Kata Fadli, Putin = Prabowo untuk Indonesia
berita
Politika

Sumber Foto: Famous Biographies  (gie/Watyutink.com)

03 April 2018 16:00
Kicauan Fadli Zon di akun Twitter pribadinya sedang menjadi pembahasan hangat. Wakil Ketua DPR ini berkicau soal Indonesia butuh pemimpin seperti Presiden Rusia Vladimir Putin, bukan yang banyak utang dan planga-plongo. Meski Fadli Zon tak menyebut siapa yang dimaksud banyak utang dan planga-plongo tersebut, banyak yang tahu siapa yang dia maksud.

Sebelum menyebut Putin dibutuhkan untuk memimpin Indonesia, sebelumnya Fadli Zon juga pernah menyebut sosok Donald Trump cocok memimpin Indonesia. Meskipun apa disampaikan Fadli Zon merupakan pendapat pribadinya, namun banyak yang menganggap apa yang disampaikannya jauh dari sikap nasionalisme. Terlebih lagi, lekatnya citra ideologi komunisme dengan Rusia.

Tak salah jika kemudian muncul pertanyaan menggelitik, pernyataan Fadli Zon yang menyanjung kepemimpinan Putin itu cerminan sikap yang ingin mengganti sistem demokrasi akan diganti dengan sistem komunis? Lho, bukannya Fadli yang pemeluk Islam taat kerap mendukung aksi-aksi menentang komunisme? Sebab menjadi aneh karena Fadli tidak membandingkan kepemimpinan saat ini dengan founding fathers seperti Bung Karno, Hatta, atau Sjahrir.

Akibat cuitan itu, kritik pun berdatangan. Ruhut Sitompul melalui akun Twitter pribadinya @ruhutsitompul, dirinya menuliskan: "FZ makin stresssssss saja nggak henti2nya menghina Presiden RI ke 7 Bpk Joko widodo membandingkan dgn Putin PM nya Rusia,"Yg plenga plongo itu tampangnya sendiri ngaca dong persis Bayi Sehat tapi Oon ha ha ha" MERDEKA.

Pendiri Lingkar Mardani (Lima) Ray Rangkuti mendukung langkah sejumlah pihak yang mengkritisi cuitan Fadli Zon terkait pemimpin planga plongo. Menurut Ray, pernyataan Fadli yang mengagungkan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai contoh pemimpin ideal itu bisa membuat sebagian masyarakat bingung. Di saat sebagian warga kita yang sedang gencar-gencarnya meneriakkan bangkitnya PKI, ternyata ada pemimpin lembaga negara yang justru mengidolakan pemimpin dari negara komunis.

Menanggapi kritikan itu, Fadli Zon angkat bicara. Dia menegaskan bahwa Putin itu adalah sebuah akronim dari kata ‘Prabowo Subianto untuk Indonesia’. Kalau begitu, apa akronim Vladimir? Karena dalam statusnya ia menyebut nama Vladimir Putin. Rasanya tak berlebihan kalau tanggapan Fadli dinilai sekadar alibi!

Mungkin benar dengan pendapat sebagian orang yang menyebut ucapat Fadli bermaksud melakukan psy war. Lantas dengan siapa ia hendak berperang urat saraf? Tampaknya upaya Fadli gagal jika ia ingin bermain psy war dengan Presiden Jokowi, karena hingga saat ini Jokowi tak turut menanggapi cuitan.

Perang urat saraf tak akan efektif kalau tidak ada yang bereaksi. Kalau benar ucapan Fadli adalah psy war, apakah pihak yang merasa diserang--jika itu adalah Jokowi--harus menanggapi? Seberapa "mengganggu" serangan politik ini kepada Jokowi jika dikaitkan dengan kontestasi 2019?  

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(cmk)

 

 

 

 

 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pastor dan aktivis penggerak kesadaran manusia

Demokrasi Indonesia terus mengalami ujian melihat peristiwa yang terjadi, yakni ancaman intoleransi dan konservatisme yang belakangan menjadi fenomena global. Gejala tersebut dikhawatirkan menggeser demokrasi Indonesia yang belum solid menjadi demokrasi utopis (semu) yang banyak memberi janji tanpa bukti.

Persoalannya mendasar, mencari pemimpin yang ideal kerap kali hanya sebuah utopia karena siapapun pemimpin dengan sistem demokrasi yang gado-gado seperti ini akan dipenjara oleh kepentingan politik do ut des yang membuatnya sulit mengaktualisasikan kebijakan sesuai visi. Selama sistem demokrasi seperti ini, jangan berharap muncul pemimpin ideal.

Demokrasi utopis sifatnya sederhana, yaitu calon-calon pemimpin mengejar popularisme, menyenangkan rakyat dengan janji-janji muluk namun gagal sewaktu memimpin. Demokrasi mengalami kebangkrutan lahir ideologi populisme. Bagaimana orang menjadi populer di mata publik, memberi janji-janji subsidi melayani rakyat tetapi gagal membangun kemandirian rakyat seperti yang terjadi di Amerika Latin.

Mimpi pemimpin ideal adalah sebuah utopis karena sebenarnya hanya mimpi, arah tujuan jelas kepentingan politik jangka pendek. Problem mendasar membangun sistem demokrasi efektif  bila ada kejelasan mana oposisi dan mana partai pemerintah.

Ketidakjelasan posisi ini sulit menciptakan sistem politik mengarah keadaban publik, oleh karenannya dibutuhkan adalah partai oposisi yang benar oposisi yang jelas konsep dan memberikan alternatif pemikiran dan solusi serta argumentasi jelas bisa diwujudkan. Demokrasi akan bermartabat dan memiliki kualitas bukan hanya kepentingan jangka pendek. Orientasi hanya jangka pendek bisa dibaca ada motif tersembunyi yakni politik bagi kekuasaan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Mantan Ketua DPR RI

Rusia bukan lagi negara komunis, ini yang kelihatan belum dipahami banyak orang. Komunis Rusia sudah bubar. Terlepas dari persoalan Putin pro dan kontra. Kalo idola, setiap orang punya idola, tidak perlu dipersoalkan. Apakah idolanya mewakili publik, itu persoalan lain lagi. Ada yang mengidolakan Pak Harto, Bung Karno.  Jadi tak ada masalah dengan idola. 

Kalau terkait masalah yang dihadapi bangsa ini dengan tipikal kepemimpinan yang diidolakan, juga gak masalah. Toh itu hanya mimpi, gak pengaruh apapun. Yang jelas, untuk kepemimpinan Indonesia, mari kita petakan masalah yang dihadapi bangsa ini, kita inventarisir apa saja kriteria yang pas untuk memimpin bangsa ini. Ini pun hanya mimpi, karena kita sudah dipaksa oleh UU untuk menerima siapa saja yang akan dikontestasikan sebagai calon pemimpin kita yang akan datang.

Jadi semuanya yang diperdebatkan hanyalah tong kosong yang tidak punya arti apa-apa, karena kita pasti akan menerima siapapun sosok yang sudah diatur oleh kekuatan politik mayoritas. Daripada ribut, kita terima sajalah, jangan buat masalah. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Fadli Zon pengagum Putin juga Karl Marx karena menyambangi makam Karl Marx di London sebagai turis pengagum "nabi penulis Manifesto Komunis" itu. Ketum Nasdem mempersilakan pengagum Putin untuk tinggal di Rusia ketimbang di Indonesia. Ya, semua merupakan konsekuensi polemik lawan politik dengan jurus Thai Boxing, bisa pakai jurus apa saja termasuk privacy, hatred, dan macam macam yang sebetulnya terlarang oleh UU anti diskriminasi dan KUHAP tentang pelecehan dan penistaan yang bisa mengundang hukum perdata maupun gugatan terkait pidana ke Bareskrim.
 
Heboh ini masih terkejar oleh heboh pembacaan Puisi Sukmawati yang berpotensi jadi " A Hok Al Maidah" kedua melihat gorengan di sosmed tentang puisi gaduh itu. Sebetulnya memang pemimpin dan elite Indonesia sudah harus mentas dari masalah dendam kesumat dan kebencian personal. Semua harus debat rasional, logika, argumentasi dan bukan pakai politik identitas sara atau istilah yang derogatory, misalnya planga-plongo, dan segala macam istilah melecehkan lawan politik.

Tapi memang elite harus dewasa membaca puisi atau pidato. Kalau terlalu tajam bisa jadi A Hok kedua. Tapi kalau segala macam kritik dilarang, maka kita kembali ke Orba. Dimana Rendra saja masih bisa nekad membaca puisi kritik Orba waktu itu. 

Ya kita harapkan elite dewasa, matang, bijaksana, dan tidak mudah tersinggung atau gampang melecehkan sesama elite. Saya tidak berpanjang lebar di sini sebab sudah menurunkan serial Wawancara Imajiner dengan Bung Karno sejak Selasa, 27 Maret, sudah WIBK 5 kemarin berjudul Wapres ke-13 menuju Presiden ke-8? Silahkan menikmati di Kompasiana, "Pilpres Gaya Thai Boxing Segala Macam Boleh". (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Setiap negara memiliki karakteristik pemimpin yang berbeda sebagai pemimpin ideal. Pemimpin Indonesia memang harus sesuai dengan kekhasan bangsa kita, tidak bisa serta merta disamakan dengan Vladimir Putin sebagai pemimpin Rusia. Yang jelas, Indonesia memiliki keunikan sebagai negara archipelago, memiliki ribuan pulau dari Sabang sampai Merauke—memang membutuhkan leadership yang kuat. Artinya, pemimpin harus menjadi pemersatu negara-bangsa. Apalagi di tengah otonomi daerah, kalau pemimpin tidak bisa mempersatukan justru daerah justru akan lepas satu demi satu.  

Dalam konteks Indonesia, RI-1 sebagai pemegang otoritas tertinggi di bidang pemerintahan, memang sosoknya sangat menentukan. RI-1 juga harus menjadi rule model yang memberikan teladan yang baik bagi semua warga negara. 

Jadi, pemimpin dengan kepemimpinannya harus bisa mengikat tanpa harus melukai demokrasi. Kalau dalam sistem monarki ibaratnya ucapannya adalah peraturan.

Tapi memang menjadi pemimpin bukan persoalan mudah, di negara mana pun. Di Indonesia selalu banyak tuntutan mengenai obsesi pemimpin ideal, apalagi setelah tumbangnya era Orde Baru. Sebagian pihak menginginkan sosok presiden ideal layaknya Bung Karno yang mempunyai narasi pidato yang menggema, kepemimpinan yang kuat hingga banyak disegani negara lain. Pun ada pihak yang seolah-olah merindukan kepemimpinan Soeharto.

Soal oposisi menentang PKI hidup kembali di Indonesia. Fadli Zon mungkin lupa bahwa Vladimir Putin seorang pemimpin Rusia yang berhaluan negara komunis. Sepatutnya elite memiliki komitmen yang tak bisa dipermainkan. Mestinya berkaca kepada landasan Pancasila sebagai the of light dan the of thinking dalam kehidupan berbangsa. Juga konsesif dan tidak konsesif perilaku elite harus mengacu kepada UUD 1945. Itu semua harus kita pegang teguh.

Ketika elite gamang dalam mengaplikasikan landasan NKRI tersebut, mereka harus kembali melihat susana kebatinan negara Indonesia di periode awal kemerdekaan juga menyelami perjuangan tokoh-tokohnya; Bung Karno, M. Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka dan lain-lainnya. Di mana pemikiran kesemua tokoh tersebut tidak serupa, tapi justru disitulah letaknya kebhinekaan tokoh nasional yang dimiliki bangsa ini. Selain itu, kecintaan mereka terhadap negara Indonesia harus diteladani.

Mungkin Fadli Zon berusaha menyoroti sisi reformisnya dari Vladimir Putin, yang silih berganti dari Presiden menjadi Perdana Menteri, pun sebaliknya. Memang ada beberapa konsep yang dilahirkan Putin untuk negara Rusia dan itu diamini oleh warga negaranya. Oleh karena itu, mungkin Putin ingin  meniru Mikhail Gorbachev pemimpin Rusia (Uni Soviet saat itu) periode 1985-1990 soal keterbukaan.

Di samping itu, kebijakan Putin tidak hanya sekadar wacana tapi mengeksekusi program-program atas konsepnya. Jadi, Fadli Zon barangkali ingin memotret Putin sebagai pembaharu. Tapi publik mengatakan bahwa ‘Putin itu pemimpin Rusia, lho’, sehingga bereaksi negatif atas pernyataan Fadli.

Tetapi harus disadari bahwa selama pemerintahan SBY, rencana program yang hendak dijalankan justru menghilang begitu saja. Di situlah, pemerintah tidak melakukan sesuatu yang riil dalam mengeksekusi program. Padahal sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, harusnya paling tidak reformasi bisa dijalankan dengan baik.

Sekali lagi harus diingat bahwa, Putin menjalankan programnya dengan konkret sehingga memiliki ingatan kolektif dari masyarakat Rusia terhadap apa yang dilakukan Putin. Komitmen Putin seperti itu yang kita inginkan dari sosok pemimpin Indonesia. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

Fadli Zon memang sosok sangat populer dan fenomenal. Namanya kerap menjadi perbincangan publik. Tak jarang kata-katanya menjadi viral di media sosial. Setiap ucapannya kerap menjadi sorotan publik.

Nah, alasan utama mengapa Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini mendadak terkenal dan fenomenal tentu saja bukan karena tampangnya yang rupawan, yah minimal "good looking" lah. Bukan itu, penyebab kepopuleran Fadli Zon terletak pada kontroversialnya. Pernyataannya yang kerap menimbulkan kontroversi membuatnya populer dan fenomenal.

Sudah sejibun pernyataan wakil ketua DPR itu menghebohkan dunia maya dan kadang-kadang di dunia nyata. Semakin banyak yang mengomentari pernyataannya semakin melambungkan namanya.

Saya pribadi sebenarnya enggan untuk membicarakannya, tetapi untuk kali ini saya tertarik untuk mengomentari pernyataannya. Karena saya tergelitik dengan pernyataan Fadli Zon yang menyamakan Prabowo dengan Vladimir Putin, orang nomor satu di Rusia. Ada yang lucu dan tidak konsisten dari pernyataan Fadli. Lebih dari itu, menyamakan Prabowo dengan Putin adalah sesuatu yang kontradiktif;

Pertama, membandingkan Prabowo dengan  Putin sungguh kurang masuk akal. Dari segi karakter, Prabowo cenderung temperamen, meledak-ledak. Sedangkan Putin sebaliknya, karakternya lebih tenang dan sikapnya dingin. Putin tidak sering mengumbar pernyataan, sedangkan Prabowo sebaliknya, dia kerap mengumbar pernyataan kontroversi yang meledak-ledak. Putin lebih sistematis dan tenang dalam retorika, sedangkan Prabowo agak kurang runut dan kurang sistematis. Ketua Umum Partai Gerindra itu lebih cenderung agitatif dan bombastis dalam berpidato. Sedangkan Putin lebih cenderung datar tapi sangat artikulatif.

Kedua, dari segi ideologi juga berbeda, Putin adalah seorang komunis Rusia, sedangkan Prabowo bukan komunis.

Maka pernyataan Fadli Zon dalam statusnya di akun twitter pribadinya yang menyamakan sosok Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin  justru mengundang pertanyaan besar, apa maksud Fadli Zon menyamakan Prabowo dengan Putin? Padahal faktanya, banyak perbedaan di antara kedua sosok tersebut.

Karenanya, pernyataan Fadli Zon tersebut bisa menimbulkan persepsi negatif terhadap Prabowo jika Prabowo dipersepsikan sama dengan tokoh komunis Rusia. Ini jelas bisa merusak citra Prabowo sendiri.

Pernyataan Fadli Zon tersebut memang dapat menimbulkan kesan pada dirinya, bahwa ia mengidolakan Vladimir Putin yang komunis. Apalagi bagi publik yang mengetahui foto Fadli Zon ketika datang ke makam Karl Marx si pencetus ideologi komunis yang sempat viral di media sosial, bisa membuat mereka semakin memiliki keyakinan bahwa Fadli Zon diam-diam mengidolakan tokoh komunis.

Sementara di sisi lain, hubungan Fadli Zon dengan kelompok Islam puritan terlihat sangat dekat. Hubungan Fadli terlihat mesra dengan kelangan Islam garis keras, apalagi bila ada agenda politik bersama, hubungan mereka seolah tak ada jarak.

Tapi di satu sisi, sebagian masyarakat akan menilai Fadli Zon terkesan tidak konsisten, karena dianggap memiliki dua pandangan yang kontradikrif. Karenanya, bisa menimbulkan pertanyaan bagi sebagian masyarakat, apakah Fadli Zon seorang komunis atau muslim? Meski demikian, bagi sebagian kalangan yang memahami pergulatan idelologi dalam konteks ilmu pengetahuan, mungkin bisa menerima sikap dan pemikiran Fadli Zon tersebut. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Executive Director Para Syndicate

Kicauan Fadli Zon (FZ) soal Putin adalah usaha branding politik untuk Prabowo Subianto. Ketika menyebut Indonesia butuh pemimpin seperti Presiden Rusia Vladimir Putin, bukan yang banyak mengutang dan planga-plongo, secara sadar (disadari atau tidak) Fadli Zon sedang mengkontraskan dua subjek: Prabowo Subianto vs Joko Widodo. Siapa pun dengan akal sehatnya akan membaca secara linier seperti itu.

Dengan diksinya di akun Twitter, FZ mau "mengkonstruksi" bahwa sosok Prabowo Subianto adalah personifikasi dari pemimpin yang berani, visioner, cerdas, berwibawa; yang sepadan seperti Vladimir Putin, Presiden Rusia, yang terang benderang dikagumi oleh FZ pula. Sebaliknya di saat yang sama (disadari atau tidak) FZ ingin "mendekonstruksi" bahwa sosok pemimpin RI saat ini (pastinya tentulah Presiden Joko Widodo) sebagai pemimpin yang banyak ngutang dan planga-plongo, sehingga (menurut FZ) katanya bangsa kita sulit bangkit dan tidak jaya. Ini penalaran linier dari kicauan FZ di akun Twitter-nya.

Bila kita masuk ke penalaran lebih dalam lagi, usaha branding politik yang dilakukan FZ tersebut justru bisa berujung kontra produktif, alias jauh panggang dari api. Hasilnya malah bisa terjadi berkebalikan: maksud hati mau 'meninggikan' (konstruksi) Prabowo, justru (tanpa sadar) malahan berujung 'merendahkan' (dekonstruksi) Prabowo sendiri.

Mengapa demikian? Karena menyebut nama Vladimir Putin untuk konteks Indonesia hari ini adalah salah alamat, alias tidak tepat sama sekali. FZ tentu masih oke saat menyebut kriteria berani, visioner, cerdas, berwibawa untuk sosok pemimpin RI. Tapi personifikasi 'teks' tersebut dengan sosok Vladimir Putin yang alih-alih mau disepadankan/disejajarkan dengan sosok Prabowo Subianto dalam 'konteks' Indonesia yang demokratis dan terbuka adalah sama sekali tidak tepat, salah sasaran alias bukan "apple to apple" namanya. Tentu berlaku jamak, seorang pemimpin punya tempatnya pada zamannya, tidak bisa dicomot begitu saja untuk tempat lain dengan konteks zaman yang lain. 

Karena itu, dalam kasus ini sebenarnya FZ (tanpa disadari) telah melakukan "political failure" karena intensinya akan tidak linier dengan 'outcome' yang diharapkan. Usaha FZ melakukan branding politik untuk meraih simpati publik guna menaikkan elektabilitas Prabowo, justru dengan kasus ini malah bisa berakibat menurunkan sentimen publik yang punya preferensi politik memilih Prabowo. Singkatnya, kicauan "Putin Prabowo" oleh FZ itu tidak taktis dan tidak elok. Kita Indonesia, mencintai pemimpin bangsa kita. Negara saya tetap negara saya! (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Membaca cuitan dan pernyataan Pak Fadli Zon susah dinalar jika menggunakan akal sehat. Kesan saya cuitan itu adalah goresan mimpi yang didapat dalam tidurnya, kenapa:

Pertama, Indonesia bukanlah negara komunis dan tidak mungkin punya presiden yang juga komunis. karenanya tidak pas kalo Pak Fadli Zon "memimpikan" presiden Indonesia seperti presiden negara komunis. Kedua, cuitan soal utang yang banyak, kemungkinan pak Fadli Zon dalam mimpinya melihat geliat pembangunan yang dilakukan Presiden Jokowi begitu masif padahal tidak punya uang. Ketiga, cuitan yang menyebut plonga-plongo, bisa jadi dalam mimpinya pak Fadli Zon menatap cermin besar dan selintas itu melihat gambar di cermin plonga-plongo. 

Semoga tidur nyenyak Pak Fadli Zon tidak terlalu lama dan segera bangun untuk mengawal dan mengkritisi pemerintahan Presiden Jokowi dalam keadaan terjaga.

Kritik dalam keadaan terjaga (sadar) pasti penuh kosa kata yang indah, santun, kaya akan gagasan yang solutif. Peribahasa mengatakan kalau lidah memang tidak bertulang tapi lebih tajam dibanding pisau dan jari-jemaripun tidak bermata karena itu harus dijaga gerakannya. Islam mengajarkan kepada kita untuk berperasangka baik dan tidak saling menghina sesama manusia. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik Internasional

Bagi mereka yang mempelajari ilmu politik dan ilmu komunikasi, apalagi para politisi, tidak ada yang baru/istimewa d?ri kicauan Fadli Zon. Hanna Arendt bicara lying in politics alias bohong dalam politik. Jendral Gobbels, kepala propaganda Jerman era Hitler, bertitah bahwa kesalahan yang disuarakan atau disiarkan terus menerus akan menjadi kebenaran. 

Fadli Zon paham itu. Apalagi ia pun sudah doktor dari UI, pasti tidak sekadar nyerocos. Memang harus seperti itu yang ia lakukan sebagai politisi Gerindra dan pendukung mania Prabowo.

Apalagi melihat budaya politik negeri ini yang dominan sentimental ketimbang rasional. Atau angan jangan-jangan cuitan Fadli itu masih banyak yang percaya. Bukankan pemilih Prabowo masih tetap fanatik? Tidakkah banyak yang tidak suka Jokowi? Itu fakta di lapangan.

Di sisi lain era ini adalah era postruth, era dimana tidak ada kebenaran nan universal dan sarat dengan populisme. Trik-trik Fadli Zon itu tetap ampuh. Tentu mereka mereka yang tersempr?t, lazimnya akan melakukan counter attack. Begitu terus menerus. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Aktivis PIJAR & Jaringan Aktivis PRODEM

Fadlizon, politisi muda dan kawakan partai Gerindra ini paling rajin tampil di publik. FZ juga rajin membuat pernyataan melalui akun twitternya. Sebagai politisi dari partai yang mengambil sikap dan posisi sebagai oposisi, tentu wajar jika dia sering menyoroti kebijakan-kebijakan pemerintahan Jokowi. Terutama yang terkait dengan slogan Presiden Jokowi yakni kerja, kerja, kerja dikaitkan dengan janji-janji semasa kampanyenya di 2014 lalu. Antara slogan, janji dan fakta-fakta kebijakan yang menurut Fadli banyak yang bertentangan dan terkesan tanpa perencanaan dan data-data yang komprehensif serta rendahnya koordinasi antar menteri di kabinet. Kita masih ingat banyak peristiwa politik yang terjadi akibat statemen-statemen dan kebijakan-kebijakan menteri yang menimbulkan polemik dan memancing kegaduhan. Tentu, gaduh itu bukan sesuatu ysng buruk jika kegaduhan itu diwarnai dengan adu gagasan dan wawasan.

Kembali kepada cuitan Fadlizon di twitter mengenai perlunya Indonesia dipimpin oleh seorang "Putin", Presiden Rusia yang terpilih kembali 2018, yang kemudian cuitan ini menjadi polemik dan tanggapan berbagai pihak, baik yang pro dan kontra, baik yang suka maupun tidak suka. Ini tidak terlepas dengan akan masuknya Tahun Politik 2019, yakni momentum pemilu dan pilpres yang akan diselenggarakan secara bersamaan.

Motif Cuitan Fadlizon

Apakah sebenarnya maksud cuitan Fadlizon tersebut. Tentu hanya Fadli dan Tuhannya yang tahu persis. Kita hanya bisa menduga-duga dan menganalisa pernyataannya tersebut. Jika maksud Fadlizon itu bermaksud menyamakan Vladimir Putin dengan jagoan calon presidennya Prabowo Subianto, sah-sah saja. Yang menanggapi nyinyir pun boleh-boleh saja. Inilah demokrasi, kebenaran tidak bisa dimiliki oleh hanya satu golongan saja. Perbedaan pendapat justru esensi demokrasi.

Fakta-fakta Putin dan Prabowo

Tindakan-tindakan Putin sulit ditebak dan kehidupannya hampir tidak tersorot media. Perceraiannya pada 2013 dinilai mengejutkan, karena tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah politik Rusia. Begitu juga dengan rumor mengenai aset pribadinya  USD20 miliar atau sekira Rp264 triliun yang jika benar adanya, menjadikan dia sebagai orang terkaya di Eropa.

Berikut beberapa fakta umum mengenai Putin dan Prabowo

1. Putin menyukai sarapan yang sederhana; seperti omelet, telur puyuh dan bubur plus kopi dan jus. Sedangkan Prabowo menyukai sarapan nasi goreng,

2. Putin sangat suka berolahraga dan melakukan latihan fisik seperti berenang , dia juga rajin mengunjungi gym dan melakukan angkat berat. Prabowo sangat suka olahraga lari di sekitar rumahnya yang asri di Hambalang.

3. Putin suka membaca buku mengenai tokoh sejarah terutama berasal dari Rusia. Demikianpun Prabowo, membaca buku tokoh-tokoh seperti Sudirman, Bung Karno, Bung Hatta, Sahrir dan lain-lain. Plus tokoh-tokoh sejarah luar seperta Gandhi, Mandela, Fidel Castro dan lain-lain.

4. Putin menyukai kawasan sejuk pegunungan. Demikianpun Prabowo, pilihan tinggal di Hambalang Sentul Bogor.

5. Dia tidak suka main internet dan selfi dan nge-vlog. Prabowo menggunakan admin untuk akun FB dan twitternya. Tidsk pernah Selfie dan Nge-vlog juga

6. Putin belajar bahasa Inggris dengan cara menyanyi. Prabowo lancar berbahasa Inggris, pernah menjadi atase pertahanan Yordania

7. Putin adalah seorang pecinta binatang, yakni anjing Labrador. Prabowo penyayang Kuda, walaupun dia juga memiliki peternakan kambing, domba dan lain-lain.

8. Putin pemimpin yang menguasai masalah, faham geopolitik dan kharismatik. Prabowo mampu menjelaskan masalah-masalah bangsa dan geopolitik internasional.

9. Putin bercerai dari istrinya, suatu hal yang jarang terjadi di Rusia. Prabowo bercerai dari Titik Soeharto setelah peristiwa reformasi 98 yang konon akibat intrik politik beberapa jendral yang berkuasa saat itu.

Tidak banyak hal yang bisa diungkap dari Putin terutama mengenai hal-hal pribadinya. Selain karena memang sikapnya yang tertutup namun berkharisma. Apakah fakta-fakta Putin dan Prabowo di atas sama, mirip atau berbeda tentu kembali kepada masyarakat yang menilainya.

Namun Fadlizon mampu membuat pernyataannya menjadi perbincangan publik. Boleh dikatakan Fadlizon sebagai News Maker. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

FOLLOW US

Ekonomi 2020 Tak Janjikan Lebih Baik             Pertumbuhan 5,3 Persen Sulit Dicapai             Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh