Bagaimana Jokowi dan Prabowo Sikapi Survei Kompas?
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 21 March 2019 16:00
Watyutink.com - Di saat berbagai survei mengatakan Capres 01 Jokowi - Ma'ruf Amin berada di atas angin mengantongi lebih dari 50 persen suara, maka survei Litbang Kompas yang mengatakan sebaliknya tentu bikin geger jagat politik tanah air. Dikatakan Kompas, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf menjadi 49,2 persen, sedangkan Prabowo-Sandi memperoleh 37,4 persen suara, dan sisanya 13,4 persen menyatakan masih rahasia atau belum memilih. 

Ada selisih elektabilitas kedua paslon 11,8 persen. Artinya, bila kubu Prabowo bisa meraih suara mereka yang belum menyatakan memilih sebanyak 12 persen, maka Prabowo menang. Sedangkan bila Jokowi bisa menaikkan elektabilitasnya di atas batas aman mendekati 60 persen atau lebih, Jokowi tetap jadi presiden Indonesia lima tahun mendatang.

Sebetulnya Jokowi tetap menang. Namun, yang bikin geger ada tren penurunan elektabilitas. Data Oktober 2018 menyebut elektabilitasnya berada di angka 52 persen. Tren sebaliknya terjadi pada Prabowo. Di Oktober silam ia berada di posisi 32,7 persen. Per Maret ini naik jadi 37,4 persen. Apa makna dari penurunan elektabilitas Jokowi dan naiknya Prabowo? 

Yang jelas kini kita menyaksikan persaingan makin ketat. Untuk beberapa lama kita semula meerasa pertandingan sudah berakhir bahkan sebelum hari pencoblosan dimulai. Nyatanya kian hari jurang selisih antara Jokowi dan Prabowo kian sempit. Sementara itu, waktu pencoblosan tinggal hitungan hari. Maka yang jadi tanya kemudian, apa yang harus dilakukan kedua kubu menyikapi hasil survei Kompas ini? 

Pilpres 2019 memang terasa lain dibanding pilpres-pilpres sebelumnya. Masa kampanye yang panjang dalam hitungan bulan membuat kondisi jagat politik naik-turun. Selain itu, pilpres yang dibarengi pemilu legislatif membuat mesin partai tak fokus. Para caleg berjuang mengamankan kursi masing-masing dahulu, baru memikirkan pilpres. Apa perubahan aturan main tersebut bikin elektabilitas Jokowi turun?

Selama ini kubu Jokowi menjual narasi cerita kesuksesan selama lima tahun memimpin. Apa narasi kampanye mereka salah hingga tak sampai ke masyarakat? Narasi apa lagi yang sebaiknya dibangun? 

Entah. Yang jelas, kita melihat antusiasme masyarakat tidak semasif pilpres 2014. Ditengarai angka golongan putih alias golput bakal meningkat tajam di pilpres kali ini. Ditengarai pula, golput bakal lebih melukai kubu Jokowi ketimbang Prabowo. Dari survei Kompas ada 13,4 persen potensi suara yang bisa diraup masing-masing paslon.        
  
Sesungguhnya, survei Kompas bukan hanya tamparan bagi Jokowi dan tim suksesnya. Buat Prabowo juga survei tersebut mengatakan, perolehan suaranya tak pernah bisa melampaui Jokowi. Maka, pesan survei ini jelas: kedua pihak harus sama-sama kerja keras meyakinkan mereka yang ragu untuk memilih atau mereka yang berniat golput. Mampukah mereka diyakinkan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?  

SHARE ON
OPINI PENALAR
Sekjen PDIP, Sekretaris Tim Kampenye Nasional

Berbagai survei yang dilakukan oleh lembaga survei nasional yang kredibel seperti Indikator Indonesia, SMRC, LSI, Populi, Charta Politika, Polmark, Litbang Kompas, Roy Morgan, dan lain-loain menggambarkan tercapainya situasi "steady state" dengan tren cenderung flat

Kampanye yang panjang menjadikan die-hard (pendukung kuat) kedua Paslon 01 dan 02 mencapai kondisi maksimum. Dinamika politik ditentukan gerak pemilih mengambang dan pemilih yang belum mengambil keputusan dengan jumlah yang kian mengecil, dan sulit mengejar selisih Jokowi-KH Maruf Amin yang berada antara 13.5 persen hingga 26 persen di atas Prabowo-Sandi. Hasil survei terakhir Litbang Kompas juga menunjukkan hal yang tidak jauh berbeda. 

Perkiraan hasil (akhirnya) mencapai 56,8 persen untuk Jokowi-KH Ma'ruf Amin dibandingkan Prabowo-Sandi 43,2 persen sebagai gambaran pematangan maksimum pendukung die-hard masing-masing paslon. Seluruh Parpol Koalisi Indonesia Kerja pasca konsolidasi dengan para kepala daerah, wakil kepala daerah, dan pimpinan DPRD semakin memerkuat gerak terotorial guna mempertebal selisih kemenangan bagi Jokowi-KH Maruf Amin.

Atas dasar hal tersebut, maka ke depan, pasca kemenangan Pak Jokowi-KH Maruf Amin harus diikuti langkah konsolidasi persatuan dan kesatuan bangsa secara masif  dan melalui pendekatan multidimensional. Apapun pemilu hanya alat untuk mencari pemimpin. Seluruh Parpol Pendukung Pak Jokowi akan kedepankan langkah rekonsiliasi akibat ketegangan politik selama pemilu. (ade)

Catatan: Opini ini disalin dari pernyataan yang disebar di group percakapan.  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Survei itu kan berlaku pada saat lembaga survei malakukan survei. Oleh karena itu, pertanyaannya biasanya adalah jika Pilpres diadakan hari ini siapa yang akan dipilih? Paslon 01 atau 02? Jadi jika survei dilakukan besok, lusa, minggu, minggu depannya lagi atau bulan depan bisa saja hasilnya akan berbeda. Survei juga tergantung pada metodologi yang dipakai dan penentuan responden yang benar. Penurunan itu hal yang wajar. Dan hal biasa dalam dinamika politik dan kontestasi Pilpres. 

Jika Jokowi-Ma'ruf turun artinya banyak program-program kesuksesan Jokowi tidak tersosialisasikan dengan baik ke masyarakat. Atau bisa juga Jokowi terkena banyak hoaks. Atau bisa juga mesin partai koalisi dan caleg-caleg di partai koalisinya tidak benar-benar menggenjot suara Jokowi-Ma'ruf. Tapi mereka ingin mengamankan Pileg. Dan turunnya elektabilitas Jokowi - Ma'ruf bisa dimaknai positif. Sebagai bahan evaluasi dan refleksi. Untuk warning. Dan untuk lebih waspada dalam menjaga elektabiltas atau bahkan untuk menaikan elektabilitas. 

Adapun jika Prabowo naik surveinya sangat wajar. Karena Sandi bergerak kesana-kemari. Sandi bekerja. Dan Sandi disukai milenial dan emak-emak. Maknanya masing-masing kubu harus waspada dengan isu-isu yang akan mencul dalam 27 hari ke depan. 

Survei Litbang Kompas jangan dijadikan satu-satunya acuan. Namun jadikan sebagai petunjuk jalan (kompas) dalam menyusun strategi kedepan. Yang turun elektabiltas juga masih ungggul. Dan yang naik elektabilitasnya juga masih di bawah. Jadi masing-masing kubu harus kerja keras menyapa rakyat dengan door to door campaign. Sentuh hatinya, bawa program-programnya, dan janjikan sesuatu yang hebat dan dahsyat yang bisa diimplementasikan dan rasional. 

Masing-masing kubu tentu akan bersikap biasa-biasa saja. Karena pasti ada yang senang. Dan ada juga yang unhappy. Yang terpenting survei Litbang Kompas jangan dijadikan satu-satunya acuan dalam menentukan siapa yang menang. Jadikan referensi saja. Untuk bekerja lebih baik lagi. Lebih keras lagi. Dan lebih giat lagi untuk menarik simpati pemilih.

Banyak caleg-caleg di partai koalisi Jokowi-Ma'ruf tidak maksimal bekerja. Tidak fokus memenangkan kubu 01. Karena pasti yang terpenting mereka mengamankan diri untuk partainya lolos ambang batas 4 persen agar bisa lolos ke Senayan. Karena bisa saja dalam pandangan dan benak mereka. Percuma jika Pilpresnya menang. Tapi partainya kalah dan hancur karena tidak lolos ambang batas. Dan di tubuh partai koalisi Jokowi-Ma'ruf juga agak kurang solid. Bagaimana PSI menyerang partai nasional lainnya yang ada dalam koalisinya. Jika dimaknai positif. Penurunan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebagai cambuk untuk bekerja lebih keras. Lebih kompak. Dan lebih semangat. 

Bisa saja ada yang salah dari narasi kampanye Jokowi. Atau ada missing link. Antara kesuksesan Jokowi dengan tidak sampainya kesuksesan tersebut ke masyarakat. Ini perlu dievaluasi. Yang harus dibangun adalah kubu 01 semuanya harus bergerak dan kompak dengan membawa narasi melawan hoaks. Karena bisa jadi seperti yang saya sebutkan di atas. Jika elektabilitas Jokowi-Ma'ruf menurun karena terkena hoaks. Jadi narasi kesuksesan Jokowi tidak terlihat. 

Jika Golongan putih itu terdiri dari kaum millenial dan emak-emak. Maka narasi kampanye oleh kedua kubu harus diarahkan dan difokuskan untuk menyasar kaum muda dan ibu-ibu tersebut. Buat strategi yang efektif untuk mendekati mereka. Dan identikan diri dengan diri mereka. Karena biasanya pemilih akan memilih didasari rasa kedekatan karena merasa identitasnya sama. Untuk meraup undecided voters tersebut. Para capres dan cawapres juga harus maksimal dan melakukan debat di debat ke-4 dan ke-5 nanti. Debat akan menentukan arah angin pemilih yang 13,4 persen yang belum menentukan pilihannya itu. 

Mau tidak mau, suka tidak suka kedua kubu harus mampu meyakinkan mereka yang ragu. Mereka yang berpotensi Golput. Dan mereka yang masih diam. Jika narasi kampanyenya enak, kreatif, menyenangkan. Maka bisa saja mereka yang ragu akan berubah pikiran. 

Kontestasi yang baik adalah kontestasi yang menegangkan, menarik, dan enak ditonton. Dan laiknya pesta. Pesta demokrasi dalam Pilpres harus berjalan dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan. Walaupun yang kita dapat ketegangan. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan