Keluarga Gus Dur Dukung Jokowi, Prabowo Kehilangan Suara Nahdliyin?
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 27 September 2018 16:00
Penulis
Usai sudah teka-teki sikap politik keluarga almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pada Pilpres 2019. Yenny Wahid bersama Konsorsium Kader Gus Dur secara resmi mendukung pasangan calon Jokowi-Ma’ruf Amin di Rumah Pergerakan Politik Gus Dur, Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (26/9/2019). Deklarasi yang dibacakan oleh putri kedua Gus Dur ini dilakukan seusai  Ma’ruf Amin berkunjung ke kediaman keluarga Gus Dur di Ciganjur.

Sebelumnya, Jokowi dan Prabowo ramai diberitakan tengah memperebutkan dukungan keluarga Gus Dur. Upaya kubu oposisi mendapat simpati Gusdurian bermula ketika Sandiaga Uno menyambangi kediaman Sinta Nuriah Wahid di Ciganjur pada 10 September 2018 lalu. Selang tiga hari kemudian, giliran Capres Prabowo yang bertandang ke rumah keluarga Gus Dur.  

Kubu Prabowo sempat mengklaim bahwa Yenny Wahid telah bersedia merapat ke barisannya dan siap mengisi posisi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. Tapi akhirnya, dukungan keluarga Gus Dur jatuh ke tangan petahana. Pertanyaannya, mengapa keluarga Gus Dur mengabaikan pinangan Prabowo?

Sejak sebelum deklarasi, sebagian pengamat meyakini bahwa Yenny Wahid akan mendukung Jokowi-Ma’ruf. Hal itu karena di kubu Prabowo terdapat kelompok yang kerap tidak seirama dengan gagasan Gus Dur dan NU, terutama soal gagasan pluralisme. Benarkah hal ini yang menjadi alasan keluarga Gus Dur enggan mendukung Prabowo-Sandi?

Lalu, sejauh mana pilihan politik Yenny Wahid secara otomatis diikuti para pengikut Gus Dur? Pasalnya, kubu Prabowo mengklaim tidak semua Gusdurian akan mengikuti sikap politik Yenny Wahid. Mereka yakin tak sedikit para pengikut Gus Dur yang akan memilih Prabowo-Sandi pada pilpres mendatang. Klaim ini dilatari pernyataan Gus Dur pada 2009, yang menyampaikan bahwa Prabowo merupakan pemimpin yang ikhlas kepada rakyatnya.

Selain itu, Presidium Jaringan Gusdurian Jawa Timur menyatakan bahwa sikap politik Yenny Wahid tiada hubungannya dengan pengikut Gus Dur secara keseluruhan. Mereka menegaskan bahwa Jaringan Gusdurian bersikap netral pada Pilpres 2019.

Kendati demikian, banyak pihak menilai dukungan keluarga Gus Dur bakal meraup massa yang cukup signifikan. Tak hanya Gusdurian dan Nahdliyin, sikap Yenny Wahid juga dinilai akan mempengaruhi pilihan politik sejumlah kelompok minoritas di Indonesia. Lantas, apakah sikap politik Yenny Wahid ini memastikan Prabowo-Sandi telah kehilangan basis suara dari kalangan Nahdliyin pada Pilpres 2019?

Kini yang menjadi pertanyaan mendasarnya, sebenarnya apa pertimbangan politik keluarga Gus Dur mendukung Jokowi? Benarkah hanya semata-mata ada kesamaan dengan garis perjuangan Gusdurian? Atau, memang dukungan ini untuk menghindari perpecahan di antara kaum Nahdliyin pada Pilpres 2019?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Keluarga Gus Dur dan Gusdurian ingin satu hati dengan elite Nahdlatul Ulama (NU) lainnya yang lebih dulu mendukung Jokowi-MA. Namun yang pasti keluarga Gus Dur tak ingin melukai  Ma’ruf Amin dan elite NU. Karena jika keluarga Gus Dur mendukung Prabowo-Sandi, maka mereka akan terpecah, jalan masing-masing, dan tidak bersatu. Sedangkan untuk memenangkan Jokowi-MA butuh kebersamaan dan persatuan.

Sejak sebelum deklarasi, sebagian pengamat meyakini bahwa Yenny Wahid akan mendukung Jokowi-Ma’ruf. Hal itu karena di kubu Prabowo terdapat kelompok yang kerap tidak seirama dengan gagasan Gus Dur dan NU, terutama soal gagasan pluralisme. Benarkah hal ini yang menjadi alasan keluarga Gus Dur enggan mendukung Prabowo-Sandi?

Alasan utama keluarga Gus Dur tidak mendukung Prabowo, bisa saja karena di kubu Prabowo terdapat kelompok yang berlawanan dengan  gagasan Gus Dur. Seperti kita tahu kubu Prabowo-Sandi telah lebih dahulu didukung oleh ulama GNPF. Sedangkan kaum Nahdliyin terutama Gusdurian berbeda pendapat dan pilihan dengan kelompok dan ulama GNPF. Jadi, jika GNPF ada di Prabowo-Sandi. Nahdliyin dan Gusdurian ada di Jokowi-Sandi. Berbeda pendapat dan pilihan adalah rahmat. Harus kita hargai.

Menurut saya, sikap politik keluarga Gus Dur akan diikuti kelompok Gusdurian. Karena dalam NU terkenal istilah sami'na wa ato'na (kami mendengar dan kami taat). Jadi bagi pengikut setia Gus Dur yang tergabung dalam Gusdurian akan solid mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019.

Bisa saja sikap politik keluarga Gus Dur membuat kubu oposisi kehilangan dukungan kaum Nahdliyin. Namun warga NU yang tidak paham tentang ke-N- an bisa saja memilih Prabowo-Sandi. Meski begitu, secara umum kaum Nahdliyin akan mendukung dan memilih Jokowi-Sandi. Ini karena kesempatan terbaik warga NU memilih tokohnya menjadi wakil presiden.

Pertimbangan politik keluarga Gus Dur tentu ingin memenangkan Ma’ruf Amin sebagai tokoh perwakilan dari kalangan NU. Selain karena ada kesamaan garis perjuangan dengan Gusdurian, memilih incumbent lebih berpeluang untuk menang. Apalagi incumbent-nya berpasangan dengan tokoh NU.

Selain itu, tentu dukungan keluarga Gus Dur ini untuk menghindari perpecahan di kalangan elite dan masyarakat NU. Jika kompak dan bersatu kan enak. Satu langkah dan satu perjuangan. Apapun pilihan keluarga Gus Dur dan Gusdurian merupakan hak politik mereka yang harus dihargai. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Tentu hanya Mbak Yenny (keluarga Gus Dur) yang tahu persis alasan yang mendasari dukungannya ke pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Orang lain tentu hanya bisa menerka-nerka, bisa jadi alasan dukungan itu terkait dengan faktor Cawapres Kiai Ma'ruf Amin. Sebagai sesama Nahdliyin pasti memiliki setrum emosional, dan menjadi berat beralih ke lain hati. Kiai Ma'tuf Amin juga pernah menjadi ketua Dewan Syuro PKB, di mana saat itu PKB mengantarkan Gus Dur menjadi Presiden RI ke-4.

Faktor lain, bisa jadi terkait beberapa komunitas atau kelompok yang sering tidak sejalan dengan pikiran-pikiran Gus Dur, yang saat ini berada di barisan pasangan Prabowo-Sandi, sebut saja FPI (tokoh-tokoh FPI dan orang lain). Kemungkinan lain karena kebijakan pemerintahan Jokowi dalam empat tahun terakhir nyaris tidak ada yang berseberangan dengan pikiran-pikiran Gus Dur maupun keluarga Gus Dur.

Sejak awal saya tidak melihat dukungan serius warga Nahdliyin pada pasangan Prabowo-Sandi. Dengan adanya deklarasi dukungan keluarga Gus Dur, maka sempurnalah kemenangan yang akan diraih pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF