Arabisasi Nusantara
berita
Politika
14 August 2017 00:00
Penulis
Tak sulit menemukan budaya Arab di Nusantara. Dalam kehidupan sehari-hari, pakaian, kuliner, hingga bahasa Arab semakin populer di sebagian masyarakat Indonesia. Lho, kok bisa, ya?

Lewat balutan agama, budaya Arab melenggang bebas di masyarakat. Dulu contohnya, perempuan Indonesia berkerudung dan setiap daerah punya corak masing-masing. Kerudung juga digunakan oleh para Nyai (istri Kyai). Belakangan peran kerudung digantikan jilbab dan hijab dengan segala jenis dan corak. Dicitrakan sebagai pakain muslimah.

Padahal di jazirah Arab, jilbab bukan mewakili identitas Muslimah semata. Perempuan Yahudi, Kristiani-ortodoks, dan lain-lain, menjadikan jilbab sebagai pakaian sehari-hari. Itu cara mereka beradaptasi dengan kondisi alam di sana.  

Sebenarnya tak hanya Arabisasi, masyarakat kita menyukai apapun yang berbau asing. Misalnya saja kuliner China, Jepang, Korea, Meksiko yang kini tengah hits. Fashion ala barat tetap eksis, dan kini hadir Arabisasi. Semua ‘ditelan’ tanpa filter.

Apakah hal ini terjadi begitu saja? Jangan-jangan di balik perubahan selera-nilai ini, ada  desain ekonomi politik yang tertata rapi. AS contohnya, secara masif mengekspor budaya lewat film Hollywood, atau Korea dengan K-Popnya? Ujung-ujungnya adalah upaya merebut pasar. Nah, lebih dari 90 persen masyarakat Indonesia beragama Islam. Bukankah ini potensi pasar yang menggiurkan bagi produk-produk berbau dan berlabel 'Islam'?

Apalagi masyarakat di negara dunia ketiga lebih mudah dicekoki hal baru, terlebih dengan teriakan: demi kepentingan Agama! Padahal di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Utara, misalnya, hal yang berbau agamis justru tak begitu laku di pasaran.

Pertanyaannya,  ada apa di balik Arabisasi Nusantara? Mengapa syiar Islam harus lewat Arbisasi? Zaman dulu, para ulama menyebarkan Islam lewat budaya lokal . Misalnya Wali Songo, menyebarkan Islam menggunakan budaya-kearifan lokal Jawa.

Dengan salah kaprah ini, bagaimana membendung penetrasi budaya asing yang berdampak menghancurkan fondasi budaya kita? Bukankah kebudayaan Nusantara adalah jati diri bangsa kita?! Atau memang kita sudah lupa siapa diri kita sesungguhnya? Sudah saatnya kita berseru; menebar nilai-nilai Islami yang rahmatan lil ‘alamin,YES! Arabisasi… nanti dulu!

Bagaimana pendapat Anda? Watyutink?

(yed)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Dosen Universitas Paramadina/ Mantan Jurnalis

Gejala “Arabisasi” lewat gerakan jilbabisasi dan lain-lain awalnya karena Revolusi Islam Iran (RII) pada 1978. RII menjadi pemantik awal munculnya revivalisme KeIslaman di dunia. RII kala itu menjadi simbol revolusi rakyat yang membawa nama Islam dan dipimpin oleh ulama. Ini berbeda dengan revolusi Perancis atau revolusi Bolshevik. RII bisa disebut sebagai revolusi post modernis, karena terjadi secara tak terduga di tengah represi rezim Shah Reza Pahlevi yang didukung kuat oleh Amerika Serikat.

Di saat yang sama, Indonesia mengalami represi Orde Baru. Gerakan kritis yang berasal dari kampus pada 1977-1982, dijawab dengan represi. Tekanan juga dirasakan mahasiswa muslim yang bernaung di bawah organisasi HMI, dakwah kampus, dan lain-lain. Kala itu,masjid menjadi tempat persemaian gerakan perlawanan terhadap Orba.

Secara kebetulan, para alumni Timur Tengah -baik yang pulang belajar maupun para alumni Afghanistan- pulang ke Indonesia. Para alumni Timur Tengah yang dianggap lebih memahami persoalan keIslaman bertemu dengan para aktivis mahasiswa muslim di masjid kampus.

Dari situ lah muncul pemahaman baru melalui dakwah, buku, brosur, dan leaflet yang mengajarkan busana penutup aurat sesuai dengan ajaran Islam.  Ajaran ini digolongkan sebagai Salafi. Ketika pemikiran ini mulai masuk, terlebih kepada para mahasiswa tidak mampu, maka para mahasiswa muslim HMI, gerakan dakwah kampus, dan lainnya serentak memakai busana muslim atau jilbab. Muncullah gerakan jilbabisasi, bahkan lewat dramatisasi panggung di kampus.

Gerakan jilbabisasi kemudian membesar menjadi gerakan “Arabisasi”dan menguatkan politik identitas. Lebih jauh, gerakan jilbabisasi itu muncul sebagai simbol perlawanan terhadap represi Orde Baru. Francois Raillon, ilmuwan muslim Perancis, terkejut ketika menemukan gejala Islamisasi masif terjadi di Indonesia awal 80an, berbeda dengan risetnya tentang Islam di Indonesia pada 1960an.

Gejala "Arabisasi" ini tidak di-counter secara memadai oleh organisasi Islam besar seperti Muhammadiyah dan NU. Itu sebabnya "Arabisasi" berlangsung masif hingga kini. Terlebih ketika Soeharto mendirikan ICMI.

Jadi, "Arabisasi" menguat karena titik temu Revolusi Islam Iran, represi Orde Baru, dan kesenjangan sosial dan ketidakadilan yang memicu umat Islam nominal di Indonesia menjadi ter-radikalisasi. Kemunculan kelompok-kelompok radikal Jamaah Islamiyah dan jamaah radikal lain juga dipengaruhi situasi itu.

Belakangan gejala Arabisasi “ditunggangi” oleh kapitalis Orde Baru maupun orde reformasi untuk berbisnis busana muslim. Muncul kemudian kelas-kelas busana muslim. Tanpa disadari, kaum wanita Islam tidak berpunya terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli busana muslim.

Gelombang "Arabisasi" adalah gejala unintended consecuence, atau gejala yang tidak diperkirakan sebelumnya. Saat ini jilbab sudah masuk ke birokrasi, TNI, dan Polri. Terjadi “hibridasi budaya” di mana terjadi akulturasi budaya nasional dan budaya Arab.

Menurut saya, gejala ini jangan ditanggapi dengan keras, karena akan kontraproduktif. Kaum nasionalis harus terus membangkitkan kembali identitas bangsa lewat gerakan konsisten, persisten, tapi sabar, dan bijak. Tradisi kebudayaan nasional harus terus dihidupkan. Tarian, pakaian kebaya, dan busana daerah harus terus dikenalkan kepada generasi muda secara sistemik.Pendekatannya jangan feodal. Harus muncul konsep Islam yang berkemajuan dan ramah tetapi tetap dengan jatidiri keIndonesiaan.  

(pso)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Politisi/Inisiator Koalisi Politisi Perempuan di Parlemen

Islam tidak identik dengan Arab.  Diturunkan di Arab justru karena kebobrokan masyarakat Arab pada waktu itu. Salah satu contohnya kalau punya anak perempuan langsung dikubur hidup-hidup. Islam pada dasarnya adalah penyempurnaan dari agama-agama samawi yang diturunkan sebelumnya. Jadi aturan menutup aurat juga ada pada agama-agama terdahulu.

Kearifan lokal pada waktu itu dipakai oleh Wali Songo sebagai basis dakwah nya sehingga masyarakat dapat menerima agama baru. Agama Islam nyaris menyatu dalam kehidupan mereka. Kearifan lokal sendiri berupa nilai yang dianut dalam masyarakat hampir sama dengan akhlakul karimah dalam tasawuf . Akhlak yang mulia yang dijunjung tinggi dalam kearifan lokal.

Para wanita muslim dulu hanya berkerudung yang tidak sempurna dalam menutup auratnya. Ini terkoreksi dengan pemahaman tentang hukum-hukum  Islam yang lebih baik saat ini. Tidak ada kaitannya dengan meniru budaya Timur Tengah.                       

Bicara tentang pasar, justru Indonesia membuat revolusi dalam mode budaya wanita muslim. Menutup aurat dengan mode bisa berjalan seiring untuk estetika. Wanita muslim di Malaysia dan Singapura menjadikan Indonesia kiblat busana muslim. Biasanya mereka banyak yang  berbelanja di Bandung. Flight Bandung-Kuching 5 kali penerbangan sehari. Justru bernilai positif untuk Indonesia.

Saya tidak pernah kuatir budaya kita akan tergerus budaya Arab, karena budaya mereka tidak beragam luas seperti budaya Indonesia. Contohnya musik mereka hanya gambus dan rebab yang penggemarnya sangat terbatas. Belakangan ada tambahan marawis yang digemari masyarakat Betawi.                       

Kuliner mereka pun terbatas, sambosa, nasi kebuli, biryani, mandhi dan sejenisnya, serta kambing panggang.  Nggak mungkin akan mengalahkan gulai ayam/kambing, soto betawi, soto madura, karedok, gado-gado, dan ribuan jenis masakan Indonesia. Serbuan kuliner luar tidak akan pernah bisa menggeser selera orang Indonesia terhadap makanan Indonesia. Itu hanya berlangsung temporer. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 Dosen Pasca Sarjana UNUSIA, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara

Islamisasi dan Arabisasi berbeda. Islamisasi merupakan proses menanamkan dan mengenalkan ajaran Islam. Sedangkan Arabisasi merupakan upaya ekspansi kebudayaan Arab kepada bangsa lain. Keduanya berdampak sangat berbeda baik secara sosial, politik, maupun ekonomi.

Secara sosial, proses Islamisasi tidak mengganggu kehidupan sosial masyarakat yang menerima ajaran Islam sekalipun terjadi perombakan tatanan sosial. Wali Songo menggunakan budaya lokal dan tradisi sebagai instrumen dan infrastruktur penyebaran ajaran Islam.

Secara politik, Islamisasi membentuk relasi setara dan independen antara negara Arab dengan negara yang dituju. Dalam konteks Islamisasi di Indonesia, ada kebebasan dalam menentukan bentuk negara tanpa harus terikat bentuk yang ditetapkan oleh Arab, mulai dari berbagai kerajaan dan kesultanan sampai terbentuknya NKRI. Mau bentuk mamlakah (kerajaan), daulah (kesultanan), maupun jumhuriyah (republik/demokrasi), bebas.

Secara ekonomi, Islamisasi mengabaikan bentuk dan sistem ekonomi. Apapun bentuk dan sistemnya yang penting bisa mewujudkan kemaslahatan.

Secara sosial, Arabisasi menimbulkan kegaduhan yang memancing terjadinya konflik  karena benturan budaya. Ini terjadi karena Arabisasi anti tradisi lokal dan melegitimasi budaya Arab dengan agama sehingga yang menolak budaya Arab dianggap menolak Islam.

Secara politik Arabisasi juga rawan menimbulkan konflik, karena cenderung menjadikan negara Arab sebagai acuan utama dan pengendali dari sistem politik dunia atas nama Islam.

Secara ekonomi Arabisasi akan menguntungkan dunia Arab dan para kaum kapitalis. Dengan Arabisasi, Islam akan kehilangan daya kritis dan kekuatan transformatif sehingga lebih mudah dikapitalisasi.

Contoh kecil adalah soal jilbab yang secara sosiologis antropologis jelas merupakan kebudayaan bangsa Arab. Meski Islam memerintahkan menutup aurat perempuan, namun tidak mengatur tehnik, cara, dan bentuk dalam menutup aurat perempuan. Itulah sebabnya para kyai dan ulama Nusantara bisa menerima kerudung dan kebaya sebagai pakaian muslimah tanpa harus pakai jilbab atau hijab.

Islamisasi memerlukan kearifan, kecerdasan, dan kepekaan agar bisa membedakan mana ajaran yang perlu dijaga dan mana budaya yang bersifat temporal dan lokal (tidak universal). Sikap seperti ini melahirkan nalar kreatif yang membuat Islam diterima dan dipahami secara mudah.

Meski Islamisasi memberikan ruang pada budaya lokal, namun bukan berarti menista dan mengabaikan budaya Arab. Hal ini bisa dilihat pada sikap umat Islam Nusantara yang selalu menghormati budaya Arab seperti tercermin dalam sikap mereka kepada habaib, shalawat, ratib, dan sebagainya.

Berdasarkan pemikiran tersebut, bisa dikatakan maraknya fenomena Arabisasi akhir-akhir ini memcerminkan pendangkalan dan penyempitan pemahaman ajaran Islam  karena hilangnya kearifan, kecerdasan, dan kepekaan.

Arabisasi juga mencerminkan kuatnya kepentingan ekonomi. Arabisasi akan memberikan keuntungan ekonomi kepada negara-negara Arab dan para agennya, sekalipun harus mengorbankan substansi dari ajaran Islam itu sendiri.

Jelas di sini terlihat, Arabisasi lebih merupakan gerakan politik ekonomi daripada gerakan Islamisasi, meski menggunakan simbol agama.                       

Jadi kalau umat Islam menolak Arabisasi bukan berarti menolak Islam atau anti budaya.  Sikap tersebut lebih merupakan sikap menolak hegemoni sebagai upaya menjaga kemurnian Islam dari politisasi dan kapitalisasi agama.

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Jubir FPI. Advokat, Aktivis HAM

Tidak ada bukti sekarang ini budaya arab merajalela dan menjadi trend. Saat ini yang terjadi malah budaya pop dari berbagai tempat yang merajalela. Lihat kontes miss world di berbagai televisi.  Apa sudah terjadi Arabisasi? Saya tidak melihat sedikitpun ada budaya Arab yang menjadi trend saat ini. Coba buktikan apa ada patung bernuansa Arab yang berdiri menantang atau Arab Town? Karena yang terjadi bukan Arabisasi, tapi sekulerisasi sistematis.

Anehnya, sentimen anti Arab ini digunakan sebagai cover saja untuk agenda yang lebih besar. Hanya kamuflase untuk tujuan yang lebih kejam.

Pertanyaan, kalau serapan bahasa Arab yang dipersoalkan maka mengapa bahasa Inggris yang digunakan secara campur aduk dengan bahasa Indonesia tidak dipersoalkan. Jadi ini sesuatu yang aneh, mempersoalkan yang bukan persoalan dan mengabaikan yang justru menjadi persoalan.  

Kalau sudah begini, maka patut diduga, isu ini dikembangkan sekali lagi hanya sebagai cover untuk tujuan yang lebih ideologis. Terbukti, pertanyaan di atas dikaitkan dengan penyebaran agama. Artinya ada sentimen agama yang bekerja di balik isu Arabisasi ini.

Perlu diketahui ajaran agama itu pada dasarnya satu. Manusia yang menyimpangkan dan membuat sendiri dengan tujuan menyesatkan. Kalau ada   yang menyatakan bahwa perempuan Yahudi ortodok dan Kristen-ortodoks juga menggunakan pakaian yang menutup aurat yaitu jilbab dan kerudung, itu membuktikan bahwa itulah sisa sisa ajaran agama Allah yang masih dipegang oleh manusia modern yang dilabel ortodoks oleh manusia jahil.

Lucunya, orang orang yang merasa dirinya modern malah meninggalkan pakaian yang menutup aurat. Jadi apa yang diamalkan oleh muslimah saat ini adalah ajaran yang bersumber dari Allah.

Anda sendiri sudah membuktikan bahwa ajaran yang bersumber dari Allah tersebut juga diamalkan oleh aliran ortodoks oleh orang orang jahil. Kecuali Anda tidak mengakui apa yang digunakan oleh perempuan Yahudi ortodok dan Kristen ortodoks tersebut adalah ajaran Allah.

Bisnis pakaian muslim kini yang mengendalikan pasar produksi mapun pasar konsumsi, bahkan sektor distribusi dan sektor permodalan adalah justru Amerika dan RRC. Tidak ada kaitan dengan Arab, deh. Ini misleading dan sentimen dari kalangan anti Islam saja sepertinya.

Soal akulturasi budaya, selama ini tidak ada masalah dan semua berjalan baik. Dalam kaitan dengan syi'ar Islam, contoh kecil saja halal bil halal yang hanya ada di Indonesia. Itu mendatangkan manfaat dalam syi'ar Islam. Kecuali ada pihak yang karena luar biasa sentimen anti Islam, sehingga melarang halal bil halal.

Selama ini tidak ada yang keberatan dengan budaya memperingati hari besar Islam seperti Naulid Nabi, halal bil halal, takbiran, Nuzulul Qur'an, Ira Miraj, 1 Muharram dengan berbagai macam kegiatan yang dipadukan dengan kearifan lokal. Justru di kampung-kampung kegiatan tersebut menjadi tradisi yang memperkuat solidaritas sosial dan memperkuat integrasi sosial.

Justru aneh kalau tiba-tiba ada yang mempersoalkan hal tersebut dengan istilah Arabisasi. Saya melihat orang yang gemar menggaungkan Arabisasi justru agen westernisasi, agen Chinaisasi, dan agen sekularisasi kelas pedangan asongan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sayang, sebagian Muslimin tidak bisa membedakan mana yang syariat dan mana yang budaya. Mereka tidak sadar bahwa Islam turun bukan di ruang hampa dan bukan untuk orang Arab saja. Karena itu, Islam senantiasa berdialektika dengan budaya, dalam bentuk tahmil (adopsi atau mengambil langsung), taghyir (adaptasi atau mengambil dengan perubahan), dan tahrim (menolak).

Salah satu contoh adalah budaya Aqiqah. Sebelum Islam datang, tradisi Aqiqah telah dilakukan oleh bangsa Arab jahiliah, yaitu dengan menyembelih kambing dan darahnya ditampung sebagian untuk diusapkan di kepala bayi agar si bayi kelak menjadi seorang yang pemberani.

Ketika Islam datang, tradisi Aqiqah ini kemudian diadaptasi alias tetap dipertahankan tetapi dengan perubahan. Tidak ada lagi pengusapan darah, melainkan diganti dengan distribusi daging kambing yang disembelih tersebut untuk orang lain, khususnya kalangan tak mampu. Artinya, simbol perang (kekerasan) telah diubah oleh Islam menjadi simbol filantropi (kedermawanan sosial) sebagai perwujudan rasa syukur atas kelahiran anak.

Terlihat bahwa identitas keislaman tidak identik dengan kearaban. Islam yang mampu berdialektika dengan budaya mana pun justru membuktikan universalitas dirinya, atau yang diistilahkan sebagai "sholihun li kulli zaman wa makan" (cocok di setiap waktu dan ruang).

Dalam dakwah Islamnya di tanah jawa, Sunan Kalijaga juga pernah berpesan pada Raden Patah, "Arabe garapen, jawane gawanen." Maksudnya, Islam yang dari Arab itu mesti digarap sehingga bisa mencapai substansi spiritualitasnya, tanpa harus membuang identitas kejawaan.

Karena itu, tidak mengherankan dakwah Sunan Kalijaga senantiasa menggunakan simbol-simbol budaya, seperti tradisi "tumpeng" yang bermakna "tumindako sing lempeng" (berperilakulah yang lurus). Sehingga, Islam menjadi mudah diterima oleh masyarakat.

Imam Syafi'i sendiri dalam kitab fikihnya juga mencantumkan bab khusus berjudul "Al-'Adat al-Muhakkimah", di mana tradisi dan budaya bisa saja diadopsi sejauh tidak bertentangan dengan syariat.

Dengan demikian, Islam dan budaya memang mesti dipilah secara teliti, sehingga ajaran Islam yang universal bisa dibedakan dengan budaya yang partikular. Namun, bukan berarti Islam mesti dibenturkan secara diametral dengan budaya. Melainkan, Islam justru mesti didialogkan secara dialektis dengan budaya, sehingga bisa bersinergi dan saling melengkap. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional