Amien Rais Nyapres, Telikung Prabowo?
berita
Politika

Sumber Foto : Montage (gie/watyutink.com)

12 June 2018 12:00

Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan pernyataan Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais (AR) yang mengungkapkan siap maju sebagai Calon Presiden 2019. Pernyataan ini, AR sampaikan di hadapan kader PAN dalam acara buka puasa bersama di rumah dinas Zulkifli Hasan, di Kompleks Widya Chandra, Jakarta, Sabtu (9/6/2018). AR mengaku keinginan maju menjadi capres karena terinspirasi oleh Mahathir Mohamad yang terpilih menggantikan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, di saat usianya sudah 92 tahun. Yang menjadi tanya, apakah tepat menyandingkan karier politik AR dengan Mahathir Mohamad?

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Umum DPP PAN Viva Yoga Mauladi menegaskan bahwa partainya serius mencalonkan AR maju sebagai Calon Presiden 2019. Ia juga menambahkan kalau Amien memiliki integritas sebagai pemimpin nasional, cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan cinta rakyat Indonesia. Namun yang menarik sampai saat ini belum ada tanda-tanda adanya dukungan dari parta-partai yang mau setor suara mendukung AR. Kita tahu, PAN tak mungkin bisa mengajukan calonnya sendiri tanpa adanya koalisi dengan partai politik lain. Lantas, partai mana yang rela beri dukungan kepada AR selain PAN?

Bicara soal peluang untuk memenangkan pertarungan, tentu kita harus objektif menilainya. Hasil rilis berbagai lembaga survei, nama AR ternyata belum mampu bersaing dengan tokoh-tokoh lain. Jangankan mengungguli Prabowo Subianto, nama AR bahkan kerap disalip oleh tokoh lain misalnya Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, bahkan Agus Harimurti Yudhoyono.

Pada titik ini muncul pertanyaan mendasar, sejauh mana peluang AR untuk dilirik dan bisa dijagokan partai politik lain untuk maju di Pilpres mendatang? Atau, jangan-jangan seperti yang diprediksi banyak pengamat hanya sebatas merekam dan mencatat ambisi AR saja? 

Dalam dunia politik, berbagai kemungkinan tentu bisa saja terjadi. Kemungkinan (besar atau kecil) AR maju di pilpres mendatang tentu masih ada. Spekulasi ini semakin menguat setelah Ketua Presidium Alumni (PA) 212 Slamet Maarif mengatakan pihaknya membuka peluang untuk mendukung AR menjadi capres pada Pilpres 2019 nanti. PA 212 juga memastikan akan mengadakan pertemuan bersama para ulama untuk membicarakan hal tersebut.

Andaipun Amien berhasil meraih tiket maju sebagai capres, strategi apa yang akan dibangun AR untuk memenangkan pertarungan? Dengan sikap dan pernyataan AR yang sejak tidak berkuasa lagi kerap nyeleneh dan memancing kontroversi. 

Kalau kita mau menengok ke belakang sebelum isu ini mencuat, pertemuan Amien Rais-Prabowo Subianto dan Habib Rizieq di Kota Suci Makkah pada Sabtu (2/6/2018) muncul kesan kuat bahwa para tokoh tersebut seperti mendapat enerji baru. Perjalanan Prabowo dan Amien jauh-jauh menemui Habib Rizieq membawakan hasil. Habib Rizieq, yang sebelumnya diusung PA 212 sebagai capres, justru merekomendasikan Prabowo sebagai capres mengganti dirinya. Habib Rizieq juga meminta agar keempat parpol yaitu Gerindra, PKS, PAN dan PBB membentuk sebuah koalisi yang dinamakan Koalisi Keumatan. 

Menariknya dengan AR menyatakan diri siap untuk maju sebagai capres, apakah secara tidak langsung AR menilai Prabowo kurang menyakinkan untuk menumbangkan Jokowi? Atau ada strategi lain di balik isu AR siap maju nyapres yang sengaja disebarluaskan?

Apa pendapat anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Lingkar Madani

Keinginan Amien Rais untuk mencalonkan diri sebagai capres 2019 menyiratkan banyak hal. Koalisi keumatan yang dicanangkan kelompok oposisi, pada faktanya tak memiliki kepercayaan diri dan soliditas yang kuat. Faktor yang sebenarnya jadi pengikat diantara oposisi bahkan makin ke sini makin kehilangan pijakan. Tragisnya, ketidakpercayaan diri itu justru makin mengental sejak adanya pertemuan ihrom politik di mana Prabowo Subianto, Amien Rais dan Habib Rizieg bertemu di Makkah. 

Bibit bahwa kelompok oposisi tidak solid, sebenarnya sudah terlihat justru sejak Anis Bawesdan ditetapkan sebagai pemenang pilkada dan Ahok dipidana penjara. Di mulai adanya desakan untuk mendorong nama-nama tertentu masuk dalam bursa pilkada 2018 yang menyebabkan barisan ini terkelompok pada setidaknya 3 barisan. Berlanjut pada tak jua ditetapkannya Cawapres Prabowo yang berjalan seiring dengan enggannya PKS menyatakan dengan tegas bahwa capres yang mereka usung adalah Prabowo.

Tagar ganti presiden justru sinyal ketidaksolidan itu. PKS yang memulai tagar itu bahkan tidak dengan spesifik menyatakan Prabowo  adalah ganti Jokowi. Ujungnya, PAN yang diharapkan bergabung dikoalisi malah terus menerus menjaga jarak. Bahkan ketika Gerindra membentuk struktur pengurus posko bersama, PAN menyatakan keberatannya logo dan nama partainya dilibatkan. 

Begitulah sampai ada rilis capres dari ulama-ulama yang tergabung dalam 212. Rilis itu hanya menempatkan Prabowo sebagai capres no 2 di bawah Habib Rizeq. Tentu ini di luar skenario. Untuk menjaga soliditas dan mengembalikan kembali wibawa Prabowo, maka umroh politik pun dilakukan. Di Makkah, AR, PS dan HR bertemu lalu tercetuslah istilah koalisi keumatan. Tak berbilang hari, koalisi itu seperti pecah manakala beberapa pentolan kelompok ini malah mendeklarasikan Anis Bawesdan sebagai capres. Puncaknya, AR juga menyatakan siap jadi capres 2019. 

Tentu, langkah Prabowo makin sulit. Di partai ini, tak terlihat ada tokoh yang ulung melakulan lobi. Khas partai yang memang serba terkomando. Pernyataan-pernyataan mereka di publik sama sekali tidak membantu Prabowo untuk dapat bertahan sebagai pigur capres kelompok koalisi. Kebanyakan menyerang Jokowi malah membuat simpati publik meningkat, dan sebaliknya sedikitnya promosi pada Prabowo mengakibatkan elektabilitasnya seperti stagnan. 

Artinya, Gerindra harus mengambil alih kembali kepemimpinan koalisi. Mereka harus mencari isu yang memang dapat menaikan simpati dan elektabilitas. Pola menyerang yang selama 3 tahun ini ditampilkan tak menumbuhkan simpati masyarakat pada partai ini. Nama Prabowo stagnan, malah sekarang berpotensi ditinggalkan. Pernyataan AR yang siap jadi capres 2019 tak luput dari situasi ini. Elektabilitas Prabowo stagnan karena publik butuh isu dan tentu saja pigur lain. Dua hal inilah yang tak tersedia di Gerindra. Isunya lama, tak faktual, kebanyakan malah bersifat negatif pada saat yang sama juga pigurnya adalah stok lama. 

Deklarasi AR itu bagian dari upaya menekan PS agar sebisa mungkin mendorong munculnya figur baru. Saya kira. AR tak serius untuk ingin maju. Tapi ini semacam sinyal bahwa ketidakpercayaan pada elektabilitas PS yang  makin sulit mengejar Jokowi hari demi hari makin menggumpal. Bahkan kini sudah merasuk ke tokoh yang sebelumnya merupakan pendukung utamanya AR. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wakil Ketua DPW Kombatan Bali, Dosen Universitas Mahendradata Bali

Seperti dagelan menunjukan kelemahan sendiri. Amien Rais (AR) awalnya seperti negarawan yang aktif mengkritisi pemerintah Orde Baru. Dengan bekal teori yang dipelajari di luar negeri justru secara ambisius merubah sistem pemerintahan maunya sistem federal, namun mereka lupa dengan lantar belakang Indonesia yakni kultur.adat budaya dan agama yang beragam.

Mungkin yang paling spetakuler merubah alur politik pada saat pemilu awal Reformasi di mana presiden dipilih dengan sistim perwakilan (DPR). Secara teoritis Megawati mestinya menjadi presiden dengan kalkulasi kursi terbanyak oleh PDIP, malah terpilih Gus Dur. Ini bagian politik AR dengan membentuk garis tengah dengan mengakomodir parpol kekuatan islam. Mengangkat isu sensitif kaum perempuan tidak layak menjadi orang nomor satu (memimpin) sesuai ajaran agama kelompok mereka, padahal AR pernah lama hidup dialam demokrasi masalah gender tidak ada. Namun di Indonesia cukup telak isu gender dikaitan faktor ajaran mampu mengalahkan posisi perempuan.

Perjalanan AR kebelakang tidak populis lagi karena kritik yang dikeluarkan tidak sesuai fakta sehingga dimasukan kebarisan sakit hati. Melihat fenomena ini setiap kritik yang dilemparkan ke Pemerintahan Jokowi malah AR kena batunya! Bagaimana bisa Jokowi dilemahkan dengan berbagai isu karena Jokowi menunjukkan karya nyata membangun infrastruktur penting dalam memperlacar proses pembangunan jangka panjang. 

Rakyat sudah memandang memang Jokowi pantas jadi presiden dengan kesederhaan dan kecerdasan satu persatu masalah diselesaikan. Kalau ada mengkritik atau menjelek-jelekan Jokowi, Presiden RI, mereka akan tertendang jauh dari lubuk hati rakyat jangan coba coba nyapres bikin malu sendiri. 

Pandangan saya jika ingin menjabat baik-baiklah, ngomong yang positif. Kalau mengkritik cara beretika dengan argumentasi yang matang. Jokowi saat sulit tertandingi, rakyat sudah melihat perbuatan nyata dan prestasi yang dicapai. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Guru Besar Antropologi UI, mantan Ketua Umum Partai Demokrat

Manuver AR bagaikan Pendekar Mabuk yang putus asa. Setelah Aksi “Ganti Presiden” tidak mampu menggoyang Jokowi, mulai membangun aliansi dengan RS dan Prabowo untuk menggiring umat muslim ternyata harus menampung berbagai kelompok kepentingan di kalangan umat. Pilihan kandidat aliansinya, Prabowo, nampaknya kurang meyakinkan dan ditakutkan akan memukul balik sekutunya. Kerapuhan aliansi bertambah parah ketika mereka harus menentukan cawapres. 

Di lain pihak PS juga kurang yakin akan pendukungnya yang memerlukan pengorbanan financial maupun idelogis politik. Karena itu PS pun berusaha mendekati PDIP lewat Puan yang nampaknya kurang bisa diterima oleh Jokowi sebagai calon wapres. 

