Hal ini dapat menyejukkan suana politik yang runyam. 

Disaat  politik yang sering diklaim ‘kotor”, agama harus perlu hadir pembentuk “batin” politik yang damai, jujur, toleran, adil dan bersih. Jika demikian, buah-buah politik pun akan melahirkan pemimpin yang membawa berkah dalam proses pembangunan ekonomi, sosial politik dan budaya.

Menurut saya apa yang disampaikan Amien Rais, terlalu jauh untuk mengkategorisasikan permasalahan sosial politik dengan menyeret Tuhan ke ranah politik praktis. Apalagi nantinya dapat menyebabkan keresahan di tengah umat. Tidak ada partai di Indonesia ini yang anti-Tuhan. Semua partai pasti mendasarkan dirinya pada ideologi Pancasila yang di dalamnya sila Ketuhanan yang Maha Esa.

Mayoritas rakyat dan umat sudah sangat cerdas melihat kebodohan yang dipertontonkan oleh para elite dan tokoh agama. Mata batin dan nurani politik publik sudah bisa memilah, mana elite politik dan tokoh agama yang benar dan yang tidak. Dalam demokrasi politik, tokoh-tokoh fanatik hanya menjadi badut-badut politik yang tak pantas ditiru. Gelanggang politik yang penuh badut-badut bodoh tersebut tidak lantas membuat publik kehilangan arah. Agama masih dipercaya sebagai penjamin kerukunan sosial; politik masih dipakai sebagai cara untuk memperjuangankan kepentingan secara demokratis.

Janganlah rakyat kecil diekspolitasi untuk kepentingan politik dan finansial segelintir orang dengan membangkitkan sentimen keagamaan. Ini akan sangat berbahaya bagi persatuan bangsa. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Cendikiawan Muslim Nahdlatul Ulama (NU), Staf Ahli Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP), Wakil Rektor Bidang Akademik IAILM Suryalaya Tasikmalaya

Pernyataan provokatif seperti itu dari seorang tokoh Amien Rais bukan kali pertama. Pemilu silam AR mengaitkan frase perang badar untuk menggambarkan kontestasi partai politik dalam pemilu. Seolah ada partai pengusung kebenaran yang sedang berhadapan dengan partai kebatilan.

Statemen AR tentang  partai Allah dan partai setan jangan dianggap enteng karena bisa berimplikasi serius terutama di tengah masyarakat Indonesia yang sensitivitas keagamaannya sangat kuat. Sebuah dikotomi keagamaan yang bernuansa kekerasan simbolik.

Harus ditegaskan bahwa pilkada dan pemilu sepenuhnya adalah urusan politik yang melambangkan berjalannya argo demokrasi dan sama sekali jangan ditunggangi beban teologis yang bertendensi membelah masyarakat dalam kutub fanatisme tak proporsional.

Sebagai elite politik dan bekas ketua umum ormas keagamaan AR sebaiknya memberikan teladan nyata tidak saja di tingkat praksis tapi sejak dalam konsep tentang politik yang santun, beradab, kosmopolit dan berakhlak karimah. Politik yang menjunjung tinggi daulat akal budi..

Tahun politik mustinya semua harus bisa mengontrol kata-kata. Kepemimpinan adalah soal amanah dan siapa pun yang terpilih harus didukung. Rakyat punya kearifan sendiri dalam melihat sosok sosok yang layak menjadi penggembalanya.
Pelibatan isu agama di ruang publik dibenarkan manakala tidak bertentangan dengan nilai universal, kesepakatan bersama (Pancasila) dan diniatkan untuk membangun public good.

AR yang sudah sepuh akan lebih bijaksana menurut saya seandainya mengambil peran sebagai guru bungsa seperti Buya Syafii Maarif. Menjadi payung bagi seluruh warga. Seperti pernah terbersit di awal-awal reformasi. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik Internasional

Dalam filsafat ada tiga nilai, yakni logis, etis, dan estetis. Masuk akal, baik, dan elok. Secara ilmiah, apalagi sudah bergelar guru besar,nilai nilai tersebut seharusnya sudah terimplementasi dalam perilakunya. Sayang seribu sayang nilai nilai demikian rupanya hanya di atas kertas atau hanya sebatas materi kuliah filsafat. Mas Amien yang sudah makan asam garam intelektualitas dan praksis-praksis politik seharusnya melontarkan statemen yang mendidik. Bukankah fungsi utama partai politik memberikan pendidikan politik? Mengapa Mas Amien masih berlakon sebagai propagandis?

Mas Amien seharusnya sudah God Father, bukan player politicking. Akan tetapi di balik itu semua, masyarakat pun jangan terlalu cengeng. Hal-hal seperti itu lumrah saja dalam memperebutkan pengaruh. Tidakkah setiap organisasi politik, khususnya partai politik punya departemen propaganda/ psy war? Hal-hal biasa saja itu. Apalagi dalam sistem politik demokratis, seharusnya pola oposisi juga harus dilembagakan. Bukan dihilangkan. Biarlah konstatasi itu berjalan. Step by step akan menuju keseimbangan. Merdeka!  (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

Kontroversi pernyataan Amien Rais mengenai persoalan Partai Allah dan Partai Setan haruslah dilihat dalam perspektif yang luas dan tidak emosional. Di balik pernyataan seorang bengawan dan guru besar politik yang cukup terkenal ingin melihat bahwa sistem kepartaian di Indonesia pasca reformasi sudah dipengaruhi ke arah sistem kartelisasi. Partai tidak punya basis ideologi yang kuat dan hampir semuanya bersifat pragmatis. Sistem kepartaian Indonesia walau sudah menggunakan format modern tapi pengelolaannya masih bersifat tradisional yang berbasis pada budaya patron klien, feodalisme dan oligarki. Semuanya bergerak menuju struggle of power, merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Memasuki tahun politik 2018 dan tahun 2019 kita tidak melihat lagi indentitas dan ideologi partai, mana partai politik oposisi yang tugasnya untuk mengkritik dan mengevaluasi kebijakan pemerintah dan mana partai pemerintah yang menjalan berbagai kebijakan pemerintah. Semuanya bergerak ke arah kepentingan sesaat.

Partai Gerindra dan PKS yang selama ini dianggap sebagai partai oposisi juga sudah kehilangan rohnya dan bergabung dengan partai PDIP sebagai rivalitasnya. Pragmatisme partai politik  dapat kita lihat di pemilihan gubernur Jawa Timur,  Gerindra dan PKS bersama PDIP mendukung pasangan Saifullah Yusuf- Puti Guntur Soekarno Putra untuk melawan Khofifah Dardak.

Begitu juga menjelang pilpres semua partai politik sudah pasang kuda-kuda untuk melakukan koalisi tanpa memandang apakah partai tersebut memiliki ideologi dan platform yang sama.

Statemen Amin Rais ingin menyadarkan bagi para politisi dan pimpinan partai politik bahwa untuk melakukan koalisi masing-masing memiliki ideologi dan platform dan tidak untuk kepentingan sesaat. Partai seperti PPP, PKB, PAN dan PKS sebagai partai agama harus membuat demarkasi dengan partai PDIP, Golkar, Gerindra, Hanura dan Nasdem sebagai partai sekuler. Rencana partai Demokrat dan PKB untuk bergabung dengan poros PDIP, Golkar, PPP, Nasdem dan Hanura untuk mendukung Jokowi dalam Pilpres 2019 merupakan wujud koreksi Amien Rais terhadap praktek sistem kepartaian Indonesia selama ini. Kalau ini terwujud maka jumlah kursi 7 partai yang mendukung Jokowi sebanyak 398 (76.53 persen) dari total 520 kursi di parlemen. Sisanya diperebutkan oleh partai Gerindra, PKS dan PAN yang hanya memperebutkan 22,47 persen kursi di DPR.

Bayangkan kalau Gerindra atau PKS yang merapat ke poros partai pendukung Jokowi maka sudah dapat dipastikan Pilpres 2019 pasangan Jokowi  akan berhadapan dengan kotak kosong. Hal ini tidak baik bagi proses perkembangan demokrasi Indonesia menuju demokrasi substantif. Demokrasi harus ada kompetisi dan kontestasi dan tidak menjelma menjadi kartelisasi dari sikap pimpinan parpol yang oligopoli. Oleh sebab itu statemen Amien Rais harus disikapi dengan bijaksana ada konteks dan konten apa kira-kira beliau mengeluarkan pernyataan tersebut.

Di tahun politik ini setiap orang dan kelompok bisa melakukan pernyataan, menafsirkan dan manuver sedemikian rupa untuk mencapai kepentingannya. Selama melalui koridor yang konstitusional, hak-hak tersebut harus dijamin dan dilindungi oleh pemerintah. Kecuali ada indikasi menghasut dan berusaha menjatuhkan pemerintah secara inskonstitusional, pemerintah wajib mencegah agar tidak mengganggu instabilitas politik nasional.

Tidak ada indikasi pernyataan Partai Allah dan Partai Setan itu sebagai tindakan inkonstitusional. Itu hanya wacana yang debatebel yang memiliki banyak persepsi dan multitafsir, sehingga tidak perlu pernyataan tersebut dibawa keranah hukum. Apalagi pernyataan tersebut diadakan dalam tausiyah pada waktu mengikuti Gerakan Indonesia Shalat Subuh. Semoga rakyat Indonesia semakin dewasa dalam menerima kritik karena sesungguhnya kritik itu inti dari demokrasi. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!