Hindari Pikiran Sempit Atasi Defisit
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
21 May 2019 10:35
Watyutink.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat akan perubahan cuaca yang sangat dinamis dengan potensi datangnya gejala El Nino yang dapat menimbulkan gagal panen dan kebakaran hutan. Parahnya lagi, bencana hydrometeorologi merupakan yang paling sering terjadi di Indonesia.

Badan itu menyebutkan ancaman dan jenis bencana hydrometeorologi tersebut adalah kekeringan dan banjir, serta tanah longsor saat curah hujan tinggi. Dampak lanjutannya akan sangat banyak seperti gagal panen, abrasi, hingga kebakaran hutan.

Sepanjang Januari hingga April 2019, BNPB mencatat sedikitnya 1.566 peristiwa bencana di Indonesia. Dari jumlah itu lebih dari 90 persen bencana yang terjadi merupakan bencana hydrometeorologi, sementara sisanya adalah bencana geologi.

Bencana ini tentu menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan nasional. Sektor pertanian akan terkena dampaknya berupa penurunan produksi. Yang dikhawatirkan juga adalah pengaruhnya terhadap penyediaan kebutuhan pokok masyarakat seperti beras, minyak goreng, dan produk pertanian tujuan ekspor yang menjadi andalan Indonesia.

Pada saat yang hampir bersamaan, Indonesia juga mengalami defisit neraca perdagangan. Perang dagang antara AS dan China yang semakin sengit dan diperkirakan berlangsung tidak dalam jangka pendek berdampak pada ekspor Indonesia, menimbulkan defisit hingga 2,5 miliar dolar AS pada April 2019. Jika tidak ada perbaikan kinerja ekspor dan pengendalian impor, tidak mustahil defisit akan terus  terjadi.

Perhelatan demokrasi 5 tahunan yang masih menyisakan PR gugatan kecurangan penghitungan suara dalam Pemilu membuat bangsa ini belum bisa hidup tenang. Alih-alih masayarakat adem dan tenteram dengan kepastian kepemimpinan negara 5 tahun ke depan, tantangan justru makin berat dengan adanya potensi bencana hydrometeorologi dan defisit neraca perdagangan yang masih menganga.

Padahal keduanya, kelangsungan pertanian yang baik dan surplus neraca perdagangan, dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan sekaligus memperkuat ekonomi nasional. Produksi (pertanian) serta ekspor mempunyai peranan penting dalam menyeimbangkan permintaan dan penawaran. Permintaan berasal dari perusahaan untuk keperluan investasi (investment/i), pemerintah (government/g) melalui belanja, rumah tangga (consumption/c), dan ekspor (x) yang membutuhkan produk dalam negeri. Sementara itu, penawaran adalah produksi dalam negeri (y) dan barang yang didatangkan melalui impor (I). 

Dalam keadaan seimbang antara permintaan dan produksi tidak ada kehawatiran akan terjadi kelangkaan dan tidak ada ekses yang ditimbulkan. Secara matematis keseimbangan itu diformulasikan sebagai  y + m = i + g + c + x. Dengan memperhitungkan pengaruh neraca berjalan yang terdiri dari ekspor (x) dan impor (i) terhadap keseimbangan agregat, persamaan tersebut disusun ulang menjadi y = i + g + c + (x-m).

Dari persamaan tersebut secara sederhana bisa menjelaskan mengapa neraca berjalan (x - m) perlu diseimbangkan, jangan sampai berubah ke arah negatif, tetapi justru harus dibuat positif. Bila positif, dimana ekspor lebih besar dari impor maka akan terjadi surplus, semakin banyak devisa yang dihimpun.

Sebaliknya, jika impor lebih besar nilainya dari ekspor maka akan terjadi defisit yang harus ditutup dengan cara melepas aset pemerintah melalui privatisasi BUMN, melepas cadangan devisa, atau berutang.

Cara penyelesaikan defisit seperti itu memiliki keterbatasan. Devisa bisa habis terkuras, aset ludes terjual, sementara utang meminta pengembalian investasi (return) yang tidak kecil, disamping  jaminan aset juga.

Di sisi lain, defisit neraca yang terus menerus menunjukkan ada hal fundamental yang terjadi di Tanah Air, yakni adanya kelebihan permintaan seperti meningkatnya konsumsi rumah tangga, pemerintah, dan perusahaan atau adanya kemungkinan penurunan produktivitas.

Untuk mengembalikan keseimbangan, pilihannya adalah mengendalikan sisi permintaan dengan mengerem pengeluaran pemerintah sekaligus menaikkan pajak, mengeluarkan kebijakan pengetatan moneter untuk menahan laju konsumsi dan investasi. Namun pilihan stabilisasi ini tidak populer, cenderung ditentang, dan efektif dalam jangka pendek saja.

Pilihan lain adalah meningkatkan produksi dalam negeri yang bersifat jangka panjang melalui  reformasi struktural dengan merevitalisasi kelembagaan, melakukan deregulasi dan debirokratisasi, menyediakan infrastruktur dan teknologi, serta memacu pemanfaatan ekonomi digital yang semuanya bermuara pada peningkatan produktivitas nasional. 

Bangsa Indonesia dihadapkan pada dua pilihan tersebut sebagai tawaran untuk menqatasi defisit neraca berjalan. Di tengah potensi ancaman bencana hydrometereologi, tidak mudah mengambil keputusan. Tapi yang perlu diingat, hindari pemikiran sempit yang justru dapat memperparah defist.  Lalu, adakah pilihan ketiga?

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan