Bangsa Rindu Gerakan Transformatif Mahasiswa
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 20 October 2018 14:30
Permasalahan bangsa yang dinilai kian rumit membutuhkan mahasiswa untuk menjawabnya, tetapi dimana mereka sekarang? Padahal mahasiswa sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah pergerakan nasional, sejak masa pra kemerdekaan sampai pasca reformasi. Namun, akhir-akhir ini, mahasiswa dinilai tidak seintensif dan sekuat gerakan di masa sebelumnya. Apakah mahasiswa kehilangan orientasi gerakan?

Cipayung plus, melalui momentum rembug nasional pada (19/8) mencoba mencari format kontribusi gerakannya pada bangsa hari ini. Sebelumnya pun, diskusi bertajuk quo vadis gerakan mahasiswa berseliweran dimana-mana. Dalam diskusi-diskusi tersebut, gerakan mahasiswa mengakui akan tantangan yang dihadapinya dan membutuhkan format baru dalam gerakan mereka.

Mahasiswa sekarang dinilai cenderung konsumtif, hedonis, dan bahkan individualis. Mahasiswa lebih banyak mengurung diri dalam kampus ketimbang melakukan konsolidasi gagasan dan membentuk gerakan bersama. Jangankan memikirkan permasalahan bangsa, bersama teman di seberang meja pun jarang bertegur sapa.

Tudinganpun bermunculan. Pemerintah, DPR, dan lembaga lain yang sering menjadi sasaran tembak mahasiswa balik menuding mahasiswa melontarkan kritik tanpa data, tanpa bangunan argumentasi yang jelas. Ini karena generasi sekarang dianggap jarang membaca, berdiskusi, ataupun terlibat langsung dalam masalah yang dibahas.

Tak jarang pula, mahasiswa zaman now dibanding-bandingkan dengan generasi lawas yang memiliki basis gerakan yang lebih substantif dan terorganisir. Tetapi apakah fenomena gerakan hari ini terjadi dengan sendirinya? Bukankah generasi lawas itu juga punya andil terhadap kondisi karut marut yang terjadi saat ini?

Mahasiswa pun balik menuding, pemerintah justru menjadi dalang penggembosan gerakan secara sistemik. Negara dianggap gagal menempatkan sistem pendidikan yang memberikan ruang bagi tumbuhnya gerakan mahasiswa. Mahasiswa lebih diarahkan kepada mempersiapkan diri menjawab kebutuhan perusahaan dan pasar tenaga kerja. Dampaknya, konsolidasi mahasiswa menjadi semakin sulit dilakukan.

Negara juga dianggap melanggengkan keberpihakannya kepada kekuatan neolib, sehingga menjadikan generasi hari ini sebagai konsumen fanatik, dan menggembosi gerakan mahasiswa dari dalam dengan tawaran glamour, hedon, konsumtif, dan individualis. Neolib dianggap bukan saja dalam konteks pasar dan modal, tetapi lebih dari itu, anak kandung globalisasi ini dirasa sebagai sesuatu yang inheren dalam kehidupan manusia saat ini. Tentunya, juga generasi muda, mahasiswa.

Jika demikian, siapa yang menjadi ‘musuh bersama’ gerakan hari ini? Apakah pemerintah? Mahasiswa itu sendiri? Neolib? Atau invisible hand yang menggerogoti gerakan agent of change ini? Tetapi yang pasti, mengatasi tantangan zaman dan merumuskan agenda transformasi sangat membutuhkan gerakan mahasiswa.

Gerakan mahasiswa masih penting dan kontekstual dalam mengimbangi, mengkritisi dan mengawal perjalanan bangsa, serta mempersiapkan generasi berikutnya untuk tantangan peradaban di masa yang akan datang. Lantas, dari mana transformasi gerakan mahasiswa itu dimulai?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Anggota Indemo Indonesia Democracy Monitoring dan Pendiri KontraS

Harus dilihat bahwa gerakan mahasiswa itu sebagai kekuatan kelima. Dulu, di saat negara baru dibentuk, kita mengenal trias politika, pemisahan kekuasaaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Namun pemisahan kekuasaan ini dianggap tidak berjalan dengan baik. Ada beragam praktik penyimpangan, seperti kong-kalingkong di antara ketiga kekuasaan itu. Penerapan trias politika nyatanya tidak berjalan seperti yang dibayangkan, di mana ada harapan sebelumnya bahwa dengan trias politika, akan memberikan check and balances untuk menghindari kuasa tunggal otoritarianisme.

Ketika trias politika tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka digagaslah alat baru untuk mengontrolnya. Maka dari itu, lahirlah kekuatan keempat yaitu pers, sebagai kekuatan alternatif untuk mengimbangi trias politika. Tetapi, dalam kenyataanya, pers juga bagian dari perusahaan dan kepemilikan tunggal, yang kemudian banyak membela kepentingan pemiliknya. Sehingga, pers dinilai tidak lagi obyektif untuk menjadi kekuatan alternatif. LSM sempat diharapkan menjadi kekuatan alternatif, namun pola geraknya yang mengharapkan sponsor dari lembaga donor pun membuat lembaga ini dianggap tidak dapat memerankan diri sebagai kekuatan alternatif.

Dari kondisi yang ada, gerakan alternatif yang diharapkan mampu mengimbangi 4 kekuatan sebelumnya adalah mahasiswa. Sasaran tembak mahasiswa dalam sejarahnya selalu pasti, yakni RI 1. Mengkritik Sukarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Jokowi. Mahasiswa tidak perlu untuk berbicara isu pinggiran, seperti mengkritik perusahaan, PT, menteri, dan sebagainya. Misalnya Meikarta, mahasiswa tidak boleh mengkritik Meikarta. Sebab, menteri dan perusahaan yang ada itu diangkat atau pun diberikan izin atas dasar kebijakan RI 1. Sehingga, gerakannya menjadi lebih terarah tanpa bias kepentingan. Garisnya jelas, mahasiswa mengkritik kebijakan RI 1.

Terkait gerakan mahasiswa hari ini, sebenarnya tidak ada yang hilang dari semangat perjuangan itu. Orientasinya masih tetap sama. Hanya saja, mahasiswa masih menunggu momentum gerakannya. Berbeda dengan konteks momentum partai politik yang diciptakan menjelang pilpres.

Misalnya, seperti gerakan yang terjadi pada tahun 1966, mahasiswa pada saat itu bergerak dengan sendirinya ketika momentum tercipta. Bahwa kemudian ada pandangan gerakan saat itu di back up oleh CIA, itu hanya sudut pandang dari orang-orang yang tidak paham akan gerakan. Karena dalam gerakan, sekalipun kita mendapat suntikan dana yang besar, tetapi tanpa adanya dorongan subyektifisme, maka gerakan yang massif itu tidak akan terjadi. Logikanya, tidak mungkin gerakan mahasiswa melakukan penculikan Soeharto untuk dibunuh, misalnya, hanya karena dibayar beberapa juta.

Logika penunggangan gerakan seperti itu, hanya menjadikan kita paranoid, karena selalu berpikir “jangan-jangan ini intel”, jangan-jangan ada yang klaim, ada yang tunggangi, dan sebagainya. Jangan berpikir bahwa melawan Soeharto adalah agenda yang main-main. Karena sekalipun didorong dengan uang, tanpa adanya militansi subyektifitas perlawanan, maka gerakan besar itu tidak akan terjadi. Saat itu, saya bahkan sudah mendatangi beberapa kawan-kawan di LBH, di kampus UGM, dan kelompok lainnya. Tetapi tidak semua berani dan mau diajak bergerak melawan Soeharto. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa gerakan ketakutan dan kecemasan itu dapat begitu saja dibayar dengan uang, lalu ketakutannya hilang. Tidak. Di masa itu, melawan Soeharto maka kita siap dengan risiko B3: buang, bui, bunuh.

Sehingga memang gerakan betul-betul membutuhkan komitmen, Gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral tidak berpikir tentang resiko dan reward. Kalau menang akan dapat apa, misalnya. Karena kalau pola pikirnya begitu, berarti politisi, bukan mahasiswa lagi.

Sehingga, stigma yang ada pada mahasiswa hari ini merupakan upaya untuk mengaburkan gerakan itu sendiri. Karena pada dasarnya, mahasiswa sedang menggu waktu, bukan pasif. Jika hari ini mahasiswa bergerak melawan pemerintah, pasti akan diperalat politisi. Apabila keadaan semakin genting dan mencekik, maka momentum tercipta dan gerakan mahasiswa pun akan kembali muncul pada barisan depan. Sehingga gerakan mahasiswa patut diapresiasi dan didukung, karena mereka bahkan berani untuk berbicara soal kemiskinan, saat dirinya sendiri belum mendapat uang kiriman dari orang tua. Ini hakikat perjuangan yang mulia, pada dasarnya.

Dalam konteks musuh bersama, kita perlu melakukan identifikasi terlebih dahulu. Di masa lalu, Arief Budiman mengatakan bahwa musuh bersama adalah struktural orde baru. Orang kemudian bingung, sebab masyarakat belum paham apa itu Orde Baru. Ada yang bilang musuh bersama kita adalah kapitalisme, neolib, tetap membingungkan masyarakat. Tetapi ketika dipancing turunkan Soeharto, rakyat menjadi lebih kompak. Sehingga untuk sekarang, dalam mengidentifikasi musuh bersama, dipancing saja dengan isu-isu yang ada, seperti masalah agen asing, dan sebagainya.

Hanya memang, dalam pertemuan bersama kawan-kawan BEM, masih merasa takut ditunggangi, dan belum nothing to lose. Kalau demikian, pada gerakan 1966 pun, yang mengambil untung dari gerakan itu adalah tentara. Hampir semua gerakan demikian, ketika kita berhasil menjatuhkan, pasti akan nada keuntungan politis yang didapat oleh orang lain. Mahasiswa tetap begitu-begitu saja. Tetapi disitulah letak marwah mulia gerakan, karena setiap hal yang dilakukan, pasti ada pihak yang diuntungkan. Apabila kita selalu melakukan kalkulasi akan untung dan ruginya, maka gerakan akan menjadi paranoid terhadap perjuangannya sendiri. (arh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Aktifis, dosen, dan pengamat politik

Mahasiswa millenial dalam sorotan masyarakat. Sebagai intelektual muda, tidak mengherankan jika harapan nan tinggi menjulang disematkan pada pundak mahasiswa millenial. Hari ini mahasiswa merupakan generasi millenial baru yang sangat fresh. Mereka ini dilahirkan pada saat gerakan reformasi 1998 sedang menggelora di seantero negeri. Pada saat mahasiswa generasi 1998 sedang menuntut demokrasi, penegakan HAM, penghapusan Kolusi Korupsi dan Nepotisme (KKN), maka generasi mahasiswa millenial baru saja lahir atau bahkan belum lahir ke dunia. 

Situasi yang demikian membuat mereka tumbuh di tengah kebebasan yang luar biasa. Mereka tidak mengalami represi, intimidasi, dan kekerasan dari rezim Orde Baru. Begitu mereka dewasa, langsung merasakan kebebasan berpendapat, berbicara, berorganisasi, berekspresi dan lainnya. Hal tersebut berefek pada tingkah laku yang demikian euforia merasakan kenyamanan, karena tiadanya tekanan dari sebuah rezim sebagaimana di era Orde Baru yang tidak segan-segan menodongkan senapan kepada mahasiswa ketika dianggap memiliki sikap dan pendapat berbeda terhadap pemerintah.

Era kebebasan yang tidak dibarengi dengan pelajaran sejarah yang utuh di sekolah menjadikan kepekaan sosial mahasiswa generasi millenial ini agak berbeda dibandingkan dengan era sebelum-sebelumnya. Kekerasan demi kekerasan yang dipertontonkan Orde Baru kepada mahasiswa kala itu menjadikan militansi gerakan mahasiswa terasah secara terus-menerus hingga tumbangnya sang otoriter, Soeharto. Pasca tumbangnya Soeharto gerakan mahasiswa kehilangan musuh bersama, era demokrasi terbuka lebar, hingga seringkali dianggap kebablasan. Apa pasal?

Minimnya etika publik serta karakter yang diperlihatkan mahasiswa kepada generasi sebelumnya. Sebuah etika dan karakter yang semestinya menjadi nilai inheren di dalam setiap intelektual muda, yakni mahasiswa. Situasi ini diperparah dengan menyeruaknya segala sesuatu yang serba instan, cepat, tanpa proses refleksi, yang tercermin dari tayangan maupun program televisi di kala mereka masih anak-anak.

Pada saat beranjak remaja hingga mengawali masa dewasa pun dibanjiri dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yakni internet. Satu sisi sangat membantu kemajuan dalam bidang pendidikan maupun bidang lainnya, namun pada yang sama justru menumpulkan semangat membaca buku secara mendalam. 

Lahirnya budaya visual berbasis teknologi yang demikian cepat, tanpa proses peralihan yang matang sebagaimana terjadi di Eropa Barat dan Amerika misalnya, karena telah melewati fase membaca secara baik. Sejarah Indonesia melompat begitu saja, seperti tidak disadari. Hal itu tidak terjadi di Indonesia, akibatnya mahasiswa millenial ini tumbuh dewasa terlalu dini dengan minimnya pendampingan maksimal dari semangat zamannya.

Selain itu absennya transformasi kebudayaan yang tergambarkan melalui dimensi mitos, logos, dan etos/karakter –meminjam istilah Yudi Latif—dalam wawasan nasional mahasiswa millenial. Mitos lama tentang yang kuat, yang banyak secara etnis, agama, keyakinan harus berkuasa harus segera diakhiri dengan perlunya melakukan kolaborasi, alias gotong royong untuk meraih cita-cita kesejahteraan bersama.

Berikutnya dimensi logos, yaitu perlunya menempatkan pengetahuan dan pencapaian yang menentukan marwah seseorang, bukan materi. Caranya merevitalisasinya melalui dunia pendidikan yang diperuntukkan bagi seluruh anak bangsa terkecuali. dimensi terakhir yaitu transformasi etos, alias karakter. Mahasiswa millenial perlu menjauhkan dari sikap kerdil dari mentalitas kuli, alias sekadar pengabdi, pegawai. Pengabdi pada materi, pegawai pada juragan. Sekiranya dimensi-dimensi tersebut menjadi langkah awal mengubah orientasi gerakan mahasiswa millenial. Maka bukan sebuah pepesan kosong belaka, kedepan Indonesia akan menjadi kampiun di Asia, bahkan dunia pada saat bonus demografi sudah di depan mata pada tahun 1920-1930an. 

Gerakan mahasiswa millenial tidak sepantasnya sekadar melakukan sumpah serapah terhadap globalisasi, neoliberalisme, hedonisme, individualisme, maupun konsumerisme semata. Isme-isme tersebut merupakan bagian dari semangat zaman yang tidak terelakkan. Justru yang paling penting bagaimana mengambil peran di tengah situasi-kondisi demikian, mengerikan jika tidak melakukan sikap secara adil sejak dalam pikiran dan perbuatan. Lakukan refleksi diri, sehingga paham apa yang mesti dilakukan. Sumpah serapah tidak bermakna apa-apa apabila mandeg dari mengasah diri untuk membaca fenomena, mempertajam analisis, serta mampu merefleksikan kehidupan yang dihadapinya. 

Demikian pula, penting untuk dilakukan bagi gerakan mahasiswa millenial memantapkan diri untuk mengambil sikap senantiasa berpihak terhadap rakyat kecil, menjaga independensi sebagai intelektual muda,  non-partisan, selalu skeptis, bertumpu pada bukti, fakta, dan data pada saat berargumen dan melakukan kritik, serta selalu menjaga akal pikiran untuk tetap rasional-ilmiah tanpa menganggap yang tradisional harus ditinggalkan. Sembari mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin bagi masyarakatnya kedepan. Tidak terburu-buru merasa menjadi wakil rakyat sebelum selesai atas dirinya, melalui proses yang matang dalam hidup dan kehidupan justru akan melahirkan pemimpin rakyat yang genuine.

Demikian pula pada studi, lulus tepat pada waktunya, tidak menjadikan kambing hitam banyaknya tugas kuliah yang memang sudah merupakan pilihan yang diambil oleh mahasiswa sebagai intelektual muda. Hal tersebut justru menunjukkan karakter seorang pemimpin yang dapat melakukan manajemen waktu secara proporsional dan profesional. Saatnya gerakan mahasiswa millenial beraksi untuk memudakan kembali Indonesia menuju negara-bangsa yang maju di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia. (arh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua Presidium PP PMKRI

Spirit gerakan yang ada sekarang merupakan warisan dari sejarah panjang pergerakan pemuda pada generasi sebelumnya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan hari ini menemukan konteks zaman dan metodologi gerakan yang berbeda dengan yang ada di masa lalu.

Tetapi, tidak berarti bahwa gerakan sekarang melupakan spirit perjuangan yang telah digagas sebelumnya. Kita sedang bergerak dengan cara yang berbeda, yang disesuaikan dengan keadaan di masa kini.

Hari ini, dalam tantangannya, kita mengakui bahwa ada pergeseran yang disebabkan oleh pengaruh globalisasi yang mengarah pada digitalisasi. Pergeseran ini pun diikuti oleh perubahan karakteristik generasi ke arah hedonis dan individualistik. Mahasiswa mulai berpikir dapat belajar sendiri, dapat melakukan segala sesuatunya sendiri, berkat kemajuan teknologi.

Dampaknya, ruang-ruang mahasiswa bertemu dan membangun konsep gerakan bersama dalam jumlah yang besar menjadi terkendala fenomena ini tentunya tidak dapat dihindari. . Maka dari itu, gerakan hari ini mencoba menyesuaikan dengan ritme yang ada melalui metode yang lebih ringan dan disukai oleh mahasiswa kebanyakan, agar mampu menjadi magnet bagi mereka untuk dapat kembali bergerak bersama.

Secara organisasi, dalam konteks internal, PMKRI tengah menggagas transformasi organisasi untuk menemukan kebaruan dalam hidup berorganisasi. Hal ini merupakan bentuk revitalisasi organisasi yang disandingkan dengan realitas kekinian. Secara lebih luas, setiap elemen organisasi pun harus dapat bertransformasi untuk menyelesaikan permasalahan hari ini dengan cara kita. Sebab, akan menjadi sulit apabila penyelesaiannya dilakukan menggunakan metode lama, baik melalui metode agitasi maupun propaganda seperti dulu.

Kita juga sepakat bahwa kehadiran Ormawa dan campur tangan pemerintah lainnya ke dalam lingkup mahasiswa, terkadang menggerusi nalar kritis gerakan. Maka dari itu, kita telah melakukan koordinasi bersama Kemenristekdikti agar gerakan, terutama PMKRI sendiri, untuk kembali masuk ke dalam kampus. Sebab, perangkat kampus sejatinya adalah milik pemerintah, dan organisasi pergerakan tetap hadir sebagai mitra kritisnya. Upaya ini didasari oleh kesadaran bahwa tantangan gerakan hari ini tidak hanya terjadi pada organisasi eksternal, tetapi juga pada organisasi internal kampus.

Jadi strategi yang paling penting adalah bagaimana secara bersama-sama membangun kesadaran baru. Hal ini dilakukan dengan kembali membangun soliditas mahasiswa dengan pola, cara, dan sistem yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Paling tidak, gerakan hari ini tidak boleh gagap dengan konteks kekinian. Maka dari itu, kita perlu mengidentifikasi kecendrungan generasi untuk kemudian digagas formula gerakan baru. Sehingga, metode gerakan di masa lalu tidak dapat diadopsi sepenuhnya di masa sekarang.

Momentum rembug nasional Cipayung Plus kemarin, menjadi upaya penegasan bahwa Cipayung Plus tetap hadir sebagai mitra kritis pemerintah. Dalam agenda itu, kita melakukan evaluasi terhadap perjalanan 4 tahun Pemerintahan Jokowi.

Bagi Cipayung Plus, stabilitas nasional di tahun politik, sumber daya manusia, dan permasalahan ekonomi perlu untuk memperoleh perhatian khusus yang dituangkan dalam komitmen gerakan bersama mahasiswa. Hal ini menjadi penting untuk dikawal untuk ke depannya Sebab, musuh bersama hari ini, bagi saya tidak lagi dapat dilihat dalam perspektif kelembagaan atau personal tertentu, tetapi lebih kepada agenda bersama yang mejadi permasalahan dan tantangan zaman, seperti memerangi kemiskinan, peningkatan sumber daya manusia, juga mendorong pemerintah untuk mengawal stabilitas ekonomi, dan sebagainya. (arh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Nyoman Sudarsa

Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Kartu Nikah Tidak Diperlukan             Penggunaan Pembayaran Online Harus Memiliki Regulasi             Reformasi Struktural: Darimana Kita Memulai?             Kemenag Perlu Jelaskan Manfaat Kartu Nikah             Focus ke Penetrasi Ekspor Produk Bernilai Tambah Tinggi             Gerindra dan PDIP Diuntungkan pada Pemilu 2019             Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-1)              Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-2)             Masih Ada Waktu untuk Perbaharui Komitmen             Penguatan Upaya Pemberantasan Korupsi