Manuver politik yang seringkali diwarnai dengan pernyataan-pernyataan “kampungan” atau vulgar itu kurang bisa diterima oleh sebagian masyarakat Indonesia yang beradab, sehingga menjadikan senjata makan tuan. 

Menghadapi kenyataan sosial sedemikian itulah yang menjadikan AR kalap. Sebagaimana budaya Melayu, AR bermula merajuk, terus berlanjut dengan latah melihat tetangga berhasil terpilih jadi PM di usia senja. Kita harus siap langkah berikutnya “ngamuk”. Kalau orang ngamuk biasanya kehilangan kontrol tidak peduli siapa lawan siapa kawan. Kalau perlu hancur semuanya termasuk NKRI. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen STAIN Bengkalis

Amien Rais cukup matang dalam dunia politik. Keberhasilan tampil di era Reformasi, dan berhasil melengserkan Orde Baru membuat tokoh Amien Rais menjadi idola di kalangan kaum muda. Puncak karirnya menjadi ketua MPR di era pemerintahan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Ironis memang, karir politik Amien Rais setelah itu tidak begitu cemerlang. Keinginan untuk menjadi presiden selalu kandas oleh dinamika politik tanah air. Tokoh yang sebelumnya tidak diperhitungkan justru mencapai puncak karir politik, yaitu SBY. Bahkan dia orang terlama menjadi presiden di era Reformasi. Suatu prestasi yang sangat mengagumkan tentunya.

Ambisi Amien Rais selalu kandas sebagai capres. Namun sebagai king maker, Amien Rais cukup berhasil. Ini bisa dirunut keberhasilan Gus Dur menjadi presiden dan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI.

Fakta ini menunjukan bahwa ada kelemahan komunikasi politik Amien Rais saat menjadi capres.
Pertama, statemen politiknya selalu menimbulkan kontroversi. Penyebutan Partai Alloh dan Partai Setan telah memberi pesan politik kepada publik bahwa dia ada sosok politik yang tidak memberi keteduhan dalam kebersamaan. Kedua, dikotomi politik versi Amien Rais juga memperbesar sentimen kaum Nasionalis dan Islam moderat semakin menjauh. Peristiwa 212 merupakan catatan politik Amien Rais yang bekerja sama dengan kelompok Islam yang dicap radikal seperti HTI.

Ketiga, kebiasaan Amien Rais mengkritik pemerintah sebenarnya hal yang sangat biasa. Namun kritikan berlebihan menjadi blunder politiknya yang semakin hari ketokohannya anjlok di mata publik.

Dari pemaparan tersebut, nampaknya harus berfikir ulang untuk maju sebagai capres. Selain itu tokoh tokoh muda sperti Zulkifli Hasan dan lainnya cukup baik juga untuk dijadikan capres. Sehingga pohon politik bisa tumbuh dengan normal dan tidak terbonsai oleh bayang-bayang ketokohan.

Slogan: #2019GantiPresiden, seharusnya dimaknai juga regenerasi politikus untuk tampil memimpin negeri ini. Amien Rais cukup berperan di belakang layar karena memang sudah cukup berhasil sebagai king maker. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Arsitek, Aktivis dan Penulis

Saya ingin mendorong proses regenerasi pemimpin politik di Indonesia berjalan sesuai perkembangan zaman. Tujuannya semata-mata supaya up to date. Bukannya saya melarang tampilnya Singa Tua dalam panggung politik nasional, tetapi biasanya jika tidak ada hal yang yang spesifik, rakyat malas memilih Singa Tua. Mahathir, adalah mantan PM Malaysia. Dan memilih untuk mundur dari panggung politik dengan tujuan untuk memberi kesempatan kepada generasi berikutnya. Bukan dilengserkan atau kalah tanding. Mahathir memenuhi rumus tua yaitu: memilih mundur saat di puncak. Sehingga reputasinya tetap manis sampai akhir hayatnya. Dan belum juga tiba akhir hayat, Mahathir terpaksa (atau dipaksa) untuk kembali memimpin Malaysia. Sehingga menjadi sebuah ‘Come Back ’ yang manis seperti film-film Hollywood. Seorang pendekar yang telah mengasingkan diri, turun gunung.

Amien Rais, berbeda. Karir politiknya sudah tamat seiring dengan tampilnya SBY sebagai pemimpin selama 10 tahun. SBY dengan digjayanya membersihkan semua rival politiknya pada zaman reformasi. Bahkan PDIP meringkuk dalam sengsara tak terperi. Bukan rahasia umum lagi, banyak kader PDIP terpaksa tarik ojek pada masa Partai Demokrat berjaya. Partai PAN yang menjadi tempat Amien Rais bercokol, hanya menjadi proyek sampingan SBY bersama sejumlah partai Islam lainnya seperti: PKS dan PKB. Dengan jingle sebagai: Partai Nasional Yang Relijius, SBY merangkul PAN. Dengan demikian, setialah PAN hanya sebagai partai pendamping.

Pada masa kini, ketika PDIP berkuasa, situasinya sudah sangat berbeda. Partai Demokrat, sebagai leader partai pada masa SBY, sudah tak berkutik untuk menjadi rival PDIP. Malahan yang naik daun adalah Partai Gerindra (Prabowo). Dan Prabowo, tentu tak akan pernah lupa bagaimana SBY dan kawan-kawan mencopot pangkat komandonya. Sehingga, bagaimana mungkin Prabowo ‘bermesraan’ dengan SBY. Jika Partai Demokrat saja, tak mampu menandingi Partai Gerindra, apalagi Partai PAN yang cuma menjadi pendamping pada masa SBY.

Tetapi, katanya dalam politik, semua terbalik-balik. Apa saja mungkin. 

Naiknya, Amien Rais dalam peta politik nasional masa kini, semata-mata karena terlibat aktif dalam isu penggulingan Ahok (Gubernur DKI Jakarta). Dan Ahok, hanya seorang Gubernur Provinsi, bukan seorang Presiden! Sehingga Aksi 212 yang kemarin terjadi, menurut sebagian demonstran 212, itu kebangetan. Dalam arti terlalu besar aksinya hanya untuk menurunkan seorang Gubernur, dan tetapi mungkin katanya jika tidak sebesar itu, Ahok tidak akan mundur dan kalah dalam pilkada.

Dan Aksi 212 itu pun terjadi setelah berakumulasinya jerit derita korban gusuran Ahok. Terutama pasca penggurusan Kampung Aquarium yang berlanjut dengan isu penghancuran Masjid Luar Batang. Maka, berduyun-duyunlah para Habib bersatu memenuhi seruan Imam Masjid Luar Batang. Selanjutnya, silahkan buka dan baca.

Perkara, Habib Rizieq (FPI) yang memimpin Aksi 212, itu pun bukanlah hal yang simsalabin tiba-tiba terjadi. FPI dan Habib Rizieq, konsisten menentang Ahok dan isu de-muslimisasi di tanah Jakarta, siapapun Gubernurnya dan Presiden RI. Pasca Reformasi, FPI sering sekali melakukan sweping dan sangat terkenal sebagai gerakan aliran keras Islam dengan isu sektoral. Pada masa SBY berkuasa dan Gubernur DKI mulai dari Sutiyoso sampai Fauzi Bowo, masyarakat acap kali protes terhadap segala aksi-aksi FPI. Dan boleh lah dianggap ‘anak bawang’ oleh organ Islam lainnya. Tidak ada yang memperdulikan FPI hari itu. FPI konsisten menentang para-kafir berkuasa di Jakarta, kira-kira begitulah.

Jadi, ketika aksi 212 terjadi dan para partai oposisi bersatu bersama para ulama untuk mendukung calon gubernur muslim sebagai penantang Ahok yang didukung oleh Partai Penguasa (PDIP). Muncullah Bapak Amien Rais, seolah-olah sebagai: Dalang Aksi 212. Untunglah, pada saat itu: Para Partai Islam bersatu padu dalam satu isu: Menentang Gubernur Kafir. Sehingga dapat tercipta isu (musuh) bersama. Andaikan ‘Ahok’ itu muslim; padamlah semua issue tadi dan para politikus Islam tak mungkin bersatu padu bersama ulama.

Jadi, tak baiklah begitu. Berlaku seperti seseorang yang tiba-tiba naik panggung dan memegang microphone dan berorasi. Buat para politisi yang sudah makan asam garam dalam berbagai Aksi Massa; perilaku seperti itu disebut: Oportunis. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Saya sependapat dengan tafsir sebagian orang bahwa pernyataan Pak Amien Rais (AR) siap maju pilpres adalah menegasikan bahwa "Pak Prabowo tidak memiliki peluang menang atau dia (AR) lebih besar peluangnya". Semangatnya Pak Amien Rais harus diakui luar biasa di usianya yang senja. Manuver-manuver politiknya pun sangat dinamis. Sampai disini saya salut.

Tapi, tentunya tidak cukup relevan membandingkan Pak Mahathir Muhammad (MM) dengan Pak Amien Rais. MM dua kali jadi Perdana Menteri, ini periode yang cukup untuk bisa melihat track record kepemimpinannya, dan momentumnya sangat tepat. Sementara AR belum pernah jadi presiden beneran, pengalamanya sebatas pernah calon presiden, meskipun pernah memimpin MPR-RI. Apalagi momentum politik seperti di Malaysia sudah lewat untuk Indonesia. Dibanding Pak Amien Rais, Pak Zulkifli Hasan lebih jelas track record-nya, dia pimpinan partai, pernah mimpin Departemen Kehutanan dan saat ini ketua MPR-RI.

Keyakinan saya belum berubah, melihat berbagai hal dan fakta sosial yang ada, Pak Jokowi hanya bisa dilawan oleh figur baru yang lebih visioner. Selama tidak ada figur seperti itu, bisa dipastikan 2019 Presiden RI masih tetap Jokowi. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada

Saya tertarik membahas pencapresan Amien Rais. Namun, saya tidak tertarik membahas soal elektabilitasnya. Partai diluar koalisi Jokowi tinggal PAN, Gerindra, PKS, PKB, Demokrat. Dari kelima partai tersebut, Gerindra yang paling tinggi popularitasnya, wajar Prabowo ngotot maju Capres.

Tetapi sayangnya, popularitas Gerindra tidak cukup ngusung paslon capres-cawapres sendiri, harus berkoalisi. Siapa temannya? Teman partai yang tersisa adalah PKS, PKB dan PAN. Dengan Demokrat susah, karena Demokrat memberi opsi capres alternatif.

Dengan munculnya Amien Rais, mengubah konstelasi politik partai-partai non-Jokowi. Saya yakin, PKB akan gabung koalisi Jokowi, karena elektabilitas PKB tidak diikuti elektabilitas Muhaimin Iskandar. Tinggal PAN, PKS, Demokrat dan Gerindra.  

Coba dikaji dari sisi Prabowo. Tinggal PKS temannya, karena PAN mengusung Amien Rais. Nilai jual PKS naik di mata Prabowo, karena PKS tinggal satu-satunya teman yang bisa diajak berkoalisi. 

PAN mengusung Amien Rais berkoalisi dengan Demokrat dengan cawapres AHY.  Apa cukup suara PAN dan Demokrat? Boleh dibilang muskil. Apakah munculnya Amien Rais sebagai capres adalah strategi PAN dan Demokrat memisahkan diri dari koalisi Gerindra dan PKS secara santun, untuk kemudian di detik-detik terakhir PAN dan Demokrat, karena pragmatisme lompat ke koalisi partai pendukung Jokowi?  Who knows? Kerja berat di koalisi Gerindra-PKS. 

Elektabilitas Prabowo yang masih kalah jauh dibanding Jokowi, harus muncul sosok legendaris sebagai cawapres untuk mendongkrak popularitas Prabowo. 

Yang pasti jargon-jargon politik 2019 Ganti Presiden tidak cukup. Apalagi paslon yang dimunculkan tidak mampu mengimbangi popularitas Jokowi. Justru akan menjadi bumerang bagi elektabilitas partai Gerindra dan PKS di Pilleg 2019. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua Dewan Pembina Yayasan Kertha Nusantara

Beberapa negara adidaya memang pernah dipimpin oleh orang tua. USA pernah dipimpin orang tua bernama Ronald Reagen, Rusia saat masih bernama USSR dipimpin oleh orang tua bernama Leonid Breshnev, RRC pernah dipimpin oleh Deng Xiaoping, orang tua berusia lebih dari 90 tahun. Mereka orang orang tua yang hebat pada zamannya. Bahkan Bimbo pernah memuji Reagen dan Breshnev sebagai orang tua terhebat di dunia yang dengan hanya satu kata dari mereka, dunia bisa berubah.

Kemenangan Mahathir Mohamad  sebenarnya bukan menginspirasi tetapi membuka ambisi Amien Rais yang sejak awal reformasi terpendam untuk menjadi presiden. Ambisi itu kini mendapat jalannya pasca pertemuan politik dengan Habieb Rizieq di Makkah (2/6/2018) yang mana Habieb Rizieq meminta Gerindra, PKS, PAN dan PBB membentuk "Koalisi Keumatan" dengan Prabowo Subianto sebagai capres. Tetapi bak pembalap Rossie, Amien Rais melihat "Koalisi Keumatan" merupakan motor balap yang enak untuk main tikungan. Sebagai politikus berpengalaman maka Amien Rais langsung ngambil kunci motor agar dapat segera mengendarai motor "Koalisi Keumatan". Artinya Amien Rais siap menyingkirkan Prabowo untuk diusung sebagai capres dari Koalisi Keumatan.

Memang sampai saat ini Amien Rais belum masuk bursa RI-1 ataupun RI-2. Tetapi dengan modal dasar PAN maka Amien Rais kemungkinan besar dapat menunaikan ambisinya politiknya untuk menjadi capres. Itupun dengan catatan bila partai partai yang bergabung dalam Koalisi Keummatan mau berbesar hati mengusung Amien Rais. Bila yang terjadi sebaliknya, maka Amien Rais akan gigit jari dan Koalisi Keumatan akan jadi kendaraan mogok di garis start. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Wacana majunya Pak Amien Rais selaku dewan kohormatan partai PAN dalam perhelatan Pilpres 2019 untuk melawan Bapak Jokowi dan Bapak Prabowo sepertinya politik akal-akalan Pak Amien Rais yang sudah kehilangan akal sehat dengan argumen terinspirasi Mahathir Mohamad.

Bagaimana bisa hal itu bisa relevan karena Mahathir Mohamad kan sudah pernah menjadi perdana menteri dan elektibiltasnya sngat tinggi. Selain itu juga situasi politik di Malaysia juga berbeda sengan Indonesia yang mempunyai presiden incumben dengan elektabilitas tertinggi dan berprestasi.

Sedangkan Pak Amien Rais yang kredibilitasnya masih dipertanyakan oleh masyarakat Indonesia. Barangkali di kalangan ulama-ulama Muhammadiyah masih militan terhadap beliau, tetapi kan pemilih di negeri ini majemuk sekali. Di samping itu pak Amien juga belum punya dukungan parpol yang mencapai persyaratan 20 persen, karena sisa partai minus koalisi Jokowi yang terdiri dari Gerindra, PKB, PKS dan Demokrat sudah punya kalkulasi politik sendiri.

Apalagi Gerindra yang sudah mendeklarasikan calonnya sendiri, yaitu Prabowo. Kemudian PKS yang notabene adalah sekutunya Gerindra. Demikian juga Demokrat yang punya AHY yang elektibiltasnya di atas Pak Amien. Sedangkan PKB yang kecendrunganya ke Jokowi.

Rasanya wacana Pak Amien tersebut hanya move politik yang ingin mengulang kejadian Pilpres 1999, di mana pak Amien yang mempunyai skenario membentuk poros tengah, dan memenangkan pilpres denga presidennya Gus Dur. Walaupun kemudian di-impeachment melalui sidang istimewa di bawah kepemimpinan dia juga.

Rupanya skenario ini ingin diulang lagi untuk melengserkan Bapak Jokowi yang elektibilitasnya bener-bener bisa terjaga sampai saat ini. Karena beliau mampu mengerjakan programnya dengan baik dan menjaga inflasi di negeri ini.

Mungkin dengan kehabisan akal pak Amirn, yang meilihat elektibilitas prabowo jalan di,tempat, ingin membuat manuver alternatif dengan membuat poros tengah kembali untuk merangkul partai-partai oposisi dengan capres alternatif. Karena hasil servei berbagai lembaga servei menunjukkan bahwa apabila pilpres dilakukan saat ini, sudah jelas Jokowi menang.

Strategi-strategi parpol oposisi saat ini sebenarnya mengalami kebuntuan yang sangat fatal karena tarik menarik kepentingan masing-masing sehingga Pak Amien Rais yang dianggap sangat piawai membuat strategi diberikan mandat oleh pihak oposisi untuk membuat skenario-skenario baru untuk menyaingi Jokowi .

Dan tidak mungkin Pak Amien Rais menghianati Pak Prabowo terlihat dari kebersamaan beliau dengan mengunjungi Habib Rizieq ke Arab Saudi dan tujuan mereka sama yaitu menumbangkan Jokowi. Agar kepentingan-kepentingan mereka baik bisnis dan politik tidak diganggu oleh Jokowi. Karena Jokowi adalah presiden yang benar-bener jujur, pekerja keras dan pro rakyat serta tidak korupsi. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti di CDCC (Center for Dialogue and Cooperation among Civilization), mantan Anggota Komisi I DPR RI

Harus diakui, sementara ini sebagai partai menengah PAN dilirik dan didekati sejumlah capres atau cawapres, baik yang punya partai maupun tidak. Hal ini menimbulkan efek sentrifugal politik yang menimbulkan riak internal yang tidak memberi menfaat terhadap partai. Lebih dari itu, setiap pelamar yang datang mendapatkan dukungan sejumlah kader baik di pusat maupun di daerah, sehingga menimbulkan perdebatan yang menghabiskan energi. 

Beruntung PAN masih memelihara tradisi egalitarianisme dan prinsip demokrasi sehingga berbagai fikiran kritis muncul sebagai respon terhadap situasi yang berkembang. 

Sejak berdirinya PAN telah melahirkan empat Ketua Umum; Amien Rais (periode 1998-2005), Soetrisno Bachir (periode 2005-2010), Hatta Rajasa (periode 2010-2015), dan Zulkifli Hasan (periode 2015-2020). Di tengah ramainya para capres dan cawapres yang berbur kendaraan politik, para kader partai disadarkan bahwa mereka adalah aset partai yang bernilai dengan prestasi masing-masing. Amien Rais pernah menjadi Ketua MPR RI, Hatta Rajasa empat kali menjadi mentri dan terakhir sebagai Mentri Prekonomian, Soetrisno Bachir kini menjadi Ketua KEIN, dan Zulkifli Hasan masih menjabat Ketua MPR. 

Kesadaran inilah yang kemudian mendorong keempatnya untuk turun gunung. Apalagi masing-masing memiliki simpatisan baik di dalam maupun di luar partai. Sejak bergulirnya keempat nama ini, para kader partai di semua lapisan bergeliat untuk mensosialisasikan idolanya masing-masing. 

Sekenario ini dapat berjalan tidak bisa dilepaskan dari ketulusan dan kebesaran jiwa sang Ketua Umum. Walaupun Zulkifli Hasan telah mengantongi rekomendasi dari Rakernas PAN di Bandung tahun lalu, ia tetap membuka jalan untuk kader PAN yang lain. 

Tantangan berikutnya yang harus dihadapi adalah adanya aturan yang mengharuskan setiap pasangan capres-cawapres mendapatkan tiket berupa 20 persen kursi di DPR RI atau 25 persen suara pada Pemilu yang lalu. Aturan ini mengharuskan PAN mendapatkan parner koalisi, setidaknya dari satu partai besar atau dua partai menengah. Konsekuensinya, PAN harus mau berkompromi. 

Karena itu, siapa yang nantinya akan terus melaju akan sangat ditentukan oleh siapa parner koalisi dan dalam posisi capres atau cawapres akan muncul kemudian. 

Tampaknya PAN sedang memainkan strategi yang bila dianalogikan dengan sepak bola, turunkan semua pemain utama lalu giring dan olah bola sebanyak-banyaknya untuk menciptakan peluang dalam mencetak gol. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Amien Rais mau maju capres adalah hak konstitusional. Namun dalam politik sekarang persoalannya bukan boleh atau tak boleh, tapi apakah layak dan realistis. Seandainya Amien maju capres pada 1999 itu masih menjual. Namun berdasarkan hasil sejumlah survei nasional, Amien sangat kecil peluangnya untuk menang. Jangankan dibandingkan Jokowi dan Prabowo, dibandingkan Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti Yudhoyono, Anies Baswedan saja Amien sudah kalah.

Selain itu, jika Amien niat maju capres, ini saja sudah tidak layak. Amien seolah merusak Koalisi Keumatan yang baru dibentuk. Secara realistis koalisi itu harusnya mendukung Prabowo sebagai capres. Perdebatannya harusnya hanya soal siapa yang jadi wapres. Bukan malah maju sendiri sebagai capres. Itu akan meruntuhkan koalisi sejak awal, sebelum resmi terbentuk. Penyebabnya adalah ego personal yang tidak realistis. Sungguh parah dan menyedihkan. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik

Menanggapi niatan Pak Amien Rais yang hendak menjadi calon presiden (capres), saya pikir dari dulu Pak Amien tak pernah menjadi aktor utama dalam panggung politik Indonesia. Pak Amien selalu berperan sebagai ‘penari latar’, sebagai ‘penari latar’ cukup sekadar meramaikan saja.

Selanjutnya, kalau dikatakan hasil kumpul-kumpul Pak Amien, Prabowo dan Habib Rizieq di Arab mengatakan Pak Amien hendak naik sebagai capres, itu berarti pertemuan tersebut sebuah pepesan kosong.

Kalau langkah untuk mencapreskan Pak Amien ini merupakan satu langkah awal untuk menjebak, seolah mereka mendukung Amein ternyata menyiapkan orang lain, seperti beberapa tokoh yang belakangan muncul (di luar Jokowi dan Prabowo), itu yang harus diwaspadai.

Sehingga saya tidak mau berhenti membaca sampai di Amien Rais saja, tapi jauh di balik dia. Keputusan politik apa yang dibangun oleh Habib Rizieq dan petinggi-petinggi partai di Arab waktu itu. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

Pernyataan Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais yang siap maju sebagai calon presiden hanya sebagai sensasi politik. Apalagi pernyataan tersebut hanya disampaikan di hadapan kader PAN dalam acara informal silaturahmi buka puasa bersama di rumah dinas Zulkifli Hasan, Kompleks Widya Chandra, Sabtu, tanggal 9 Juni 2018 dan bukan dalam acara formal semacam Rakernas atau Kongres. Biasanya dalam acara buka bersama ada acara ceramah pembukaan dari tokoh atau sesepuh untuk menyampaikan sesuatu pada hadirin.

Publik hanya dikejutkan oleh pernyataan Amin Rais yang berkeinginan untuk mencalonkan diri sebagai presiden dan mau menantang secara kesatria Presiden Joko Widodo dalam Pilpres 2019. Keinginan maju tersebut karena terinspirasi oleh Mahathir Mohamad yang terpilih menggantikan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, di saat usianya sudah 92 tahun. Padahal Amien Rais sebagai ahli dan dosen ilmu politik menyadari bahwa ada perbedaan signifikan antara sistem politik antara Indonesia dan Malaysia.

Dalam sistem politik Indonesia yang mencalonkan presiden dan wakil presiden adalah partai politik atau gabungan partai politik yang memiliki kursi di DPR. Sedangkan di Malaysia ketua partai pemenang pemilu yang berhak menjadi Perdana Menteri. Dari perspektif politik itu tipis kemungkinan sosok Amien Rais bisa dengan mudah maju dan mendapatkan rekomendasi dari sejumlah partai politik untuk bersaing dan bertanding dengan petahana Jokowi dalam Pilpres 2019.

Dalam politik berbagai  kemungkinan tentu bisa saja terjadi. Namun politik  juga harus rasional dan segalanya harus diukur dengan kalkulasi yang tepat.Saat power Amien Rais yang cukup besar pasca reformasi juga tidak mampu memenangkan Pilpres 2004 ketika berpasangan dengan Siswono Yodhohusodo. Apalagi sekarang power Amien Rais yang mulai meredup dan sudah hampir dipastikan tidak akan mendapat dukungan dari koalisi partai politik, khususnya koalisi parpol pendukung Prabowo Subianto.

Hasil rilis berbagai lembaga survei, nama Amien Rais ternyata belum mampu bersaing dengan tokoh-tokoh lain seperti Prabowo Subianto, Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti dan Anies Baswedan. Oleh sebab itu banyak prasyarat yang harus dilalui oleh Amien Rais untuk Pilpres 2019, terutama harus meyakinkan Partai Gerindra yang lebih dulu mendeklarasikan Prabowo Subianto sebagai kandidat Pilpres 2019.

Sebagai partai menengah yang hanya mendapatkan kursi 7 persen DPR, PAN harus berkoalisi dengan Gerindra atau PKS, Demokrat dan PKB yang belum mendeklarasikan kandidat Pilpres 2019.Tentu saja sulit bagi Amien Rais untuk meyakinkan partai Demokrat yang sekarang di nahodai oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang selama ini tidak memiliki hubungan yang mesra, atau dengan PKB yang punya basis dukungan dari kelompok Nahdiyin. Kemungkinan hanya Gerindra dan PKS yang bisa diajak berkoalisi dengan PAN untuk mengusung Amien Rais. Itu pun tergantung konsensus yang dilakukan antara Amien Rais-Prabowo Subianto, yang merupakan tindak lanjut pertemuan mereka dengan Habib Rizieq di Makkah, 2 Juni 2018.

Mengingat dinamika politik yang semakin hangat menjelang Pilkada 2018 dan Pilpres 2019, Amien Rais sebagai tokoh Reformasi, turut membantu mendinginkan suasana politik dalam negeri khususnya di grassroot agar tidak terjadinya instabilitas politik. Berikan kesempatan pada tokoh-tokoh muda untuk berkompetisi secara fair dan adil dalam Pileg dan Pilpres 2019, dan ikut melakukan pencerahan pada masyarakat.

Amien Rais adalah tokoh akademis yang sangat dihormati khususnya bagi ilmuwan politik, dan harus bisa mengendalikan diri untuk tidak membuat pernyataan yang kontroversi seperti sebelumnya. Kami bangga memiliki sosok Amien Rais yang tetap kritis dan terkendali. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Keputusan Amien Rais (AR) menjadi  calon presiden membuat Jokowi makin  sulit dikalahkan. Bukan karena Jokowi makin kuat, tapi lebih disebabkan oleh melemahnya oposisi. Dalam hal ini kubu oposisi perlu berkaca pada pepatah 'bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh'.

Kubu oposisi tampaknya tak melihat bahwa banyak pemilih menjadi galau menyaksikan ketdakkompakan mereka. Masing masing mau maju sendiri sehingga mengesankan mereka terlalu egoistik untuk bersatu.  Maka,  bila akhirnya mereka berkoalisi, akan menjadi sebuah sebuah persekutuan semu yang malah membuat negara makin lusuh.

Indonesia pernah didera oleh koalisi rapuh pada masa keperesidenan kedua SBY. Dua sekutu utama SBY, Golkar dan PKS,  justru menjadi menjadi penyerang paling ganas terhadap pemerintah. Jauh lebih ganas ketimbang kubu oposisi.

Kedua arpol tersebut berkoalisi sekaligus beroposisi. Tapi mereka disebut sebagai 'penohok kawan seiring'. Mereka mengaku 'kawan yang kritis'. Hanya saja tak dijelaskan kenapa mereka lebih kritis dibandingkan oposisi.

Maka, dalam situasi seperti sekarang, kalau memang serius mau menggusur Jokowi, satu-satunya pilihan bagi kubu oposisi adalah membangun kekompakan, dan berkomitmen menjadi rekan koalisi  sungguhan bukan abal-abal. Ingat,  masih segar di kepala banyak orang tentang situasi politik yang selalu panas akibat koalisi abal-abal.

Sayangnya sampai sekarang, meski sudah bolak-balik ke tanah suci dan sowan ke Habib Rizieq Shihab,  kubu koalisi tetap terbelah. Sentimen agama yang didegungkan sebagai alat pemersatu seolah sekadar basa-basi.

Dalam kondisi seperti ini tapi yakin bisa menang dalam Pilpres 2019 kok seperti mimpi di siang bolong. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wakil Ketua DPW Kombatan Provinsi Bali

Wacana yang dihembuskan AR untuk nyapres (lagi), hendaknya disikapi secara sederhana. Ada beberapa alasan mengapa hal ini lebih indah kalau dianggap sebagai salah satu hiburan saat bulan Ramadhan ini diantaranya: 
1. Secara persyaratan, PAN tidak mungkin mengusung calon presiden sendiri. Perolehan suara yang dimiliki tidak cukup untuk mengusung pasangan capres dan cawapres tanpa bergabung dengan beberapa partai politik lain. Tidak sederhana untuk membuat kesepakatan dengan AR sebagai capres. 

2. Posisi ketua PAN saat ini dipegang oleh Zulkifli Hasan yang saat ini menjabat sebagai ketua MPR yang nota bene sangat dekat dengan kubu pemerintah. Artinya, AR dan ZH bermain tidak bersama. AR lebih cenderung lepas dalam setiap pernyataan dan tindakannya dari PAN. PAN tergabung dalam koalisi pemerintah. 

3.AR nyapres akan membuat peluang Jokowi untuk unggul pada Pilpres 2019 lebih besar lagi, karena AR secara pribadi ada pada pihak yang berseberangan dengan Jokowi dan dengan nyapresnya AR suara kompetitor Jokowi menjadi terpecah. Terkait hal ini, tentunya secara logika, sudah tidak masuk di nalar pihak seberang Jokowi. Jelas mereka akan mencari capres yang elektabilitasnya bisa menyaingi Jokowi. Dan itu bukan AR dengan segala faktor dibelakangnya. 

Jadi seharusnya sudah tidak ada lagi cara berpikir bahwa dengan nyapresnya AR akan menelikung Prabowo. Secara hitungan politik tidak masuk nalar. 

Akan menjadi aneh apabila kita masuk dalam perangkap lelucon seperti ini. Tapi seperti disebut di awal tulisan ini, wacana ini adalah hiburan yang cukup menghibur di masa menjelang tahun Pemilu 2019 mendatang. 
Nikmati saja.... Salam. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Cendikiawan Muslim Nahdlatul Ulama (NU), Staf Ahli Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP), Wakil Rektor Bidang Akademik IAILM Suryalaya Tasikmalaya

H.M. Amien Rais sudah habis momentumnya. Rencana maju sebagai cawapres menantang petahana  bukan hanya menunjukkan tentang ambisi politiknya yang tak pernah pudar, tapi juga menggambarkan  sosok yang tak lagi terampil membaca dinamika politik mutakhir. Peradaban politik yang dihayatinya seperti sedang berada pada pusaran suasana muram Orde Baru atau mungkin bahkan terhunjam pada masa arkaik abad pertengahan sehingga diksi yang dilemparkannya pun nyaris a historis dan serba nostalgia.

Tak ada satu lembaga survei pun yang menunjukkan tingginya tingkat elektabilitas dan popularitas H.M. Amien Rais. Di sampai tidak ada partai pengusung kecuali PAN yang memang didirikannya dan takdirnya tidak pernah menjadi partai papan atas. Bahkan di awal-awal reformusi, di puncak popularitasnya, tak mampu meyakinkan khalayak untuk menyimpulkan bahwa dipimpin HM Amien Rais adalah kebutuhan penting.

Hari ini H.M. Amien Rais dipercakapkan justru dalam narasi politik yang tak menguntungkan karena pernyataan- pernyataannya yang provokatif, cenderung kembali menguatkan politik identitas, menghidupkan lagi sentimentalisme agama dan atau pelintiran kebencian tak karuan yang seringkali tanpa ditopang data memadai kecuali  sekadar respon reaktif, impulsif dan tergesa-gesa.

Pujian Presiden Jokowi terhadap kiprah masa lalu H.M. Amien Rais, dan lontaran membabi buta yang  tak henti dari  H.M. Amien Rais, sudah cukup bagi massa untuk tahu secara ontologis kepribadian dua sosok tersebut. (cmk)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Nyoman Sudarsa

Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Pengumpulan Zakat Akan Meningkat Signifikan             E-Commerce Hanya Sebagai Channel of Fund             Zakat Online Sah             Mengatasi Petasan: Solusi Tanpa Menimbulkan Masalah Baru              Bukan Sekadar Melarang Petasan, Tapi Harus Ada Solusi              Petasan Terancam Hilang             H.M. Amien Rais dan Hasrat Berkuasa yang Tak Pernah Pudar             Sikapi Secara Sederhana              Minta-minta (Setengah Memaksa) Budaya Kemiskinan             Oposisi Yang Melemah