Kebangkitan Nasional: Jargon Tanpa Makna
berita
Politika

Sumber Foto : Pencerah Anak Bangsa (gie/watyutink.com)

20 May 2018 18:00

Setiap tanggal 20 Mei, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Harapan yang diletakkan pada peringatan tersebut adalah munculnya kembali rasa nasionalisme seluruh anak bangsa yang dirasa semakin hari semakin pupus. 

Dari tahun ke tahun Kebangkitan Nasional hanya diperingati secara seremonial saja. Itupun greget nasionalismenya mulai hilang, hanya hiburan semata. Tak memiliki makna mendalam tentang arti kebangkitan itu sendiri. Slogan-slogan kebangkitan pun seakan menjadi nyanyian kosong  yang kehilangan irama. Terbukti dengan semakin memburuknya krisis yang terjadi di negeri ini. Lalu, harapan munculnya kembali rasa nasionalisme itu kapan akan terjadi? 

Dari sini jelas bahwa bangkitnya kesadaran nasionalisme sebuah bangsa tidak bisa dengan melalui perayaan peringatan se-gebyar apa pun. Ia tidak bisa dibangkitkan dengan cara-cara instant semacam itu. 

Persoalannya, jika dengan cara-cara peringatan hari besar nasional seperti itu tidak bisa membangkitkan rasa nasionalisme warga bangsa ini, lalu dengan cara apa? Dari mana memulainya? Atau, memang di era milenial borderless ini tidak lagi dibutuhkan nasionalisme bagi sebuah bangsa?

Sementara, beberapa kalangan berasumsi bahwa lunturnya nasionalisme dari sebagian besar bangsa kita adalah karena pengaruh globalisasi. Globalisasi tidak lebih dari sebuah mega proyek milik negara-negara super power.

Negara-negara yang kuat dan kaya mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya bersaing dengan mereka di bidang teknologi maupun ekonomi. Kekalahan dalam persaingan ini, menyebabkan negara-negara miskin, secara de facto terjajah oleh negara-negara kuat dan kaya tersebut. Dan pada akhirnya, negara-negara miskin terkooptasi dari sisi budaya, politik, pandangan hidup, bahkan agama.

Pertanyaannya adalah apakah memang globalisasi menjadikan nasionalisme kita harus tergerus hingga luluh lantak?

Indonesia adalah bangsa besar. Bangsa yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang tak terkira. Negara yang terbentuk dari banyak suku bangsa dan budaya, yang menjadi ciri khas dan karakter bangsa. Haruskah kita menyerah pada propaganda globalisasi, sementara kita memiliki segalanya di negeri ini?

Sampai kapan anak bangsa ini menyadari kebesaran negaranya dan kekayaan negerinya, hingga memiliki kesadaran untuk mempertahankan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dengan semangat nasionalisme dan jiwa patriotisme seperti Budi Oetomo dan para penggerak Kebangkitan Nasional dahulu?

Atau, semangat Kebangkitan Nasional ini hanya akan menjadi cerita masa lalu dan dongeng sebelum tidur anak-anak Indonesia di masa depan?

Apa pendapat anda? Watyutink

(cmk)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Guru Besar Antropologi UI, mantan Ketua Umum Partai Demokrat

Salah satu pendapat pakar, menyatakan bahwa nasionalisme itu tumbuh dan berkembang karena perasaan senasib yang mendorong kelompok manusia bersatu dan berjuang membebaskan diri mereka dari tekanan atau belenggu kemerdekaan. Dengan lain perkataan nasionalisme itu merupakan tanggapan sekelompok manusia yang merasa senasib untuk mempersatukan diri, memperjuangkan cita-cita bersama sebagai pengikat sosial atau social integrative force.

Perasaan senasib itu bisa dirasakan oleh sekelompok sosial yang homogin tetapi kebanyakan beragam karena mobilitas penduduk sejak awal kehadirannya di muka bumi. Karena itu sulit mencari suatu bangsa yang warganya homogin satu sukubangsa yang mendukung satu kebudayaan dalam arti luas.

Bangsa Indonesia merupakan cotoh betapa ia tumbuh dan bersatu melahirkan satu nation di kepulauan Nusantara. Kebetulan kepulauan Nusantara pernah dijajah Hindia Belanda yang menguras kekayaan alam dan menindas penduduknya. Penjajahan itu merupakan blessing in disguise bagi penduduk Nusantara yang merasakan kejamnya penjajah sehingga membangkitkan semangat perlawanan mereka yang sama sama tertindas. Semangat kebangsaan itulah yang kemudian dipupuk dan melahirkan satu nation Indonesia.

Untuk merawat semangat kebangsaan itu para pemimpin bangsa harus senantiasa menciptakan “musuh” bersama atau sekurang kurangnya “tantangan” bersama, seperti kemiskinan, rendahnya pendidikan dan kesehatan serta keterpurukan ekonomi.

Dengan ketajaman visinya Bung Karno mengobarkan semangat kebangsaan dengan menciptakan berbagai tantangan seperti kekuasaan “nekolim” menggantikan atau meneruskan penjajahan Belanda. Semangat kebangsaan untuk melawan segala bentuk penindasan itu telah menjalar ke Asia dan Afrika sebagaimana tercermin dalam Konferensi Asia Afrika.

Selama 25 tahun sejak kemerdekaan perjuangan Bung Karno tercurah untuk membangun dan memperkuat semangat kebangsaan dan terkenal perjuangannya itu sebagai “Integrative Revolution”.

Di zaman Orde Baru pak Harto memformulasikan tantangan bersama, yaitu kemiskinan, rendahnya pendidikan dan kesehatan sebagai sarana untuk mengikat dan memperkuat semangat kebangsaan.

Karena itu, kalau Bung Karno merawat kebangsaan dengan revolusi integrative, pak Harto dengan pembangunan nasional.

Keduanya sebenarnya sama maksud dan tujuan, karena pembangunan itu pada hakekatnya usaha terencana untuk membebaskan rakyat dari berbagai tekanan dan kendala dalam mewujdkan kesejahteraan umum. Bung Karno, sesuai dengan kondisi pada masanya, menekankan pada upaya pembebasan dari belenggu penjajahan lama dan baru atau neokolonialism, sedang pak Harto berusaha membebaskan rakyat dari belenggu kemiskinan, rendahnya pendidikan dan kesehatan agar meraka dapat berperan aktif dalam pembangunan bangsa yang merdeka dari segala bentuk penindasan.

Di era reformasi, para pemimpin bangsa harus memformulasikan tantangan baru untuk merawat persatuan dan kesatuan bangsa. Sayangnya, setelah menikmati hasil pembangunan yang meningkatkan kesejahteraan rakyat itu kurang disadari  oleh para pemimpin bangsa, yaitu meningkatnya berbagai kebutuhan hidup dalam ragam, besaran dan mutunya.

Salah satu kebutuhan hidup yang tidak nampak peningkatannya adalah persamaan hak dan kebebasan  alam demokrasi yang notabene menimbulkan kebutuhan alan nilai nilai budaya yang mendukungnya serta pranata sosial baru yang dapat berfungsi sebagai pedoman dalam menegakan tatanan sosial ketertiban hidup bersama.

Banyak pemimpin yang baru muncul menikmati kebebasan individu dan suasana demokrasi bersikap dan bertindak tanpa menghiraukan unggah-ungguh dan sopan santun atau beretika. Seolah-olah mereka hidup di hutan belantara tanpa tatanan sosial. Sikap menang-menang dan mengandalkan banyaknya pengikut spontan maupun bayaran dengan cara-cara pembodohan atau tidak mendidik.

Kita sekarang ngeri menonton sirkus politik demokrasi dengan hukum rimba penuh euforia. Para pemimpin lupa mengembangkan tantangan bersama untuk mengikat dan menyatukan arah perjuangan nasional demi hari depan bangsa yang maju. Saling sikat dan sikut dengan slogan usang tidak perduli apakah slogan slogan perjuangan itu sudah diatasi atau perlu diteruskan. Kesannya wts atau “waton suloyo”. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Administrasi Publik Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Kebangkitan Nasional merupakan hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia karena Hari Kebangkitan Nasional merupakan titik awal dari semangat persatuan bangsa. Awalnya bangsa Indonesia berjuang dengan kepentingan daerah dan golongan masing-masing, namun hari Kebangkitan Nasional inilah yang membuat perubahan tersebut.  Bahwa kebangkitan nasionalisme Indonesia yang lahir pada awal abad ke-20, telah berhasil menumbangkan kolonialisme dan melahirkan bangsa dan negara baru, yaitu Indonesia.

Seiring waktu berjalan proses pembentukan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang secara dinamis mulai tertata secara harmonis dan mantap menuju arah proses integrasi kebangsaan dan keindonesiaan. Tetapi tidaklah selesai sampai pada tahap tersebut karena semakin majemuknya persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara terasa dalam beberapa hal telah mengalami kemunduran dan kehilangan arah dan itu tidaklah bisa di pungkiri sebagai sebuah fenomena dan fakta nyata. Dengan demikian mau tidak mau bangsa Indonesia kini dituntut untuk mengkaji ulang nilai-nilai dan paradigma semangat nasilonalisme yang selama ini telah dianggap benar dan tepat.

Maka perlu adanya redefinisi atau reinterpretasi nasionalisme yang cocok dengan tuntutan perkembangan zaman yang semakin terbuka. Mengingat medan dan dimensi perjuangan sudah bergeser jauh dari masa perebutan kemerdekaan fisik, maka nasionalisme tersebut perlu dipertegas dimensi keindonesiannya, yaitu dimensi keindonesiaan yang baru, dengan intsrumen pendidikan dalam mencetak generasi yang unggul.

Salah satu di antaranya ialah memantapkan paradigma wawasan kebangsaan yang lebih mempertajam wawasan, kewaspadaan dan sikap siap-siaga dalam mewujudkan keinginan bersama untuk membangun Indonesia baru, yang memiliki kewaspadaan dan ketangguhan dalam menghadapi ancaman dan tantangan terhadap proses integrasi nasional dan penyelanggaraan tata pemerintahan negara yang baik dan bersih, serta menjamin terselenggaranya keberlanjutan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kewaspadaan nasional perlu dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari semangat nasionalisme Indonesia modern, yang antara lain dapat dirumuskan dalam tanggung jawab negara, bangsa, dan warga negara yang demokratis untuk menjaga keberlangsungan dan keselamatan kedaulatan, negara dan bangsa dalam NKRI yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti LIPI, Pengamat Politik 

Momen merayakan Hari Kebangkitan Nasional harus kita lakukan untuk mengenang perjuangan para pahlawan saat itu. Tapi perayaan tersebut bukan sekadar seremoni belaka. Hari Kebangkitan Nasional harus dimaknai secara serius oleh kita semua.

Esensi semangat kebangkitan nasional harus terefleksikan dalam tutur kata, perilaku dan tindakan kita. Kita harus bangkit dari keterpurukan karena telah menafikan nilai-nilai luhur Pancasila. Indonesia harus  bangkit dari ketidakjujuran, ketamakan/keserakahan yang menggerus integritas para elite dan aktor di legislatif, eksekutif dan yudikatif. 

Semangat hari kebangkitan harus tetap dikobarkan di tengah menurunnya idealisme dan nasionalisme yang terasakan akhir-akhir ini. Karena itu kesadaran berbangsa dan bernegara harus ditingkatkan secara berkesinambungan melalui berbagai hal. Komitmen para pemimpin sangat diperlukan untuk menunjukkan keberpihakannya pada esensi atau makna hakiki Hari Kebangkitan Nasional. Esensinya jelas bukan hanya pada besarnya jumlah pembangunan fisik semata (meskipun ini perlu), tapi lebih dari itu adalah pembangunan SDM, warga negara secara substantif.

Masalahnya bagaimana membangun nilai-nilai yang menjadi karakter bangsa secara berkesinambungan. Bagaimana membangun nilai-nilai kemanusiaan (kesadaran berbangsa dan bernegara), kemajemukan dan kebersamaan yang hakiki diantara warga. Bagaimana menciptakan dan menumbuhkembangkan rasa damai yang sarat dengan kebersamaan untuk mewujudkan daya saing dan kesejahteraan rakyat.

Untuk newujudkan hal tersebut tak cukup hanya dengan pembangunan infrastruktur yang sifatnya fisik saja. Tapi perlu pembenahan moral dan mental bangsa. Kasus korupsi, OTT para kepala daerah, politisi, birokrat, oknum penegak hukum menunjukkan rendahnya moral dan mental para penyelenggara negara. Mereka telah menggunakan APBN sebagai bancaan. 

Momen Hari Kebangkitan Nasional saat ini harus menyentuh nurani dan empati suprastruktur politik maupun infrastruktur politik. Semua elemen bangsa harus turut serta merasakan pentingnya bangkit dari keterpurukan dan bergegas melakukan perbaikan-perbaikan signifikan untuk memajukan negeri. 

Inilah saatnya bangsa Indonesia bersatu padu, menjunjukkan soliditasnya untuk maju bersama melawan kemiskinan dan pengangguran. Bangsa yang bersepakat untuk menghapuskan indeks kesengsaraan rakyat dan mengubahnya menjadi indeks kebahagiaan yang konkrit. 

Hari Kebangkitan Nasional merupakan tiang pancang mengeliminasi sifat-sifat buruk manusia Indonesia terkait masalah mental. Sikap-sikap seperti malas, resisten terhadap perubahan, mindset yang mengalami  disorientasi, tidak disiplin dan kurang serius/enggan menjadi inovator, kurang percaya diri dan jelousy.

Hari Kebangkitan Nasional adalah sarana untuk memperkuat fondasi  bernegara dan berbangsa. Praktik demokrasi yang berlangsung sejak 1998 seharusnya mampu mengeliminasi dan atau mengurangi praktik KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme). Sejauh ini pemerintahan yang demokratis (good governance) belum seluruhnya terbangun. Secara umum, pemimpin dan atau penguasa di semua jenjang pemerintahan belum mengambil peran penting untuk mendorong kemajuan. Sebaliknya, mereka yang melanggar hukum, etika dan moral justru malah  enggan mengundurkan diri dari jabatannya meskipun rakyat memintanya mundur. Karena itu sudah saatnya menyosialisasikan dan mendorong agar pejabat negara/publik yang melanggar hukum merasa malu dan dengan suka rela mundur. Nilai-nilai budaya baru ini perlu menjadi bagian tak terpisahkan dari peringatan hari Kebangkitan Nasional kali ini.

Setelah 73 tahun merdeka, inilah titik kulminasi bagi bangsa Indonesia untuk bangkit memperbaiki mental dan menghadirkan mentalitas baru yang mununjukkan empati tinggi dalam mewujudkan Indonesia baru yang sarat dengan nuansa nilai-nilai positif: beretika, bermoral, berkeadaban, santun dan berkontribusi konkrit via karya-karya nyata untuk kemajuan negeri. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Dokter Soetomo bersama perkumpulan dokter muda di STOVIA yang notabene sekolah Barat, Soekarno, Hatta, dan beberapa tokoh nasionalis lain yang juga memperoleh pendidikan ala Barat tidak sedikitpun terpengaruh budaya Barat. Tradisi minum alkohol, sikap individual dan yang lain tidak mereka bawa, termasuk mental inlander juga tidak menular pada mereka. Sebaliknya justru membuat mereka berpikir bahwa kemajuan dan kebebasan yang serasa lezat diperoleh Barat sudah semestinya juga diperoleh bangsa Indonesia. Demikian juga dengan KH Hasyim Asy'ari (pendiri NU), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH Wahab Chasbullah dan lain-lain yang notabene-nya mendapat pendidikan di Timur Tengah tatapi tidak sedikit pun budaya Timur Tengah mereka bawa, kecuali ilmu agama yang mereka dapatkan kemudian diajarkan dan dikembangkan di tanah air. Semua itu bisa terjadi semata-mata karena Cinta Tanah Air (nasionalisme)

Semangat para founding fathers untuk menuntut ilmu pengetahuan diberbagai bidang dan belahan dunia adalah cermin dari Kebangkitan Nasional yang ditunjukan para pemuda saat itu untuk mengkonsolidasikan semangat rakyat Indonesia mengusir para penjajah.

Gambaran di atas memberikan justifikasi bahwa Kebangkitan Nasional sangat korelatif dengan cinta tanah ari (nasionalisme), tidak akan pernah ada Kebangkitan Nasional jika tidak memiliki rasa cinta terhadap tanah airnya. Nasionalisme adalah pemicu Kebangkitan Nasional.

Saat ini dunia sudah bergerak dan berubah jauh dengan kemajuan diberbagai bidang tak terkecuali bidang IT, yang menjadikan dunia sudah tak terbatas lagi oleh sekat ruang dan waktu. Informasi bisa diperoleh secara real time baik yang positif maupun negatif semuanya bisa diakses cepat. Seperti terkoreksinya kurs rupiah terhadap dollar US, ketimpangan pembangunan antara Jawa-luar Jawa yang masih tersisa, daya beli masyarakat yang belum menguat, sikap intoleransi di masyarakat, termasuk peristiwa-peristiwa hukum baik terkait terorisme maupun korupsi. Semua telanjang untuk diketahui masyarakat dengan cepat. Demikian juga pembangunan infrastruktur yang semakin bisa dirasakan hasilnya. Semua itu menjadi tantangan generasi muda sekarang untuk bisa menyikapi secara bijak dan cerdas. Jangan sampai mesra dengan  ketertinggalan, jangan biarkan budaya luar menggerus budaya Indonesia yang lebih beradab dan lain sebagainya. 

Semangat generasi muda untuk mengatasi semua tantangan di depan mata, itulah yang disebut dengan Kebangkitan Nasional saat ini. Setiap zaman memiliki tantangan dan generasinya dan setiap generasi memiliki zaman dan tantanganya sendiri.

Kemajuan dan keadilan yang diharapkan  oleh generasi sekarang tidak bisa dibiarkan secara alami, semua itu butuh sentuhan pemerintah sebagai pemilik kekuasaan untuk membuat kebijakan yang tepat dan adil. Demikian juga organisasi-organisasi nir-laba seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, PGI, KWI dan lain-lain dituntut peran dan partisipasinya dalam menjaga ritme Kebangkitan Nasional pada setiap momen yang ada. Selamat Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2018.  (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen STAIN Bengkalis

Mengenang Kebangkitan Nasional adalah upaya menelusuri catatan sejarah penting tentang identitas karakter bangsa ini, yaitu bersatu dalam  suka dan duka. Rasa persatuan yang mendalam bukan tanpa bukti nyata. Berabad-abad rakyat Indonesia dijajah oleh bangsa Barat, yang telah menyadarkan diri bahwa sikap nasionalisme sangat penting. Perbedaan yang melekat pada diri ditanggalkan dan dicari persamaan sebagai pengikat: sama-sama satu Bangsa, Bahasa dan Tanah air, Indonesia.

Sikap nasionalisme ini sebenarnya karakter terindah yang dipunyai bangsa ini. Sehingga diabadikan dengan sebuah kalimat indah: Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Dalam perjalanan sejarah slogan tersebut sebenarnya masih belum diterima secara kaffah oleh sebagian elit politik. Peristiwa Piagam Jakarta adalah peristiwa yang mempertontonkan makna nasionalisme setengah hati. Sikap egois kelompok islam formalistik  ingin mendominasi kepentingan politiknya. Tapi ini ditentang oleh kelompok minoritas dari Indonesia Timur. Akhirnya terjadi penyelesaian politik dengan dirubah sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dari fakta sejarah ini sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa kebangkitan nasional bangsa ini belum sepenuhnya menyatu dalam jiwa bangsa ini. Hal ini terbukti saat ini, simbol-simbol agama, etnis, suku dan budaya menguat dan membahayakan nasionalisme. Gerakan mengatasnamakan jihad dan sikap arogansi kelompok ekstrim terhadap politisasi agama semakin hari semakin menguat.  Dan diperparah lagi, dengan tampil para elite politik yang lebih berfikir pada kepentingan politik kekuasaan daripada politik kebangsaan.

Situasi seperti ini sebenarnya bangsa ini sedang diuji kedewasaan dalam memandang kenikmatan yang agung sebagai bangsa yang merdeka. Jika bangsa ini masih komitmen terhadap kesepakatan awal terhadap nasionalisme, maka konflik saat ini sebagai pendewasaan menuju Indonesia yang hebat di kancah global. Tapi jika ini mencerminkan kemerosotan nilai-nilai nasionalisme, maka bangsa ini berarti dihadapkan pada kemunduran politik dan kembali lagi seperti masa seperti pada masa sebelum kemerdekaan. Dan Indonesia saat ini bisa jadi tinggal kenangan.

Semua ini tergantung komitmen dan kedewasaan berpolitik bangsa dan para elite politik dalam memandang bangsa dan negara ini. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 Sosiolog, Pernah menjadi asisten Gusdur

Ada kondisi yang memprihatinkan terkait dengan semangat nasionalisme bangsa Indonesia saat ini. Maraknya gerakan internasionalisme dalam bentuk liberalisme-kapitalisme di satu sisi dan fundamentalisme-puritanisme agama di sisi lain. telah menggerus kesadaran nasionalisme warga bangsa Indonesia.

Akibat faham internsionalisme yang didukung oleh kemajuan teknologi informasi, hari ini kita melihat terjadinya transformasi kesadaran dari citizenship menjadi nitizenship. Kewargaan yang dibatasi oleh identitas kenegaraan (geografis dan politis) menjadi kewargaan lintas negara dan lintas geografis.

Ada anomali sosial yang terjadi hari ini. Dulu tekanan bangsa lain menciptakan kesadaran kebersamaan dalam perbedaan sehingga tumbuh harga diri sebagai bangsa. Bangsa Nusantara yang beragam mampu menggali dan menyatukan potensi sosial dan kultural yang ada untuk menghadapi tekanan dari luar. Kini tekanan dari bangsa lain justru mengancam kebersamaan dan persatuan. Ikrar sebagai bangsa dicampakkan, martabat bangsa diabaikan. 

Dengan kata lain orang-orang dulu memiliki kesadaran kreatif menggali potensi diri untuk membangun kekuatan dari dalam melawan kekuatan luar. Orang sekarang justru hanyut dan larut dalam gerakan transnasional dengan mencampakkan potensi diri sebagai bangsa. Mereka bangga menjadi pemulung ide dan pengais sampah peradaban bangsa lain sambil mencaci maki peradaban bangsa sendiri.

Sikap ini muncul karena minimnya pemahaman terhadap sejarah bangsa sendiri dan miskinnya kesadaran terhadap tradisi dan budaya sendiri.

Sejarah adalah referensi hidup bagi setiap bangsa. Suatu generasi yang tidak memiliki pemahaman terhadap sejarahnya sendiri seperti buih di atas gelombang lautan. Mudah diombang ambingkan keadaan dan dibohongi bangsa lain. Mereka menelan mentah-mentah setiap informasi dan pemikiran yang diberikan, tanpa reserve dan sikap kritis karena mereka tidak memiliki pemahaman sejarah yang bisa dijadikan referensi hidup untuk mengkritisi setiap informasi dan pemikiran yang diterima dari bangsa lain.

Tradisi adalah jangkar yang membuat suatu bangsa memiliki karakter yang kokoh dan kuat sehingga tidak mudah hanyut dalam pusaran arus gelombang bangsa lain. Setiap bangsa yang tidak memiliki tradisi atau tidak faham terhadap budaya masyarakatnya akan mudah hanyut dalam arus kebudayaan bangsa lain. Jika sudah demikian maka bangsa tersebut akan keropos karena tidak memiliki kekuatan secara kultural dan sumber inspirasi dalam menghadapi gempuran budaya.

Inilah yang menyebabkan bangsa-bangsa lain, terutama bangsa Eropa, Amerika, Jepang, China tetap kokoh dan tegak spirit kebangsaannya sekalipun berada dalam pusaran arus modernisme dan globalisasi. Mereka tetap bangga dan menjaga martabat bangsanya meski telah menjadi bagian dari warga bangsa dunia maya (Nitizen). Ini karena mereka memiliki pamehaman yang baik terhadap sejarahnya sendiri dan tradisi yang mereka miliki.

Karena vitalnya peran dan posisi  sejarah dan tradisi suatu bangsa inilah maka strategi utama untuk bisa menguasai bangsa tersebut adalah dengan menghancurkan tradisi dan sejarahnya agar bangsa tersebut kehilangan jejak dan akar-akar sosialnya. Jika sudah demikian bangsa tersebut akan mudah dikuasai atau dihancurkan. Inilah yang sedang terjadi di negeri ini, hingga semangat kebangsaan bangsa ini rapuh dan luluh.

Di tengah kepungan arus ideologi dunia dan pusaran arus budaya global yang telah menggerogoti semangat kebangsaan sehingga melemahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, maka perlu adanya penguatan pemahaman sejarah dan akar-akar tradisi bangsa Indonesia. Hal ini bukan dimaksudkan untuk membanggakan diri yang bisa membuat bangsa ini terjebak dalam sikap narsis.

Pemahaman sejarah dimaksudkan untuk.menggali nilai dalam setiap penggalan sejarah bangsa untuk dijadikan referensi hidup agar bisa bersikap kritis terhadap keadaan dan pemikiran dari bangsa lain. Sedangkan pemahaman tradisi dimaksudkan sebagai jangkar untuk membentuk karakter diri sekaligus sebagai sumber kreatifitas membangun budaya alternatif di era global. Dengan cara ini rasa bangga sebagai bangsa akan tumbuh sehingga martabat bangsa akan dapat dikembalikan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Guru besar ekonomi UII Yogyakarta, Wakil Ketua PP ISEI

Kebangkitan Nasional harus dimaknai berbeda pasca kemerdekaan dan era milenial ini. Dulu rasa nasionalisme dibangkitkan, dengan semangat satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa untuk merdeka. Kemerdekaan secara politik pun kita peroleh.

Setelah merdeka semangat Kebangkitan Nasional seharusnya diarahkan untuk bersama mewujudkan tujuan kemerdekaan Indonesia, yaitu untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan menjadi bangsa yang berperan dalam percaturan dunia.

Namun tujuan itu belum mewujud dalam realitas. Masih puluhan juta penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, dan ketimpangan pendapatan yang tinggi.

Sumber daya alam yang kaya kian tergerus dan kemanfaatannya masih jauh dirasakan oleh masyarakatnya. Kekayaan alam di Papua, Riau, atau pun Kalimantan, belum dirasakan spenuhnya oleh masyarakatnya yang masih bergelimang dengan kemiskinan dan keterbelakangan.

Kekayaan SDM dengan angkatan kerja lebih 110 juta, di mana masih jutaan yang menganggur penuh dan puluhan juta setengah menganggur. Sementara, yang bekerja pun produktivitasnya masih rendah. Hal ini memposisikan kita menjadi lebih rendah dibanding negara tetangga seperti Singapura, Malaysia atau pun Thailand.

Semangat Kebangkitan Nasional harus diarahkan untuk memecahkan masalah riil untuk melepaskan bangsa dari ketertinggalan ini.

Dalam percaturan dunia kita semakin kurang diperhitungkan. Peran ini menjadi lemah karena secara ekonomi politik kita juga rendah daya saingnya, sehingga bangsa kita dieksploitasi dan dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa lain.

Tentu bangsa Indonsesia sudah mengalami banyak kemajuan. Namun masih jauh dari potensi yang dimiliki yang perlu dibangkitkan dengan revitalisasi semangat Kebangkitan Nasional jilid 3 di era mileneal. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Bergesernya makna Hari Kebangkitan Nasional saat ini sangat terasa dengan adanya beberapa peristiwa yang begitu menyakitkan seperti terorisme. Hujat menghujat, menghina dan lain-lain apalagi di tahun politik seperti saat ini. Di mana etika moral budaya kita sedikit demi sedikit mengalami degradasi. Hal ini disebabkan oleh perilaku beberapa anak bangsa yang tidak memaknai betapa pentingnya Kebangkitan Nasional ini yang kita rayakan setiap tanggal 20 Mei ini. Yaitu, untuk membangkitkan kembali rasa nasionalisme bangsa ini yang selama ini sudah sangat memprihatinkan. Kita bisa lihat beberapa tokoh yang melakukan provokasi-provokasi dengan membuat statemen yang mengarah kepada perpecahan di antara kita.

Hari Kebangkitan Nasional ini yang seharusnya dimaknai sebagai hari bangkitnya rasa nasiinalisme anak bangsa ini, ternyata hanya menjadi sebuah jargon dan seremonial belaka. Sehingga tugas berat dari seluruh komponen bangsa ini dan tokoh-tokoh nasional kita sudah harus membangkitkan kembali makna dari Kebangkitan Nasional ini, jika tidak ingin bangsa ini mengalami kemunduran di segala hal.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional inilah momen yang sangat tepat untuk merekatkan kembali perbedaan-perbedaan pandangan yang semakin tajam.

Saling menghujat, saling menghina, saling memojokan sudah sepatutnya dihentikan. Karena pada dasarnya hari Kebangkitan Nasional yang digagas oleh pendiri-pendiri negara ini bertujuan untuk membangkitkan rasa nasionalisme bangsa ini, untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan bermartabat. Sehingga Hari Kebangkitan Nasional ini tidak hanya menjadi sebuah jargon saja, tapi lebih dapat dimaknai sebagai hari bersejarah bagi bangsa ini yang mempunyai nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Sarjana Filsafat UI & Keguruan IKIP Jakarta, Pendiri Pusat Kajian Ideologi Pancasila Jakarta - Pendiri Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Organik Yasnaya Polyana Purwokerto

Terkesan peringatan 110 tahun Kebangkitan Nasional saat ini tanggal 20 Mei 2018 menjadi monoton untuk tidak menyebutkan "semu". Kenapa? Ironisnya kita "bangkit" dalam segi-segi yang tidak terduga yaitu: terorisme yang baru saja marak dalam dua dekade, dan mental konsumtif yang seharusnya produktif. Bukan bermaksud kita menjadi  pesimistik, tapi  begitulah indikasinya dan menjadi perhatian kita agar yang pesimistik dapat membuka mata para pemimpin agar menjadi optimistik bagi generasi berikutnya. Ini terlihat dari kenyataan setiap tahun banyak diperingati kegiatan  berupa seremonial dan dorongan mental sesaat atau reaktif. 

Begitu peliknya persoalan di atas dapat mempengaruhi perkembangan karakter bangsa kita yang sedang mendengungkan Revolusi Mental yang lebih pada psikomotorik ketimbang pengubahan sikap mendasar. Kita perlu prihatin ketika mendengar beberapa ucapan Kemendikbud Muhajir Effendi beberapa waktu lalu soal cara dan lemahnya membaca di sekolah karena pengaruh medsos dan kemampuan menseleksinya dengan berfikir kritis. Ini perlu ada penguatan berfikir serta literasi kritis siswa dan kurikulum maupun dalam bentuk kualitas berfikir.

Kita mengingat sebuah buku yang amat populer yang mempengaruhi para intelektual muda dekade 60an berjudul: "Sejarah Kemerdekaan Berfikir", dari Pustaka Sarjana terjemahan L.M Sitorus, yang mengulas begitu dalamnya peranan berfikir terhadap kebangkitan sebuah bangsa maju dan peradabannya.

Dalam konteks Kebangkitan Nasional kita anehnya banyak bertitik berat pada hal yang fisik dan sedikit yang non fisik  seperti kebudayaan dan penulisan kreatif yang mendapat perhatian pada seremoni HarKitNas setiap tahunnya. Kita semangat dalam mengadakan Asian Games toh itu juga fisik dengan sedikit konsep slogan Indonesia Kuat. Padahal di SEA Games, Indonesia sebagai negara besar  amatlah tidak proporsional capaiannya dengan kebangkitan Vietnam dan seharusnya tidak boleh kalah capaian dengan Asian Games tahun 60an yang bercita-cita bukan hanya fisik, tapi Kebangkitan Nasional bangsa-bangsa Asia. Oleh karena itu di sini harus ditinjau Kebangkitan Nasional kita sudah semestinya bersifat sustainable dan endurance, bukan sesaat-sesaat, reaktif atas nafsu yang semu untuk diakui sebagai bangsa besar, tetapi kenyataannya berfikir lemot (lemah otak) dan tidak disiplin untuk berfikir kritis, kreatif dan karya. 

Kebangkitan Nasional jangan diwujudkan parsial antara gerak atau kerja tanpa berfikir dan berkarya. Banyak kekurangan yang harus kita isi dan koreksi pada generasi tua untuk generasi kemudian. Generasi kedepan perlu memahami pemikiran bapak-bapak bangsa kita yang pra proklamasi dan proklamasi (belum yang pasca proklamasi karena kurang memberi contoh berfikir konseptual tetapi lebih pada Kebangkitan Politik Identitas dan status quo). Kebangkitan Nasional kita di masa lalu itu bisa menjadi Epos Perjuangan di kemudian hari (yang menyatukan antara berfikir dan gerakan) bagi generasi muda sebagai bentuk Harapan Baru. Memberikan harapan pencerahan serta orientasi pada generasi berikutnya untuk menghadapi masalah kedepan (globalisasi) yang lebih pelik dan berat fenomenanya, tetapi substansinya sama yaitu Nekolim dalam teori dan praktek.

Pertajam berfikir dan beradvokasi kritis dan kreatif dalam menyaring "penyakit" generasi tua Orde Baru yang masih hinggap pada orang politik di Orde Reformasi yang berpegang dengan kekuasaannya bukan advokasi ideologi Kebangkitan Nasionalnya. Berkaitan contoh di atas adalah sikap dan orientasi kita masih berpihak bukan pada  "wong cilik" melainkan pada kebijakan impor peratanian yang tidak mengembangkan produktivitas tani bangsa sendiri atau pada kebangkitan pertanian dan kebangkitan nasionalnya.

Dan tugas generasi baru dalam pilkada nasional agar memilih pemimpin yang mampu berfikir kritis, kreatif dan empati membangun harapan para warga bangsanya.

Kebangkitan kita ke depannya adalah Kebangkitan Berfikir Nasional. Berfikir yang komprehensif untuk senantiasa membangun Harapan Bangsa kita yang bukan dengan slogan, tapi kenyataan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

Di tengah berbagai masalah bangsa yang menerpa beberapa hari terakhir ini akibat ancaman terorisme, maka pada hari ini tanggal 20 Mei 2018 kita bangsa Indonesia memperingati kembali hari kebangkitan nasional. Momentum hari  kebangkitan nasional hari ini yang bertepatan dalam suasana bulan Ramadhan sangat tepat untuk kita melakukan repleksi terhadap nilai-niali kebangsaan kita selama ini, yang mulai memudar dan sudah dikalahkan oleh indentitas lain yang bernuansa suku, agama dan etnik.

Selama ini kita menyaksikan Hari Kebangkitan Nasional hanya diperingati secara seremonial di berbagai tempat seakan menjadi nyanyian kosong yang kehilangan irama. Bangkitnya kesadaran nasionalisme tidak bisa dilakukan secara instan dan harus melalui proses yang panjang melalui keteladanan oleh para pemimpin baik lokal maupun nasional.

Sudah dua puluh tahun kita berada di era reformasi namun sampai sekarang kita belum sepenuhnya berhasil mengatasi dampak krisis multi dimensi yang menerjang di hampir semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Di bidang politik kita melihat partai politik sebagai pilar demokrasi tidak menjalankan fungsinya yang sesungguhnya dan sudah kehilangan ideologinya dan lebih cenderung melakukan praktek kartelisasi.

Perilaku pejabat publik, anggota DPR dan kepala daerah tidak menunjukkan sifat-sat keteladanan. Maraknya agitasi, hasutan dan hoax sekarang ini karena kurangnya masyarakat menjiwai aturan bermain demokratis dan terlalu mendahului "akunya" dari pada kepentingan "kita". Demokrasi selama ini hanya sebatas kebebasan mengeluarkan isi dan rasa hati tanpa rasionalitas. Mengapa keberingasan dan aksi teror terus berlangsung pada bangsa yang memiliki kesopanan dan beradab. Pancasila adalah landasan hidup universal dalam kebersamaan harmonis bertahtakan keanekaragaman suku, kemajemukan etnis dan budaya serta dijiwai oleh aneka keyakinan.

Dua dasawarsa sejak tumbangnya Orde Baru, tumbuh kembali pertanyaan mendasar akan manfaat, arti, dan makna demokrasi. Otonomi daerah, penegakan HAM adalah parameter demokrasi yang dapat menimbulkan kemaslahatan bangsa bukan meluluhlantakan integrasi bangsa.

Dalam tahun politik 2018 dan 2019 dengan segala dinamikanya harus  menjadikan Hari Kebangkitan Nasional sebagai intropeksi bagi segenap komponen bangsa apakah kita bisa menjadi bangsa yang maju dan disegani dalam tatanan peradaban dunia, ataukah sebaliknya hanya menjadi paria dalam tatanan bangsa besar lainnya.

Kita serahkan kepada masyarakat untuk memilih pemimpin publik untuk menjalankan amanah ini. Mudah-mudahan para kepala daerah yang akan dipilih pada tahun 2018 atau DPR,D, DPR atau presiden dan wakil presiden yang akan dipilih pada tahun 2019 akan menjadi pemimpin publik yang memiliki integritas demi kemajuan bangsa dan negara. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII)

Terciptanya berbagai kelompok orang menjadi sebuah bangsa didasari oleh perasaan persamaan nasib, bukan karena persamaan etnis, agama atau golongan tertentu. Kelompok-kelompok orang Indonesia menjadi sebuah bangsa karena adanya persamaan nasib, sama-sama dijajah. Berjuang bersama-sama, bersatu, sampai meraih kemerdekaan.

Pasca kemerdekaan, secara teoretik sebuah negara akan membangun melalui tiga tahapan: unifikasi, industrialisasi, dan negara kesejahteraan. 

Meskipun Indonesia sudah merdeka, bukan berarti masalah kebangsaan selesai. Justru setelah merdeka, identitas kelompok-kelompok menguat kembali. Untuk itu Indonesia di awal kemerdekaan harus berjuang menyatukan seluruh komponen bangsa. Pada tahapan unifikasi ini Indonesia menghadapi masalah yang lebih berat dibanding dengan negara-negara lain mengingat sangat heterogennya masyarakat Indonesia, sedangkan negara-negara lain relatif homogen.

Saat ini Indonesia juga sudah dan sedang melakukan industrialisasi serta berusaha menggapai negara kesejahteraan. Sementara itu tahapan unifikasi masih belum sekesai. Oleh karena itu Indonesia harus meraih ketiga tahapan dalam waktu yang bersamaan. Sedangkan negara-negara yang sekarang disebut sebagai negara maju, membangun negaranya secara bertahap, yang setiap tahapannya memakan waktu yang lama.

Oleh karena itu maraknya peristiwa-peristiwa yang berpotensi merusak kebangsaan hendaknya dibaca sebagai dinamika, semata-mata masalah waktu. Pada akhirnya seluruh komponen bangsa akan bersatu kembali. Kebangsaan akan menguat kembali. Tetapi kalau tidak dikelola dengan baik, maka perpecahan bangsa akan sungguh-sungguh terjadi. Diperlukan figur pemersatu dan adanya musuh bersama yang akan menggerakan seluruh komponen.  Salam kebangsaan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Arsitek, Aktivis dan Penulis

Dari tahun ke tahun Kebangkitan Nasional hanya diperingati secara seremonial saja. Itupun greget nasionalismenya mulai hilang, hanya hiburan semata. Tak memiliki makna mendalam tentang arti kebangkitan itu sendiri. Slogan-slogan kebangkitan pun seakan menjadi nyanyian kosong  yang kehilangan irama. Terbukti dengan semakin memburuknya krisis yang terjadi di negeri ini. Lalu, harapan munculnya kembali rasa nasionalisme itu kapan akan terjadi?

Peringatan-peringatan Hari Besar Nasional, kalah tanding dibanding peringatan hari besar keagamaan yang penuh dengan beragam prosesi. Itu karena, DISCOURSE – nya mati. Pemerintah dan masyarakat tak mampu membuat: ruang diskusi yang komprehensif, entah melalui perangkat perlombaan atau penulisan ulang sejarah. Berbeda dengan perayaan hari besar keagamaan; prosesi menuju perayaan muncul dalam gebyar kekinian yang luar biasa gegap gempita. Kuliah-kuliah subuh di stasiun televisi penuh dengan iklan komersil. 

Pemerintah dan masyarakat kehilangan cara untuk membicarakan Hari Kebangkitan Nasional tanpa berkesan propaganda. Atau kehilangan metode untuk mengupas krisis identitas negara, melalui berbagai perangkat seni dan pendidikan. 

Identitas, merupakan pembicaraan politik dan politik itu adalah power. Pasti ada suasana ‘paksa’ acap kali membicarakan identitas karena pada dasarnya manusia ini pengen bebas. Sehingga jika, tak menemukan caranya maka, habislah Identitas ke-Indonesiaan ini tertimpa identitas yang lain.

Ruang-ruang diskusi untuk membahas  perayaan Hari Kebangkitan Nasional perlu dibikin semarak, melalui perlombaan cerdas cermat atau pembuatan film. Dan pekerjaan ini merupakan: pekerjaan budaya (culture). Bukan tanggal 20 Mei yang penting, melainkan apa diskusi-nya? Mari kita pikirkan bersama. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Upaya Perampokan Aset Negara di BUMN Geo Dipa Energi (Bagian-1)             Upaya Perampokan Aset Negara di BUMN Geo Dipa Energi (Bagian-2)             Rupiah Terpuruk di Atas Struktur Ekonomi Tak Sehat (1)             Selesaikan PR Rantai Ekspor, Ekonomi Biaya Tinggi (2)             Kuncinya Pada Penyediaan Infrastruktur Dasar             Maksimalkan Desentralisasi, Tak Perlu Asimetris             Otsus, Antara Bencana Atau Solusi             Otonomi Daerah Jangan Setengah-Setengah             Bereskan Dulu Masalah Penggunaan Dana Desa, Baru Bicara Dana Kelurahan             Oknum ASN Harus Berhenti Memposisikan Diri Seolah Pemilik Instansi