Beradu Strategi Naikkan Elektabilitas di Pilpres 2019
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 18 December 2018 11:30
Watyutink.com - Para kontestan capres-cawapres berupaya memanfaatkan waktu empat bulan jelang gelaran Pilpres 2019 semaksimal mungkin. Narasi pidato yang populis atau prorakyat, blusukan guna mendengar aspirasi pedagang, sampai memafaatkan momen-momen tertentu, dimaksimalkan untuk menarik simpati pemilih dan mendongkrak elektabilitas. Apakah strategi itu berhasil digunakan untuk mendongkrak elektabilitas para kontestasn Pilpres 2019?

Kehangatan dan keakraban Keluarga Presiden Jokowi dengan wartawan, mendapat respon positif dan negatif. Salah satu respon negatif datang dari Wakil Ketua Partai Gerindra, Fadli Zon. Dilansir dari tribunnews.com, Fadli Zon berkicau di akun twitter pribadinya dengan menulis "Liburan keluarga atau sinetron keluarga?,". Beragam respon dari netizen bermunculan. Bahkan ada cuitan yang secara terbuka dan langsung menyerang Wakil Ketua Umum Gerindra itu.

Ada pihak yang berpendapat, liburan keluarga bersama dengan wartawan adalah hal yang lumrah bagi setiap kepala negara. Bukan hanya Jokowi, mantan Presiden SBY, yang berkuasa selama dua periode, juga sering diambil foto bersama keluarganya oleh wartawan istana. Namun, kelompok lain menangkap pesan di balik keakraban keluarga Jokowi dengan wartawan seolah bermaksud menyampaikan pesan politik terhadap kawan berlombanya dalam Pilpres 2019.

Seperti diketahui, Capres 02 Prabowo Subianto sempat menunjukkan ekspresi dan melontarkan kata yang kurang bersahabat kepada wartawan salah satu stasiun televisi swasta nasional. Namun, apakah benar keakraban Keluarga Jokowi dengan wartawan bermaksud menunjukan pesan politik guna merespon kawan berlombanya dalam Pilpres 2019, atau itu sebagai suatu hal yang biasa saja tanpa pesan politik yang ditujukan kepada pihak tertentu?

Selain Jokowi, Cawapres 02 Sandiaga Uno dianggap memanfaatkan momen untuk memaksimalkan elektabilitas dirinya. Dilansir dari detik.com, ketika hendak blusukan, Sandi sempat diusir dari pasar Kota Pinang oleh seorang pedagang. Ada tudingan momen pengusiran itu diviralkan Tim Prabowo-Sandi, sebagai upaya rekayasa bermain playing victim. Namun, tudingan tersebut dibantah oleh Tim Prabowo-Sandi. 

Ada pendapat mengatakan playing victim menjadi salah satu strategi yang digunakan untuk mencari simpati pemilih dan meningkatkan elektabilitas dalam kontestasi politik, seperti pemilu dan pilpres. Apakah rekayasa playing victim saat ini masih ampuh untuk meningkatkan elektabilitas para kontestan Pilpres 2019,  atau strategi tersebut justru membuat masyarakat antipati terhadap kontestan yang memainkan strategi tersebut?

Ada anggapan, baik kubu Jokowi-Ma’ruf maupun Prabowo-Sandi, mencoba memainkan momentum untuk meningkatkan elektabilitas jelang Pilpres 2019. Namun ada juga yang menyanggah hal tersebut dengan mengatakan apa yang dilakukan masing-masing calon adalah tindakan normal dan lumrah, biasa dilakukan sehari-hari. Apakah yang menyebabkan kebiasan yang lumrah dari masing-masing individu kontestan Pilpres 2019 seolah memiliki pesan politik?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Politik

Watyutink.com - Cara-cara lain yang juga digunakan untuk antara lain memakai negative campaign sebagai strategi. Sehingga segala hal kemudian dipolitisasi secara  serampangan. Jadi apa pun ditafsir secara negatif, termasuk apa yang terjadi di istana kemarin. Itukan wartawan yang mengekpos di situ. Jadi kalau mereka foto dengan presiden itu wajar dong. 

Pada zaman Pak SBY, saya dengar cerita bahwa banyak wartawan yang sering selfie, atau foto-foto bareng. Itu kita tidak pernah dipersoalkan, dan itukan lumrah sesuatu yang normal saja. Tetapi karena ini proses politik yang sudah memasuki fase yang menegangkan jadi ini semua dipolitisasi. 

Saya kira segala cara pasti akan digunakan untuk menghajar dan menghantam posisi dari pada calon petahana terutama dari elektabilitas yang masih stabil. Ini akan menjadi pemicu buat mereka yang lebih kasar lagi  di dalam melakukan serangan-serangan. Itu semua akan terjadi bahkan akan lebih buruk lagi dari Obor Rakyat. 

Dan sekarang dengan hadirnya medsos itu kan sebetulnya lebih buruk dari pada Obor Rakyat. Karena propaganda- propaganda itu dilempar begitu aja konsekuensinya luas. Tetapi, pelaku yang ditindak pada skop yang lebih kecil, jadi sulit untuk ditertibkan. Atau, kalau kita menangkap pelakunya efeknya sudah tidak bisa dikontrol. 

Dari kubu petahana sendiri, saya kira yang paling penting sekarang bagaimana konsep berpolitiknya harus dibenahi. Selama ini kan kekuatannya ada pada Jokowi. Nah, ini belum menjadi kekuatan tim. Makanya timnya ini yang harus solid dan menjadi kekuatan tunggal dan bukan saja Pak Jokowi yang ditonjolkan dan bekerja sendiri. 

Tim harus secara keseluruhan harus melakukan penguasaan opini dan juga kanvasing dilevel bawah. Jadi melakukan door to door dari masjid ke masjid, dari kampung ke kampung. Itu harus jalan, dan harus menerapkan pola kampanye positif. Sehingga kelihatan berbeda dengan kubu lawan yang memakai negative campaign.

Jadi di sini saya sarankan memakai positive campaign, tidak menyerang lawan tetapi lebih mengangkat dari pada keunggulan-keunggulan yang ada dari kubu pemerintah. Karena petahana memiliki seluruh dari pada sumber daya.

Juga perlu dicatat, yang harus kita jaga ini adalah kewarasan kita dalam berpikir dan juga integritas moral dalam menjaga proses politik. Ini supaya tetap bermartabat dan tetap beradab, disitu aja poinnya. Supaya nanti proses politik ini tidak menghancurkan peradaban kita, tetapi bagaimana merayakan peradaban ini sebagai kekuatan kita sebagai manusia, jadi saya kira itu sebenarnya poinnya. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Analis Komunikasi Politik

Watyutink.com - Dalam strategi kampanye, attacking campaign itu ada black campaign dan negative campaign. Negative campaign itu diperbolehkan, yang tidak diperbolehkan adalah black campaign. Tetapi ketika ada attacking campaign tiap persepsi itu di-remaind, lama-lama orang akan mempersepsikan seperti yang dinarasikan, itu namanya konstruksi realitas. Dari subjektif, lama-lama menjadi konsensus makna atau objektif.

Itu sepertinya dipahami oleh semua tim, termasuk oleh tim Jokowi. Tiga bulan pertama saya lihat lebih banyak defensif. Terakhir, karena ini berhubungan dengan masa kampanye, saya melihat ada perubahan pola, dari defensif ke opensif. Ini terjadi pada tim di kedua kubu.

Selain itu, saya fikir kedua kubu mengalami stagnasi persentase elektoralnya. Baik kubu Jokowi-Ma'ruf, juga Prabowo-Sandi. Saya justru khawatir dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilu 2019 justru merosot. Jika itu terjadi, ini akan berpengaruh terhadap legitimasi dari capres-cawapres yang akan terpilih nanti.

Upaya untuk mendongkrak elektoral seperti "playing victim" di pasar atau playing "victim victim" seperti raja Jawa. Menurut saya tidak menjadi political treatment yang pengaruhnya kuat, atau justru bisa menurunkan. Begini, playing victim pun membutuhkan tiga hal. Pertama narasinya. Kalau narasinya gampang sekali tertebak, itu justru jadi boomerang effect. Yang kedua soal isunya. Isunya misalkan hanya sekadar ditolak atau hanya hidup menjadi runing story yang satu dua hari, itu juga tidak akan berpengaruh besar. Kemudian yang ketiga, tentang kredibilitas komunikatornya. Siapa yang membawakan narasi yang dalam "dijadikan" strategi playing victim-nya.

Beda dengan SBY dengan Megawati pada 2004. Itu kan playing victim-nya misalnya terus menyebut dirinya dipecat, atau ada kezaliman yang menimpa Pak SBY pada waktu itu. Itu kan kuat pengaruhnya karena itu tadi.

Soal narasinya, kemudian soal fantasi share-nya. Orang yang memfantasikan playing victims itu, yang menjadi komunikator, dan yang ketiga konteksnya relevan. Karena ada posisi Megawati yang secara komunikasi politik sulit dikritik, sehingga pada saat playing victim itu masuk kemudian boom, jadi insentif elektoral bagi Pak SBY. Menurut saya yang sekarang dikakukan tidak menjadi playing victim yang baik, bagi Sandi maupun Jokowi.

Apalagi kalau puzzle narasinya tidak terhubung dengan rapih, dan hanya dinarasikan satu dua hari. Itu tidak akan memberikan insentif elektoral kepada kedua kontestan Pilpres 2019. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

Krisis APBN Kian Mendekat

24 February 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF