Debat Pilpres 2019: Saatnya Adu Gagasan
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 17 January 2019 16:30
Penulis
Debat Pilpres 2019 tinggal menghitung jam. Ajang pemaparan visi, misi, dan program capres-cawapres ini bakal digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, pukul 19.00 malam ini. Terlepas dari segala kontroversi yang sempat muncul terkait pelaksanaan debat, boleh dibilang ini menjadi momentum Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi untuk beradu gagasan.

Selama ini, masing-masing kubu dinilai kerap mempertontonkan kampanye nir-substansi selama masa kampanye dalam tiga bulan terakhir ini. Realitas kampanye yang demikian diyakini membuat kualitas demokrasi elektoral tak mengalami peningkatan, bahkan bisa menjadi pilpres terburuk sejak Reformasi.

Menurut Anda, sejauh mana keseriusan kedua kandidat mengedepankan gagasan yang rasional dalam debat? Selain itu, publik berharap bahwa gagasan yang diberikan kandidat juga tak sekadar retorika. Lantas, apakah kandidat akan menyampaikan gagasannya berbasis data yang komprehensif?

Kubu Jokowi dan kubu Prabowo telah berkomitmen akan fokus terhadap tema (hukum, HAM, korupsi, dan terorisme). Sikap demikian tentu sejalan dengan harapan publik. Apalagi, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah memberikan kisi-kisi pertanyaan kepada kedua kandidat sebelum debat berlangsung.

Kedua kubu berjanji tidak akan menyerang individu. Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Arsul Sani mengatakan bahwa pihaknya sudah bersepakat untuk tidak masuk kepada hal-hal yang bersifat personal. Sementara dari kubu oposisi, komitmen tersebut disampaikan Sandiaga Uno. Bahkan Sandi menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin ‘saling serang’ dalam debat.  

Meski begitu, kekhawatiran adanya serangan bersifat personal masih saja terjadi. Kekhawatiran ini tentu tak berlebihan, sebab masing-masing kandidat juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan tertutup--yang boleh jadi bersifat personal. Apalagi, pertanyaan tertutup yang disampaikan kandidat pada Pilpres 2014 lalu dinilai menjadi ajang untuk saling menjebak satu sama lain. Jika serangan personal terjadi lagi pada debat malam ini, bagaimana seharusnya publik bersikap?

Dari sisi elektoral, debat Pilpres 2019 menjadi momentum untuk meningkatkan jumlah suara demi mengunci kemenangan pada 17 April 2019 mendatang. Meski dinilai tak mempengaruhi pendukung ‘fanatiknya’, tapi sebagian kalangan menganggap debat ini amat menentukan pilihan politik swing voters--yang jumlahnya berada dikisaran 20 persen dari total pemilih. Dengan kata lain, kandidat yang menyampaikan gagasan yang rasional lah yang akan dipilih swing voters.

Pada titik ini, tentu publik berharap adu gagasan tak hanya terjadi di debat pilpres, tapi dilakukan masing-masing kubu selama sisa waktu masa kampanye sampai April 2019. Hal ini agar setiap pemilih menentukan pilihan berbasis penilaian gagasan siapa yang paling unggul, bukan pertimbangan like and dislike yang dinilai hanya mendegredasi bangsa Indonesia. Lantas, sejauh mana potensi masing-masing kubu kembali lagi ke kampanye nyinyir seusai debat?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Politik, Dosen Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah

Debat Pilpres 2019 ini merupakan amanat UU Pemilu, yang digelar 5 kali oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Karena ini cukup efektif untuk mempengaruhi swing voters yang mencapai 20 persen, maka saya cukup yakin dua kandidat ini akan menyampaikan gagasan berbasis data. Entah data apa yang bakal mereka gunakan. Kalau data pemerintah tentu data-data yang dimiliki Badan Pusat Statistik (BPS) dan lembaga lainnya.

Data oposisi sebagai pembanding yang selalu menarasikan bahwa Indonesia salah urus dan segala macamnya, ya, itu yang ditunggu oleh rakyat. Kalau diamati sejak awal sampai sekarang, narasi-narasi itu tidak disertai dengan data yang cukup komprehensip.

Jika debat Pilpres 2019 hanya retorika belaka. Ini sama saja dengan siap-siap bunuh diri politik, kerena tidak akan dipercaya oleh rakyat. Sebab debat ini bukanlah lomba pidato. Jadi dua kandidat ini bukan hanya lomba pidato, yang hanya mengandalkan retorika bombastis dengan menggunakan istilah-istilah yang provokatif.

Selain narasi berbasis data, publik juga menanti bagaimana komitmen kandidat kedepan kalau diberikan amanah untuk memperbaiki ekonomi, sosial, politik, dan seterusnya. Kan itu yang sebenarnya ditunggu publik. Sekali lagi, debat kandidat Pilpres 2019 jangan pernah jadikan sebagai ajang lomba pidato. Ini debat kandidat untuk mencari calon pemimpin kedepan.

Kalau tidak punya data, maka siap-siap akan menjadi kuburan bully-an bagi banyak orang. Apalagi, kisi-kisi pertanyaannya sudah diberikan jauh-jauh hari. Jadi, tidak ada alasan debat tanpa menyampaikan data. Titik. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF