Gaya Pidato Capres Pengaruhi Pemilih
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 08 October 2018 17:30
Tak hanya latar belakang pendidikan, kedua Calon Presiden (Capres) 2019 memiliki karakter dan gaya berpidato yang jauh berbeda. Gaya pidato Jokowi dianggap lebih luwes dan santai. Sedangkan gaya berpidato Prabowo lantang dengan nada yang keras. Apakah gaya berpidato keduanya menunjukan karakter asli dari keduanya atau sekadar membangun citra di hadapan pendukung masing-masing? 

Awal Oktober 2018, Prabowo cerita soal dirinya tolak saran dari salah seorang pendukung untuk tidak berpidato dengan nada keras dan lantang, dalam menanggapi isu nasional. Juru bicara Tim Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan alasan penolakan tersebut karena Prabowo merupakan sosok yang autentik dan tak suka pencitraan. Gaya pidato keras mengkritik pemerintah, merupakan gaya original Prabowo.

Namun, gaya Prabowo yang lantang dan berapi-api dalam melontarkan pidatonya dikritik oleh Partai Hanura. Politisi Hanura Inas Zubir menilai pidato Prabowo kerap disampaikan dengan berapi-api, tapi isinya tidak karuan. Inas juga menuding, gaya berpidato demikian membuat hasil survei elektabilitas Prabowo hingga kini tidak juga bertambah. Apakah  gaya berpidato berpengaruh terhadap elektabilitas capres-cawapres?

Sementara itu, pada awal menjabat sebagai presiden, gaya bahasa pidato Jokowi dinilai pengamat taktis dan konkrit. Pertengahan 2018, Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon menuding Jokowi kekinian meniru gaya berpidato Prabowo. Tudingan tersebut dibantah oleh PDIP. PDIP menyebut gaya berpidato Jokowi merupakan variasi, bukan luapan emosi atau kekecewaan. Apa tujuan Jokowi menampilkan variasi gaya dalam berpidato?

Ada pidato Jokowi yang dianggap memiliki makna bersayap dan berpotensi memicu konflik (provokasi), seperti pidato dihadapan Rapat Umum Relawan Jokowi 2018 dan ujarannya dalam Rakernas Relawan Pro Jokowi (Projo). Namun sebagian kalangan menilai, pidato Jokowi tersebut adalah untuk kalangan terbatas, dan bertujuan untuk memotivasi pendukungnya. Apakah tim komunikasi Jokowi sudah berupaya memperhatikan penggunaan diksi yang akan digunakan dalam pidato?

Pasca pidato bersayap yang beberapa kali terjadi, muncul beragam respon dari masing-masing pendukung. Masing-masing pendukung membela mati-matian kandidat yang dijagokan. Tak jarang, terjadi gesekan antar pendukung kedua kubu. Gesekan tersebut dianggap sejumlah kalangan mengabaikan nilai persatuan, kesatuan dan persaudaraan sesame anak bangsa. Apakah yang harus dilakukan oleh para pemangku kepentingan dalam Pilpres 2019 supaya persaudaraan kita tidak terancam?

Melihat gaya berpidato dan konten yang disampaikan di dalamnya, apakah kedua kontestan lebih memikirkan bagaimana caranya menjatuhkan lawan ketimbang memikirkan persatuan dan kesatuan bangsa ketika mempersiapkan pidato atau ujaran kepada pendukungnya? Apakah sudah ada upaya dari masing-masing kubu kontestan Pilpres 2019 untuk meminimalisir potensi konflik yang mungkin terjadi antar masing-masing pendukung? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Komunikasi Politik Nasional & Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner

Jokowi dan Prabowo memang mempunyai gaya pidato yang berbeda. Jokowi memiliki keunggulan berpidato dalam hal konten yang disajikan. Secara pola tradisional ethos, pathos dan logos seperti zaman Plato, Prabowo juga memiliki kapabilitas dalam hal membangkitkan emosi dan keinginan. Tapi itu berguna di zaman dahulu. Kini gaya berpidato tidak lagi menjadi terlalu penting atau substantif.

Gaya berpidato bukanlah variable utama dalam meningkatkan elektabilitas, itu sekadar variable pendukung. Menurut saya masyarakat atau pemilih Zaman Now lebih melihat kepada program-program yang ditawarkan oleh para pasangan calon (paslon). Program-program yang menjawab persoalan yang mereka hadapilah yang akan dipilih atau didukung, bukan gaya berpidato, berpakian dan sebagainya.

Pemilih zaman now itu lebih rasional dan berpendidikan. Mayoritas dari mereka adalah kelompok yang tertarik di bidang kreatif. Siapa dari dua paslon ini yang mampu menawarkan program kreatif dan ekonomi kreatif, besar kemungkinan akan mendapatkan dukungan dari pemilih zaman now ini. Pendekatan kepada pemilih Zaman nNow lebih kepada pendekatan rasional melalui program, bukan lagi gaya berpidato yang berapi-api seperti zaman dahulu.

Nah, menurut saya masyarakat baik pendukung kedua paslon atau bukan pendukung, tidak perlu berkonflik. Perbedaan pilihan politik itu adalah hal yang wajar. Kita berbeda agama saja masih bisa hidup berdampingan, tanpa harus berpisah. Itu agama, sesuatu yang dasar dan imani. Apalagi hanya berbeda pilihan politik saja. Jadi pilihlah paslon yang program-programnya menjawab apa yang menjadi kebutuhan.

Selain itu hipotesa saya, Jokowi dan Prabowo adalah bersahabat. Mereka mungkin sering melakukan komunikasi melalui telepon. Jadi, saya tidak mau menyebut keduanya adalah competitor, melainkan keduannya adalah kawan berkompetisi. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dewan Pakar PA GMNI

Sebagaimana menulis, pidato politik adalah kerja keabadian. Tak ada pidato yang tanpa maksud dan rencana. Ahli pidato disebut juga orator, propagandis yang mengumandangkan agenda didalamnya: tersurat maupun tersirat.

Saya bukan ahli pidato yang paham cara berpidato yang ideal. Yang pasti, pidato politik adalah suatu penegasan, pengesahan publik dari agenda sang orator. 

Gaya berapi-api umumnya mendukung esensi dan isi pidato. Gaya bisa memikat, namun bisa juga memuakkan. Apalagi bila pihak yang mendengar sudah membentuk "frame" dan persepsi tertentu terhadap sang orator. Itulah kacaunya. Bila kebencian terhadap sang orator sudah mendominasi persepsi seseorang, maka buruklah semua yang dipidatokan dari a sampai z. Padahal, jangankan kawan politik, dari lawan politik sekalipun bila terkandung kebenaran didalam pidatonya, patut dikunyah sebagai cermin yang retak. Yang memperlihatkan sisi "buruk rupa" dari pihak yang ia kritik.

Berbeda dengan capres, maka pidato harus mengandung makna yang lebih luas dan penuh kearifan, yang melampaui batas-batas kepentingan dirinya, pendukungnya, dan follower  -nya. Pidato seharusnya tidak hanya menyenangkan mereka tapi yang menyenangkan seluruh  bangsanya, karena pidato capres selain untuk meraih dukungan politik, juga untuk mendidik dan membesarkan bangsanya. Bukan semata membesarkan kelompok dan pengikutnya semata. 

Saya percaya, bahwa Pancasila seharusnya telah terpatri dihati, dipikiran, dan diperilaku para capres/cawapres karena mereka adalah orang-orang pilihan. Sehingga setiap kata dan kalimatnya harus dapat dipertanggung jawabkan, karena sudah bermuatan nilai-nilai Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum di negeri ini.

Sangat menyedihkan apabila Pancasila sebagai asas bersama seluruh komponen bangsa sudah kehilangan relevansi dan tidak lagi menjadi common platform, maka mungkin kita tinggal menunggu waktu saja akan hancurnya persatuan diantara berbagai golongan dan komunitas dalam bangsa Indonesia. Yang tersisa hanyalah "transaksi politik" diantara politisi serta kontrak kepentingan dengan "bandar", dimana ideologi sudah luntur dan dilunturkan. Persatuan nasional atas dasar rasa kebangsaan pun sudah hanyut bersama ungkapan kebencian (hate speech) yang dipompa setiap saat terutama melalui medsos.

Hal ini mengingatkan kita pada ungkapan  bung Hatta sebagai "persatean nasional". Persatean nasional adalah selemah-lemahnya persatuan sebuah bangsa berdaulat. Tabik! (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Mercu Buana dan Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia

Saya kira gaya mereka berpidato sudah menunjukkan karakter mereka sendiri dan bukan membangun citra diri. Hal ini kita bisa lihat dari beberapa mereka tampil sejak maju capres.

Nah, sebenarnya bukan soal gaya pidato yang memikat rakyat, tapi soal kemampuan meyakinkan pemilih dengan argmentasi programnnya. Kekuatan argumentasi program itu jauh lebih efektif ketimbang suara lantang.

Terkait variasi gaya pidato Jokowi, itu bertujuan untuk memberikan penegasan terhadap sesuatu yang penting. Dengan demikian ada penegasan dan punya makna di dalamnya.

Namun, saya kira memang perlu ada perhatian khusus tim kampanye agar penggunaan diksi Jokowi tidak mengandung perdebatan apalagi dia petahana.

Untuk kedua kandidat, mereka harus menunjukan sikap negarawan dalam berbagai kesempatan. Dengan demikian rakyat akan mengikutinya. Ajari rakyat dengn nilai-nilai positif dalam berpolitik, sebab tujuan politik itu untuk kesejahtraan rakyat bukan untuk menguasai.

Saya kira ini yang paling penting mereka harus mampu menunjukan sikap kedewasaan dalam berpolitik sehingga proses demokrasi ini berjalan damai dan aman. Caranya dengn membendung berbagai isu, ilusi, hoaks dan juga hal-hal yang bisa memecah belah bangsa. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi