Ahok Bebas: Lanjut Berpolitik atau Istirahat?
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 24 January 2019 09:30
Watyutink.com - Sepak terjang mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (BTP/Ahok) tidak diragukan lagi. Karier politik Ahok bisa dibilang gemilang. Memulai karier politik sebagai DPRD Belitung Timur (Beltim), menjabat Bupati Beltim, Anggota DPR-RI, dan Wagub DKI jakarta. Terakhir, Ahok menjabat posisi DKI-1, menggantikan Jokowi yang menduduki kursi RI-1.

Namun, karier politik Ahok terhenti, ketika dirinya harus mengakui keunggulan Anies-Sandi dalam Pilgub DKi Jakarta 2017 lalu. Ditambah lagi, Ahok harus berhadapan dengan proses hukum, akibat kekhilafan yang dilakukan melalui ucapannya. Ahok divonis bersalah, dan dijatuhi hukuman kurungan 2 tahun penjara. Setelah menjalani masa hukuman dengan remisi yang diberikan negara, 24 Januari 2019 Ahok dinyatakan bebas.

Kebebasan Ahok pastinya dinantikan oleh para Ahokers yang dengan setia menunggu idolanya menjalani masa hukuman di balik jeruji besi. Dilansir dari rmol.co, meski berada di dalam bui, Ahok masih tetap disanjung. Bahkan, sejumlah lembaga survei mengatakan elektabiltas Ahok masih tetap terjaga. Sepak terjang Ahok pun masih diharapkan bisa membawa perubahan bagi Indonesia.

Ahok pun digadang-gadang bakal menjabat sejumlah jabatan penting di lembaga negara. Mulai dari jabatan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Ketua KPK dan yang terakhir Ketua PSSI. Masih ada kelompok yang berharap pada sepak terjang Ahok untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, seperti yang dilakukannya bersama Jokowi di DKI Jakarta saat keduanya tengah menjabat sebagai kepala daerah. Jika memang salah satu jabatan itu ditawarkan kepada Ahok, apa jabatan yang paling cocok untuk Ahok?

Selain itu, posisi politik Ahok dalam Pilpres 2019 juga sangat dinantikan. Dilansir dari detik.com, hasil survei yang dilakukan Lembaga Survei Median menyatakan,”kader Gus Dur pro-Jokowi, Ahokers belum tentu”. Ahokres sempat diisukan akan golput dalam Pilpres 2019. Namun, dilansir dari tempo.co Ahokers bantah isu golput, dan tegaskan tetap mendukung Jokowi-Ma’ruf. Bahkan Ahok sendiri dikabarkan memiliki keinginan untuk mengkampanyekan Jokowi-Ma’ruf.

Ahok juga dikabarkan menjadi rebutan sejumlah partai. Dilansir dari pinterpolitik.com, niatan Ahok memberikan dukungan kepada mantan stafnya yang hendak maju sebagai caleg dari PDIP menimbulkan kecemburuan dari PSI. PSI menilai, Ahok juga harus memberikan dukungan kepada para caleg PSI dalam Pemilu 2019. Namun, belum ada pernyataan resmi dari mulut Ahok bahwa dirinya hendak bergabung dengan salah satu partai.

Karier politik yang gemilang sebelumnya, dan dianggap membawa perubahan bagi dua daerah yang pernah dipimpin sebelumnya menjadi bekal Ahok untuk kembali terjun di dalam dunia politik. Sejumlah berita negatif yang seolah dibesar-besarkan untuk menjatuhkan citra Ahok pun dianggap gagal oleh sejumlah pengamat.

Meski demikian, waktu setahun lebih berada di balik jeruji besi bukanlah waktu yang sebentar. Lantas, apakah pascamenjalankan masa hukuman Ahok langsung lanjut kembali berpolitik atau mengambil jeda sejenak untuk menyaksikan Pemilu Serentak 2019 berlalu?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akan menghirup udara bebas 24 Januari 2019. Menurut saya, kebebasan Ahok memiliki influence (pengaruh), terutama bagi mereka yang membencinya (haters).

Haters Ahok bisa dipastikan tidak akan menyukai kebebasan dari mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Meski demikian, sisi positifnya para Ahoker's akan menyambut gembira kebebasan Ahok tersebut.

Namun, Ahok juga mungkin Ahoker's mungkin harus lebih ekstra hati-hati. Terutama jikalau Ahok ingin kembali ke gelanggang politik tanah air. Pasalnya kelompok yang sempat sakit hati dengan mantan Orang Nomor Satu di DKI itu bisa diprediksi akan mengganjal langkah Ahok.

Salah satu hal yang bakal digunakan untuk mengganjal langkah Ahok adalah kasus RS Sumber Waras. Kasus ini belum sepenuhnya dianggap selesai, atau masih menggantung.

Saya pastikan, kasus RS Sumber Waras yang sempat ramai di era Ahok masih akan digoreng. Apalagi, jika benar pascabebas Ahok yang dikabarkan hendak bergabung ke Tim Pemenangan Jokowi-Ma'ruf. Itu bisa menjadi salah satu amunisi untuk kubu penantang Jokowi-Ma'ruf, untuk menyerang mereka.

Jika boleh menyarankan, saya berpendapat for a while time (untuk sementara waktu) sebaiknya Ahok jangan dulu berpolitik dulu, atau beristirahat dari dunia politik. Terkait adanya tawaran untuk bergabung dengan salah satu partai, sebaiknya Ahok puasa dulu untuk tidak bergabung dengan partai mana pun.

Jangan ada afiliasi politik yang sama, baik dengan Jokowi maupun Prabowo. Kendati dipinang, lupakan dulu. Lantaran saat ini lagi sensitif dan suhu politiknya agak panas.

Untuk sementara waktu kata Jerry, Ahok stay cool dulu, jangan ojo kesusu langsung terjun ke politik. Ini bisa punya impact (dampak) yang kurang baik. Cuti politik untuk sementara dulu dengan berbagai considering (pertimbangan). (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Komunikasi Politik Nasional & Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner

Hari ini (24/1/19) menurut catatan saya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akan meninggalkan penjara atau bebas. Nah, kita harus mengapresiasi beliau, mengapa demikian? Karena di saat banyak orang yang telah menjalani 2/3 masa tahanan memanfaatkan haknya untuk mengajukan pembebasan bersyarat, Ahok justru konsekuen menjalani masa hukumannya. Ahok taat menjalani semua kewajiban hukumnya, dalam konteks waktu. Semua proses hukum yang harus dijalani, dia ikuti, tidak semenit pun yang tidak dilalui. Ini perlu kita apresiasi, dan merupakan suatu hal yang luar biasa. Menurut saya, Ahok adalah tokoh yang komit dalam penegakan hukum.

Selanjutnya, usai menjalankan masa hukuman apakah dia terjun ke dalam politik lagi atau tidak? Saya berpendapat, terjun ke dunia politik dalam konteks bergabung dengan partai politik tertentu, menurut saya tidak usah. Bukan untuk sementara waktu saja, tapi untuk seterusnya. 

Namun ini pandangan saya, selebihnya hak beliau. Dia boleh saja terjun ke dunia politik, tapi dalam konteks yang berbeda, seperti politik kebangsaan dan politik kemanusiaan. Misalnya, dia membuat suatu lembaga kajian kebangsaan atau bergerak di bidang kemanusiaan. Dengan branding barunya, bukan lagi dipanggil "Ahok", tapi Basuki Tjahaja Purnama (BTP) yang merupakan nama lengkapnya. 

Jadi dia tidak lagi melakukan kegiatan yang sifatnya menimbulkan polarisasi di masyarakat. Seperti yang dilakukan sebelumnya, melalui ucapannya, walau pun kasus Ahok itu masih menimbulkan perdebatan. Tapi sudah diputuskan pengadilan. Jangan lagi dia bermain di politik seperti itu. 

Beliau bisa memulai katakanlah dengan sebuah pusat kajian BTP Center, dia bisa bergerak di bidang kemanusiaan, menjaga NKRI, Kebersamaan dan lain sebagainya. Jadi dia bermain di tataran politik kebangsaan, tidak lagi terlibat dalam polarisasi atau menciptakan polarisasi itu sendiri.

Dengan bergerak dalam politik kebangsaan pun, tidak menutup kemungkinan Ahok akan diminta kembali untuk memimpin suatu daerah, atau bahkan diminta menjadi presiden. Itu sangat mungkin, karena seluruh warga negara Indonesia memiliki hak untuk memilih dan dipilih. Dan mungkin saja Ahok akan kembali memimpin DKI Jakarta. 

Nanti tinggal dibandingkan sepak terjang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan sepak terjang Ahok ketika menjadi gubernur dalam waktu yang singkat. Kinerja keduanya dibandingjan di akhir masa jabatan Anies. Bisa saja Ahok diminta masyarakat untuk kembali memimpin Jakarta. Harus dengan permintaan rakyat, jangan menyodorkan diri sendiri. Karena hari ini banyak politikus yang menyodorkan dirinya menjadi pemimpin.

Nah, kemudian jika dikatakan masih ada yang resisten atau membenci Ahok, menurut saya itu tidak produktif. Apalagi kalau nanti ada kegiatan-kegiatan yang menyatakan kebencian terhadap Ahok. Ahok sudah menjalani hukumannya dengan taat, kebencian atau resistensi itu hanya akan membuat Ahok semakin mendapat simpati dari masyarakat. Seperti istilahnya teori bola basket atau political victim. Jadi, jika ada niatan membenci Ahok, sebaiknya diurungkan saja.

Saya kira Ahok merupakan pribadi yang berhati mulia, suka menolong orang kecil, dan kinerjanya cukup baik. Hanya saja, pola komunikasi Ahok lah yang agak kurang baik. Namun, saya kira selama menjalani masa hukumannya di balik jeruji besi, Ahok banyak melakukan perenungan yang membuat dirinya jauh lebih baik dalam berkomunikasi, dan semakin bersifat kebapaan. Ini bisa dilihat dengan selama dia berada di dalam, tidak ada pernyataannya yang kontroversial atau menimbukan konflik. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan