Debat Pilpres 2019 Sekadar Formalitas?
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 08 January 2019 17:30
Penulis
Watyutink.com - Pemberian kisi-kisi pertanyaan dalam Debat Pilpres 2019 menuai kritik publik. Sebagian kalangan menilai model itu akan menurunkan kualitas debat. Tapi sejumlah elite dari kubu petahana dan oposisi menganggap, membocorkan pertanyaan sebelum debat berlangsung merupakan pilihan terbaik.

Sebelumnya, KPU bakal memberikan 20 pertanyaan kepada masing-masing capres-cawapres, Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi, sebelum acara debat berlangsung pada 17 Januari 2019. Dari 20 pertanyaan tersebut, masing-masing kandidat hanya mendapat tiga pertanyaan saat debat. Menurut KPU, model ini sudah disepakati kubu Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi.

Masih bisakah acara debat jadi alat untuk menilai kualitas kandidat? Sebab, dengan model pertanyaan terbuka, para kandidat sudah mempersiapkan jawaban sedari awal. Tak lagi spontan.

Selama ini pertanyaan selalu diberikan kepada kandidat saat debat digelar, baik pilpres maupun pilkada, sehingga publik pun mendapati jawaban kandidat yang spontan. Dengan jawaban yang spontan inilah, maka publik bisa menilai kandidat mana yang lebih menguasai tema. Penilaian publik tersebut boleh jadi yang mempengaruhinya menentukan pilihan di bilik suara.

Meski begitu, KPU berdalih model pertanyaan terbuka supaya jawaban dari kedua pasangan calon lebih mendalam dan bisa diuraikan dengan jelas dan utuh. Sepintas lalu, kehendak KPU ini dapat dipahami. Apalagi, gelaran beberapa debat pilpres sebelumnya masih dinilai belum substansial. Bahkan terkadang forum ini justru jadi ajang saling sindir dan saling serang yang terkesan tendensius.

Lalu, sejauh mana kisi-kisi pertanyaan bisa menjamin jawaban debat akan lebih mendalam? Sebab, masing-masing calon tetap masih bisa memberikan pertanyaan tertutup. Bahkan pertanyaan kandidat inilah kerap kali berisi pertanyaan jebakan, sehingga membuat suasana debat tak kondusif.

Kisi-kisi pertanyaan itu boleh jadi sama sekali tak diperlukan, sebab KPU sudah menentukan tema dalam lima kali debat Pilpres 2019. Tema debat 17 Januari 2019, misalnya, membahas soal hukum, hak asasi manusia, korupsi, dan terorisme. Dengan adanya tema debat tersebut, perhelatan debat bisa berlangsung secara substansial sekalipun tanpa pertanyaan terbuka. Jika kedua kubu tetap membutuhkan kisi-kisi pertanyaan, apakah kedua kubu sama saja tidak menguasai tema debat?

Boleh jadi publik menanti-nanti forum debat pilpres, salah satu metode kampanye, untuk mengetahui gagasan dari kedua kubu, Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi. Apalagi, masa kampanye Pilpres 2019 selama sekitar tiga bulan belakangan ini dinilai kurang substansial.

Sayangnya, sebagian kalangan menilai model pertanyaan terbuka membuat debat tak lebih sekadar formalitas belaka. Bahkan dinilai langkah KPU itu bisa mempertaruhkan kualitas demokrasi. Jika demikian, apa iya sudah tak ada tempat lagi untuk beradu gagasan secara serius pada Pilpres 2019?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Kedua kubu tim sukses memang senang dan suka jika capres dan cawapresnya diberi pertanyaan terlebih dahulu. Karena bisa mempelajarinya dan persiapan terlebih dahulu. Baiknya memang pertanyaan semuanya dilakukan secara tertutup. Untuk menguji kualitas pengetahuan otentik dari para kandidat. Jika pertanyaan sudah diberitahu, kurang menarik dan tidak seru.

Meski menggunakan model pertanyaan terbuka, saya pikir debat Pilpres 2019 masih bisa dijadikan alat ukur untuk menilai kualitas kandidat. Tapi jawabannya sudah tidak orisinil lagi, karena sudah disiapkan dari awal.

Memang biasanya sesuatu yang dipersiapkan dengan baik, akan menghasilkan penampilan yang baik pula. Kisi-kisi pertanyaan dari KPU sangat membantu para kandidat untuk menyampaikan visi, misi, dan program-programnya secara bermutu dan berkelas. Dan bisa mengeksplorasi jawaban dengan mendalam. Karena segala sesuatunya sudah dipelajari.

Harusnya dengan kisi-kisi atau tanpa kisi-kisi, pertanyaan terbuka atau tertutup, para kandidat harus mampu mempresentasikan gagasannya dengan baik. Ini debat capres-cawapres, harus menguasai materi dan harus berkualitas. Bukan debat warung kopi pinggiran jalan yang pembahasannya ngawur kemana-mana.

Sejatinya debat harus menjadi momentum terbaik untuk menyampaikan visi, misi, dan program terbaik. Berbobot, substansial, dan penuh dengan ide-ide segar untuk pembangunan Indonesia lima tahun kedepan.

Hilangkan pesimisme. Bangun optimisme. Dan saya yakin debat nanti akan menarik dan memberi pencerahan bagi rakyat Indonesia. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Kepala Humas dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Mekanisme debat dengan memberikan soal sebelum acara debat berlangsung sama dengan membuat ujian tertutup kepada mahasiswa tapi telah membocorkan soal terlebih dahulu kepada mahasiswa. Ini pilihan dungu, kalau boleh mengutip istilah Rocky Gerung.

Model seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Pada Pilkada Serentak 2017 lalu, penulis pernah menjadi panelis debat kandidat bupati Aceh Utara, yang soal untuk calon bupati dibacakan oleh moderator. Memang model seperti itu saja dirasa tidak tepat, karena ekspresi oral dari panelis pasti tidak tertangkap oleh calon bupati-wakil bupati. Apalagi ketika soal sudah dibocorkan terlebih dahulu.

Nampaknya KPU mulai "lemah" ketika pihak Prabowo-Sandi sudah menunjukkan sikap "tidak siap debat", sehingga akhirnya dibuatlah debat rasa ningrat seperti ini. Padahal esensi debat adalah ingin menguji pengetahuan umum dan proses nalar orang secara langsung, tidak diperantai. Setiap peserta harus siap dengan pertanyaaan-pertanyaan yang mengejutkan.

Jika flash back pada debat Pilpres 2014, terlihat Prabowo keteteran karena beberapa kali terlihat tidak menguasai pertanyaan. Makanya momen itu tidak ingin mendelegetimasi Prabowo-Sandi pada saat ini ketika mereka tidak siap dengan pertanyaan tajam, sehingga terlihat sebagai pasangan yang tidak kritis.

Namun, bukankah ini menjadi kontradiktif ketika pada beberaa waktu lalu pasangan Prabowo-Sandi malah meminta debat dalam bahasa Inggris? Bukankah itu hanya untuk bergenit-genit ria cas cis cus, untuk menutupi kelemahan pada konsep dan isi debat?

Publik pasti kecewa dengan model debat ala Hollywood ini. Tidak ada lagi drama dan thriller-nya. Debat ini akan sangat membosankan, terutama bagi kaum milenial yang suka dengan sikap kritis dan spontan. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Kapasitas Sumber Daya Lokal yang Menjadi Hambatan             Konglomerasi Media dan Pilpres             Kuatnya Arus Golput: Intropeksi Bagi Parpol             Golput Bagian dari Dinamika Politik             Parpol ke Arah Oligharkhis atau Perubahan?             Melawan Pembajak Demokrasi             Pilih Saja Dildo             Golput dan Migrasi Politik             Golput Bukan Pilihan Terbaik             Golput dan Ancaman Demokrasi