KNPI, Masihkah Relevan?
berita
Politika
18 August 2017 00:00
Penulis
Bisa jadi anak muda sekarang bengong jika ditanya soal KNPI (Komite Nasional Pemuda IndonesiaI). Jangankan peran dan tujuannya, singkatan KNPI pun mungkin tidak tahu.

KNPI dideklarasikan pada 23 Juli 1973 sebagai organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) sekaligus forum gabungan berbagai organisasi mahasiswa, baik kelompok Cipayung, ormas binaan Golkar, maupun tentara.

Cita-cita dan peran KNPI adalah mempersatukan seluruh potensi generasi muda mengatasi beda suku, agama, ras, dan sosiokultural. KNPI juga diarahkan sebagai wadah kaderisasi pemimpin bangsa. Tapi tak semua organ pemuda mendukung KNPI. Mungkinkah itu akibat KNPI terlanjur dicurigai sebagai “kanal” peredam kekritisan pemuda?

Menjadi ketua umum dan pimpinan KNPI semasa Orde Baru adalah tiket emas masuk ke kekuasaan. Minimal jadi anggota DPR dari Golkar, Bahkan menjadi menteri, setidaknya sebagai Menpora.

Begitu Soeharto jatuh 1998, KNPI sempat diusulkan dibubarkan. Ternyata masih bertahan. Ada ide rejuvenasi peran KNPI agar independen dan kritis terhadap pemerintah. KNPI kini malah dianggap sebagai bagian Golkar. Cek saja. Setelah 1998, hanya Adhyaksa Dault ketua umum yang bukan Golkar. . Alhasil kesan KNPI=Golkar pun kian pekat. Apa stigma slagorde itu yang membuat KNPI dijauhi anak muda saat ini?

Ciri menonjol KNPI era reformasi ialah konflik pemilihan ketua umum yang berujung dualisme kepemimpinan. Dualisme juga terjadi saat ini. Ada KNPI versi Fahd El Fouz A Rafiq yang didukung Setya Novanto, ada KNPI  versi Rifai Barus yang kader Demokrat tapi, konon, dijagokan Ade Komaruddin.

Ironis, Fahd saat ini ditahan KPK akibat terkait korupsi pengadaan Al-Quran. Tiga tahun lalu dia juga dibui karena menyuap anggota DPR RI terkait Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID). Konon dalam kasus DPID, Fahd pasang badan untuk menutupi keterlibatan seorang petinggi partai. Tentu ini perlu diverifikasi kesahihannya. Namun dengan duduknya Fahd sebagai Ketua Umum KNPI, pasca keluar dipenjara akibat korupsi,  rumor itu menjadi masuk akal.

Dengan wajah suram KNPI, perlu dipertanyakan manfaat bergabung ke dalamnya. Padahal melalui APBN/APBD, uang rakyat sejak era Orba hingga sekarang terus dikucurkan untuk KNPI sampai tingkat kecamatan. Dengan perannya yng semakin sumir ini, masih relevankah ber-KNPI?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(jim)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Mantan Aktivis Mahasiswa, Pelaku Bisnis sekaligus Pemerhati Sosial Budaya Nusantara

Novel “Musashi” karya Eiji Yoshikawa bercerita tentang perjalanan seorang  bernama Miyamoto Musashi yang hidup 1584-1645 hingga menjadi seorang samurai yang disegani sampai pada akhirnya berkesudahan tragis sebagai seorang ronin.

Istilah Ronin mulai dikenal sejak periode kekuasaan Nara (710-794) dan Herian (794-1185) dalam kronik sejarah Jepang klasik. Awalnya istilah ini digunakan sebagai penyebutan terhadap budak yang ‘desertir’ atau melarikan diri dari tuan tanah. Namun istilah tersebut  digunakan untuk menyebut para samurai yang telah kehilangan tuannya.

Para Samurai adalah orang-orang berkemampuan tempur tinggi dan sangat diandalkan oleh daimyo (bangsawan) dan shogun (panglima perang). Mereka memiliki kode etik keprajuritan Bushido Shoshinshu atau semangat Bushido. Semangat pantang menyerah sampai titik darah penghabisan dalam membela tuannya sekalipun harus harakiri. Bahkan ketika gagal membela tuannya, mereka melakukan oibara seppuku, sebuah upacara ritual bunuh diri.

Para Ronin adalah para Samurai yang telah kehilangan tuannya tapi tidak melakukan baik harakiri maupun seppuku. Mereka memilih untuk terus hidup dengan mengambil risiko melanggar semangat Bushido dan rela kehilangan kehormatannya sebagai Samurai.

Di era sekarang, ronin mengejawantah sebagai instrumen kekuasaan dan menjadi bagian dari Korporatisme Negara. Korporatisme Negara adalah sebuah desain politik yang memperkuat kontrol negara di ranah publik. Di dalamnya diciptakan unit-unit fungsi untuk melayani kepentingan Negara.

Soeharto dengan Orde Barunya berhasil menciptakan Korporatisme Negara. KNPI adalah satu unit fungsi karya Soeharto, selain Majelis Ulama Indonesia (MUI, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), dan banyak lagi organisasi serupa yang secara hierarkis, seragam, dan tunggal memang diciptakan dan dipakai untuk melayani kekuasaannya selama 32 tahun.

Kini, setelah 11 tahun majikan besarnya meninggal dunia, organisasi-organisasi tersebut yang dulu malang melintang sebagai Samurai-samurai dari Soeharto masih eksis mengejawantah menjadi Ronin-ronin baru.

Ronin ini berebut mencari tuan untuk diperhamba. Maka jangan heran dan bingung jika melihat fenomena KNPI di era reformasi terpecah menjadi dua kepengurusan akibat konflik pemilihan Ketua Umum.

Saat ini ada KNPI versi Fahd El Fouz A Rafiq yang didukung Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto, ada KNPI versi Rifai Barus yang kader Demokrat tapi dibotohi oleh Ade ‘Akom’ Komaruddin, mantan rival Novanto sewaktu berebut kursi Ketua Umum Partai Golkar 2016.

Fahd saat ini ditahan KPK akibat terkait korupsi pengadaan Al-Quran. Jejak rekamnya termasuk konsisten sebagai penghuni hotel prodeo karena menyuap anggota DPR RI terkait Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID) tiga tahun lalu.

Sebagai seorang Ronin yang sudah diangkat derajatnya kembali terhormat sebagai samurai, Fahd terbilang berani pasang badan dalam kasus DPID demi menutupi keterlibatan tuannya yang seorang daimyo partai politik. Tentu dukungan Setya Novanto terhadap Fahd El Fouz A Rafiq menjadi Ketua Umum KNPI paska keluar dari penjara tidak bisa dianggap sebagai bentuk politik balas budi dari seorang daimyo kepada samurainya karena masih perlu diverifikasi kesahihannya meski nampaknya masuk akal.

Apapun itu, merekalah ronin-ronin versi baru yang tetap hidup dan mampu bermutasi ke dalam peta politik kekuasaan demokrasi liberal Indonesia saat ini. (jim)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF