Bakar Sekolah Demi 'Caper'
berita
Politika
09 September 2017 00:00
Sakit. Merasa tak diperhatikan gubernur, seorang anggota DPRD Provinsi  Kalteng menitah sembilan orang membakar sembilan gedung sekolah. Kok ada ya wakil rakyat, sudah tak peduli kepentingan generasi belia menimba ilmu, malah bersikap destruktif? Padahal bukan kerugian materil dan psikologis semata yang diderita masyarakat, tapi terutama kehilangan kepercayaan rakyat atas kenormalan sikap mental politisi.

Yansen Binti, politisi itu, kini ditetapkan oleh Bareskrim Polri sebagai aktor intelektual pembakaran sembilan gedung sekolah. Pembakaran, konon, diskenariokan politisi Gerindra ini agar Gubernur Kalteng mau memperhatikan dan memberi katabelece proyek tertentu. Proyek apa sih yang bisa bikin kedegilan ini terjadi?

Sembilan orang lain yang terbukti membakar ditetapkan pula sebagai tersangka. Mereka mengaku mau  membakar, lantaran anggota Komisi B DPRD itu bersedia membayar Rp20–120 juta. Belum jelas dana  pembakaran itu apa dari kantong Yansen atau sumber lain. Atau jangan-jangan ada pendana yang lebih kuasa karena dia aktor besar yang sesungguhnya merekayasa tindakan konyol pembakaran itu?

Aneh jika Yansen secara sadar mau bertindak konyol. Dia tokoh masyarakat. Ketua harian KONI Kalteng. Anggota Komisi B DPRD, yang antara lain membidangi Pertambangan dan Energi. Sependek itukah akalnya, hingga mengorbankan martabat, nama baik, dan jabatan? Tanpa pertaruhan bernilai besar, niscaya Yansen tak senekad itu. Andai ada proyek pertambangan dan energi yang dia sasar, seberapa besar nilainya?

Sebelum beraksi, Yansen mem-brief para pelaku di gedung KONI. Bahkan buat menyemangati para calon pembakar, dia beragitasi, "Gubernur sudah tak memperhatikan lagi kita. Agar diperhatikan, kita harus berani bakar itu sekolah." Aneh. Kok agitasi begitu dilakukan di ruang terbuka? Apa dia tak berpikir, agitasinya bisa memancing perhatian warga sekitar kantor KONI?

Bahwa proses hukum sedang berlangsung, tentu wajib dihormati setiap pihak. Namun ada orang yang secara terbuka menyuruh orang melakukan tindak pidana berat, tentu layak dipertanyakan kondisi mentalnya.Stres atau di bawah ancaman yang tak terperi? Mungkin kini saatnya, pemeriksaan kesehatan mental secara reguler diwajibkan atas semua profesi rawan stress. Ini salah siapa?

Apa pendapat anda? Watyutink?

(ast)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Psikolog Klinis Forensik/Humas Asosiasi Psikologi Forensik/Humas Ikatan Psikologi Klinis

Dalam kasus kejahatan dan pelanggaran hukum pidana, wajib hukumnya untuk dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Meliputi proses penyelidikan dan penyidikan. Jenis perilaku, motif, bukti-bukti, dan saksi akan dipergunakan semaksimal mungkin untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka. Ketika tersangka sudah ditetapkan oleh kepolisian, berarti kepolisian sudah mengantongi bukti-bukti yang dianggap cukup untuk menjerat yang bersangkutan.                      

Hukum bukan persoalan logika orang awam. Oleh sebab itu sebaiknya tidak dibahas oleh orang awam dan dijadikan konsumsi publik yang mempersulit proses penegakan hukum. Dalam hal, ini sebaiknya yang bersangkutan diperiksa secara formal oleh psikolog yang memiliki kompetensi terkait. Terutama untuk mengetahui motif dan alasan mengapa yang bersangkutan melakukan hal tersebut.

Diskusi dan pembahasan soal kesehatan jiwa adalah aspek lain yang mungkin perlu digali setelah motif. Tetapi tentu saja bukan upaya untuk menggunakan alasan kesehatan jiwa agar lepas dari jerat hukum.

Sebaiknya kita nantikan hasil pemeriksaan lengkap yang bersangkutan dalam penyidikan kepolisian. Pembahasan tentang aspek-aspek politik sebaiknya dihindarkan demi memperoleh hasil pemeriksaan yang obyektif. (ast)                      

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Guru Besar Antropologi UI, mantan Ketua Umum Partai Demokrat

Pembakaran sekolah yang diotaki oleh Yansen Binti benar-benar tidak masuk akal. Ini tidak ada kaitannya dengan partai politik. Namun mungkin ada salah asuh yang kemudian berlanjut menjadi salah didik dan akhirnya mal adjusted ke lingkungan sosial.

Ini terjadi karena seleksi terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) kita, baik yang dilakukan oleh masyarakat (dalam pemilu) maupun yang dilakukan pemerintah, lemah. Maka yang terjadi melalui kejadian pembakaran sekolah ini adalah seleksi alam tanpa ampun.

Satu persatu pemimpin yang tak layak untuk memimpin rontok lewat hukum alam. Sejumlah elite negeri di eksekutif, legislatif, yudikatif, pengusaha, dan pemuka agama telah terbukti melakukan tindak korupsi. Mulai dari polisi sampai sopir terlibat dalam sejumlah kasus. Semua terkena seleksi hukum alam, dan gagal dalam ujian.

Ini masa pancaroba atau menurut Joyoboyo masa Kala Bendu. Masa pancaroba atau perubahan budaya yang berlangsung cepat. Mempersulit orang untuk mendapatkan uang, lemah kepribadiannya, terombang ambing dan terbawa arus tidak jelas arah dan tujuannya.                   

Hal ini terjadi juga pada Yansen Binti. Watak aslinya tak mampu menahan derasnya seleksi alam. Kalaupun ia bingung mencari proyek atau butuh uang untuk kepentingan pribadi, seharusnya tidak perlu sampai mencelakakan banyak orang. Kecuali memang karena Yansen mengalami gangguan mental atau tidak normal jiwanya.

Siapapun lain yang melakukan tindak pidana atau kriminal tanpa melakukan hal seperti ini, pasti dihukum pidana kurungan dan denda. Untuk Yansen yang mungkin mengalami gangguan jiwa, seharusnya dikirim ke Rumah Sakit (RS) Jiwa dan diterapi.

Saya kira tindakan yang dilakukan Yansen cuma bertujuan mencari uang. Ini dilakukan dengan cara yang terbilang nekad dan berdampak pada kehancuran reputasi dirinya sendiri. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Mantan Gubernur Kalimantan Tengah

Mengingat prosesnya sudah ditangani oleh pihak kepolisian dan sudah dalam tahap penyidikan, maka sebaiknya kita serahkan saja proses hukumnya sesuai aturan yang berlaku. Lagi pula kan sudah ada tersangkanya (Yansen Binti dan para ekskutor pembakar sekolah).

Kita harapkan agar proses hukum ini segera dituntaskan. Sehingga kita bisa mengetahui kenapa hal ini terjadi. Kita juga bisa mengetahui siapa saja yang bertanggung jawab atas pembakaran sekolah itu.

Sebaiknya tidak memberi ulasan dengan berandai-andai atau asumsi yang justru menyesatkan masyarakat dan memperkeruh situasi.

Saya menghimbau kepada semua pihak agar bersabar dan kita serahkan semua prosesnya kepada pihak yang memang berkompeten, dalam hal ini penyidik kepolisian.

Untuk sinopsis dan pertanyaannya saya ucapkan terimakasih. Akan tetapi saya tidak bisa berkomentar terlalu banyak. Kalau sifatnya opini saya tidak bisa berbicara terlalu jauh dan mengingat prosesnya sudah ditangani oleh pihak kepolisian. Kita tunggu saja prosesnya berjalan. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

Revolusi Akhlak Kiai Juned

25 November 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF