Kasus Nikahsirri.com... Apa Lagi yang Menyusul?
berita
Politika

Sumber Foto: Radar Cirebon

25 September 2017 18:00
Indonesia kembali dihebohkan oleh sebuah situs web kontroversi. Situs web nikahsirri.com menawarkan kliennya, pria maupun wanita yang ingin mencari pasangan dengan cara mudah, yaitu nikah siri.  Syaratnya, para peminat harus menyetor dulu Rp100 ribu sebelum mendapatkan akses ke web. Tencatat 300 orang sudah menjadi mitra. Di situs web ini ada konten lelang perawan, mencari suami, mencari istri, mencari penghulu, dan mencari saksi.

Disebutkan pula, pengelola bermitra dengan tim medis untuk memastikan keperawanan dan keperjakaan. Tak tanggung-tanggung, mereka siap sumpah pocong menjamin keaslian “produk dagangannya". 

Ketika membuka situs nikahsirri.com, terdapat tampilan wanita cantik dan tagline "mengubah zinah menjadi ibadah". Aplikasi playstore-nya baru dapat diunduh pada 17 Oktober 2017. Tetapi pada Senin (25/9), Kominfo bergerak cepat menutup situs web ini. 

Pengelola situs web ini, Aris Wahyudi (yang ingin  namanya disingkat menjadi Arwah seperti Joko Widodo disingkat Jokowi), mengaku apa yang dibuatnya adalah wujud program kerakyatan dari partai politik yang baru didirikannya, yakni Partai Ponsel. Parpol baru ini, menurut istri Arwah, didirikan setelah suaminya stres akibat kalah di Pilkada Banyumas.

Situs web seperti ini bukan kali pertama. Pada 2015 muncul juga situs serupa. Dengan dalih, menghindari zinah situs tersebut juga menawarkan menikah siri tidak di Kantor Urusan Agama (KUA). 

Kendati pelaku sudah ditangkap, banyak pertanyaan muncul mengiringi fenomena ini. Apa motif dibuatnya situs web ini, sekadar cari untung? Atau jangan-jangan, yang dilakukan Arwah ini --selain korupsi--adalah ekses dari praktik kontestasi politik di negeri ini.  

Menikah secara siri dibenarkan agama. Tapi praktiknya tak sesederhana dengan mendaftar ke web itu. Di web ini rentan praktek human trafficking dan eksploitasi perempuan. 

Praktek nikah siri keblinger sejatinya tak hanya marak di dunia maya. Tengok "Kampung Arab" di kawasan Puncak. Fenomena itu terkesan dibiarkan pemerintah. Dunia maya hanya membawa fenomena ini ke spektrum lebih luas. Sebatas menutup situs dan menangkap pengelolanya takkan mematikan fenomena ini.

Yang jadi tanya sebetulnya, apa fenomena ini mewakili cara pandang mayoritas laki-laki negeri ini memandang perempuan semata "objek dagangan"?

Apa pendapat anda? Watyutink?

(cmk)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Psikolog Pemerhati Anak, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI)

Saat ini mulai ngetren nikah di bawah tangan (siri). Hanya saja, kali ini lebih canggih, menikahnya melalui situs online. Dengan dalih menghindari zina, jasa menikah secara agama marak diiklankan di dunia maya. Fenomena ini muncul karena eforia kemajuan teknologi informasi berkembang sangat pesat. Banyak hal bisa dilakukan secara online. Mulai dari toko online, daftar sekolah online, lamaran kerja online, ujian nasional online, dan masih banyak lagi.

Seharusnya dalam ajaran agama, syarat pernikahan harus adanya saksi atau wali, agar sesuatu yang taqwa itu tidak bisa di buat main-main. Oleh karena itu pemerintah juga harus berkonsultasi dengan para tokoh agama, bagaimana hukumnya nikah siri online tersebut?

Selain berkonsultasi, Kementerian Agama bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri, Polri, Kejaksaa,n dan Kementerian Hukum dan HAM harus menindak tegas praktik jasa nikah siri di dunia maya karena bertentangan dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyebutkan perkawinan harus dicatat di Negara.

Selain tindakan tegas pemerintah agar kasus serupa tak terjadi lagi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan organisasi–organisasi keagamaan juga memberikan penjelasan kepada anggotanya atau pendukungnya masing-masing, agar jangan sampai ajaran agama disalahgunakan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Sosiologi UNJ

Di tengah peradaban zaman yang kian hari semakin berkembang, masyarakat telah mereproduksi berbagai bentuk aktivitas kegiatannya. Aktivitas ini kini dikemas dalam bentuk digitalisasi atau online.  Ruang interaksi kini tanpa batas, tidak mengenal jarak bahkan nilai dan norma yang sudah mengakar dalam kebudayaan, khususnya Indonesia. Realitas-realitas sosial budaya yang ada di dunia nyata kini mendapatkan tandingannya. Realitas sejati kini berubah menjadi realitas yang bersifat artifisial atau posrealitas. Masyarakat Indonesia kini tengah memasuki sebuah dunia baru, di mana di dalamnya apapun yang dilakukan di dunia nyata semuanya dapat dilakukan dengan tingkat pengalaman yang sama di dalam jagat raya maya. Manusia tidak lagi akrab bergaul dengan lingkungan nyata, tetapi diselimuti dengan realitas virtual. Realitas virtual ini sedikit demi sedikit mencoba merasuki ruang sosial nyata manusia, khususnya masyarakat di perkotaan. Secara simultan masyarakat kota terhipnotis dengan ruang virtual ini.

Rupanya ini jugalah yang dimanfaatkan oleh pihak tertentu dengan berusaha menawarkan sebuah proses suci dalam agama, yaitu pernikahan dengan cara melalui sistem online. Hal ini dilakukan sebagai upaya menarik minat masyarakat di era digital atas program yang ditawarkan. Walaupun sebenarnya tawaran online dalam sebuah website adalah bentuk bisnis dalam dunia digital yang barang dagangannya adalah “jodoh” dan “pernikahan”. 

Sebagaimana kita ketahui bersama, sebuah pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan suci bagi setiap manusia dan pemeluk agama manapun. Proses sakral dan suci ini juga pada umumnya dilakukan dalam realitas yang nyata. Hal inilah yang kemudian terasa janggal dan aneh ketika ada sebuah situs web menawarkan proses pernikahan melalui cara online dan berikut calon pasangannya atau jodohnya dapat dipilih sesuai yang diinginkan oleh si peminat atau pengakses website. Jika dilihat secara sosiologis, bagi pelaku yang melakukan pernikahan secara online, maka ada faktor masalah sosial yang terjadi pada dirinya. Pertama, ketidakpercayaan diri dalam realitas yang nyata dalam membangun hubungan keluarga dalam sebuah pernikahan. Kedua, ketiadaan biaya dalam membangun proses pernikahan dalam dunia nyata, dan sementara dalam dunia maya  proses pernikahan menawarkan biaya murah. Ketiga, susahnya mencari calon pasangan atau jodoh dalam dunia nyata. Keempat, ada suatu motif tertentu yang bersifat formalitas atas proses pernikahan secara online, seperti proses pernikahan online hanya untuk melampiaskan hasrat seksualnya saja. 

Oleh karena itu menurut hemat saya, sudah sepatutnya masyarakat pengguna internet harus cerdas dalam menyikapi website – website yang menawarkan suatu hal yang terasa janggal atau aneh. Dan kemudian pemerintah pun harus selalu mengawasi dan memberikan sanksi yang tegas bagi pemilik situs web yang dianggap menyimpang secara hukum maupun nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA)

Apa yang terdapat di nikahsirri.com itu merupakan perbuatan perdagangan manusia karena menawarkan perempuan-perempuan untuk dinikahkan secara siri yang dalam undang-undang pornografi dan UU ITE itu tidak dapat dibenarkan karena merupakan tindakan kejahatan pidana dan masuk ke pedagangan orang.

Jadi Komnas Perlindungan Anak melihat nikahsirri.com itu telah melanggar hukum dengan pasal berlapis (UU ITE, pornografi, dan perdagangan orang). Selain itu apapun alasannya, karena dibungkus dengan pendekatan agama, itu sebuah perbuatan perdagangan orang. Jadi bukan saja perzinahan.

Ini bukan kasus baru,  pada 2015 juga pernah ada kasus serupa namun pada waktu itu belum begitu menjadi viral, ketimbang situasi belakangan ini dengan kemajuan teknologi. Banyak yang belum mengetahui. Namun pendekatannya sama dengan yang sekarang yakni menyebarkan informasi dengan cara-cara yang dibungkus dengan pendekatan agama. Kasus-kasus seperti ini kalau tidak diantisipasi akan sangat merugikan anak-anak, khususnya remaja.

Saya kira situs-situs seperti ini harus jadi perhatian pemerintah. Akan tetapi peran masyarakat sebagai pengguna media sosial itu untuk memblokir dan menutup situs-situs tersebut. Selain itu masyarakat juga dapat melakukan pengaduan kepada pemerintah kalau ada situs serupa nanti.

Nah, bagi perempuan-perempuan Indonesia dan anak-anak Indonesia harus selektif terhadap hal-hal seperti ini. tidak ada perkawinan yang online. yang di ajarkan menurut agama dan harus dicatatkan di negara. Jadi tidak bisa online seperti itu!!! (cmk)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF