Kampanye Prabowo-Sandi di GBK Bau Politik Identitas?
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 09 April 2019 11:30
Penulis
Watyutink.com - Massa pendukung Prabowo-Sandi menyulap Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) menjadi lautan manusia, Minggu (7/3/2019). Mereka datang dari berbagai daerah demi menghadiri kampanye akbar pasangan calon nomor urut 02. Sedari awal hingga usai, kampanye ini dinilai telah berlangsung dengan tertib dan damai, bahkan sebisa mungkin tidak membiarkan sampah berserakan di area GBK.

Sekalipun demikian, kampanye akbar di GBK rupanya tetap menimbulkan polemik. Salah satunya, soal politik identitas. Sebagian kalangan menilai aroma politisasi agama terasa begitu kental.

Apakah kampanye akbar itu sengaja didesain untuk menonjolkan kelompok identitas agama tertentu? Sebab sehari sebelum acara berlangsung, melalui surat yang ditujukan kepada tiga petinggi Partai Demokrat, SBY menilai set up, run down, dan tampilan fisik kampanye tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif.

SBY pun berharap agar tidak melakukan kampanye “show of force” identitas, salah satunya identitas agama. Baginya, kampanye nasional mestinya mencerminkan inklusifitas, kebhinekaan, dan persatuan.

Sejumlah elite oposisi berdalih menggunakan identitas agama dalam kampanye akbar di GBK. Mereka menegaskan bahwa kampanye yang dilakukan sebagaimana kampanye pada umumnya, yaitu sebatas menyampaikan ide dan gagasan Prabowo-Sandi kepada semua lapisan masyarakat tanpa membedakan identitas dan golongan tertentu.

Tapi sebagian elite petahana menilai kekhawatiran SBY menjadi kenyataan di lapangan, yaitu sangat ekslusif dan tidak lazim. Identitas agama pun begitu kuat dalam pengerahan massa.

Sepintas lalu, kesan adanya politik identitas tidak berlebihan pula. Apalagi kampanye itu diawali salat subuh berjamaah. Salawat pun berkumandang. Bahkan sebagian besar massa mengenakan pakaian yang biasa dikenakan umat Islam dalam menjalankan ritual keagamaan. Sebenarnya, wajar gak sih cara ini dilakukan dalam kampanye politik?

Meski begitu, kubu oposisi boleh jadi telah menghindari penggunaan politik identitas dalam kampanye akbar di GBK. Misalnya, dengan menghadirkan sejumlah tokoh dari beberapa kelompok agama selain Islam. Bahkan mereka juga menyampaikan orasi, salah satunya, berisi tentang semangat keberagaman. 

Namun sebagian masyarakat tetap saja menilai bahwa politik identitas dijadikan “dagangan” politik. Jika benar demikian, apa motif di balik gaya kampanye akbar di GBK selain demi kepentingan elektoral?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Kepala Humas dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Ada hal yang menyesakkan melihat kampanye Prabowo-Sandi yang dilakukan di GBK yang akhirnya menghadirkan kontroversi di tingkat publik. Yang pertama adalah menjadikan GBK sebagai tempat ibadah bagi kalangan muslim, yang akhirnya tidak dijalankan menurut kaidah fiqh yang benar, salah satunya adalah bercampur-baur laki-laki dan perempuan dalam shaf yang tidak teratur.

Hal tersebut telah melahirkan sinisme di kalangan publik tentang praktik beribadah di kalangan Islam. Jelas menyamakan antara ibadah di Mekkah atau Kabah dengan GBK adalah analogi yang bukan hanya semberono, tapi juga tidak mengerti tentang kaifiyah (metodologi) salat berjamaah.

Yang kedua adalah terjadinya permainan politik identitas yang akhirnya membelah masyarakat Indonesia yang majemuk. Kampanye yang dilakukan, terutama oleh juru kampanye Prabowo memperlihatkan adanya sentimen politik identitas yang sedang ditonjolkan.

Padahal, seharusnya menjelang pemilu kelima pasca reformasi politik identitas harus semakin disingkirkan, agar pola komunikasi yang sehat bagi pegelolaan bangsa yang plural dan multikultural ini semakin baik ke depan. Ingat sentimen rasialisme dan primordialisme yang sedang menggoda dunia seperti terjadi di Brazil dan Amerika Serikat tidak menjadi contoh ideal bagi dunia. Efek Trump seharusnya tidak menyeruak di bumi persada ini.

Publik tentu juga semakin jengah dengan politisasi agama yang selama ini dilakukan. Politik tidak memberikan kegembiraan bagi minoritas, dan harus mematut-matutkan diri pada diksi dan bahasa yang dugunakan mayoritas. Akhirnya politik keberagaman harus diucapkan dengan berpura-pura.

Meskipun ada beberapa masyarakat berbeda agama yang hadir dalam kampanye Prabowo, tetap terlihat bahwa kampanye itu sama sekali tidak mengambarkan Indonesia yang pelangi. Ini pula kebohongan tentang kemajemukan ketika kelompok minoritas hanya menjadi prasyarat saja dalam kampanye tapi tidak memiliki suara yang sama lantangnya dengan kelompok mayoritas. Inilah yang akhirnya menyebabkan preferensi pemilih Prabowo dari kalangan non-muslim juga sangat kurang, karena mereka tidak yakin jika pasangan ini menang akan menyuarakan kepentingan minoritas secara adil dan proporsional. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Kampanye Prabowo-Sandi di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) mirip dengan gerakan 212. Ya, sangat mirip dengan gerakan 212. Para peserta ada yang menginap, salat subuh berjamaah, berdoa, orasi, dan lain-lain.

Isu keagaaman juga terlihat kental. Sepertinya spirit gerakan 212 diadopsi dalam kampanye Prabowo-Sandi di GBK. Tidak aneh dan tidak heran jika memunculkan identitas agama tertentu. Karena spirit 212 kan memang spirit agama dalam balutan politik.

Sebenarnya, tak ada yang salah jika agama dijadikan spirit perjuangan politik. Yang tidak boleh adalah melegitimasi agama untuk kepentingan politik tertentu.

Mengawali kampanye dengan salat subuh berjamaah tidak wajar. Tidak lazim. Tapi faktanya ada. Dan terjadi. Isu agama memang menjadi isu yang ampuh untuk memunculkan emosi pemilih muslim untuk mendukung paslon tertentu. Oleh karena itu, isu agama dan politik identitas akan terus dikelola untuk kepentingan politik tertentu.

Politik identitas akan tetap digunakan. Karena itu menjadi salah satu kekuatan kubu tertentu. Akan terus dimainkan hingga selesai perhelatan Pemilu 17 April 2019. Bahkan pasca pemilu pun, politik identitas akan tetap digunakan. Karena masyarakat lebih tersentuh bila isu agama yang dimunculkan. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan