Aroma Militeristik di Ornamen 17 Agustus?
berita
Politika
17 August 2017 00:00
Penulis
Masih ingat ornamen lukisan di gapura atau tembok saat peringatan perayaan 17 Agustus?  Hampir pasti temanya seragam. Di sisi kiri gapura ada visual laskar berpakaian compang-camping penuh darah dan bersemangat  menggenggam bambu runcing, senjata tajam, atau senjata api.

Di sisi kanan kebanyakan lukisan sosok berbagai profesi pengisi kemerdekaan: tentara, polisi, dokter, insinyur, dan profesi lainnya dengan latar belakang pemandangan gedung bertingkat, pabrik, mobil, pesawat terbang, dan sebagainya.

Ada yang salah? Tidak. Itu fakta. Tetapi muncul kesan seolah sipil tidak berkeringat di era revolusi. Kemerdekaan Indonesia adalah hasil perjuangan seluruh elemen bangsa. Faktanya, militer Indonesia belum terbentuk saat proklamasi 17 Agustus 1945. Kalau begitu, apakah gerakan militer tidak pernah ada? Itu mengingkari sejarah. Peristiwa 10 November dan Serangan Umum 1 Maret adalah bukti perlawanan bersenjata pun dahsyat.

Tetapi, bukankah para dokter, pedagang, ulama, guru, wartawan, seniman, pelajar, dan pandu juga berdiri di garis depan menentang kolonialisne? Di setiap pergerakan kemerdekaan di dunia, pada akhirnya gerakan politik lah yang menjadi kunci keberhasilan perjuangan. Sebaliknya, pemuda Hindia Belanda yang kala itu berkarier sebagai serdadu KNIL malah menindas perlawanan rakyat. Mengapa setelah merdeka, sejak ReRa (reorganisasi rasionalisasi), malah latar pengalaman karier profesional KNIL lebih didewakan ketimbang PETA dan kelaskaran?

Mengapa perjuangan pejuang sipil seolah tidak menonjol?  Kepentingan politik siapa? Apakah ini upaya Orde Baru yang memang militeristik dan berkuasa 32 tahun untuk mengkonstruksi pikiran rakyat bahwa tentara sangat berjasa memerdekakan bangsa?

Di era Bung Karno berkuasa--yang kental politik aliran, ornamen hiasan gapura di perayaan kemerdekaan selalu terkait dengan partai politik. Cabang-cabang partai setempat dan ormasnya berlomba menghias wilayahnya dengan lambang dan jargon partai. Sangat beragam.

Bisakah kita move on dari paradigma jadul dua era di atas? Bisa! Menampilkan visual atlet Indonesia berprestasi dunia di gapura, misalnya Susi Susanti, tidak menghilangkan nilai nasionalisme di setiap peringatan kemerdekaan. Apalagi tahun depan ada perhelatan Asian Games di Indonesia.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(jim)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjdjaran dan Dosen Sarjana & Pascasarjana Politik dan Pemerintahan, FISIP UNPAD, Bandung

Penggunaan simbol militer dalam perayaan 17 Agustus tidak bisa dilihat sebagai upaya militer mempertahankan hegemoninya. Namun ini adalah upaya untuk menggugah generasi hari ini melihat pertarungan para pejuang kemerdekaan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Perlunya menggugah generasi hari ini untuk mengingat sulitnya merebut kemerdekaan dan mempertahankannya.

Di negara-negara yang kemerdekaannya tidak terlalu sulit direbut, seperti Filipina, simbolisasi seperti itu juga digunakan. Negara seperti Malaysia tidak terlalu mengunakan simbolisasi militer. Ini karena kemerdekaan mereka tidak melalui perjuangan yang berdarah-darah, melainkan diberikan oleh Inggris.

Penggunaan simbolisasi ini hanyalah pilihan, tidak ada tujuan politis apalagi sekadar mempertahankan hegemoni militer. Ada beberapa tujuan terkait pemilihan simbolisasi ini. Pertama, sebagai penyulut semangat untuk menjaga kemerdekaan dan persatuan. Kedua, pemilihan simbol menunjukkan heroisme para laskar merebut kemerdekaan dan mempertahankannya pascakemerdekaan. Ketiga, pemilihan simbolisasi ini sudah ada bukan dibuat-buat. Artinya, perjuangan para laskar yang menggunakan senjata mempertahankan Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan itu nyata, bukan sesuatu yang dibuat-buat.

Saat kemerdekaan, wilayah kita utuh. Namun setelah masuk ke jalur diplomasi melalui perjanjian Linggarjati dan sebagainya, wilayah Indonesia jadi berkurang. Hanya meliputi sebagian Jawa dan Sumatera saja. Para laskarlah yang berupaya untuk mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sampai pada Konfrensi Meja Bundar (KMB) barulah wilayah NKRI kembali utuh.

Dalam pemilihan simbol ini, bisa juga menggunakan simbol insiyur untuk mengambarkan pembangunan. Dalam hal ini pemilihan simbolisasi militer tidak ada unsur politik sama sekali, tetapi untuk menggugah rasa patriotik generasi muda.  Jadi jangan dianggap pemilihan simbol tersebut sebagai langkah politik untuk mempertahankan hegemoni milter.

Mengapa tidak menggunakan simbol–simbol diplomasi? Karena memvisiualkan simbol diplomasi itu sulit. Masa mau gambar orang lagi berdiplomasi, itu kan sulit. Jadi digambarlah orang dengan bambu runcing dan caping, berdarah-darah merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Lagipula pada saat awal kemerdekaan tentara itu belum ada, yang ada hanya laskar-laskar yang berjuang.

Intinya, kemerdekaan itu direbut dan diperjuangkan selanjutnya dipertahankan dengan perang dan berdarah-darah. Diplomasi bukan inti dari perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, tetapi diplomasi  bagian dari kerangka perjuangan itu. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti Senior Puspol Indonesia, Analis Geopolitik

Ilustrasi heroisme sangat mudah dipahami jika digambarkan dengan situasi atau tokoh yang terlibat dalam peperangan. Hampir semua deskripsi hero yang sangat akrab dalam alam sadar kita tervisualkan dengan; ksatria, gagah, berani, jago perang, dan berani mati dalam membela nilai-nilai kebenaran.

Jadi tanpa bermaksud tidak setuju dengan pendapat redaksi, sekadar menggambarkan situasi umum termudah untuk mengingatkan semangat heroisme, lalu dikaitkan dengan nasionalisme yang patriotik sesuai dengan situasi peperangan.

Namun akhirnya, memang terlihat kelewat batas ilustrasinya. Pada era Orde Baru (Orba) sangat mudah bagi militer untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP). Sedangkan banyak dari kalangan sipil yang jelas kontribusinya dalam membangun tanah air setelah Proklamasi, sangat sulit untuk dimakamkan di sana.

Selain tempat dimuliakannya para tokoh atas jasa-jasanya terhadap tanah air, tokoh yang dimakamkan di TMP juga diharapkan menjadi inspirasi bagi mereka yang masih hidup. Tujuannya agar mereka yang masih hidup bisa meneruskan perjuangan yang belum selesai.

Akhirnya, memang perlu ada reinterprestasi dalam mengilustrasikan makna sebenarnya nasionalisme dan patriotisme sejati. Meredefinisi arti pahlawan bagi negeri. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Eko Listiyanto

Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

FOLLOW US

Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas