Jokowi Mulai Agresif Serang Oposisi, Untung atau Buntung?
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 04 February 2019 17:00
Penulis
Watyutink.com - Jelang hari pencoblosan Pilpres 2019, gaya kampanye Jokowi dianggap lebih agresif. Bahkan capres no urut 01 ini juga mengakui, kini gaya pidatonya sedikit lebih keras. Selain menjawab berbagai tudingan kubu Prabowo-Sandi yang selama ini dialamatkan kepadanya, Jokowi pun melakukan serangan balik kepada oposisi.

Baru-baru ini, Jokowi mempertontonkan gaya yang tak biasa itu di dua kesempatan yang berbeda. Persisnya, ketika Jokowi menghadiri silaturahmi dengan pengusaha Jawa Tengah di Semarang Town Square pada Sabtu (2/2/2019) dan saat bertemu dengan sedulur kayu dan mebel di Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (3/2/2019.

Dalam dua kesempatan itu, mula-mula Jokowi mengungkit berbagai tudingan oposisi. Soal Indonesia Bubar 2030, misalnya, Jokowi menyindir: bubar sendiri saja, punah sendiri saja, tapi jangan ngajak-ngajak kita (rakyat).

Selain itu, Jokowi juga mengungkit berbagai informasi hoaks yang dilakukan kubu Prabowo-Sandi. Misalnya hoaks mengenai tujuh kontainer surat suara tercoblos, penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet, hingga hoaks selang cuci darah RSCM yang dipakai hingga 40 kali.

Puncaknya, Jokowi melakukan serangan penggunaan konsultan asing. Meski tak menyebut secara detile, tudingan ini dianggap untuk menyerang kubu Prabowo-Sandi. Serangan Jokowi kira-kira begini: konsultan asing tidak memikirkan bahwa strategi kampanyenya akan memecah belah rakyat atau tidak dan tak dipikirkan pula akan mengganggu ketenangan masyarakat atau tidak. Pertanyaannya, apa sebetulnya yang melatarbelakangi Jokowi makin agresif?

Apa iya semata-mata karena Jokowi kerap mendapat tudingan miring dari oposisi? Sebab, juru bicara BPN Prabowo Sandi, Andre Rosiade menilai sikap agresif itu akibat Jokowi tengah panik dan stres lantaran selisih elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi tak signifikan.

Sebetulnya, sikap agresif menyerang itu bukan hanya terjadi pada akhir pekan kemarin. Kala Debat Capres Jilid I pada 17 Januari 2019 lalu, misalnya, juga terjadi hal serupa. Saat itu, Jokowi dinilai lebih agresif menyerang oposisi. Sementara Prabowo terlihat lebih kalem dalam menanggapi berbagai serangan Jokowi.

Sontak, narasi Prabowo sebagai orang pemaaf dan sabar menggelinding di ruang publik seusai debat capres. Bahkan sempat muncul video berjudul “Prabowo, Hatimu Terbuat dari Apa”, yang menggambarkan bahwa Prabowo merupakan orang yang tak menyimpan dendam sekalipun beberapa kali dikhianati. Pendeknya, video ini dinilai bertujuan: Prabowo memaafkan Jokowi meski pernah mengkhianatinya, persisnya, saat Jokowi memilih menjadi lawan politik Prabowo pada Pilpres 2014 lalu.

Terlepas benar dan salah, narasi tersebut boleh jadi membuat masyarakat simpatik terhadap Prabowo-Sandi. Sebab, rakyat Indonesia dinilai mudah bersimpatik terhadap orang yang (dicitrakan) didzolimi. Dengan kata lain, rakyat Indonesia lebih suka (calon) pemimpin yang kalem, sabar, dan tak suka marah-marah.

Jika melihat kondisi tersebut, apakah sikap agresif Jokowi akan menguntungkan dirinya? Atau, justru hanya membuat elektabilitas Prabowo-Sandi kian meningkat?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Dalam politik, terkadang bertindak agresif itu penting. Agresifitas Jokowi menyerang Prabowo-Sandi bisa saja dilatarbelakangi oleh tuduhan dan serangan-serangan keras yang menimpa dirinya. Apalagi, serangan tersebut banyak yang bentuknya hoaks. Jadi, memang jika serangan lawan politik didiamkan, maka akan menjadi liar dan bisa menjadi kebenaran.

Pihak oposisi yang offensif memang tidak bisa dilawan dengan defensif. Tetapi mesti dilawan dan dihadapi pula dengan offensif. Jadi sikap offensif Jokowi dalam merespons dan menjawab serangan-serangan lawan politiknya merupakan hal yang wajar.

Dalam agama  memang diajarkan, jika serangan tidak boleh dibalas dengan serangan. Kekerasan tidak boleh dibalas dengan kekerasan. Fitnah tidak boleh dibalas dengan fitnah. Tapi dalam politik, serangan lawan yang bertubi-tubi, terkadang harus juga dibalas dengan serangan.

Jika Jokowi tidak bersikap agresif, maka dia akan dianggap lemah. Untuk menunjukkan power-nya, wajar jika dia membalas offensif lawan dengan cara yang sama. Sebagai manusia biasa, kita pun akan sama. Jika sering diserang, lalu didiamkan, maka serangan tersebut akan menjadi bola liar dan menjadi-jadi. Namun jika diantisipasi dengan sikap agresif, maka lawan politiknya akan mencari strategi lain.

Sikap agresif Jokowi penting. Justru akan menguntungkan dirinya. Karena jika sering diserang, apalagi dengan fitnah dan hoaks, maka memang harus direspons. Dan respons tersebut tidak boleh lembek. Tetapi harus keras juga.

Sikap agresif Jokowi tidak akan mempengaruhi elektabilitasnya. Begitu juga tidak kan menaikan elektabilitas Prabowo. Yang akan menjungkirkan elektabikitas keduanya adalah blunder-blunder politik ke depan.

Apalagi, masyarakat sudah memiliki pilihan masing-masing atas kedua paslon capres dan cawapres. Jadi apapun yang dilakukan Jokowi, pendukungnya akan tetap loyal. Begitu juga apa yang dilakukan Prabowo, pendukung Prabowo tak akan berpindah hati. Yang sedang diperebutkan oleh kedua paslon adalah suata swing voters. Dan sikap politik swing voters didetik-detik terakhir akan sangat menentukan. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik, Dosen Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah

Ada dua kemungkinan Jokowi bersikap agresif menyerang kubu Prabowo-Sandi belakangan ini. Pertama, Jokowi punya kepercayaan diri tinggi untuk menyerang oposisi. Apalagi, ini pilpres tanding ulang yang mempertemukan dirinya dengan Prabowo. Makanya, Jokowi harus banyak menyerang karena dirinya punya modal sebagai petahana dan data-data apa yang sudah dilakukan.

Kedua, bisa juga serangan-serangan Jokowi sebagai upaya mengerek elektabilitasnya. Saat ini elektabilitas Jokowi-Ma’ruf masih stagnan di angka 53 persen. Padahal, normalnya elektabilitas petahana minimal 60 persen untuk menjamin kemenangan.

Terkait sejauh mana sikap agresif Jokowi kepada kubu Prabowo-Sandi bisa menguntungkan atau merugikan elektabilitasnya, harus ada survey-nya terlebih dahulu mengenai apakah rakyat suka calon pemimpin yang agresif atau tidak.

Yang jelas, sikap agresif ini bukan karakter alamiah Jokowi yang biasanya kalem. Sehingga, agresifitasnya harus terukur dan bukan hoaks. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Kepala Humas dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Jokowi sudah dikenal sebagai sosok yang santun dan secara naluri komunikasinya juga tidak menunjukkan agresivisme. Karakter politik seperti itu adalah tipikal politik kesantunan Mataraman-Kartasuran yang memang telah membentuk watak positif bagi Jokowi. Jikapun Jokowi menjadi tegas, bahasa politiknya sebenarnya tidak agresif.

Namun jika saat ini komunikasi agresif dilakukan oleh Jokowi, bisa disebabkan dua hal. Pertama, politik hoaks dan fitnah yang menyerangnya semakin tidak masuk akal, kedua, merupakan polesan dari tim komunikasi politiknya.

Jika pilihan kedua terjadi, jangan sampai salah dalam memberikan advise. Artinya, Jokowi bisa bertahan hingga saat ini elektoralnya akibat ketenangannya dalam menjawab pelbagai fakta negatif atas capaian pembangunannnya, bukan karena komunikasi agresifnya.

Salah satu yang menjadi titik kelemahan Prabowo adalah sikapnya yang meledak-ledak dalam berkomunikasi dan sikap tak sabaran. Ini pula menunjukkan kenapa Jokowi jauh lebih unggul di pulau Jawa, di daerah yang watak antropologisnya terbentuk. Makanya tidak heran jika potensi elektoral Prabowo tergerus terutama di kalangan pemilih Jawa karena sikap dan pola komunikasinya tidak njawani, durung Jowo sehingga belum layak dipilih sebagai kesatria pemimpin negeri.

Alangkah lebih baik Jokowi menjadi dirinya sendiri. Yang kalem dan tenang. Biarkan sisi agresif itu diisi oleh timnya yang memang dikenal sebagai petarung kata-kata. Lagi pula ruang elektoral di kalangan swing voters sudah menipis, sehingga sisi pejal dari ruang keterpilihan itu tak perlu diisi dengan pola komunikasi yang tidak otentik.

Ketenangan dan senyum ramah nan-alamiah Jokowi adalah sisi yang disukai oleh pemilih milenial. So, tak perlu menjadi pemberang atau penangkis sporadis. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Djoko Setijowarno

Pengamat transportasi

FOLLOW US

Tidak Ada yang Bisa Jamin Data Kita Aman             Unicorn Indonesia Perlu Diregulasi             Bijak Memahami Perubahan Zaman             Strategi Mall dan Departement Store dalam Menghadapi Toko On line             Sinergi Belanja Online dengan Ritel Konvensional             Investor Tertarik Imbal Hasil, Bukan Proyek             Evolusi Akan Terjadi meski Tidak Dalam Waktu Dekat             Demokrasi Liberal Tak Otentik             Tak Perlu Berharap pada Elite Politik             PSSI di Persimpangan Jalan, Butuh Sosok Berintegritas dan Profesional