Peran Puisi Rendra dalam Politik
berita
Pikiran Bebas
Sajak Sebatan Lisong - WS Rendra 07 November 2019 10:30
Penulis

Alumni ISI Yogyakarta dan pernah kursus cinematografi di KFT Jakarta.

Sebagai aktivis mahasiswa dari Institut Seni Indonesia, saya sangat akrab dengan puisi atau naskah karya WS. Rendra. Di samping sebagai sarana apresiasi, saya juga sangat suka membacakan puisi Rendra ketika mengikuti lomba baca puisi dan kegiatan aksi mahasiswa tahun 80-90 di Yogyakarta, kalau.saya ke Jakarta selalu saya sempatkan main kerumah Rendra yang tinggal di Depok sebelum pindah di daerah Cipayung. Di sana selalu berdiskusi tentang semua hal termasuk gerakan mahasiswa. Ketika saya ada waktu main ke rumah Rendra  selalu ditemani oleh Amir Husain Daulay (alm), Nuku Sulaiman (alm) mahasiswa Unas Jakarta. 

Sedangkan saya ketemu WS. Rendra terakhir sekitar tahun 1998 di Cipayung, Depok. Di mana saat itu bersama sahabat saya Brotoseno dan diantar oleh mas Bram Makahikum (musik Kampungan). Kedatangan kami bersama adalah untuk mengundang pentas di UGM ketika suasana pergolakan mahasiswa untuk menjatuhkan kekuasaan tiran Soeharto.

Dalam hal pentas di UGM  Rendra menyatakan setuju dan akan mengajak Iwan Fals untuk hadir dan tampil dalam acara tersebut. Rendra memang sosok orang tua yang mampu mengapresiasi setiap langkah perjuangan para mahasiswa. Sebagai penyair dan pembaca puisi, Rendra juga pernah ditangkap Laksusda pada tahun 1978 karena dianggap menghasut lewat puisinya.

Kata Sebagai Kekuatan

Rendra adalah seorang penyair, teaterawan dan penulis esai kebudayaan. Eksistensi Rendra  telah melahirkan berbagai penghargaan sastra baik nasional maupun internasional. Sebagai pembaca puisi, Rendra mampu menghinoptis banyak orang. Hal itu ketika dia membacakan puisinya selalu dipadati penonton yang rindu akan puisi-puisi yang penuh kritikan sosial yang sangat ditakuti Orde Baru. Bahkan puisi kritikan sosial  dikumpulkan dalam buku "Potret Pembangunan Dalam Puisi"

"Aku tulis pamflet ini
karena pamflet bukan tabu bagi penyair"

Kalimat di atas itulah salah satu kalimat kekuatannya tersendiri dalam puisinya. Yang kemudian menjadi kumpulan puisi Rendra yang terbit pada tahun 1993 dan didalamnya terdapat 27 puisi yang ditulis dalam rentang waktu 1975 – 1978, tahun dimana sang penyair di tahan dan sajaknya dilarang dibacakan. Kumpulan puisi ini dibuka melalui pernyataan bahwa penyair juga bisa atau bahkan harus  menulis pamflet, yaitu sebuah selebaran berisi kata-kata atau gambar tertentu yang erat kaitannya dengan aktivitas politik. Melalui penyataan “karena pamflet bukan tabu bagi penyair”, puisi pamflet Rendra menyuarakan apa yang selama ini dilupakan penguasa. Rendra sang penyair, turun ke jalanan, kampus, selokan dan kolong jembatan, untuk menyuarakan apa yang selama ini dihilangkan dalam potret pembangunan versi penguasa waktu itu. Rendra berkeliling bagaikan Plato, bertanya dan bertanya, untuk menggugah kesadaran,

"tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang macet" 

Itulah ungkapnya dalam Sajak Sebatang Lisong, sajak yang ditulis pada tahun 1977 menjadi simbol protes terhadap kekuasaan yang seenaknya menganggkangi kepala rakyat. Sementara gerakan mahasiswa waktu itu terjadi di berbagai kota, seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Makasar.

Pamflet tentang manifestasi perlawanan terhadap penindasan dalam berbagai hakikat dan bentuknya. Melalui puisi-puisi dalam kumpulan ini, Rendra memberikan perhatian pada berbagai kalangan yang oleh masyarakat di sebut dipinggirkan dan dalam puisinya Rendra memberi ruang pada anak-anak putus sekolah, gelandangan, pelacur, pembantu rumah tangga dan jongos, seperti ; orang-orang miskin di jalanan maupun di selokan --yang menurut Rendra, selalu diledek impian, juga orang-orang pendosa yang berdosa karena didesak lapar. Rendra lantas mengkritik dan memaki penguasa yang seharusnya bertanggung jawab pada setiap pemenuhan hak rakyatnya, tapi ia pun paham bahwa sistem kekuasaan terlalu bebal untuk mendengar --bahkan kritik dalam bentuk apapun mendekati sia-sia. Namun hal diatas tidak membuatnya menyerah.

Sepertinya yang diperjuangkan Rendra tidaklah sia-sia, karena melalui puisi-puisinya kita dapat menemukan bentuk dari representasi masyarakat yang tersingkir dan terpinggirkan dari sistem sosial maupun ekonomi karena konstruksi nilai tidak menyediakan tempat bagi mereka (baca :masyarakat), yang dalam keadaan bahagiapun mengalami ketertindasan.

Pada tahun 1971 Rendra dengan Bengkel Teaternya mementaskan di halaman masdjid Baiturahman dengan naskah "Shalawat Berzanji" dan yang menarik banyak orang kurang paham bahwa konon hymne lagu Universitas Syah Kuala di aceh adalah syairnya ditulis oleh Rendra dan sebelas bulan kemudian Rendra datang kembali ke Aceh, diundang untuk membuka Festival Kebudayaan Aceh. Jadi sebagai seniman Rendra telah mampu memberikan banyak inspirasi tentang perlawanan, kritik sosial, kemanusiaan dan pesan perdamaian. Itulah peran Rendra telah memberikan sumbangan puisi terhadap politik dan sosial kebudayaan.

Dalam teater Rendra telah menghasilkan banyak naskah.yang sudah dipentaskan dan dilarang pentas. Adapun selama hidupnya Rendra telah menghasilkan naskah antara lain : "Orang-orang di Tikungan Jalan” (1954), “SEKDA” (1977), “Mastodon dan Burung Kondor” (1972), “Hamlet” (terjemahan dari karya William Shakespeare), “Macbeth” (terjemahan dari karya William Shakespeare), “Oedipus Sang Raja” (terjemahan dari karya Sophokles), “Antigone” (terjemahan dari karya Sophokles), dan “Panembahan Reso” (1986). 

Karya di atas adalah karya Rendra sekembalinya pada tahun 1967 ke Indonesia lalu mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Bengkel Teater Rendra di Yogyakarta sangat terkenal dan menjadi panutan teater yang berwawasan baru di tanah air. Pada tahun 1985 Rendra memutuskan untuk memindahkan bengkel teaternya ke Depok, Jawa Barat. Bengkel Teater Rendra di Depok ini menjadi pusat kegiatan teater dan sastra untuk berbagai latihan seni drama, tari dan puisi.

Sebagai seniman Rendra telah menerima beberapa penghargaan utama yang diterima Rendra antara lain, Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956), Anugerah Seni dari pemerintah Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama (1976), dan The S.E.A. Write Award (1996), dan lain-lain.

Kalau kita melihat sepak terjangnya selama berkesenian, Rendra telah menjadi sebuah ikon teater dan sastra Indonesia. Akan tetapi di era milenial seperti sekarang ini kerinduan kepada Rendra akankah kembali hadir? Pertanyaan seperti itu wajar muncul. Sebab diera digital ini para milenial lebih suka hasil dari pada proses. Sebab menghadirkan kembali semangat muda di era milenial sangatlah sulit dan berat. Sebab Rendra telah hadir pada zamannya dan anak-anak milenial dengan jamannya. Semoga peringatan satu dekade Rendra bisa memberikan inspirasi pada kondisi yang sama dengan kondisi sosial waktu itu.

"Kesadaran Adalah Matahari
Kesabaran adalah Bumi Keberanian menjadi Cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata"

WS Rendra

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF