Ikhtiar Partai untuk Lolos Parliamentary Threshold
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 08 September 2018 09:00
Selain presidential threshold, parliamentary threshold atau ambang batas parlemen juga menjadi sorotan sejumlah elite serta kader partai politik (parpol). Sejumlah parpol dinilai akan berupaya lebih keras untuk lolos dari parliamentary threshold 4 persen yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum. Apakah sejumlah parpol akan mengalami kesulitan dalam mengejar parliamentary threshold 4 persen?  

Parliamentary threshold pertama kali digunakan pada Pemilu 2009. Diatur dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 2008 Pasal 202, parliamentary threshold ditetapkan sebesar 2,5 persen dari jumlah suara sah secara nasional, dan hanya diterapkan dalam penentuan perolehan kursi DPR-RI. Parpol peserta Pemilu 2004 yang tak lolos ke parlemen seharusnya tidak boleh ikut dalam Pemilu 2009. Tapi karena ada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 12/PUU-VI/2008, mengizinkan parpol tersebut ikut lagi dalam Pemilu 2009.

Kemudian menjelang Pemilu 2014, Undang-undang Pemilu kembali direvisi menjadi Undang-undang Nomor 8 Tahun 2012, di mana Pasal 208 menetapkan bahwa ambang batas parlemen dinaikkan menjadi 3,5 persen. Pada Pemilu 2014 sebanyak 15 partai politik ikut serta (3 partai politik lokal Aceh), dan yang tidak lolos ke parlemen ada dua partai. Tiap pemilu kenaikan parliamentary threshold mengalami kenaikan 0,5 persen. Berdasarkan apa kenaikan itu diterapkan?

Sejumlah pengamat merasa perlu memberlakukan parliamentary threshold dalam pemilu. Tujuannya agar demokrasi kita tidak kebablasan. Selain itu sistem presidensial yang dianut Indonesia membuat parliamentarian threshold jadi penting untuk diberlakukan. Sehingga nantinya presiden mengalami resistansi karena legislatif lebih dominan. Bukan kah sekarang sistem presidensial kita juga dipertanyakan? Lantaran ada dominasi parlemen dalam kebijakan-kebijakan tertentu?

Kabarnya ada partai yang mengeluhkan parliamentary threshold 4 persen ini. Baik parpol besar yang mapan dengan segala infrastruktur politik yang ada, dan parpol pendatang baru, sama-sama harus berjuang untuk memiliki wakil di parlemen. Partai lama takut bisa saja kadernya tersingkir dari parlemen, sementara partai baru tak ingin sekadar jadi tim 'hore' pada Pemilu 2019. Apakah akan ada parpol baru yang menyingkirkan posisi parpol lama dari kursi parlemen dalam kontestasi Pemilu 2019?

Melihat fenomena yang ada saat ini, sejumlah parpol penghuni parlemen mengalami konflik internal, maupun eksternal. Sebut saja Partai Hanura yang hingga kini masih mengalami konflik internal di antara pengurusnya. Demikian juga PKS, yang didesak untuk bubar oleh mantan kadernya sendiri. Apakah polemik-polemik ini tidak akan menganggu ikhtiar kedua parpol penghuni parlemen tersebut untuk merebut parliamentary threshold 4 persen?

Stidaknya ada 16 parpol ditingkat nasional yang akan berebut kursi parlemen. Jika kita melihat parliamentary threshold 4 persen dan jumlah parpol yang akan bertarung, berapa jumlah parpol yang akan lolos ke DPR-RI pada Pemilu 2019 nanti?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Berkaca dari ambang parliamentary threshold (ambang batas) 4 persen yang ditentukan pada pileg nanti, menurut analisis saya hanya ada 7 partai yang bisa tembus ke parlemen. Lainya akan terlempar dari Parlemen 2019.

Kendati pada pilpres lalu PDIP hanya meraih 4 kemenangan cagubnya seperti; Jateng, Bali, Sulsel dan Maluku, tapi magnet atau daya pikat partai moncong putih ini masih kuat. Pada survei LIPI pun mereka masih dominan, dimana PDIP merupakan partai dengan elektabilitas tertinggi sebesar 24,1 persen. Menyusul Partai Golkar menempati posisi kedua dengan elektabilitas 10,2 persen. Urutan ketiga Partai Gerindra sebesar 9,1 persen.

Dalam hal ini menurut saya melihat 3 partai ini PDI-P, Golkar dan Gerindra masih bertengger di posisi teratas. Ini kalau dalam sepak bola Inggris bak Manchester United, Liverpool dan Chelsea maupun Manchester City. 

Kekuatan 3 partai ini memang masih unggul. Di parlemen PDI Perjuangan meraih 107 kursi, Golkar 91 kursi dan Gerindra 73 kursi. Empat Partai lain akan bersaing ketat mempertahankan kursi di parlemen.

Empat partai lain itu adalah: PKB, Demokrat, Nasdem, PPP. Kemenangan dan keunggulan PKB tak lepas dari imaging (pencitraan) selama hampir 6 bulan. Nama Cak Imin meroket saat dirinya mendeklarasikan sebagai cawapres Jokowi. Branding serta popularity mereka menjadi kuat.

Untuk partai berlambang Ka'bah PPP sendiri, terdongkrak dari pemilih milenial khususnya santri dan abangan juga. Branding dan marketing politik lewat TV dari Rommy, sang ketum, ikut mendongkrak partai ini.

Jika mengacu pada survei LSI maka PPP mendapatkan 3,5 persen, PKS 3,8 persen, PAN 2,0 persen, dan Hanura 0,7 persen. Hanya Nasdem yang perolehan suaranya sedikit di atas ambang batas, yakni 4,2 persen.

Jadi PPP belum terlalu aman lantaran masih ada selisih 0,5 persen. Tinggal bagaimana mereka mengejar di pileg nanti. Partai Demokrat sendiri pada pileg lalu meraih 64 kursi atau sekitar 10,8 persen. 

Hengkangnya sejumlah kader bisa Berdampak Buruk. Nah! dengan hijrahnya kader-kader mereka seperti Sukarwo, Tuan Guru Bajang bahkan Lukas Enembe Gubernur terpilih Papua maka bisa tergerus suara mereka. Jadi lumbung suara mereka bisa hilang seperti Papua, Jatim, Sulsel dan NTB. 

Begitu pula, Yasin Limpo di Sulsel. Mantan Gubernur ini hijrah ke Partai Nasdem akan mengurangi amunisi Demokrat itu sendiri. PKB sendiri yang didukung oleh 90 juta  (2015) saya prediksi akan mulus dan masih bertahan.

Sementara untuk partai baru, dari 5 partai yang masuk, yaitu : Partai Garuda, PSI, Partai Berkarya, Perindo dan PBB,  peluang untuk lolos hanya ada pada Perindo. Sedangkan partai lainnya bersama PKPI diprediksi akan tumbang.

Nah! bisa jadi koalisi dan afiliasi akan terjadi. Misalkan PKS, PBB dan PAN membuat koalisi baru (koalisi agama) sedangkan Perindo berpeluang afiliasi politik dengan PDI-P atau Golkar. PKPI ke Golkar karena awalnya partai ini pecahan golkar yang didirikan mantan wapres era mendiang Presiden Soeharto yaitu, Try Sutrisno, dan ada pula Edy Sudrajat dan Hayono Isman yang kini berlabuh di Nasdem. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik, Dosen Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah

Parliamentary threshold selalu menjadi momok menakutkan bagi parpol, baik parpol lama maupun baru. Apalagi di tengah begitu banyaknya parpol yang berebut ceruk pemilih, tentu persaingan akan semakin ketat. 

Bagi partai lama, mereka takut kehilangan pemilihnya karena pindah ke lain hati. Sementara bagi partai-partai baru mereka takut tak lolos parlemen. Ini menimbulkan dilema tersendiri bagi partai yang hendak bertarung pada 2019 mendatang.

Selanjutnya, mungkin ada parpol baru yang lolos ke Senayan dan ada partai lama yang akan tersingkir. Kita bisa melihat dari tren survei menunjukkan itu semua. Karena banyak partai lama yang perjuangan politiknya jalan di tempat. Sementara partai baru mulai canggih menggaet pemilih dengan cara yang lebih kontekstual. Pemilu 2019 akan menjadi pertarungan hidup mati semua parpol menghadapi keserentakan pemilu di masa mendatang. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF