Bocornya Pertemuan Rahasia
berita
Politika
Sumber Foto: fajar.co.id (gie/Watyutink.com) 29 April 2018 16:00
Pertemuan rahasia Presiden Joko Widodo dengan Persaudaraan Alumni (PA) 212 di Istana Bogor, Minggu (22/4/2018), bocor. Hal ini, mengundang banyak tanya dari publik. Seperti dijelaskan oleh TIM 11, pertemuan tersebut disepakati tertutup.

Sebelum pertemuan, ponsel (HP) mereka disita/dikumpulkan, sehingga tidak memungkinkan mereka merekam atau mengambil foto. Lantas, siapa yang membocorkan pertemuan yang bersifat rahasia itu?

Pertemuan yang semula disepakati tertutup itu, bocor ke media dua hari kemudian. Foto yang beredar tanpa penjelasan resmi itu segera menimbulkan banyak spekulasi. Berita yang beredar, banyak umat Islam yang bersimpati maupun terlibat dalam aksi 212, marah dan mengutuk pertemuan tersebut.

Politisi PDIP Eva Sundari segera "menggoreng"nya di media. Ia menilai bahwa sebagian dari Persaudaraan Alumni (PA) 212 sudah paham soal sosok Jokowi yang bekerja dengan baik. Hal itu menjadi salah satu alasan pertemuan antara kedua belah pihak. Apa dasar argumen Eva Sundari tersebut?

Terlanjur bocor, para tokoh ulama itu akhirnya memutuskan untuk menggelar jumpa pers, Rabu (25/4/2018), di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Dalam penjelasannya, Sekretaris Tim Sebelas Alumni 212 Muhammad Al Khaththath menegaskan, pertemuan tokoh alumni 212 dengan Presiden Jokowi tidak ada kaitannya dengan Pilpres. Bahkan dia dengan tegas menepis isu beredar tentang dukungan alumni 212 terhadap Jokowi terkait pertemuan di istana Bogor tersebut.

Beberapa waktu sebelumnya, juga terjadi pertemuan rahasia antara Luhut Binsar Pandjaitan dan Prabowo Subianto. Pertemuan rahasia yang kemudian diendus oleh jurnalis asing John McBeth. Seperti kita tahu, Luhut adalah “The President’s man”. Luhut selalu ada di dekat Jokowi. Bahkan, dalam banyak pertemuan penting, baik bilateral maupun Internasional, Luhut selalu hadir dan berbicara di depan wartawan memberikan penjelasan tentang pertemuan-pertemuan tersebut mewakili Presiden. Sementara kita ketahui, Prabowo digadang-gadang bakal calon lawan Jokowi di Pilpres 2019 mendatang.

Pertemuan rahasia ini pun "digoreng" oleh salah seorang ketua partai pendukung Jokowi, Muhammad “Romi” Romahurmuziy, tentang rencana menggandengkan Prabowo sebagai cawapres Jokowi, serta deal-deal yang diminta oleh Prabowo jika ia menerima pinangan Jokowi. Bukan hanya Romi, Sekjen Partai Nasdem Jhonny G Plate juga ikut-ikutan menggorengnya.

Dilihat dari konteks kenegaraan dan semangat yang diusung, pertemuan Presiden Jokowi dengan sejumlah tokoh sangat baik untuk mencegah perpecahan bangsa. Begitu pula dengan pertemuan Jokowi dengan tokoh umat yang tergabung dalam elemen PA 212, tentu sangat bagus. Umaro’ (penguasa) bertemu dengan ulama, memang harus menjalin silaturahim yang baik untuk kemaslahatan umat.

Masalahnya menjadi berbeda ketika itikad baik pertemuan–baik yang sifatnya rahasia atau bukan, dikotori dengan kepentingan politik pragmatis, apalagi kalau bukan raupan suara dan dukungan, serta penghancuran lawan politik dengan menghalalkan segala cara.

Nah sekarang tugas Jokowi untuk menjelaskan kepada publik, siapa yang membocorkan foto tersebut, dan apa tujuannya? Sebab bila tidak segera dijelaskan, akan sangat merugikan Jokowi sendiri. Orang menjadi takut bertemu dengan Jokowi, apalagi berbicara hal-hal yang bersifat rahasia. Salah-salah akan kembali dibocorkan.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(jim)

SHARE ON
OPINI PENALAR

Saya agak sulit mencari pendekatan yang bisa digunakan untuk membaca "Pertemuan rahasia antara Presiden dan PA 212". Pertama, karena pertemuan dan isi pertemuan adalah dua hal berbeda. Yang satu tidak mungkin dirahasiakan kecuali pertemuan intelijen, satunya lagi memungkinkan untuk dirahasiakan baik seluruhnya maupun sebagian tergantung kesepakatan. Dalam dunia jurnalistik pun lazim permintaan  "off the record ". Pertanyaanya apakah pihak-pihak yang bertemu itu memang para intelijen, rasanya kok bukan.

Kedua, pertemuan atau dalam bahasa agama silaturrahim adalah perbuatan yang positif bahkan diajarkan oleh Nabi Muhammad. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim”. Lantas bagaimana mungkin melakukan sesuatu yang diajaran Nabi kok malu diketahui publik.....

Ketiga, pertemuan yang dilakukan selain intelijen dan minta dirahasiakan kemungkinanannya bisa jadi membahas sesuatu yang "tidak layak/tidak patut". Tapi saya tidak yakin kalo presiden dan orang-orang PA 212 membahas sesuatu yang negatif, terlebih pertemuan diadakan di istana negara (sangat impossible).

Lalu apa maksud dari semua itu? Sungguh kesulitan tingkat dewa untuk bisa memahaminya, dan kesulitan itu membuat tidak menarik untuk mencari oknum penyebar informasi dari pertemuan "fiksi". Wallahu A'lam Bishawab. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti LIPI, Pengamat Politik 

Namanya pertemuan rahasia, semestinya kerahasiaannya terjaga rapat dan ada kepastian tak akan bocor ke publik. Apalagi itu dilakukan oleh RI-1. Tapi realitasnya pertemuan rahasia itu sudah menjadi pengetahuan publik dan dibahas cukup luas apa maksud dan tujuan serta substansinya. 

Ada yang menilai positif karena dianggap bisa menjadi penawar konflik terkait isu agama. Tapi tak sedikit pula yang menilai pertemuan tertutup tersebut sebagai suatu pengkhianatan terhadap perjuangan 212. Soliditas dan konsistensi 212 dipertanyakan karena pertemuan tersebut. 

Masalahnya, apa yang bisa dirahasiakan di era keterbukaan dan kecanggihan IT saat ini? Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu sempat tersiar tentang bocornya dukumen Wikileak yang cukup mengguncang dunia karena terkait dengan kebijakan luar negeri Amerika dan  dampaknya terhadap negara lain termasuk Indonesia. Artinya, tanpa teknologi canggih pun kemungkinan bocornya dokumen sangat terbuka. Apalagi dengan perkembangan pesat IT saat ini yang memungkinkan siapapun untuk bisa mengakses informasi.

Pengalaman itu bisa menjadi petunjuk bahwa sifat confidential ternyata tak memberikan jaminan kerahasiaan. Apalagi di tahun politik saat ini yang hampir semua topik bisa dijadikan komoditi politik: siapa berperan apa dan siapa mendapat apa.

Di tahun politik ini juga aktivitas para elite politik akan selalu dikaitkan dengan kepentingan dan motivasi politik menyongsong Pemilu 2019. Deklarasi 5 parpol (Golkar, PDIP, Nasdem, Hanura dan dukungan PPP) untuk mendukung Jokowi dalam Pilpres 2019 membuat publik sadar bahwa Jokowi tak hanya sebagai presiden tapi juga sekaligus menyandang predikat sebagai petahana (incumbent). Intensitas kunjungan yang neningkat belakangan ini, baik ke daerah-daerah maupun ormas-ormas atau komunitas-komunitas Islam, dipertanyakan publik. Muncul curiosity beberapa kalangan tentang kecenderungan bergesernya pola relasi Jokowi (sebagai presiden) dengan kaum Muslim: apakah ini untuk mencari dukungan politik ummat Islam. Mengingat sebelumnya hubungan itu kurang harmonis dan tidak sinergis.

Gerak langkah Jokowi ini bahkan juga diikuti oleh pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh dua Menkonya yaitu Luhut Binsar Panjaitan dan Wiranto yang masing-masing menemui Prabowo dan SBY. Masalahnya apakah kegiatan-kegiatan politik praktis tersebut berkaitan dengan tugas pokok fungsinya. Bukankah kedua Menko tersebut tidak sedang menjabat sebagai ketua umum partai. Tidakkah partai-partai yang berkoalisi memiliki tanggung jawab dalam membangun dan melakukan komunikasi politik yang efektif untuk calon yang diusung. Mengapa pendekatan kekuasaan (pemerintah) tampak sangat kental digunakan.

Mengapa petahana tidak memfungsikan parpol-parpol pendukungnya untuk melakukan  komunikasi politik dengan ketum-ketum parpol oposisi. Beberapa pertanyaan ini yang membuat publik kurang memahami gerak langkah Jokowi belakangan ini: apakah sudah in the right track atau sebaliknya justru malah membuatnya jadi kurang trusted. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Arsitek, Aktivis dan Penulis

Dampak dari demo 212 adalah: uji teori daripada pembuatnya. Ribuan penulis terus mencoba menerka-nerka kemanakah  ‘air bah’ ini akan mengalir. Apa saja yang akan disapu dan diterjang. Dan setelah ‘erupsi’ 212, mungkinkah tanah di Pulau Jawa akan kembali subur?

Dampak dari 212 sangat ditunggu oleh para hulubalang pemain politik dalam negeri dan di luar negeri. Apa yang terjadi setelah ini? Termasuk sangat ditunggu oleh PDIP, yang kini menguasai panggung politik nasional.

Seperti banteng gendut yang ramah; PDIP mengizinkan dirinya untuk dipatuk oleh burung; dicapit kakinya oleh kepiting dan sesekali mengibaskan ekornya karena nyamuk yang hinggap. Dan itu semua menjadi kajian bagi PDIP, siapakah lawan dan siapakan teman?

Semakin terang, dan kisruh itu menjadi lebih baik bagi PDIP. Soalnya PDIP yakin, satu-satunya penghalang dari segala praktik-praktik pembangunan versi PDIP adalah lawan-lawan yang bersembunyi dalam jubah-jubah pertemanan.

Sekarang ini yang terjadi sebenarnya bukan ulama-ulama 212 yang menekan pemerintah dan PDIP, melainkan merekalah kini yang menjadi serba salah dalam segala tindak tanduknya. Sekarang, mereka seperti sekelompok kelinci dalam ruangan kaca. Transparan dan terperangkap. Jokowi, baik sekali mau bertemu dengan para ulama ini. Dan yang tak dimengerti adalah para ulama 212 tidak mampu memecahkan kaca yang mengurung mereka. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Aktivis PIJAR & Jaringan Aktivis PRODEM

Bocornya pertemuan rahasia antara tim 11 Persaudaraan 212 (PA 212) dengan Presiden Jokowi di Istana Bogor beberapa waktu lalu masih menjadi perdebatan publik terutama di medsos. Selain menimbulkan pro dan kontra, bocornya pertemuan rahasia ini juga ada yang memaknai tidak solidnya pihak Istana. Bahkan ada dugaan yang lebih ekstrem ,yakni ada 'kontra intelijen' di dalam istana.

Ada dua hal yang patut dicermati dari polemik pertemuan ini. Yang pertama, bagaimana pertemuan rahasia tersebut bisa bocor ke publik? Siapa pelakunya? Bocor atau memang sengaja dibocorkan? Yang kedua, siapa yang diuntungkan dari polemik ini?

Suatu pertemuan tidak lagi menjadi rahasia jika kemudian diketahui oleh publik. Presiden memiliki perangkat kekuasaan yang besar yang mampu menjaga kerahasiaan tersebut. Dari berbagai media yang dilansir dari pernyataan tim 11 PA 212, dalam pertemuan tersebut tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi dan dokumentasi. Jika hal tersebut benar, maka secara logika saja kita bisa beranggapan bahwa yang paling mungkin melakukan dokumentasi pertemuan itu adalah pihak istana. Siapakah mereka? Tentu mereka yang menghadiri pertemuan tersebutlah yang lebih mungkin melakukannya. Dan sangatlah mungkin presiden mengetahui siapa sajakah mereka itu. Pertanyaannya, apakah bocornya pertemuan tersebut atas perintah Presiden Jokowi ataukah di luar perintahnya.

Yang menarik adalah jika bocornya itu dilakukan di luar instruksi Jokowi. Ini berarti ada seseorang atau sekolompok orang di sekitar presiden yang melakukan pembusukan internal, bisa disebut sebagai 'kontra intelijen'. Tujuan mereka tentu akan berbanding terbalik dengan keinginan dan kepentingan Jokowi, dan tentu akan berdampak pada upayanya mencalonkan kembali sebagai presiden pada Pilpres 2019 nanti.

Publik tentu masih ingat dengan peristiwa 'tragedi GBK'  saat Maruarar Sirait dianggap tidak etis memperlakukan Gubernur DKI Anies Baswedan saat pemberian gelar juara kepada Persija. Cuplikan foto peristiwa tersebut yang menjadi viral itu tentu bukan kebetulan semata, namun memang sudah direncanakan. Ada seseorang atau sekelompok orang yang memang memantau dan mendokumentasikan secara detail setiap peristiwa tersebut.

Lalu siapakah yang diuntungkan dengan peristiwa 'bocor' ini? Hemat saya, ya pihak 'kontra intelijen' tersebut. Sebab baik Presiden Jokowi maupun PA 212 terkena imbas buruknya. Dari sisi Jokowi, hal ini jelas akan memperburuk tingkat kepercayaan terhadapnya. Siapapun akan aware dan kuatir jika diajak bertemu dengannya. Dari sisi PA 212, hal ini akan menimbulkan saling curiga dan ujungnya bisa menghancurkan soliditas yang telah mereka bangun. Yang terakhir ini mulai nampak pengaruhnya. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII)

Bocornya pertemuan Presiden Jokowi dengan Persaudaraan Alumni 212 di Istana Bogor dapat dipandang dari beberapa perspektif: teknologi, politik, dan sosial. 

Dari perspektif teknologi, saat ini sudah hampir tidak ada rahasia. Jangankan hanya pertemuan fisik yang kasat mata, rahasia-rahasia intelijen yang super rahasia pun bisa bocor ke publik. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga di negara biangnya intelijen, Amerika Serikat (AS). Bukankah semua telepon genggam tidak boleh masuk ke ruang pertemuan? Jangan lupa bahwa alat perekam saat ini sudah bervariasi bentuknya, bisa berbentuk pulpen, kaca mata, dan lain-lain. Demikian juga alat-alat perekam yang merupakan bagian peralatan suatu ruangan tidak selalu kelihatan. Dinding dan langit-langit ruangan bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi di suatu ruangan.

Dari perspektif politik variasi kemungkinan sangat banyak, di antaranya si pembocor bermotif jahat, atau menjatuhkan lawan, atau ia hanya seorang yang tak beretika. Kemungkinan yang pertama sangat berbahaya karena motifnya untuk memecah-belah bangsa. Dia tidak berpihak kepada siapapun, yang penting konflik antar komponen bangsa terjadi. 

Motif yang kedua sangat mungkin, sebab sudah menjadi rahasia umum adanya 'ketegangan' para pendukung PA 212 dengan pendukung fanatik Presiden Jokowi. Di tahun politik ini sangat masuk akal jika para pendukung kedua pihak saling 'menjatuhkan'.

Kemungkinan ketiga bisa saja si pembocor sebenarnya nggak punya niat jahat maupun menjatuhkan lawan, tetapi ia hanya orang yang tidak memiliki etika. Apa yang sudah disepakati untuk dirahasiakan, malah dibuka.

Dari perspektif sosial, di tengah masyarakat pembocoran rahasia, bahkan yang sangat pribadi sekalipun sudah sangat umum. Bukankah di masyarakat sudah lazim seseorang membisiki temannya atau tetangganya 'jangan bilang siapa-siapa', 'ini hanya kita yang tahu', 'ini rahasia lho'. Semua orang dipesan seperti itu oleh orang yang sama, atau oleh orang yang berbeda-beda secara berantai, yang akhirnya menjadi 'rahasia umum'. 

Dari perspektif manapun, semuanya menunjukkan bahwa "tidak ada rahasia di antara kita." (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Eko Listiyanto

Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

FOLLOW US

Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas