(Kode) Susi Jadi Cawapres?
berita
Politika
Sumber Foto: Republika.co (gie/Watyutink.com) 27 April 2018 15:00
Nama Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pudjiastuti ikut meramaikan bursa cawapres pendamping Jokowi. Beberapa hari lalu Jokowi sempat melontarkan candaan Susi mau "naik kelas" jadi cawapresnya. Candaan itu dilontarkan Jokowi lantaran Susi mengambil inisiatif memerintahkan Menteri PUPR untuk mengeruk sungai dan membangun perumahan nelayan di Pangandaran.

Susi memang kerap mengambil inisiatif dan dipuji publik, meskipun tak jarang mendapat teguran di internal kabinet. Beberapa bulan lalu kebijakan penenggelaman kapal yang dilakukan Susi ditegur Menko Maritim LBP dan Wapres JK. Publik mendukung kebijakan yang dilakukan Susi karena dianggap menegakkan kedaulatan laut NKRI. Tetapi ada juga yang menganggap kebijakan penenggelaman kapal tidak ramah lingkungan.

Inisiatif lain Menteri Susi juga ditunjukkan di masa awal dirinya menjabat. Susi meminta Jokowi keluar dari G20 karena dianggap tidak menguntungkan bagi pengusaha Indonesia, khususnya di sektor perikanan. Kebijakan Susi dianggap selalu pro pada pengusaha lokal.

Meski demikian Susi juga beberapa kali mendapat protes dari organisasi nelayan karena kebijakannya yang dianggap merugikan nelayan. Contohnya kebijakan pelarangan penggunaan cantrang yang belakangan dicabut. Maksud Susi baik, untuk menjaga kelestarian lingkungan. Namun kurangnya sosialisasi membuat nelayan salah paham.

Ada pendapat yang mengatakan candaan Jokowi mungkin tidak akan direalisasikan karena pertimbangan politis. Kebijakan Susi banyak menuai pro kontra dan dianggap tidak populis oleh sebagian pihak. Jika Jokowi mengambil Susi sebagai cawapres, ada analisis Jokowi akan kehilangan suara di daerah Pantai Utara (Pantura) Jawa. Ini lantaran kebijakan pelarangan Cantrang MKP dianggap merugikan nelayan Pantura. Apa iya? Sebab pertemuan Susi dengan nelayan Pantura sudah menghasilkan kesepakatan untuk memoratorium pelarangan penggunaaan cantrang.

Selain inisiatif dan sejumlah prestasi yang dicatatkan, elektabilitas Susi juga menggungguli tokoh politik lain yang berminat menjadi cawapres Jokowi. Salah satunya AHY yang digadang-gadang Partai Demokrat akan mendampingi Jokowi. Susi tidak berpartai dan memiliki partai politik. Dia salah satu golongan profesional yang diambil Jokowi sebagai menteri untuk duduk di kabinet. Apakah Jokowi akan mengulang kisah SBY dan Boediono? Boediono juga seorang profesional yang diambil SBY sebagai cawapres.

Namun Susi berbeda dengan Boediono. Boediono mengenyam pendidikan tinggi (S3), sementara Susi hanya lulusan SMP. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu Pasal 240 ayat 1.c. mensyaratkan minimal pendidikan cawapres adalah SMA/MA/SMK.

Dengan ketentuan itu, bagaimana peluang Susi, apakah tertutup karena persyaratan pendidikan tidak terpenuhi, atau akan ada kebijakan khusus untuk salah satu srikandi Kabinet Jokowi itu? Jika benar ada isyarat Susi akan digandeng sebagai cawapres, perdebatan antara pentingnya latar belakang pendidikan dan kinerja moncer seseorang akan menarik untuk disimak. 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(jim)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Komunikasi Politik Nasional & Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner

Saya secara pribadi tidak mengenal Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pujiastuti. Tapi saya angkat topi sebab beliau adalah salah satu aset terbaik bangsa Indonesia. Walaupun secara formal pendidikan beliau tidak sampai tamat SMA, tapi secara intelektual dan skill, beliau melebihi seorang Doktor. Jika dilakukan ujian persamaan, bisa saja beliau mendapatkan gelar Doktor. Gelar Doktor itu bisa diambil dengan cara riset atau studikepustakaan dan bagaimana memecahkan permasalahan (problem solve) sehari-hari manusia.

Ibu Susi mungkin sudah expert dalam memecahkan masalah. Ini terbukti dengan usaha yang dijalankannya. Dari menjual ikan di pasar yang ditanganinya sendiri, hingga kini punya perusahan penjualan ikan bahkan perusahaan penerbangan (Susi Air). Saya kira Ibu Susi adalah sosok yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Dalam artian dia tidak lagi menjadi seseorang yang masih mengejar materi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Melainkan fokus melakukan sesuatu untuk kemajuan bangsa dan negara.

Ini dapat dilihat dengan keberanian dirinya dalam menjaga kedaulatan laut kita. Sudah banyak kapal-kapal asing pencuri ikan yang ditenggelamkan karena kebijakan Ibu Susi. Jelas kapal-kapal itu pasti dimiliki oleh orang-orang tertentu dan bukan sembarang orang. Tapi Susi berani menenggelamkan kapal untuk menegakkan kedaulatan laut Indonesia. Sosok pemimpin seperti inilah yang kita butuhkan, dan sosok seperti ini juga yang dibutuhkan untuk mendampingi Pak Jokowi. Kinerjamya  juga sudah teruji di kementerian yang beliau pimpin.

Namun ada satu masalahnya, beliau bukan orang partai. Jadi mungkin sulit mendapat dukungan dari partai untuk menyandingkan beliau sebagai cawapres Jokowi. Partai-partai itu pasti lebih mengutamakan mengusung ketua umum mereka ketimbang mengusung Ibu Susi. Namun seharusnya sudah saatnya partai-partai tersebut mengusung orang yang benar-benar unggul dan mampu mendampingi Pak Jokowi. Tidak lagi memikirkan politik yang transaksional dan mengutamakan kepentingan partainya.

Masalah pendidikan Ibu Susi yang tidak lolos seleksi administratif karena lulsan SMP, saya pikir bisa saja Ibu Susi ikut ujian persamaan setara SMA. Bahkan seperti yang saya utarakan tadi, Ibu Susi itu layak diberikan gelar Doktor. Bukan doktor HC, tapi doktor dalam bidang yang Beliau geluti (bisnis/manajemen). Kemampuan Beliau dalam memimpin perusahaannya dan memimpin orang-orang pintar bergelar profesor dan doktor di kementerian jelas tak diragukan lagi.

Saya pikir Pak Jokowi layak mengambil Ibu Susi sebagai cawapresnya. Sudah saatnya pemimpin-pemimpin dengan kemampuan intelektualitas dan profesionalitas seperti Ibu Susi kita dukung untuk mengambil posisi mengatur negara ini. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik, Dosen Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah

Tiga hal yang harus diperhatikan Jokowi jika memang benar ingin mengambil Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti sebagai cawapres. Pertama, dari segi kapasitas, kompetensi dan rekam jejak, saya kira ibu Susi layak untuk bisa mendampingi Jokowi maju pada Pilpres 2019. Kecakapan dan ketangkasan Susi dalam bekerja tak perlu diragukan lagi. Dan tentu saja cocok dengan Jokowi yang tipikalnya kerja cepat.

Kedua, meski Bu Susi layak, penentuan cawapres Jokowi sangat tergantung pada persetujuan partai politik (parpol) koalisi pengusung Jokowi. Karena para ketua umum parpol koalisi Jokowi juga berhasrat menjadi cawapres Jokowi. Pada konteks ini, tentu tak mudah bagi Bu Susi untuk dapat 'restu' parpol koalisi itu. Mengingat ibu Susi bukan kader, apalagi ketua umum parpol.

Ketiga, soal ketentuan siapa yang akan menjadi cawapres Jokowi, saya kira hal ini juga sangat ditentukan oleh Mbak Megawati sebagai Ketua Umum PDIP. Sebab Jokowi adalah kader PDIP yang dalam banyak hal ketentuan politiknya sangat ditentukan oleh Mbak Megawati. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dekan FISIP Universitas Bung Karno

Kepemimpinan politik harus mampu mereprentasikan semua kelompok dan golongan didalam masyarakat. Tidak bisa keberhasilan di satu bidang dijadikan indikator untuk menilai seorang layak menjadi pemimpin politik. Karena kepemimpinan politik itu dibutuhkan tidak hanya memotivasi, tetapi juga menginpirasi dan mengintegrasi masyarakat.

Kemampuan menempatkan orang hebat dan mendelegasikan kekuasaan kepada mereka untuk merealisasikan gagasan seorang pemimpin, itu namanya pemimpin. Kemampuan menguasai suatu bidang dan mengelolanya profesional itu kemampuan manajerial. Kepemimpinan politik menuntut lebih dari itu.

Jika dihubungkan dengan isu pencalonan Susi  sebagai cawapres, saya rasa Jokowi tidak akan gegabah melakukannya. Susi menteri yang hebat. Namun belum tentu posisi cawapres adalah posisi yang tepat. Cawapres harusnya menggambarkan kombinasi politik yang melengkapi kekuatan politik Jokowi. Tidak cukup keberhasilan dan penguasaan bidang kemaritiman sebagai dasar penilaian mendorong Susi sebagai cawapres, karena wapres berada sebagai top leader yang mampu menggerakan semua bidang secara general, bukan hanya dibutuhkan penguasaan teknis secara khusus.

Dengan demikian, dalam pertarungan pilpres ke depan menang, kalahnya pasangan salah satunya ditentukan kemampuan capres menentukan siapa cawapresnya. Memahami dinamika politik saat ini, seharusnya para capres paham kekuatan politik dan isu apa yang sangat dinamis sehingga tdak salah menentukan cawapres.

Becandaan bahwa Susi akan naik kelas jadi Cawapres tidak perlu ditanggapi serius. Sebab bisa saja merupakan upaya mengajak masyarakat "opinion tour" supaya tidak larut dalam ketegangan menjelang pilpres. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF